Aku cinta kamu dalam diam adalah rahasia antara aku dan tuhanku.
***
Aku berjalan menuju kantor, tepatnya depan ruang guru. Hari ini adalah minggu kedua aku PPL. Pagi ini aku piket TU, bertugas untuk memencet bel dan mengabsen keliling, mendatangi kelas satu persatu, untuk mengetahui berapa banyak siswa yang tidak datang pada hari ini. Di depan ruang guru terdapat bu Retno, mamah angkat pak Farrel sedang duduk dan mengobrol dengan salah satu guru laki-laki yang masih single.
Di SMK Taruna Bangsa ada tiga guru yang masih single. Yang paling tertua pak Ferdian, beliau guru fisika dan anak kepala sekolah, gosip-gosipnya pak Ferdian ini pernah berpacaran dengan siswi di SMK Taruna Bangsa. Yang kedua ada Pak Aris, pak Aris adalah guru yang paling dekat dengan pak Farrel, dan guru yang sekarang sedang mengobrol dengan bu Retno. Yang terakhir ada pak Farrel, guru paling muda, the most wanted teacher di SMK Teruna Bangsa. Pak Farrel yang single, cool, pintar dan tampan membuat para siswa betah melihatnya lama.
"Key, sekarang kamu yang piket nak?" Tanya bu Retno ketika aku sampai di hadapan beliau.
"Iyaa bu, Keysa sama Nabila yang piket sini bu" jawabku dengan tak lupa memberikan senyum manis.
Bu Retno merupakan waka kesiswaan, pertama kali bertemu dengan beliau aku berfikir dia guru yang jahat ternyata tidak, dia begitu perhatian dengan anak-anak PPL. Bu Retno memang terkenal pedas jika berkata kepada siswa yang nakal, tapi beliau akan baik kepada siswa yang rajin dan tidak membuat masalah.
"Jangan lupa yang piket perpus ya, nanti mam marah kalau banyak yang jaga sini" bisik bu Retno membuatku terkekeh.
Bu Endang atau biasa di panggil mam oleh para siswa merupakan guru bahasa Inggris yang bertugas untuk menjaga perpus. Beliau juga salah satu rival bu Retno. Banyak yang bilang kalau Bu Endang iri karena bu Retno memiliki anak angkat seperti pak Farrel sehingga mereka tidak pernah akur, dan bu Retno bilang kalau bu Endang juga sering mencari gara-gara dengan pak Farrel, sehingga membuat bu Retno kesal.
"Sudah bu, ibu tenang saja" kami berdua terkekeh mendengar jawabanku.
Bel jam pelajaran sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Semua kelas sedang berdo'a, setelah berdo'a aku dan Nabila akan berkeliling untuk mengabsen siswa dan siswi yang tidak datang. Guru-guru yang mengajar pada jam pertama sudah memasuki kelas.
"Kayaknya udah selesai deh Key mereka do'anya, kuy lah kita absen" Nabila berdiri dari duduknya berjalan menuju lantai dua disusul aku yang berjalan di belakangnya.
"Gua yang ngabsen lu yang nanya siapa yang gk dateng ya" Nabila mengangguk menyetujui perkataanku membuat aku tersenyum puas.
Kami berjalan menuju kelas dua belas. SMK Taruna Bangsa memiliki sembilan kelas yang mana kelas dua belas terdiri dari tiga kelas, kelas sebelas ada tiga dan begitupun kelas sepuluh. Setelah selesai dengan kelas dua belas kami berjalan menuju kelas paling ujung yang mana kelas sebelas. Aku sangat gugup karena guru yang sedang mengajar adalah pak Farrel guru yang terkesan dingin, dengan perlahan aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam, dan dengan serempak mereka menjawab salam aku dan Nabila.
Nabila tidak berani mengetuk pintu karena dia tidak berani melihat wajah dingin milik pak Farrel jadi dengan terpaksa aku melakukannya. Aku berjalan masuk mendekati meja guru, pak Farrel berjalan menuju meja guru duduk di kursi dan memberikan aku buku absen miliknya.
