~Sebuah Kisah~
Aku tidak mahir membuat kata-kata romantis. Kata-kata yang isi di dalamnya penuh dengan makna cinta. Bahkan, aku sendiri tidak mengerti apa itu cinta. Memang, bagi sebagian orang, cinta memiliki arti masing-masing dan setiap orang pun memiliki pemahaman yang berbeda akan cinta. Dan parahnya, aku masih tidak mengerti dengan hal yang dianggap orang indah itu.
Namun jika berkenan, izinkan aku bercerita sedikit tentang Kakek dan Nenekku. Pasangan yang menurutku saling mencinta dengan tulus. Pasangan yang berjuang bersama dari bawah. Pasangan yang berbahagia dengan kehidupannya. Pasangan yang menemukan cinta pertama dan terakhirnya.
***
Padang, 1961.
Suasana aula gedung latihan terlihat ramai. Pemusik sibuk memainkan alat musiknya. Mempelajari notasi balok yang tertulis. Di satu sisi, para penari sedang melatih koreografinya. Membuat gerakan yang harus tampak seserentak mungkin.
Tiga minggu lagi mereka akan melakukan penampilan di Bali. Tepatnya pada acara Pekan Kesenian dan Pekan Olah Raga Mahasiswa se-Indonesia. Acara ini sangat besar. Bahkan saking besarnya, dua kampus ternama di Padang harus menggabungkan tim kesenian mereka.
Kakek, yang waktu itu masih berumur
28 tahun, adalah pemimpin tim musik dari kampusnya. Sedangkan Nenek, gadis cantik berumur 25 tahun, adalah pemimpin tim tari dari kampusnya. Mereka adalah kebanggaan masing-masing kampus. Provinsi Sumatera Barat memercayakan keseluruhan penampilan kepada mereka berdua.
Latihan makin intens. Keras. Kesempurnaan harus diraih. Itulah yang membuat Nenek sangat keras dalam melatih anggotanya. Menurut cerita Kakek, latihan tari yang dipimpin oleh Nenek sudah sama seperti latihan militer. Penuh dengan ketegangan. Lihat saja, selama latihan, pasti selalu ada penari yang pingsan karena kelelahan. Namun, Nenek tidak pernah memberi kelonggaran sedikit pun.
"Cukup, Ani. Kita istirahat dulu. Nanti bisa dilanjutkan lagi." Kakek berkata kepada Nenek.
"Istirahat? Kita bahkan baru mulai latihan, Yusaf. Bagaimana mungkin langsung istirahat?" Nenek tidak mengacuhkan kata-kata Kakek.
"Sudah tiga jam semenjak latihan dimulai dan para penarimu belum ada yang istirahat, Ani. Jangan sampai mereka semua kelelahan." Kakek masih membujuk Nenek.
"Apa yang kau tahu mengenai para penariku, Yusaf? Itu bukan urusanmu. Kau urus saja para pemusikmu. Astaga, sakit telingaku mendengar mereka bermain." Nenek melambaikan tangan ke arah Kakek. Menurut Kakek, waktu itu wajah Nenek sudah benar-benar kesal melihat dirinya.
Kakek hanya bisa menghela napas. Dia tidak bisa melanjutkan perdebatan lagi. Bukan karena Kakek pasti kalah, bukan. Melainkan bertatap-tatapan dengan Nenek waktu itu, membuat jantung Kakek serasa ingin meledak. Nenek adalah wanita yang cantik dan cerdas. Rambut ikalnya bergelombang sebahu. Mata cokelatnya tajam dan terlihat sangat dingin. Namun, senyumnya sangat hangat. Itu kata Kakek.
***
Hari-hari berlangsung cepat. Hari ini adalah hari keberangkatan menuju Bali. Tim yang dipimpin oleh Kakek dan Nenek sudah siap. Latihan-latihan seperti militer sudah mereka lalui. Sebulan lamanya mereka berlatih dan kini mereka benar-benar sudah siap tampil.
Di satu sisi, hubungan Kakek dan Nenek berubah menjadi sebuah hubungan yang sangat sukar dijelaskan. Mereka masih sering bertengkar, menjunjung tinggi ego masing-masing. Namun, ada kalanya dalam sehari itu mereka terlihat sangat akrab. Tertawa-tawa di pojok ruangan aula gedung latihan. Para tim kesenian yang lain sering bingung dibuatnya.
