Gadis berambut pirang itu menutup mata kiri, fokus pada seekor rusa yang menjadi target panah di tangannya. Jemari panjang gadis itu menarik tali busur hingga batas terjauh. Sekali lagi sepasang bola mata hitam memastikan ujung panahnya mengarah tepat ke sasaran. Tanpa gadis itu sadari, sinar hijau bak larikan petir membungkus seluruh tubuhnya.
Tap. Sepersekian detik panah panjang itu melayang, menerobos dedaunan dan menancap di lambung rusa yang sedang minum di sungai itu. Tap. Tap. Tanpa membuang waktu, panah kedua dan ketiga segera menancap di dekat panah pertama, membuat kaki rusa itu kehilangan tenaga dan ambruk.
Di waktu yang sama di belahan dunia lain, seorang pria berzirah besi melangkah mundur. Rambut hitam yang sepenuhnya lengket oleh peluh dan napas yang tersengal tersembunyi di balik zirahnya.
Sriinngg! Pria itu refleks menahan pedang yang diarahkan kepadanya dengan pedang panjang di tangan. Suara-suara pedang yang saling beradu menyusul, turut meramaikan suasana perang di bawah terik sang surya. Debu beterbangan di sepanjang tanah tandus. Bau anyir menyengat di mana-mana. Tubuh manusia tak bernyawa berserakan, bahkan satu dua mau tak mau menjadi pijakan manusia berzirah yang masih hidup itu. Sinar ungu pekat bak larikan petir membungkus masing-masing prajurit berzirah. Beberapa sangat pekat, tapi kebanyakan sudah hampir padam.
Namun di antara mereka semua, sinar ungu bak petir paling menggelegar dipancarkan oleh seorang kesatria berambut pirang, bertarung di baris terdepan, satu lawan satu dengan pemimpin prajurit musuh. Jarak pandangan mereka hanya terpisahkan oleh pedang yang saling beradu. Mata biru dan hitam itu saling menatap sengit.
Detik berikutnya pemimpin pasukan musuh mulai dilanda rasa khawatir. Seluruh tubuhnya menegang meski hasil peperangan masih belum pasti. Crash…. Netra prajurit itu membelalak, perlahan menunduk, menatap pedang panjang yang menancap tepat ke dadanya. Pria berambut pirang itu menarik pedangnya, membiarkan anyir pemimpin prajurit musuh memercik ke mana-mana, juga ke baju zirahnya sendiri.
“Itu nyawa ke-390 yang dia ambil tahun ini,” ucap seorang wanita tenang, menyeruput cangkir teh setelah menyaksikan pengikutnya saling bertarung melalui kolam ajaib. Selembar kain putih membungkus tubuhnya dari lengan hingga mata kaki, membiarkan bagian leher terbuka hingga bahu. Rambut ungu panjang bergelombang digerai menutup punggung. Netra merah bak permata itu terbuka begitu cangkir itu kembali ia letakkan di meja. “Bagaimana menurutmu, Archy?” Senyum mengembang di akhir pertanyaannya, menambah keanggunan dan kecantikan yang dipancarkan sosok dewi itu.
Sementara dewa yang duduk di hadapannya kelihatan acuh tak acuh, tersentak ringan ketika namanya disebut. “Lumayan, kurasa,” ujarnya asal.
Jawaban singkat itu membuat kening dewi di depannya berkerut, api tak kasat mata membara di balik punggungnya. “Archy, kau yang mengusulkan pertemuan ini. Bukankah harusnya kau yang berusaha membuatku tinggal dan bukan sebaliknya?” ucap sang dewi penuh penekanan. Samar-samar rambutnya terlihat mengambang tatkala api yang membara di punggungnya semakin menjadi.