Dengan jantung yang berdegup cepat aku mencoba fokus menulis nama-nama siswa yang tidak masuk. Mengumpat dalam hati kenapa banyak siswa yang tidak masuk. Pak Farrel menunjuk satu persatu siswa yang tidak hadir. Memperhatikan tulisanku dan absensi secara bergantian, sesekali aku melirik wajah tampannya. Dalam hati aku merafalkan do'a, Allohumma Sholli Ala Muhammad.
"Terimakasih pak" Aku membenarkan buku dan penaku setelah selesai mengabsen dan di balas lirikan ke wajahku sekilas oleh guru tampan itu.
"Ya sama-sama"
Aku dan Nabila keluar dari kelas tersebut. Tanganku masih berkeringat dan jantungku berdetak dengan cepat. Masih tidak menyangka aku akan ada momen sedekat itu dengan pak Farrel, guru yang terkenal dingin dan pendiam.
***
Aku sedikit berlari menaiki tangga. Setiap habis zuhur kita sepakat menukar piket dan hari ini aku sedikit telat karena mendadak perutku mules. Tadi pagi aku piket UKS dan sekarang aku bertukar dengan Mutiara yang berjaga di perpustakaan. Di tangga paling atas mataku hampir lompat dari tempatnya karena aku hampir menabrak pak Farrel dan guru tampan itu juga terlihat kaget dan sedikit tersenyum, hanya sedikit.
Aku membungkuk, setelah itu melanjutkan langkahku ke perpustakaan. Di perpustakaan nampak Maria yang sedang terduduk sendirian dengan tangan yang tidak berhenti memainkan ponselnya. Aku terduduk di dekat pintu, ada buku yang biasa untuk mencatat nama siswa dan buku yang dia pinjam.
Matahari siang ini benar-benar panas. Aku menghidupkan kipas dan membiarkan kipas itu menghadap ke arahku saja. Pagi tadi temanku yang bernama Novi memberitahu instagram pak Farrel, tapi aku belum memfollownya karena aku merasa sangat malu. Temanku itu benar-benar juara jika di suruh stalking seseorang dan dia dengan segera memfollow akun guru tampan itu. Tidak ada yang tahu kalau guru yang terkenal dingin itu mempunyai instagram dan hebatnya temanku itu dapat menemukan akun pak Farrel. Novi dan aku adalah salah satu fans pak Farrel, kami berdua benar-benar terpesona dengan wajah dan sifat pak Farrel, dingin, pintar dan tampan sama dengan perfecto.
Suara bu Endang dan suara laki-laki yang sedikit berdebat membuatku menghentikan kegiatanku berselancar di media sosial. Aku seperti mengenali suara pria itu.
"Jadi ibu maunya gimana?" tanya pria itu, dari suaranya aku tahu kalau pria itu menahan agar suaranya tidak meninggi dan tetap bersabar.
"Bapak gak boleh minjem di perpustakaan. Anak bapak itu pasti kalau minjam tidak pernah di beresin, bikin susah saya saja" jawab bu Endang dengan menggebu-gebu.
"Ibu, sebaiknya kita ngobrol di dalem ya, gak enak di denger anak-anak"
Aku dan Maria saling berpandangan, detik berikutnya pintu terbuka semakin lebar. Bu Endang masuk disusul pak Farrel di belakangnya. Mereka berdiri di dekat meja yang aku tempati. Bu Endang terduduk di kursi bersebrangan dengan kursi yang aku duduki sedangkan pak Farrel masih berdiri. Aku mencoba berdiri dari duduk bermaksud menjauh dari dua manusia yang sedang menahan amarah mereka. Suara pak Farrel sukses membuat aku terduduk kembali.