Rombongan kesenian berangkat menuju Bali melewati jalur laut sampai Jakarta. Kapal Koan Maru adalah kapal yang menampung rombongan mereka. Mereka naik di Pelabuhan Teluk Bayur menuju Pelabuhan Tanjung Priok.
Selama perjalanan di atas kapal. Kakek benar-benar berubah menjadi orang yang sangat perhatian kepada Nenek. Lihat saja, disaat semua anggota rombongan tertidur di atas dek kapal, Kakeklah yang menyiapkan tempat tidur untuk Nenek. Mengambilkannya ransum kapal, mengurus barang-barang pribadi Nenek, bahkan memohon kepada Nahkoda Kapal untuk memberikannya obat disaat Nenek mabuk laut. Kakek benar-benar mencurahkan perhatiannya kepada Nenek.
Bagaimana dengan Nenek? Tentu saja Nenek merasa bahagia, walaupun tidak terlalu diperlihatkan. Sifat Nenek yang terkesan cuek pada waktu itu, secara tidak langsung menjadi pemantik bagi Kakek untuk terus mencari perhatiannya. Astaga, bahkan zaman dahulu wanita tetap jual mahal. Dan Kakek, lihatlah, bagi orang sekarang mereka akan memanggil Kakek dengan sebutan 'Bucin'. Apakah cinta memang seindah itu?
***
Rombangan sampai di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Perjalanan dilanjutkan dengan kereta menuju Surabaya.
Seharusnya, Nenek sudah turun di Surabaya, bertanding tenis meja di sana. Selain menjadi pemimpin tim tari, Nenek adalah atlet tenis meja yang juga mewakilkan provinsi untuk berlaga di Surabaya. Kakek yang mengetahui hal itu segera mengejar Nenek sebelum kereta benar-benar berhenti. Dengan susah payah Kakek membujuk Nenek untuk tetap pergi ke Bali. Penampilan tim tari tidak maksimal tanpa ada Nenek, itulah yang Kakek sampaikan.
Sekeras apa pun sebuah batu, akhirnya akan hancur juga. Itulah yang terjadi pada Nenek. Entah kenapa, Nenek tidak membantah kata-kata Kakek. Bagai kerbau dicucuk hidungnya, Nenek menggangguk setuju. Senyum Nenek waktu itu membuat Kakek mematung sepersekian detik. Menurut cerita versi Nenek, Kakek bersorak gembira ketika tahu Nenek tidak jadi turun di Surabaya, membuat seisi kereta menoleh kepadanya. Kakek tidak menghiraukannya, hei, bagi yang sedang jatuh cinta, dunia serasa milik berdua.
***
Bali. Pulau yang kata orang memilki sihir tersendiri. Menyatukan setiap pasangan yang datang. Begitulah yang terjadi dengan Kakek dan Nenek. Cinta bersemi di Bali.
Kesibukan baru mulai hadir di tengah-tengah rombongan kesenian. Dua hari lagi adalah hari penampilan. Rombongan terlihat tegang. Grogi akan penampilan yang sudah di depan mata.
Kakek dan Nenek tetap profesional. Mengenyampingkan urusan hati demi kesuksesan penampilan mereka. Walaupun sebenarnya mereka berdua ingin berjalan-jalan sore di pantai Bali. Melihat turunnya matahari. Ah, akan terlihat sangat romantis sekali.
Ketegangan mulai terasa disaat H-1 penampilan mereka. Nenek tiba-tiba menjadi terlihat khawatir. Khawatir kalau-kalau penampilan mereka akan berantakan. Di satu sisi, Kakek terus berusaha menenangkan Nenek beserta anggota rombongan yang lain.
Puncaknya terjadi setelah makan malam. Selepas gladi resik bersama dengan para kontingen dari daerah lain, Nenek terus memaksa semua anggota rombongan untuk mengulang latihan. Awalnya para anggota rombongan tidak terlihat keberatan, malah semangat. Namun, setelah melewati tengah malam mereka mulai kelelahan. Bahkan ada beberapa penari yang hampir pingsan. Nenek tidak menerima alasan. Bagi Nenek, kesempurnaan adalah segalanya.