Namun lagi-lagi, dewa di hadapannya itu hanya menghela pelan. “Aku tahu, tapi ini keinginan Dewa Rossiel frost Aesterford, raja para dewa, bukan keinginanku, Sworyne.” Suara serak itu terdengar kaku, seolah sulit mencari kata yang tepat meski wajahnya tetap datar. Bola mata cokelat sejernih tetesan hujan itu menatap tajam. Tampak jelas ketidaksukaan di raut wajahnya.
Dewi berpedang di hadapannya ber-heh singkat, kesal, kemudian memilih bersender pada senderan kursi. “Lalu, bagaimana denganmu? Adakah pengikut yang bisa kaubanggakan? Sebagai informasi, tahun ini pengikutku sudah bertambah menjadi 15,1 kuadriliun,” ucap Sworyne sambil memamerkan senyum miringnya, melipat tangan di depan dada.
Jauh dari yang diperkirakan dewi, sang dewa yang duduk di depannya hanya menanggapi dengan senyum tenang. “Pengikutku tahun ini 15,5 kuadriliun. Pengikut yang kubanggakan tidak ada, tapi pengikut favoritku adalah seorang troll dari Mars.”
Alis kanan Sworyne terangkat. “Troll? Itu tidak biasa.”
“Kau mungkin sulit percaya, tapi dia memanfaatkan kemampuannya dengan baik,” kini nada bicara Archy berubah, menjadi lebih hidup dan bersemangat. “3 bulan lalu, dia bisa memanfaatkan panahnya untuk menyebarkan obat di desa yang terjangkit wabah, jadi lebih efektif tanpa harus membahayakan unit kesehatan mereka. Untuk itu, dia hanya membutuhkan 5 anak panah. Kemudian dia juga menolong anak troll yang hampir tertimpa pohon dengan panahnya yang kuberkati. Bukan hanya itu, dia juga mampu menembak bulan dengan panah. Luar biasa kan?"
Bibir merah Sworyne membentuk huruf “O”. Archy benar, troll satu ini memang tidak biasa. Troll yang dikenal sebagai makhluk pendek dengan kemampuan berpikir rendah. Tubuh besar dan ketamakan yang tinggi. Bahkan mereka diciptakan dengan tidak ragu membunuh sesama jika diperlukan. Ditambah menembak bulan, itu kabar yang menggemparkan alam dewa pada masanya.
“Dia adalah pengikut yang paling kuberkati. Bahkan setelah semua itu, dia masih terus berlatih dan mengasah kemampuannya,” tambah Archy, mengangguk di akhir penuh kebanggaan.
“Sama seperti pengikutku yang seorang elf berarti. Namanya Elarium, seorang pangeran di kerajaan elf bagian barat Jupiter. Dia berhasil menggabungkan ilmu berpedang dengan kekuatan alami para elf, memberi nyawa pada makhluk yang tumbuh di tanah dan penyembuhan. Dalam satu tebasan, pangeran itu bisa menghidupkan lebih dari 500 nyawa tumbuhan. Selain itu dia juga bisa menyembuhkan 5.000 elf korban perang yang kritis dengan tebasan pedangnya,” jelas Sworyne panjang lebar.
Archy menarik sudut bibir, cukup terkesan. “Troll dan elf. Tahun ini memang banyak kejutan. Padahal dulu mereka adalah 2 makhluk paling rendah di semesta ini,” komentarnya.
Sworyne mengangguk. “Sebelumnya aku mengira tahun ini pengikut paling mengejutkan akan tetap dipegang oleh para manusia, sama seperti sebelum-sebelumnya.” Netra Sworyne kembali mengarah ke kolam ajaib di samping, menatap para prajurit berzirah besi yang bersorak-sorai merayakan kemenangan mereka.
Mendengar kalimat itu, suasana hati Archy berubah. Seketika seolah ada hawa gelap yang mengelilinginya. “Ngomong-ngomong soal manusia, kau ingat… siapa itu namanya? Oria? Aifron?”
Terdengar tawa kecil dari bibir Sworyne. “Cyfron.”
