Perkenalkan aku adalah seorang guru paruh waktu yang bekerja di beberapa tempat bimbingan belajar. Hal yang tak pernah terduga olehku sebelumnya yaitu menjadi seorang guru.
Seperti yang aku sangat sadari aku memang lulusan dari jurusan pendidikan tapi aku merasa passionku bukan di bidang pendidikan. Nwmun inilah takdirku, takdir yang membawaku menjadi seorang pengajar.
Kisahku dimulai saat hampir setahun lalu aku menganggur setelah resign dari kantor lamaku, dulunya aku bekerja sebagai staff HRD di sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang distribusi kosmetik dari negara ginseng. Aku keluar dari perusahaan lamaku karena saking tidak betahnya dengan pekerjaan dan rutinitasku yang tidak seimbang dengan upah kerjanya. Kupikir setelah resign dan dengan pengamalan yang tak secuil, aku akan sedikit lebih mudah mendapat pekerjaan baru, namun faktanya tidak.
Aku harus rela menganggur hampir 11 bulan lamanya, berbagai hinaan bahkan nyinyiran dari tetangga yang tak sedikit selalu mengataiku seperti ini, 'Sarjana kok nganggur' , 'Percuma sekolah tinggi kalau tetap susah cari kerja', 'Buat apa punya gelar tapi penghasilan masih gedean lulusan SMA' sering sekali aku dengar cibiran seperti itu hasil kreasi mulut-mulut julid tetanggaku.
Marah? Tentu. Kesel? Apalagi. Tapi apa dayaku? Aku terima dengan lapang dada meskipun rasanya sakit sampai ke ulu hati. Bahkan orang tuaku juga sering sekali ikut-ikutan terprovokasi oleh mulut manis tetangga-tetanggaku itu, alhasil sangat sering aku dan orang tuaku berdebat soal kondisiku yang pengangguran. Sakit hati rasanya, sudah jadi bahan omongan tentangga, orang tua yang harusnya jadi motivator terbesarku malah turut serta mengomeliku bahkan tak jarang mereka mengataiku dengan berbagai kalimat serupa.
Tapi sekali lagi, aku hanya bisa mengelus dada. Aku hanya bisa menelan bulat-bulat semua cibiran itu tanpa membalas. Terkadang aku menangis dalam kamarku saat semua orang memojokkan aku. Rasanya tak adil memang, dunia seolah tidak pernah berpihak padaku, tapi apa dayaku sekali lagi? Aku hanya bisa pasrah.
Hingga pada akhirnya, aku bertekad dalam benakku. Apapun pekerjaannya, berapapun upahnya, dimanapun dan seperti apapun kondisi tempat kerjanya, aku akan ambil. Hingga suatu hari, aku mendapatkan tawaran mengajar di salah satu lembaga kursus. Dengan berat hati sekaligus bercampur senang akhirnya aku mendatangi lembaga kursus tersebut. Sesuai tekadku, aku akan ambil pekerjaan itu meskipun aku tahu menjadi seorang pendidik harus ikhlas dengan upah yang sangat memprihatinkan.
"Bismillah," ucapku mencoba mengusir pikiran-pikiran yang membuatku galau. Sebab ketika aku memutuskan untuk terjun ke pendidikan, itu artinya aku harus siap segalanya.
***
Hari wawancarapun dimulai, aku ditanya berbagai macam pertanyaan, salah satunya pertanyaan yang sebenarnya agak sulit kujawab
"Mba yakin ga kalau mau beralih ke dunia pendidikan sedangkan pengamalan mba lebih banyak di PT ketimbang dunia pendidikan?" kata ibu dari owner lembaga kursus bernama Advan Edu Center. Beliau seperti hapal betul kalau aku sebenarnya belum yakin seratus persen.
"Yakin kok bu," jawabku dengan tegas walaupun dalam batinku aku sungguh belum yakin. Tapi apalah dayaku, sekali lagi aku lagi krisis ekonomi jadi sudi tak sudi aku harus bilang yakin. Urusan nyaman biarlah nanti aku pikirkan ke depannya.
"Tapi mba harus siap dengan gaji kecil?"
Sudah aku duga, ini pasti akan dipertanyakan. Mengingat aku mantan pegawai HRD yang upahnya jauh dari kata lumayan meskipun aku masih sering kekurangan.