"Tetap disini. Jadi begini saja bu, saya yang akan mengambil buku dan saya yang akan mengembalikannya, bagaimana?" tanya pak Farrel, aku dapat melihat keringat yang menetes di pelipisnya. Jiwa jombloku berteriak ingin mengelap keringat itu.
Pak Farrel mengambil buku catatan pinjaman anak-anak. Memberi isyarat kepadaku untuk menulis namanya. Aku menatap bu Endang yang hanya diam saja, hingaa..
"Tulis mba.. Farrel, Teknologi dan Informasi.. Tigapuluh buku" aku mengangguk dan dengan cepat menulis apa yang dia diktekan.
Pak Farrel berjalan menuju rak-rak, mencari buku yang dia cari. Bu Endang memberi isyarat kepadaku untuk membantunya. Dengan segera aku membantu pak Farrel untuk mencarinya dan mendelik kepada Maria yang hanya menahan tawa melihat aku yang mendadak menjadi pembantu.
"Ini pak bukunya" ucapku ketika berhasil menemukan buku yang dia cari. Pak Farrel benar-benar payah jika disuruh mencari, padahal tadi dia sudah melewati rak ini.
Pak Farrel memberikan lima buku kepadaku dan dia membawa dua puluh lima buku. Tanpa berkata apapun dia berjalan duluan membuatku tercengang. Dengan menghentakkan kakiku aku berjalan mengikutinya.
Dasar menyebabalkan, gengsi banget bilang tolong
***
Aku menangis karena selalu revisi laporan pplku. Tiga hari lagi kami selesai dari beban mengajar, kami bersyukur tapi juga pusing karena laporan menunggu kami untuk segera diselesaikan. Guru pamongku itu tidak pernah memberitahu kepadaku contoh penilaian yang benar, dia hanya menyalahkan tanpa membenarkan. Keempat temanku memberiku semangat dan memberiku solusi untuk bertanya kepada bu Retno. Dengan perlahan aku membuka pola di ponselku, mengetik nama bu Retno.
From : Keysa
To : Bu Retno
Assalamualaikum..
Ibu hari ini ada di sekolah tidak ya?
Saya ingin menanyakan sesuatu kepada ibu
Ceklist dua.. Alhamdulillah, itu tandanya tinggal menunggu bu Retno membacanya saja. Suara nada dering khas korea terdengar, dengan cepat aku membukanya.
From : Bu Retno
To : Keysa
Waalaikumsalam, mau nanya apa key? Iya ibu hari ini ada di sekolah, ada acara ulang tahun pramuka. Sini dateng aja ke sekolah.
Aku bergegas menuju kamar mandi untuk mandi bebek, sebelum masuk kamar mandi aku meminta Maria untuk mengantarku ke sekolah dan temanku itu hanya mengangkat tangannya dengan jari telunjuk dan jempol yang menyatu berarti oke.
Sepuluh menit kemudian aku keluar dengan badan yang sudah segar. Memakai baju dan memberikan cream dan bedak ke wajahku, dan mengoleskan lipstik ke bibirku agar tidak terlihat pucat. Mengambil jilbab dusty dan memakainya. Setelah selesai dengan kegiatan perempuan yang sedikit merepotkan aku mengajak Maria berangkat menuju sekolah.
Hari sabtu di SMK Taruna Bangsa tidak libur bagi siswa-siswi yang mengikuti ekskul pramuka. Aku bersyukur itu berarti hari ini tidak ramai dengan siswa-siswi. Setelah menempuh waktu sepuluh menit akhirnya aku dan Maria sampai di sekolah. Kita melewati gerbang belakang, dekat dengan tempat tinggal salah satu ibu piket, bu Ely.
Aku dan Maria duduk di depan ruang guru menunggu bu Retno keluar dari salah satu ruangan yang terlihat ramai. Ruangan khusus yang kemarin-kemarin kita tempati sebagai posko kita. Aku melihat bu Retno keluar dari mantan posko kami, berjalan kearah kami.
