Amara , XII MIPA 3. Remaja perempuan yang sedang menikmati masa-masa SMA nya dengan bahagia dan mampu berteman tanpa melibatkan perasaan. Sejak kelas X, ia memiliki prinsip untuk berteman dengan siapa saja dan tidak melibatkan perasaan lagi. Jujur ia trauma akan masa SMP nya karena telah menaruh perasaan pada teman sekelasnya yang jelas ia tahu bahwa akhirnya beberapa perempuan yang satu kelas dengannya akan membenci dia karena menaruh perasaan kepada sosok laki-laki yang di sukai oleh beberapa perempuan yang hampir satu kelas menyukai nya juga. Hum ralat, lebih tepatnya satu sekolah tergila-gila dengan dia karena bakatnya. Karena mereka iri dengan Amara, mereka pun menyebarkan hoax tentang hubungan mereka. Bahkan ada yang mengatakan bahwa Amara dan dia pacaran, padahal hubungan mereka hanya teman saja.
Sejak saat itu, Amara memilih untuk tidak menyukai siapapun selama ia masih sekolah. Dan kau tahu bahwa ia kini berhasil menerapkan prinsip tersebut dalam 2 tahun di masa SMA nya. Kini ia mampu berteman dengan siapa saja tanpa melibatkan perasaan. Namun semenjak ia berada di kelas XII IPA 2 ia merasakan sesuatu yang berbeda ketika ia berbicara atau bercanda bersama salah satu teman laki-laki yang satu kelas dengan nya. Mereka tidak dekat sama sekali, tetapi mereka hanya dekat ketika jam pelajaran saja dan itu pun di pertemukan oleh kelompok atau sekedar bertanya mengenai tugas apa saja yang perlu di kerjakan.
Walaupun di pertemukan seperti itu rasanya sudah lebih dari cukup. Tepatnya hari ini ada pembagian kelompok dan tentu saja Amara dan Alvin kembali di pertemukan. Ya laki-laki yang dimaksud Amara adalah Alvin. Sikap Amara ketika mengetahui hal tersebut dia sangat bahagia karena ada Alvin. Laki-laki terpintar yang dikenal oleh satu sekolah. Amara dan Alvin sering di perebutkan di kelas karena menurut teman-teman nya di kelas itu Amara pintar seperti Alvin. Padahal kenyataannya Amara adalah tipe orang yang cepat paham materi dengan pemikirannya sendiri dan setelah menyelesaikan pelajaran tersebut Amara bisa lupa dengan penjelasan yang ia pahami tadi. Dan tentu saja sangat berbanding terbalik dengan Alvin yang benar-benar pintar.
Tapi setiap orang punya cara nya masing-masing untuk belajar dan semua orang itu pintar hanya saja rasa malasnya sudah berlebihan, itulah pikir Amara. Selama mereka mengerjakan tugas kelompok tersebut Amara memperhatikan Alvin yang menjelaskan kepada teman-teman kelompoknya agar mereka paham. Ada senyum yang terukir di wajah Amara ketika memperhatikan Alvin menjelaskan dan degup jantung nya tidak karuan tapi ia berusaha untuk biasa saja.
Ganteng, pikirnya.
Seketika Amara tersadar dari pikirannya dan berusaha fokus untuk mendengarkan penjelasan Alvin sampai selesai tetapi salah satu organ tubuhnya tidak baik-baik saja. Dan ketika kami sibuk berdiskusi tiba-tiba saja guru kami memberitahukan bahwa waktu diskusi nya sudah habis lalu kelompok kami maju paling pertama untuk mempresentasikan hasil diskusi kami karena guru itu menyuruh kami maju duluan.
Kami pun maju duluan tanpa ada persiapan untuk kata pembuka. Karena tidak ada yang mau untuk membuka presentasi tersebut. Amara lah yang menjadi orang yang untuk membuka presentasi tersebut,
“Selamat pagi,” ucap Amara.
“Pagi,” sambut teman-temannya
“Kami dari kelompok satu akan mempresentasikan hasil diskusi kami. Yang akan dibacakan oleh salah satu teman kami. Kami persilahkan,” ucapnya sambil melawan rasa gugupnya.