"Ani, sudah cukup. Biarkan mereka istirahat. Besok adalah hari penting." Kakek memegang bahu Nenek lembut.
"Bagaimana bisa istirahat, gerakan mereka masih berantakan!" Nenek mendengus kesal. Tatapan tajam Nenek terlihat mengerikan.
"Mereka sudah sangat sempurna, An. Bahkan selama gladi resik tadi, rombongan kita menjadi sorotan. Sekarang biarkan mereka istirahat." Kakek masih mencoba sabar.
"Sudah aku bilang, Yusaf. Kau urus saja pemusikmu itu! Jangan mengusik para penariku! Kau tidak mengerti!" Nenek menatap tajam Kakek.
"Ani! Sampai mau kapan kau ingin latihan? Lihatlah! Lihatlah wajah anggotamu yang sudah kelelahan! Apa kau tidak melihatnya? Sudah cukup! Sekarang waktunya istirahat. Semua bubar!" Suara Kakek menggelegar. Gedung pertunjukan hening oleh suara Kakek. Anggota rombongan berangsur bubar.
Nenek hanya terdiam. Dia tidak terima dibentak oleh Kakek di depan semua orang. Mata Nenek yang tajam mulai memerah. Air mata berkumpul di kelopak matanya. Nenek menggigit bibirnya. Menahan agar tidak bersuara lagi. Kemudian Nenek berlari meninggalkan Kakek di tengah gedung pertunjukan yang sepi.
Kakek hanya bisa menghela napas. Kakek sadar kata-katanya barusan sangat kelewatan. Membentak Nenek di tengah orang ramai.
***
Empat jam sebelum penampilan Pekan Olah Raga dan Pekan Kesenian se Indonesia.
Nenek masih mengunci diri di kamar hotel. Para anggota rombongan terlihat khawatir. Semua usaha sudah dicoba untuk membujuk Nenek keluar dari kamar hotel, tapi hasilnya nihil.
Kakek yang sedari tadi hanya berdiam diri akhirnya turun tangan. Kakek menyuruh anggota rombongan untuk bersiap-siap di ruang ganti. Menyerahkan masalah ini kepadanya.
Kakek mengetok pintu kamar hotel berkali-kali. Berseru dari luar untuk meminta maaf. Namun Nenek masih tidak menggubrisnya.
Dua jam lagi penampilan akan dimulai. Kakek mulai kehabisan akal. Namun di saat Kakek melihat pelayan hotel lewat, Kakek mendapatkan ide baru.
Diberikannya pelayan hotel itu saputangan berwarna putih. Pelayan hotel itu kebingungan, tapi Kakek tetap tersenyum. Pelayan hotel mulai mengetok pintu. Akhirnya Nenek membukakan pintu. Diserahkannya saputangan berwarna putih itu kepada Nenek. Nenek tahu siapa pemberi saputangan berwarna putih ini dan makna di dalamnya. Pelayan hotel itu pamit. Lalu muncullah Kakek tersenyum ke arah Nenek. Nenek yang sebelumnya marah, luluh seketika. Entah apa yang terjadi setelah itu. Akhirnya Nenek kembali ke panggung pertunjukan.
Pertunjukkan sukses besar. Kontingen Sumatera Barat mendapat penghargaan besar. Bahkan di Surabaya, di mana diselenggarakan pekan olah raga, kontingen Sumatera Barat berhasil menyabet beberapa medali.
Hubungan Kakek dan Nenek pun makin erat. Setahun kemudian, mereka memutuskan untuk menikah di kota kelahiran Nenek, Bukit Tinggi.
***
Aku baru memahami makna saputangan berwarna putih itu. Saputangan berwarna putih adalah pertanda menyerah. Ya, Kakek memang menyerah, menyerah untuk menang. Memenangkan hati Nenek dengan kesabarannya. Mendapatkan cinta pertama sekaligus terakhirnya.
Apakah ceritaku romantis? Mungkin sebagian orang menganggapnya hal yang biasa saja. Namun, tidak bagiku. Bagiku cerita cinta Kakek dan nenekku adalah cerita yang sangat indah. Hei, kita tidak harus berpikiran sama, bukan?