"Ibu ngambil berkasnya dulu ya" bu Retno masuk kedalam kantor mengambil kumpulan-kumpulan berkas yang disatukan dalam satu wadah, membuatku tercengang.
"Banyak bener bu" ucapku kaget melihat begitu banyak berkas milik bu Retno. Apakah menjadi guru seribet itu.
"Iya, ini ada proset, prota, silabus, lesson plan dan banyak lagi" seru bu Retno memperlihatkan berkas-berkasnya membuatku mengangguk.
"Ooh iya mana yang mau di tanyain?" tanya bu Retno, akupun segera memberikan laporanku kepadanya, aku menanyakan tentang bagaimana penilaian yang benar.
Bu Retno memperlihatkan kertas yang berisikan penilaian-penilaian beliau kepada para siswanya.
"Kamu pamongnya bu Desti kan? Pake yang ini aja, karena kalau pake yang punyamu ini, itu masih tahap yang mentahnya. Masukin juga ini, ini rata-rata nilai A sekian, B sekian dan seterusnya. Kalau bu Desti masih ngeyel bilang aja ini dari bu Retno pasti beliau nurut" jelas bu Kesti membuatku mengangguk antusias.
"Rel, coba lihat ini. Menurut kamu pake yang mana? Ini anak didiknya bu Desti" bu Retno menunjukkan laporanku dan berkasnya kepada pak Farrel yang entah sejak kapan berdiri di samping bu Retno.
"Yang ini aja, kalau yang itu terlalu ribet" pak Farrel menunjuk laporanku, aku mengangguk setuju dengan perkataan pak Farrel. Kalau calon suami sudah memerintahkan pake yang punya mamah angkatnya calon istri bisa apa selain menurut. Astaghfirullah jiwa jombloku.
"Nah kan bener, udah pake yang punya ibu aja gak papa"
"Tuh udah dapet seneng gak, si Keysa nangis bu tadi pagi karena selalu di suruh revisi sama bu Desti" ledek Maria membuat keduanya tertawa puas.
Aku meminjam berkas bu Retno untuk difoto, bu Retno sebenarnya menyuruhku untuk menfotokopi saja tapi aku menolaknya, dengan alasan aku suka mengetik jadi tidak perlu fotokopi-fotokopi segala.
"Mbak ini ada kue, dimakan ya mbak. Ini pak Farrel loh yang motongin" ucap Yuanita, siswa yang dekat dengan pak Farrel dan juga dekat denganku sejak dua minggu aku disini. Hatiku berdegup dengan cepat.
"Makasih yun" ucapku dan Maria bersamaan, Yuanita mengangguk kemudian dia masuk kedalam kantor, aku dapat mendengar dia yang mengejek pak Farrel.
***
Hari ini aku mencoba bertemu dengan bu Desti karena sebelumnya aku tidak bisa bertemu dengannya karena beliau yang sibuk. Kemarin aku menemani Maria saja, sayang sekali make up dan bajuku yang hanya aku gunakan sebentar. Tidak sampai satu jam.
Maria menunggu pak Ferdian yang sedang mengajar. Bu Desti terlihat sedang santai, akupun berjalan masuk ke ruangannya. Memberikan laporanku setelah itu beliau mulai mencoret-coret bagian yang dirasa salah. Setelah selesai beliau memberikannya kepadaku. Mataku menangkap Mutiara, salah satu teman pplku yang sedang duduk di depan kantor seorang diri.
"Gimana udah?" tanya Mutiara mengambil laporanku dari tanganku.
"Udah, tapi revisi lagi" jawabku lesu.
Mutiara memberikan semangat kepadaku. Aku hanya mengangguk, malas rasanya merevisi, entah sudah berapa puluh ribu uang yang aku buang hanya untuk merevisi. Aku butuh pak Farrel agar moodku kembali membaik. Aisssh, aku dan otak jombloku selalu seperti ini.