"Siap bu," jawabku lagi masih dengan nada tegas. Sungguh kebohonganku sangat besar saat itu, sejujurnya dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku tidak siap, sangat tidak siap. Tapi, keadaanku saat itu sangat tidak beruntung dan sangat butuh pekerjaan agar aku terhindar dari omelan orang tuaku pun dengan tetangga yang setiap hari hobinya mencibirku.
"Dari CV mba, ada pengalaman ngajar beberapa bulan di sekolah, benar begitu?"
"Ya bu, sebelum lulus saya ada pengalaman mengajar ekskul bahasa Inggris, yang mana gak lama hanya menggantikan teman saat itu."
"Kira-kira berapa ya upah yang mba dapat waktu itu," tanya si ibu owner lagi, semakin menelisik dan akupun semakin sadar kalau pertanyaan seperti ini pasti ujung-ujungnya gak enak.
Aku bisa menebak kemana arah pembicaraannya. Tapi aku berusaha untuk bersikap tenang, layaknya air yang mengalir di sungai yang paling dalam. Aku harus bisa profesional, ini kesempatan emas meskipun aku tak yakin berapa upah yang aku dapat nanti. Jujur, di sini aku masih berorientasi pada upah karena kebutuhan perut dan lain sebagainya juga mendesakku, di sini lainnya cibiran orang tua dan tetanggaku juga yang membuatku semakin terdesak. Aku semakin galau sebenarnya.
"Saya biasa dibayar 50 ribu per meeting, dan satu meetingnya satu jam saja durasinya. Itu pengalaman ketika saya mengajar part time saat masih kuliah."
"Wah besar juga ya, kira-kira berapa kali dalam sebulan pertemuannya?" lagi-lagi pertanyaan dari si ibu owner membuatku semakin yakin kemana arah pembicaraannya. Pasti ujung-ujungnya duit.
"Hanya seminggu sekali, terkadang dua kali tergantung permintaan dari pihak sekolah," jawabku sesuai fakta.
Si ibupun mengangguk, namun ada raut yang beda dari wajah si ibu owner yang membuatku tidak mengerti, apakah ada yang salah dengan jawabanku atau ada sesuatu yang lain. Tapi yang jelas, tak dapat diekspresikan lewat kata-kata.
Suasana juga mendadak dingin dan tegang. Aku masih menunggu kalimat selanjutnya dari si ibu owner yang mewawancarai aku.
"Disini, setiap tentor/pengajar hanya dibayar 18 ribu per meeting, untuk kelas privat dan untuk kelas reguler hanya di bayar 25 ribu. Sedangkan durasinya satu setengah jam. Mba yakin mau gabung? Apalagi mba mantan staff HRD dan sekalipun ngajar, bayaran mba cukup lumayan."
Jlebbb, statement yang menohok hatiku tercetus dari bibir si ibu owner. Duniaku rasanya runtuh. Aku rasanya ingin kabur dari tempat itu dan mengatakan aku tidak jadi ikut gabung. Tapi dua detik berikutnya, seberkas cibiran dari mulut-mulut cantik tetangga beserta keluargaku muncul begitu saja dan membuatku bertahan di kurso wawancara kala itu.
Aku hanya akan mendapat 18 ribu perpertemuan? Sungguh sangat tidak seimbang dengan perjuangan dan biaya kuliahku. Belum lagi jarak dari rumahku ke tempat kursus itu lumayan jauh. Sakit hati, bimbang, galau semua bercampur jadi satu. Tapi keadaanku saat itu sangat amat lebih menghawatirkan dari upah ngajar perhari yang ditawarkan si ibu owner.
Dengan berat hati, aku terima. Sampai waktu wawancara pun selesai, aku kembali ke rumah menimang kembali apakah akan lanjut atau tidak soal tawaran mengajar itu, namun aku sudah menerima seragam.
Saat sampai di rumah, aku menatap nanar seragam yang kupegang. Kerongkonganku rasanya tercekat. Tubuhku rasanya semua mati rasa. Aku tidak dapat berkata-kata lagi tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa saat itu. Cukup lama aku seperti itu, hingga adzan magrib berkumandang dan membuyarkan ketermanguanku.
Aku bergegas mengambil air wudhu, sholat, lantas menangis dalam sujud. dunia ini seakan tak adil padaku, gelar sarjana ku seakan tak berperan sama sekali. Hingga akhirnya aku mengirim pesan pada temanku yang bernama Nina selepas curhat pada Allah. Nina nampak terbelalak kaget dengan pesanku soal upah yang nanti akan aku terima.