“Ya, Cyfron von Regard, nama yang sulit,” gerutu Archy. “Menurutmu, apa yang harus kita lakukan pada manusia congkak itu?”
Sworyne berpikir sejenak. “Manusia yang ingin menjadi sempurna, menguasai pedang dan panah sekaligus. Tapi….”
“Congkak.” Hawa gelap di sekeliling dewa panahan itu semakin pekat, teringat kesal yang ditumpuk selama 5 tahun belakangan menyaksikan manusia congkak itu—waktu yang singkat sebenarnya. Manusia yang berkata ke sana kemari dirinya berbakat dalam ilmu pedang dan panahan, tapi perilakunya….
“Haruskah kita cabut nyawanya saja?” Buyar sudah hawa gelap dan kerutan di dahi Archy. Tatapannya yang setajam anak tajam berubah sedatar batu yang dipoles. Dewa panahan itu merapikan lipatan kain putih yang mengelilingi leher. Kain putih yang membungkus seluruh tubuhnya sampai batas betis.
Bukan tanpa sebab dewa satu itu tiba-tiba merapikan pakaiannya. Sekitarnya seolah terasa dingin, sedingin besi dari pedang yang lama tidak digunakan. Kikikan bak nenek sihir meluncur dari bibir dewi yang hilang sudah kesan keanggunannya di depan Dewa Archy frost Lorn—sudah sejak lama sebenarnya. Masih dengan posisi bersender dan melipat tangan di depan dada, tapi dengan raut wajah seperti dewi yang kerasukan sosok ‘jatuh’.
Archy memijit dahi. “Pantas saja pengikutmu gila semua, dewinya saja seperti ini,” gumamnya. Netra cokelat itu terarah pada kolam ajaib yang kini beralih menampilkan para prajurit yang membawa paksa tawanan perang dari pihak yang kalah. “Untuk sekarang… kita awasi saja dulu.”
Kikikan Dewi Sworyne frost Delarobia itu spontan terhenti, menatap dewa panahan di depannya. Kedua sudut bibirnya terangkat, menyeringai. “’Awasi’?”
Archy tersenyum, siapa pun yang melihat dapat merasakan hawa gelap di balik sosok dewa panahan itu. “Ya, ‘awasi’.”
***
Sekali lagi sang surya terbit dari arah timur. Para pelayan mondar-mandir menyambut hari yang panjang, menyiapkan pakaian dan makanan untuk majikan mereka, membersihkan rumah, membawa baju kotor, dan masih banyak lagi. Para tukang kebun bergegas mengambil perkakas, merawat berbagai macam bunga yang ditanam di taman belakang.
Tempat yang sangat sibuk di pagi yang cerah itu adalah kediaman milik bangsawan dengan sejarah panjang di kekaisaran, keluarga Count Regard. Meski telah menjabat sebagai count selama ribuan tahun, Keluarga Regard tidak terlalu mencetak prestasi gemilang. Dalam berpedang, sihir, akademik, maupun kepemimpinan wilayah, semuanya terlalu biasa untuk ukuran seorang bangsawan. Meski demikian, mereka tetap dihormati di lingkungan masyarakat selayaknya keluarga count umumnya.
Di ujung meja panjang kayu di salah satu ruang kediaman, duduk sang kepala keluarga. Rambut cokelat kemerahannya tersisir rapi ke kanan. Raut wajah tegas dan sedikit kumis di bawah hidung mancungnya. Postur tubuhnya baik sebagaimana bangsawan yang berlatih pedang. Mengenakan jas biru navy dan celana panjang senada.
Di sisi kanan meja, tepat di dekat kepala keluarga, duduklah seorang wanita yang tak lain adalah Countess Regard yang sekarang. Rambut pirangnya dibiarkan tergerai menutup punggung. Kulitnya pucat tatkala tubuhnya lemah sejak lahir, apalagi setelah melahirkan putra kedua Count Regard. Namun bola mata hijau itu selalu memancarkan kehangatan dan harapan untuk hari esok. Senyum lembut senantiasa menghiasi bibir wanita yang dulunya dikenal sebagai putri seorang baron.