Pak Ferdian keluar dari ruang guru, setelah adzan berkumandang. Aku memperhatikannya yang hendak membuang sampah.
"Sudah ketemu dengan bu Desti mbak?" tanya pak Ferdian membuatku kaget, demi tuhan aku hanya kemarin mengobrol dengannya, itu pun ada Maria kenapa tiba-tiba pak Ferdian bertanya kepadaku hal yang menurutku sesuatu yang tidak penting untuknya.
"Sudah pak" jawabku dengan senyuman tulus, aku tidak mungkin tidak membalas senyum manis miliknya.
"Bapak gak nanya saya?" tanya Mutiara, dan jawaban pak Ferdian membuatku berusaha keras menahan tawaku.
"Gak kenal" jawabnya setelah itu dia pergi keluar pagar menuju musholla.
"Anjiir banget si bapak"
Aku menoleh kesamping mendapati pak Farrel yang melihatku dengan tatapan datar, membuatku ciut seketika. Aku bingung dengan wajah datarnya, apakah dia tidak lelah berekspresi seperti itu terus. Coba sekali-kali tertawa pasti tampannya bertambah.
***
Aku berjalan menuju gerbang SMK Taruna Bangsa. Kurang lebih sudah satu tahun aku tidak kesana. Ini kali pertama setelah menyerahkan laporan PPL kepada pihak sekolah. Terlihat bu Retno sedang mengobrol dengan seorang siswi yang aku tebak kelas sepuluh, karena sebelumnya aku tidak pernah melihat wajahnya.
"Ya Alloh bukain itu gerbangnya, cepetan" ucap bu Retno menyuruh siswa yang tadi mengobrol dengannya. Meskipun aku memakai masker ternyata bu Retno tetap mengenaliku.
Aku mengucapkan terimakasih dan berjalan kearah bu Retno. Bu Retno segera memelukku dengan erat, seperti seorang ibu yang sudah lama tidak bertemu dengannya, padahal baru dua minggu kita tidak bertemu. Tapi pelukannya terasa seperti satu tahun tidak bertemu.
"Ngapain kesini? Emang udah sehat Key? Kamu naik apa kesini nanti suami kamu marah loh" tanyanya menyuruhku untuk duduk di salah satu kursi yang dulu pernah aku tempati.
Sekolah ini tidak banyak yang berubah, hanya warnanya saja yang terlihat baru karena sepertinya pihak sekolah mengecat ulang setiap sudut sekolah, membuat sekolah itu tampak fresh.
"Aku ingin ke kampung selatan mah, kangen sama keluarga. Aku naik ojol mah, Aku udah bilang kaka tapi dia belum ngeread jadi aku langsung kesini aja" ucapku membuat Bu Retno mengangguk.
"Mau ketemu suami kamu langsung, dia diruangannya dan kayaknya dia udah gak ada jam" bu Retno membantuku berdiri membuatku merasa tidak bertenaga.
"Mau mamah anter gak?" tanya bu Retno, aku menggelengkan kepalaku, aku ingin bernostalgia pada masa dulu, saat aku PPL disini.
Aku berjalan perlahan melewati tangga yang kata para siswa angker dengan perlahan. Ingatanku berkelana setelah ppl selesai. Aku mengikuti akun Instagram milik pak Farrel, beberapa jam setelahnya, berharap pak Farrel mengikuti aku balik tapi justru akun lain yang mengikuti aku. Temanku yang lain juga seperti itu, dia mengikuti akun pak Farrel tapi justru akun lain yang sama dengan akun yang mengikutiku.
Aku setiap hari mengecek akun pak Farrel, entah kenapa aku merasa sangat senang saat melakukannya. Bahkan sudah hampir tiga bulan aku masih dengan kebiasaanku, menjadi stalker setianya. Berharap aku berjodoh dengannya, karena aku tidak pernah melirik pria manapun setelah bertemu dengannya, aku selalu berdo'a semoga aku berjodoh dengannya. Aku yakin kekuatan do'a ada dan itu pasti sangat luar biasa hasilnya.