Tapi Nina tak bisa memberiku solusi apapun, dan cuma nyuruh sabar. Aku semakin menangis dan merasa semuanya tak berarti lagi. Gelar tinggi, perjuangan kuliah yang kalau diingat berapa puluh juta uang orang tuaku yang aku habiskan untuk biaya kuliah? Namun saat aku bekerja hanya dibayar 18 ribu perhari? Sungguh sangat amat miris, dan aku merasa payah. Aku tidak berguna.
Kemudian aku mengechat rekan kerjaku yang baru kutemui beberapa jam lalu, kebetulan setelah selesai wawancara aku sempat meminta beberapa nomor tentor yang kebetulan sudah seminggu mengajar di sana, namanya Euis Kartikasari. Aku menghubungi Euis, bermaksud untuk memberitahunya kalau aku anak mundur dan tak lanjut. Namun aku harus meminta solusi, siapa tahu dia bisa memberiku solusi terbaik.
"Hi Miss Euis, ini nomorku yang tadi wawancara di Advan," pesanku pada miss Euis yang tak lama dibalas olehnya.
"Hi salam kenal," katanya dengan tambahan emoji senyum. Aku bergegas menarikan jari jemariku pada layar ponselku.
"Miss bener gak sih di Advan hanya dibayar 18 ribu per meeting, aku kalo kaya gini rasanya gaj bakal betah, upahnya terlalu kecil, paling aku akan bertahan sebulan."
"Iya miss, tapi saran aku jalanin aja dulu siapa tau betah, kalo masalah upah, mengajar itu bukan hanya sekedar material tapi juga ikhlas, dengan kita ikhlas siapa tau rejeki Miss itu datang dari pintu mana aja."
Begitulah balasan pesan Euis, awalnya ragu dan agak sedikit kecewa saat dia bilang ikhlas, namun aku coba ikhlas dengan menjalaninya hari demi hari sesuai saran dari Euis.
Hingga akhirnya seminggu berlalu, aku masih mengingat ucapan Euis yaitu tentang Ikhlas.
Seminggu berlalu kujalankan dengan penuh rasa ikhlas, meskipun berat bahkan sangat amat berat. Bagaimana tidak, jarak yang membuatku agak berat, perjalanan yang aku tempuh begitu jauh hampir 80 KM menggunakan sepeda motor, dan aku hanya menjemput rejeki 18ribu rupiah saja sehari. Namun lagi dan lagi aku coba belajar Ikhlas. Aku penasaran dengan kejaiban kata Ikhlas.
Hingga pada suatu hari, aku mendapatkan suatu info lowongan kerja di sebuah perusahaan untuk posisi Admin HRD, posisi yang tidak asing untukku karena aku memiliki pengalaman admin. Aku bermaksud untuk meninggalkan tempat kursus aku itu kalau-kalau aku bisa mendapatkan posisi HRD.
Aku mencoba melamar ke sebuah perusahaan tersebut dengan ancang-ancang resign dari lembaga kursus tersebut. meskipun baru seminggu. Jujur aku sangat tidak tahan dengan upahnya. Dan, dua hari setelah mengirim surat lamaran pada perusahaan yang sedang membuka lowongan tersebut, tidak lama aku mendapat panggilan wawancara.
***
Hari wawancara di perusahaan itupun tiba, aku pergi ke tempat wawancara setelah selesai mengajar di Advan, meskipun aku masih berat bekerja di sana, tapi aku sedang belajar Ikhlas, artinya aku harus tetap profesional. Sekitar jam 11 siang setelah bernegosiasi dengan team rekrutmen perusahaan tersebut bahwa aku hanya bisa hadir di jam 11 karena aku ada kewajiban mengajar, akhirnya mereka mengabulkan permintaanku.
Setelah menempuh jarak 30 menit dari tempat mengajarku tadi, aku masuk ke sebuah gedung dimana aku janjian akan wawancara. Disana sudah ada beberapa orang yang juga sedang menunggu giliran wawancara.
Satu persatu yang juga ikut wawancara keluar, hingga akhirnya giliranku tiba. Aku masuk dengan membawa beberapa berkas dokumen. Banyak sekali pertanyaan yang harus aku jawab, namun lagi-lagi hal yang sangat sering ditanyakan jika aku ikut wawancara di perusahaan.