Lalu Alvin membacakan hasil diskusi kelompok mereka kepada orang yang ada di kelas tersebut. Setelah selesai membacakannya, Alvin memberikan tanda melalui mata nya untuk memberitahu kan ke Amara bahwa ia telah selesai membaca. Amara yang paham akan hal itu pun segera mengakhiri presentasi tersebut.
“Demikian hasil presentasi kami. Jika ada pertanyaan atau tanggapan kami persilahkan,” ucap Amara.
Karena tidak ada yang memberikan pertanyaan atau tanggapan. Mereka pun memilih untuk kembali ke tempat duduk mereka. Kejadian beberapa menit yang lalu berhasil membuat Amara mengukir senyum di wajahnya dan untung saja wajahnya tertutup oleh masker jadi tidak ada yang menyadari hal tersebut. Lalu kelompok selanjutnya mempresentasikan hasil diskusi mereka.
Usai semua kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka. Kini guru kami memberikan soal kepada setiap kelompok dan meminta perwakilan tiap kelompok itu untuk menjelaskan cara mengerjakan soal tersebut. Dan kau tahu Amara berhasil dibuat kagum lagi kepada Alvin. Entah berapa kali ia merasakan degup di jantung nya pada hari ini. Jika perasaan yang telah lama ia tahan itu muncul lagi, mungkin ia akan merasakan rasa sakit itu lagi dan pertahanan nya selama ini runtuh.
Namun, untuk saat ini ia memilihnya untuk menikmati tiap waktu bersama Alvin tanpa orang lain tahu jika Amara mungkin saja menyimpan perasaan padanya. Usai pelajaran selesai, mereka berdua kembali seperti biasa lagi yang tidak dekat sama sekali sampai pulang sekolah. Malam harinya, tepat pukul 9 malam Amara masih setia bersama hp nya dan tidak sengaja ada notif chat Alvin
From Alvin:
Amara.
From Amara:
Knp?
From Alvin:
Tumben blm tidur. Biasanya udah tidur.
From Amara:
Masih mau scroll tiktok. Napa?
From Alvin:
Kamu udah tugas Bio?
From Amara:
Udah. Knp?
From Alvin:
Kamu paham?
From Amara:
Gk. Haha.
From Alvin:
Terus kamu jawabnya gimana?
From Amara:
Google haha.
From Alvin:
Astaga.
From Amara:
Emang km udah?
From Alvin:
Belum ni mau ngerjain oleh habis mandi.
From Amara:
Astaga kamu nah baru mandi kah?
From Alvin:
Iya. Oleh ku habis bangun tidur. Langsung makan habis bangun tidur tu, baru mandi.
From Amara:
Oh iya2. Kerjain am tugasmu. Besok dikumpul.
From Alvin:
Iya ni mau ngerjain
From Amara:
Oke. /send stiker menyeramkan.
from Alvin:
OO AMARA. ASTAGA KAGET AKU.
From Amara:
Kenapa?
From Alvin:
Stiker mu tu nah ngeri. Gak like aku.
Takut am aku ngerjain tugas sendiri.
From Amara:
Ngakak. Mau lagi kah?
/send stiker
From Alvin:
Udah nah. Ku blok kamu nanti.
From Amara:
Ngakak. Hati-hati di belakang mu ada orang lah, Vin.
From Alvin:
AMARAAA.
Gara kamu bilang gitu, langsung ku hidupin lampu kamarku.
From Amara:
Ngakak.
Aduh sakit perutku.
kirim stiker lagi ah.
From Alvin:
Udah am, astaga.
From Amara:
Haha iya-iya.
From Alvin:
Dah mau kerjain tugas bio tadi. Gak jadi terus gara kamu tadi.
From Amara:
Kok aku? wkwk
From Alvin:
Stiker mu tu nah, ngeri.
From Amara:
Mau lagi kah?
From Alvin:
Gak, makasih.
From Amara:
Kukirim lah haha.
From Alvin:
Jangan!
From Amara:
Iya enggak. Dah mau tidur dulu, ngantuk.