Seorang anak lelaki duduk tepat di seberang sang countess. Rambut cokelat kemerahannya mengikuti count, tapi bola mata hijaunya adalah keturunan countess. Raut wajahnya mulai menegas khas remaja 15 tahun. Tinggi remaja itu sekarang sudah hampir menyamai count. Postur tubuhnya biasa tatkala anak itu tidak tertarik dalam berpedang atau kegiatan fisik lainnya. Anak itu lebih memilih mengurung diri di kamar dan belajar, bercita-cita untuk menjadi menteri kekaisaran pertama dari keluarganya.
Piring-piring kosong dan segala peralatan makan sudah selesai dipersiapkan di meja sedari tadi, tinggal menyuguhkan makanan. Para pelayan pun sudah sejak tadi bersiap kalau-kalau count menyuruh menghidangkan makanan. Namun mau tak mau, mereka terpaksa menunggu satu orang lagi.
Pintu kayu besar itu terbuka, membuat orang yang muncul dari baliknya spontan menjadi pusat perhatian. Anak laki-laki berambut pirang dengan mata biru turunan count Regard sebelumnya. Bentuk mata anak itu tajam, setajam mulutnya pada orang-orang sekitar. Mengenakan jas merah dan pita hitam di leher, juga celana pendek berwarna hijau tua. Dengan santainya anak itu berjalan, menarik kursi di sebelah putra pertama Count Regard, dan duduk. Sedikit pun tak tampak rasa bersalah karena membuat orang di ruangan ini menunggu selama lebih dari 45 menit.
Terdengar helaan berat dari pria 38 tahun, “Hidangkan makanannya.” Tanpa membuang waktu, para pelayan di ruangan itu segera menjalan perintah sang kepala keluarga. Pintu kayu sekali lagi terbuka, barisan panjang pelayan yang membawa nampan berdatangan, mengisi kekosongan bagian tengah meja.
“Kau terlambat,” bisik putra pertama Count Regard ke anak yang lebih muda 5 tahun darinya itu. Namun yang ditegur hanya mengangkat bahu tak acuh. “Aku ketiduran.”
Masing-masing anggota keluarga count itu disodorkan baskom kecil berisi air untuk mencuci tangan. Setelahnya mereka disodorkan kain linen untuk mengelap tangan. Setelah selesai digunakan para pelayan membawa kembali baskom dan kain linen itu.
“Baiklah, sekarang mari kita berdoa,” ucap kelapa keluarga begitu seluruh hidangan selesai disuguhkan. Diawali ucapan syukur atas hari yang baru dan makanan yang masih bisa mereka nikmati, memohon berkat dan kesejahteraan atas keluarga mereka. Kemudian doa itu ditutup oleh kata ‘amin’ oleh kepala keluarga.
Begitu kelopak matanya terangkat, hal pertama yang dicari sepasang mata hijau itu adalah Cyfron von Regard, putra kedua Count Regard. “Kau… tolong, jangan berulah hari ini,” ucap Count Regard pasrah, memijit keningnya yang terasa pening. “Setidaknya di kediaman ini sampai liburanmu selesai,” tambahnya.
Anak berambut pirang itu tersenyum riang, melihat antusias makanan yang tersuguh di meja. “Jangan khawatir, Ayah. Ketika aku menjadi master pendekar pedang sekaligus pemanah terhebat di kekaisaran, orang-orang rendahan itu tidak akan berani mengkritikku lagi.”
Tawa singkat penuh penderitaan meluncur dari bibir kepala keluarga Count Regard, menjadikan suasana meja makan sedikit menegang. Countess dan tuan muda pertama yang hendak mengambil makanan pun urung.