Aku mengetuk ruangan pak Farrel dengan pelan. Lagi-lagi aku mengingat momen dimana aku pernah memberikan makan siang kepada pak Farrel. Jangan salah paham, itu bukan dari uangku sendiri tapi dari bu Retno. Waktu itu bu Retno meminta tolong kepadaku untuk memberikan makan siang kepada anaknya itu.
Suara kunci dibuka membuatku was-was menanti reaksi pak Farrel ketika aku berada di depan ruangannya.
"Hai kak" ucapku sedikit gugup melihat wajah kagetnya.
"Kamu ngapain disini sayang?" tanyanya menarik tanganku agar masuk kedalam ruangannya, mengunci pintu kemudian menyuruhku untuk duduk di kursinya.
"Ngapain kesini? Kangen tah yang?" tanya pak Farrel menyenderkan pantatnya di meja.
"Kita ke lamsel yuk kak, aku kangen sama ayah dan bunda" ucapku memegang tangannya yang sedang mengelus pipiku.
"Cuma mau bilang itu doang? Ngapain harus kesini sih sayang, kan bisa nanti dirumah" sahut pak Farrel membantu aku bangun dari dudukku kemudian dia duduk dan membawaku keatas pangkuannya.
"Emang gak boleh ya aku kesini, kaka malu orang-orang tahu kalau aku..." pak Farrel mengecup bibirku, menghentikan perkataanku.
"Ngomong kaya gitu lagi, kaka benar-benar mengutuk diri kaka karena kaka gak bisa membuat kamu bahagia. Sayang dengerin kaka, kaka cinta kamu, kemarin, sekarang dan selamanya akan tetap sama"
Aku menatap wajah tampannya dengan senyum manis. Entah apa yang aku dan orang tuaku perbuat dulu, kenapa aku memiliki suami sepertinya. Seorang pria yang aku fikir dingin dan pendiam benar-benar jauh dari ekspetasiku. Pria di hadapanku ini benar-benar berubah setelah kita menikah, dia selalu hangat dan manja kepadaku. Dia selalu mengoceh jika hanya ada aku dan keluarga kita. Pak Farrel hanya memperlihatkan sisi hangatnya pada orang-orang yang benar-benar dekat dengannya.
"I love you so much honey. Aku mendadak kangen dengan sekolahan ini" ucapku senang, melingkarkan kedua tanganku di lehernya.
"Jangan kangen dengan orang lain" sahutnya dengan bibir mencebik membuatku terkekeh dan mencubit bibirnya.
Orang lain yang dimaksud pak Farrel adalah pak Ferdinan. Suamiku itu ternyata cemburu ketika waktu itu aku mengobrol dengan pak Ferdinan sehingga dia menatapku dengan datar.
"Ngapain kangen yang lain kalau suami aku jauh lebih tampan" Aku mencium pipinya bertubi-tubi membuatnya tersenyum senang.
"Kak, aku inget deh dulu kaka itu gendut, gak kaya sekarang kotak-kotak" Aku mengelus perut suamiku yang sudah berbentuk kotak-kotak, sebelum menikah dia rajin olahraga untuk membentuk tubuhnya, sehingga wajar kalau tubuhnya sekarang jauh lebih bagus dari terakhir kali kita bertemu.
"Sebenarnya ini lebih ke kesehatan sih yang, biar sehat aja gitu. Masa iya masih muda perutnya buncit" ucapnya santai, tangan kirinya memegang tanganku yang mengelus perutnya. Memberikan ciuman di tanganku dengan mesra.
"Aku sih gak masalah kaka kaya waktu itu atau sekarang, toh kaka tetep sama gak ada yang berubah" sahutku dengan senyuman manis andalanku memperhatikan gingsulku.
"Manis banget sih yang senyumnya"