From Alvin:
Iya tidur sana. Gak baik begadang tu.
From Amara:
Iya. Kamu tu juga jangan begadang. cepat nugas sana biar cepat selesai😾.
From Alvin:
Iya.
***
Belum 10 menit jam 11 malam. Amara pun segera tidur. Sedangkan di tempat lain ada Alvin yang sedang mengerjakan tugasnya.
Kini matahari sudah mulai memunculkan dirinya dan Amara pun sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Dan setelah siap pun ia memilih untuk berangkat sebelum telat. Tak butuh waktu lama untuk tiba di sekolah. Dan saat itu juga ada Alvin yang sudah ada di kelas mereka.
"Halo, Alvin" sapa Amara.
"Ya"
"Udah tugas mu?"
"Udah," jawab Alvin.
"Jam berapa selesai tadi malam?" tanya Amara.
"12 "
Lalu Amara dan Alvin kembali ke aktivitas mereka masing-masing yaitu bermain hp di tempat duduk mereka masing-masing. Jujur selama Amara mengenal Alvin ada rasa nyaman namun Amara memilih untuk mengabaikannya. Tapi untuk saat ini Amara memilih untuk menanggapi perasaan tersebut dan ia sudah siap menerima resiko bahwa rasa nya itu akan bertepuk sebelah tangan lagi.
Hari demi hari ia lalui seperti biasanya. Dan ia tahu betul bahwa Alvin akan bercanda atau berbicara dengannya itu harus memiliki tujuan. Dan itu adalah salah satu keuntungan bagi Amara. Karena tidak ada yang tahu bahwa ia menyukai Alvin termasuk sahabatnya sendiri yang berbeda sekolah dengan nya. Tapi ia pikir, untuk saat ini lebih baik ia rahasiakan dahulu agar tidak menimbulkan rasa trauma nya. Karena ia benar-benar belum bisa berdamai dengan masa lalu nya dan itu sangat membekas pada ingatan nya.
Beberapa hari sebelum ujian, teman-teman sekelasnya memilih untuk bermain bersama. Ya mereka memilih untuk bermain truth or dare. Lalu mereka mulai memutarkan botol tersebut dan pada putaran pertama, botol tersebut berhenti yang mengarah ke Alvin.
"Truth or dare?" tanya Via.
"Karena aku malas dare. Jadi aku memilih untuk truth."
"Oke. Jadi pertanyaan nya adalah kamu pernah suka sama teman sekelas? Dan berapa lama rasa itu ada?" tanya Anton.
"Ya. Sampai sekarang, mungkin."
Seketika kami sekelas men-ciekan dia karena mengetahui teman sekelasnya yang pintar itu suka sama seseorang yang ada dikelasnya. Dan itu menjadi pertanyaan yang terus Amara pikirkan. Game tersebut mereka mainkan untuk menghilangkan rasa bosan dan selama memainkan hal tersebut banyak temannya memilih untuk melakukan dare. Dan setelah guru datang. Mereka berhenti bermain.
Sepertinya ini adalah hari terakhir mereka belajar dan minggu depan mereka akan menghadapi ujian untuk kelulusan mereka. Dan selama itu juga Amara masih bertahan dengan perasaan nya.
**
Hari ini adalah hari perpisahan sekaligus pengumuman kelulusan mereka. Sembari menunggu pengumuman tersebut ada rasa gugup. Dan tepat saat pengumuman tersebut di umumkan. Kini mereka semua dinyatakan lulus. Dan mereka semua menangis bahagia karena mereka sudah lulus dan di terima di universitas impian mereka.
Usai pengumuman kelulusan tersebut mereka saling foto bersama, berpelukan bahkan ada yang menyatakan perasaannya kepada orang yang mereka sukai walaupun akhirnya orang yang mereka suka itu menolak mereka. Dan saat itu juga Alvin menghampiri ku sambil memberikan kotak perhiasan,
"Buat kamu,"
ucap Alvin pada Amara.
"Apa ini?" tanya Amara
"Buka dulu lah,"
Lalu Amara membuka kotak tersebut. Kotak itu berisikan kalung dengan liontin yang berinisial nama mereka yaitu huruf "A".