“‘Orang-orang rendahan’?” Count tidak habis pikir. Apakah di mata anak itu duke tertinggi di kekaisaran ini orang rendahan?
“Berhentilah berkata hal yang bahkan tidak niat kau wujudkan, kau membuatku malu! Setidaknya jika tidak bisa sebagai ayah, hargai aku sebagai Count!” Count mengentakkan tangannya ke meja, membuat suara piring dan peralatan makan lainnya berdentang hingga langit-langit.
Sedangkan tuan muda kedua yang diteriaki mematung. Tidak lama, hanya sedetik, kemudian dengan segera mengangkat kedua sudut bibir. “Baiklah, jangan khawatir. Kalau anda tidak mau mendengarnya, saya tidak akan mengulanginya, Count Regard yang terhormat.”
Suara kaki kursi yang bergesekan dengan lantai membuat Count Regard yang semula menunduk menoleh. Dengan beraninya putra kedua Count Regard berdiri, meletakkan tangan di dada, sedikit menunduk. “Kalau begitu saya permisi dulu, Count Regard yang terhormat.”
Tanpa menanti jawaban, anak 10 tahun itu langsung melangkah menuju pintu kayu, membuat sang count mengigit bibir kesal. “Cyfron von Regard! Kembali!” Bak semilir yang lewat, seruan itu tidak dipedulikan oleh Monster Kecil Keluarga Regard.
***
Krauk. Tuan muda kedua dari keluarga Count Regard yang dihormati, kini berbaring di rerumputan, memakan apel merah yang dibawa diam-diam oleh pelayannya. “Sungguh menyedihkan,” Cyfron bermonolog. Mata birunya menatap lesu kapas putih yang menghias langit.
Namun sedetik kemudian, apel merah itu menggelinding di tanah, membuat hawa dingin berseliweran di taman belakang kediaman Count Regard itu. Netra biru sedalam samudra itu menatap tajam pada seorang pemuda yang kini bersujud ke arahnya. "T-tolong maafkan saya..., Tuan Muda...."
Putra kedua Count Regard itu tidak menjawab, berdiri, meletakkan kedua tangannya di bahu pemuda itu. "Lihat aku," ucapnya penuh penekanan.
Bibir pemuda itu gelagapan, perlahan mendongak, menatap bola mata biru yang hanya berjarak sejengkal dari bola mata cokelatnya.
"S-saya benar-benar tidak sengaja..., Tuan Muda," ulangnya. "Tadi saya hendak pergi latihan..."
"Oh, latihan ya? Mengayunkan pedangmu dengan asal itu juga latihan?" ucap Cyfron penuh intimidasi, membuat pemuda itu bergidik. Anak yang dijuluki Monster Kecil Keluarga Regard itu mendekatkan bibir ke telinga sang pemuda. "Kalau tadi pedangmu mengenaiku dan bukan apel itu, kira-kira apa yang akan terjadi pada adikmu yang lumpuh itu, ya?"
Netra pemuda bergetar, refleks mengentak-entakkan dahinya ke tanah. "Saya bersalah, saya mohon ampuni saya, Tuan Muda…." Setetes cairan merah mengalir dari lecet di bawah helaian poin cokelat itu, tapi pemuda itu tidak berhenti seolah sama sekali tidak merasa sakit.
Sudut kanan bibir Cyfron terangkat, pandangannya tertarik pada senjata panjang di sebelah pemuda itu. Tanpa pikir panjang anak 10 tahun itu mengambil pedang yang tergeletak di rerumputan, menghunusnya tepat ke atas bahu pemuda itu. Pemuda itu mematung seketika.
"Sir Elzaire. Menurutmu mana yang terbaik bagi adikmu? Hidup selamanya sebagai adik kesatria yang dihukum mati karena menyerang bangsawan, atau adik kesatria yang mengundurkan diri karena kehilangan 2 tangan akibat 'kecelakaan'?" Cyfron sedikit memiringkan kepala, menikmati getaran yang membungkus tubuh pemuda yang menunduk itu. "Atau... cukup kucopot gelar kesatriamu dan membuatmu tidak akan pernah bisa mengangkat pedang lagi?"