"Anda dari jurusan pendidikan tapi kenapa tidak bekerja jadi guru malah memilih di PT?" ucap salah satu interviewernya.
Pertanyaan seperti itu sering sekali terlontar kala HRD melihat latar belakang pendidikanku. Memang apa salahnya kalau aku ingin bekerja di PT bukan Sekolah? Apakah ada hukum jika kuliah di Jurusan Pendidikan harus bekerja sebagai guru atau pengajar? Nggak kan. Lantas kenapa semua orang seperti meragukanku?
Kadang aku risih dengan pertanyaan seperti itu, aku pasti mampu bekerja di bagian lain tidak melulu harus jadi guru. Aku akan bekerja profesional, aku akan bekerja sepenuh hati, dan aku akan berkontribusi dengan baik.
"Saya punya pengalaman admin, maka dari itu saya melamar posisi ini," jawabku tenang dan seadanya.
"Tapi kamu tahu perusahaan ini, bergerak dibidang jasa khususnya bimbel, kenapa kamu memilih posisi admin ketimbang jadi pengajarnya, kita juga membuka lowongan untuk pengajar kok kalau kamu tertarik," kata bapak HRD yang mewawancaraiku saat itu. Aku kembali mencoba berkilah. Sejatinya aku berusaha pindah dari sana, supaya dapat pekerjaan serupa saat aku masih kerja di PT.
"Tapi sejujurnya saya tidak ada passion mengajar, dan pengalaman saya jadi admin justru lebih banyak ketimbang jadi pengajar," jawabku lagi, aku semakin tak tertarik melanjutkan wawancara kalau begitu caranya.
Tiba-tiba salah satu dari dua orang yang menginterview saya datang, Bapak yang kedua pun terduduk di kursinya tepat di sebelah bapak yang pertama mewawancaraiku. Beliau langsung membaca CV-ku dan melontarkan beberapa pertanyaan menggunakan Bahasa Inggris.
Shock luar biasa, karena yang kutahu bahwa orang-orang yang di interview sebelumku tidak ada satupun yang menggunakan Bahasa Inggris, kenapa saat giliranku harus menggunakan Bahasa Inggris. Hal tersebut membuatku sedikit pusing, dan dengan agak terbata-bata aku berusaha menjawab menggunakan Bahasa Inggris juga.
Usai berbincang-bincang, keputusan final pun keluar. Aku sudah tidak peduli jikalau aku tidak diterima. Aku sudah muak sekaligus pasrah dengan keadaanku.
Hingga pada akhirnya, pihak HRD memanggilku lagi.
"Saya tertarik dengan anda agar bisa bergabung dengan perusahaan saya, tapi dengan catatan anda bukan kami terima sebagai Admin HRD, melainkan sebagai staff pengajar."
"Kenapa begitu, Pak?" kataku masih sedikit heran. Aku berusaha mengelak, barangkali bapak HRD nya keliru.
"Karena saya tahu kamu mempunyai kemampuan dalam mengajar. Jika kamu mengatakan tidak memiliki Passion dibidang mengajar, kamu sangat salah. Kamu tidak mengenal baik potensi yang kamu miliki. Untuk itu, supaya kamu lebih yakin dengan potensi yang kamu miliki saya ingin kamu jadi staff pengajar di tempat kursus saya. Saya akan memberikan upah sekian," katanya sambil memberikan senyum ramah di ujung bibir si bapak pewawancara.
Aku shock, aku lagi-lagi tidak bisa berkata-kata. Tapi kali ini bukan kekecewaan yang aku dapat, melainkan senyum bahagia dan ucapan syukur yang keluar dari mulutku saat mendengar penawaran dengan upah yang jauh dari kata cukup.
Mataku berkaca-kaca, rasanya ingin menangis dan berterimakasih sedalam-dalamnya pada sosok orang yang telah mengajariku ikhlas .
Dari situ, aku menyadari kalau rencana Tuhan memang indah, bahkan terlampau indah saat kita berusaha ikhlas.
Finish
28 Juli 2019
Sepenggal kisah pahit berujung indah.
Kisah nyata, dari aku seorang guru muda. Ingin kenal lebih jauh denganku, lets find me on Instagram : @aomaz95 cukup DM, dan salam pena.