"Makasih, untuk waktu indahnya selama di SMA ini. Ini hadiah buat kamu, ku harap kamu suka. Aku tau kamu pasti masih nunggu seseorang yang kamu kode di status kamu. Tapi siapapun cowok itu ku harap kamu bahagia sama dia. Aku tau kalau perasaan aku ini gak akan terbalas, kalau suatu saat nanti kamu bisa terima aku. Kuharap kamu pakai kalung ini dan rawat kalung ini sebagai tanda kamu mau nunggu aku atau kalau kamu kangen aku, semoga kita di pertemukan lagi dengan versi terbaik kita," ucap Alvin.
"Makasih. Satu hal yang perlu kamu tahu. Seseorang yang selalu aku kode di status itu sudah cukup buat aku bahagia selama di masa SMA ini. Bahkan hari ini dia benar-benar mampu buat aku bahagia karena kagum dengan ucapannya. Aku bakal nunggu dia kok. Kita tetap teman kan?"
"Sudah pasti," ucapnya lalu pergi mendatangi teman-temannya yang lain.
Orang yang selalu aku kode di status itu kamu,vin. Batin Amara.
Lalu mereka menikmati hari ini dengan bersenang-senang. Berakhir lah sudah masa-masa SMA mereka. Dan kini mereka benar-benar memasuki kehidupan yang sesungguhnya. Dimana masa-masa sekolah mereka akan dirindukan suatu saat nanti. Dan kejadian hari ini akan selalu ia kenang walaupun ia tahu bahwa pasti Alvin akan menemui pendamping hidupnya di suatu hari nanti.
***
4 tahun kemudian,
Sesuai dugaan Amara. Tepat pada hari ini ia mendengar Alvin akan bertunangan dengan anak dari sahabat ayahnya. Yaitu teman dekatnya selama di SMA. Yaitu Stevia.
Tapi itu bukan masalah untuk Amara. Tapi kini ia merasa hati nya berasa di tusuk sesuatu karena ia terlalu berharap bahwa Alvin akan kembali menemuinya. Tepat sehari sebelum tunangan, Alvin mengajak ku bertemu di cafe untuk berbincang. Ya setelah 3 tahun lebih mereka hilang komunikasi kini mereka kembali bertemu.
"Hai," sapa Alvin pada Amara.
"Hai juga"
"Ternyata perasaan ku terbalaskan. Makasih sudah rawat kalung itu baik-baik. Maaf belum bisa jadi yang terbaik buat kamu. Aku cuman mau bilang kalau,"
"Tau kok. Gak usah dibilang lgi."
"Maaf."
"Ngapain minta maaf? kamu gak salah kok. Aku nya aja yang salah karena terlalu berharap sama kamu. Yang jelas-jelas aku tau kalau kamu suatu saat nanti bakal ketemu sama seseorang yang bisa buat kamu bahagia."
"Hum iya. Ku harap kamu bisa datang,"
"Ku usahakan. Hum kau tahu, kalau dulu banget pas masa SMA. Kamu adalah orang yang selalu buat aku semangat untuk rajin sekolah dan belajar. Bahkan kamu juga yang buat aku semangat untuk ngejar cita-cita ku. Dan masih banyak lagi. Untuk semua hal indah di masa SMA, makasih banget ya. Kamu orang yang selalu kuingat walaupun kita dekat itu harus ada tujuannya contohnya kerja kelompok. Jujur, Itu semua sudah cukup buat aku. Sekali lagi makasih. Ku harap kamu bahagia dengan pilihan kamu. Aku pamit dulu. " Ucap Amara.
Lalu Amara pergi dan Alvin hanya memandangi tubuh Amara yang keluar dari cafe itu. Dan malam itu juga Amara memilih untuk melanjutkan sekolah nya lagi di luar negeri untuk melupakan semuanya.
"Terimakasih sudah mampir untuk memberi kenangan yang indah untuk sesaat namun dapat membekas dalam ingatan. Ku harap kita dapat bertemu sebagai jodoh di kehidupan selanjutnya" - catatan Amara.