Tanpa pikir panjang pemuda yang panik itu langsung memeluk kaki tuan muda kedua Keluarga Regard, bersujud tepat di sepatunya. "Saya mohon jangan, Tuan Muda," ucapnya bergetar, wajahnya pucat. "Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Sungguh!"
Helaan meluncur dari bibir anak berambut pirang itu, menatap pemuda yang setia menundukkan kepala di kakinya. "Baiklah.”
Elzaire menegup ludah, perlahan mendongak. Ketika ia mengira akan mendapat pengampunan yang langka dari putra kedua majikannya, justru 'seringaian sial' Monster Kecil Keluarga Regard yang ia dapati. "Aku akan mengambil kedua tangan dan kakimu!"
Bak menendang sampah di pinggir jalan, tuan muda kedua Keluarga Regard menendang kesatria itu hingga terbaring, menginjak tepat di atas jantung. Elzaire menggeram tatkala dadanya terasa sesak. Wajahnya pasi, bukan karena paru-parunya yang seolah hendak pecah, melainkan ekspresi yang ditunjukkan anak 10 tahun di hadapannya. "Setidaknya merasa beruntunglah karena yang mengambil tangan dan kakimu adalah calon master pendekar pedang terhebat dan ahli panahan terbaik di masa depan," ucap Cyfron ketika pedangnya berada di atas kepala.
Crash…. Pemuda itu membelalak, dapat merasakan bagian tubuhnya yang mendidih. Perlahan pemuda itu menoleh, mendapati pedang tajam yang menacap tepat di bahunya. “A-a-AARGG!!!” Pemuda itu meronta, tapi kaki yang menapak tepat di jantungnya tetap kokoh. Sudut kanan bibir monster itu terangkat, menikmati alunan di telinga.
Detik berikutnya, pemuda itu seolah tak dapat berkata-kata. Pedang yang sama berkali-kali menusuk dan ditarik dari tubuhnya. Dari bahu, paha, hingga dada. Bau anyir memenuhi halaman belakang kediaman Keluarga Regard. Titik-titik cairan merah menempel di wajah tuan muda kedua, membasahi seluruh pakaiannya. Tawa-tawa singkat penuh kepuasan sesekali lolos dari bibir anak itu.
“Baiklah, cukup sampai di sana.” Langit yang cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap dipenuhi gemuruh. Larikan-larikan petir menyambar, membuat anak itu refleks berhenti, menancapkan pedang tepat di dada sebelah kanan kesatria yang entah masih bernyawa atau tidak.
“Cyfron von Regard.” Di balik awan gelap itu, tampak seorang dewi berambut ungu panjang bergelombang. Kulit seputih salju. Hingga mata semerah darah yang menatap tajam ke bawah. Di balik punggungnya, larikan sinar ungu bak petir menggelegar ke sana kemari. Dewi itu mengangkat tangan, membuat Cyfron mengerjap beberapa kali. Butuh beberapa detik bagi anak itu untuk mencerna makhluk yang muncul di hadapannya.
Sebuah pedang meluncur diikuti gerakan tangan sang dewi, ujungnya mengarah tepat ke bola mata biru Cyfron von Regard. Sudut kanan bibir anak itu terangkat, lagi-lagi tak sedikit pun merasa gentar. Cyfron menarik pedang yang menancap di tubuh anak itu, berniat menghalau pedang itu dengan pedang di tangan.
Sriingg! Pedang yang meluncur itu melayang begitu saja begitu mengenai pedang di tangan Cyfron, tergeletak ke rerumputan. Dahi anak itu berkerut. "Benarkah kau Dewi Berpedang yang legendaris itu, yang katanya setiap pendekar pedang harus diberikati olehmu agar bisa..."
Sebelum anak itu menyelesaikan perkataannya, sesuatu lebih dulu menembus dadanya.
"Hanya itu kemurahan hati yang bisa kuberikan pada manusia congkak sepertimu," ucap Sworyne.
Anak itu perlahan menunduk. Kedua sudut bibirnya terangkat melihat pedang panjang yang menancap di sana.
Sworyne sekali lagi mengangkat tangan. Kali ini terhitung ratusan pedang meluncur mengikuti gerakan tangannya. Namun lagi-lagi, anak itu tidak gentar. Pakaian, tangan, kaki, dan wajahnya dipenuhi lumuran darah.
Ketika anak yang termakan kesombongan itu berniat menghalau pedang dari Dewi Berpedang dengan pedang biasa, matanya menangkap sebuah busur dan sekelompok panah tergeletak di rerumputan. Tanpa pikir panjang anak itu membuang pedang di tangan, beralih mengambil busur dan panah itu.
"Wahai Dewa Panahan, berkatilah aku," serunya percaya diri, seolah sang dewa akan mengabulkan keinginannya.
Larikan sinar hijau bak petir membungkus tubuh Cyfron, dan anak itu dapat melihatnya, membuat sudut bibirnya tambah terangkat. Anak itu menarik panah pada tali busur, kemudian melepasnya. Anak panah itu membela diri seiring sepersekian detik berlalu, mengarah ke sang dewi. 1 menjadi 2, menjadi 4, dan seterusnya hingga jumlahnya ribuan ketika baru melayang sejauh 3 meter.
Namun ketika kelopak mata Cyfron terangkat, panah-panah itu berubah arah dalam sekejap. Mata anak itu terbuka sempurna tatkala merasakan panas di seluruh tubuh. Darah mengalir di sekeliling panah yang menancap di seluruh tubuh, bak paku menancap di dinding. Tubuh anak itu ambruk seketika.
Kemudian ribuan pedang yang masih mengarah kepadanya, menguarkan sinar ungu terang, bersatu menjadi sebuah pedang raksasa. Bayangan tajam ujung pedang itu memantul di bola mata birunya. Namun bukan anak itu, pedang raksasa itu menancap tepat di sebelah wajahnya. Bahkan pipinya dapat merasakan hangat pada besi pedang itu.
Sworyne menghela. "Kau terlambat." Larikan sinar hijau muncul di sebelahnya, menampakkan seorang dewa berambut keperakan di sebelahnya. Netra cokelat itu memandang ke bawah. "Tidak juga."
***
Bertahun-tahun berlalu. Tersebar kabar gembira bahwa untuk pertama kalinya, Keluarga Count Regard mencetak perdana menteri kekaisaran.
"Selamat, kau memang putra kebanggaanku," ucap Count Regard sambil menepuk putra pertamanya, bersulang.
"Ayah bisa saja." Netra hijau itu menilik seiitar, kemudian terarah ke pintu kayu yang menghubungkan dengan bagian dalam rumah. "Ngomong-ngomong... bagaimana keadaannya?"
Count Regard tertegun, tapi kemudian menggeleng. "Jangan bicarakan ini dengan ibumu, belakangan kesehatannya menurun karena anak itu. Jujur aku juga tidak mengerti. Sejak hari Sir Elzaire diangkat menjadi pemimpin pasukan kita, anak itu tidak pernah bangun dari tidurnya. Hampir semua dokter di ibu kota sudah memeriksanya, tapi nihil. Aku berencana membawanya ke Kerajaan Derio jika ini masih berlanjut." Pria setengah baya itu menghela.
Pemuda yang telah beranjak dewasa itu mengangguk paham, meneguk anggur di tangan. "Begitu."
Yah, setidaknya sekarang tidak ada lagi monster berisik yang mengatakan akan menjadi master pendekar pedang atau ahli panahan terbaik kekaisaran, pikir putra pertama Count Regard itu.