25 November 1856
Lautan jingga berpadu dengan pink menguasai langit di ufuk barat. Rosaceae Duchy yang sedang sibuk dari pagi buta hingga kini, hanya karena satu alasan. Yaitu, perayaan ulang tahun ke-17 putri ke-2 dari Keluarga Rosaceae. Lily de Diamond Rosaceae, sang peri permata Rosaceae.
Lily adalah gadis periang namun pemalu, dia baik hati dan juga sangat menyayangi keluarganya. Ia ingin menjadi gadis yang anggun seperti kakak perempuannya saat ia dewasa, Noxita de Roosevelt Vangelis. Namun takdir berkata lain....
Langit telah dikuasai warna hitam pekat, nampak bintang berkelap-kelip di atas sana. Merayu sang Dewi malam, hingga merah merona. Ya, tepat ketika bulan merah muncul. Saat pesta ini diadakan.
Para tamu undangan sudah hadir dan memenuhi ruangan pesta, mereka semua mengenakan pakaian yang mewah.
“Putri Lily de Diamond Rosaceae dan Briallan de Roosevelt Vangelis memasuki ruangan,” seorang penjaga pintu ruangan mengumumkan. Pesta tersebut diadakan di gedung Rosaceae, yang ada di samping Mansion Rosaceae.
Lily memasuki ruangan pesta bersama Briallan yang menjadi partner-nya di malam yang istimewa itu. Sang gadis dengan elegan seraya memegang tangan Briallan. Lily yang mengenakan gaun berwarna putih dengan beberapa renda merah menghias di tepian roknya. Briallan pun mengenakan setelan jas berwarna putih dengan ornamen biru di tepiannya.
Pesta pun dimulai, para tamu undangan mulai menghampiri Lily dan mengucapkan selamat padanya. Lily yang berdiri bersama Ayah Ibunya, merasa sangat bahagia. Terlihat seorang gadis berambut hitam keunguan mendekati mereka.
“Selamat karena sudah dewasa adikku Lily,” ucap Noxita seraya memeluk adiknya, pipi Lily merona. Dan berkata.
“Kakak ... Aku bukan anak kecil lagi.”
Noxita melepas pelukannya dan tersenyum menatap Lily. Lily tersenyum dan kembali tersipu malu.
“Mana Briallen nak?” tanya sang Ibu pada Noxita. Dia hanya bisa cemberut dan berkata.
“Dia dipanggil oleh Baginda Raja tadi sore Bu dan bilang kalau akan kemari sedikit terlambat.”
“Owalah, ya sudah sayang. Xita nikmati saja pestanya sambil menunggu,” jawab sang Ibu. Sang gadis menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Noxita yang nampak anggun dengan balutan gaun berwarna putih panjang yang berhias beberapa permata khas Tanzanite. Noxita yang terlihat cantik serta misterius, sedangkan Lily cantik dan murni. Semua orang selalu menatap mereka dengan kagum.
“Maukah kau berdansa satu lagu ini denganku Lily?” tanya Briallan sambil mengulurkan tangannya. Lily menerima uluran tangan Briallan dan berkata.
“Tentu.”
Setelah Lily berdansa satu lagu bersama Briallan, maka Duke Rosaceae pun meminta perhatian para tamu undangan. Dan mengajak untuk bersulang bersama sebagai tanda memberikan selamat pada bintang utama pesta ini.
“Terima kasih untuk para hadirin yang hadir dan mari kita bersulang untuk memberikan selamat pada bintang utama pesta ini!” seru Deaf seraya mengangkat segelas minuman dan segera meminumnya.
“Selamat Lady Lily. Selamat,” ucap serempak para hadirin yang segera meminum minumannya. Noxita yang hendak meminum minumannya, mendadak terhenti.
“Pyar!” terlihat salah satu hadirin yang tiba-tiba muntah darah dan ambruk, dengan pecahan gelas di dekatnya. Satu persatu hadirin yang telah meminum minuman itu jatuh dengan darah mengalir dari mulut, hidung dan telinganya.
“Ayah, Lily, Ibu. Jangan diminum!”
Deaf yang sudah meminumnya sedikit, langsung ambruk. Tak bisa berdiri lagi, Tubuhnya terasa lumpuh. Lily yang menyaksikan itu semua seketika langsung shock dan menutup kedua telinganya. Dengan tubuh gemetar, ia tak bergeming.
“Tenanglah Lily. Aku akan melindungimu,” ucap Briallan yang memeluk Lily. Sang gadis di dalam pelukannya mulai tenang, saat merasakan pelukan hangat Briallan.
Keadaan menjadi kacau, ruang pesta yang tadinya meriah karena sukacita. Sekarang berubah menjadi kepanikan yang penuh kekacauan. Darah dimana-mana, Noxita melihat pemandangan itu dengan tenang.
“Allan, tetap jaga Lily!” perintah Noxita pada adik iparnya itu. Saat dia memeriksa sekitar dengan sihirnya, Noxita merasakan jika ada penghalang yang melingkupi bangunan tempat pesta ini. Sehingga tidak ada yang bisa keluar untuk menyelamatkan diri.
“Tring ...” terdengar suara pedang yang menggores lantai marmer nan dingin. Terlihat sesosok laki-laki bertopeng menyeret pedang berlumuran darah.
Laki-laki tersebut mengarahkan tangannya ke depan dan seketika muncul banyak serigala yang muncul dari bayangan. Mereka mulai menyerang para tamu undangan yang belum sempat meminum minuman beracun itu.
“Lily, berlindunglah di belakangku!” Briallan menebas setiap serigala bayangan dengan pedang sihirnya. Menjaga agar Lily tetap aman dan terlindungi.
Namun sang gadis berkehendak lain dan maju seraya melancarkan serangan sihir ke serigala-serigala bayangan yang menyerang mereka.
“Aku tidak mau hanya dilindungi,” ucapnya seraya terus menembakkan serangan sihir. Briallan tersenyum dan menebas serigala yang menerjangnya.
Di sisi lain, Noxita yang berhadapan dengan pria bertopeng itu siaga dan tetap mengamati gerak-gerik lawannya. Saat ia seketika menghilang dari pandangan Noxita. Terdengar sebuah teriakan.
“Xita! Di belakangmu!” seru seorang laki-laki berambut abu-abu keperakan panjang yang dengan cepat menjadi perisai dan terkena tusukan tepat di dada kiri dari pria bertopeng.
Noxita yang kaget, hanya bisa membelalakkan matanya. Gemuruh amarah memenuhi hatinya, keinginan untuk menghancurkan pria tersebut pun meluap. Rambut Noxita yang semula berwarna hitam keunguan, berubah menjadi Silver. Matanya yang tadinya merah, berubah menjadi abu-abu.
“Kau ...” terdengar suara parau keluar dari mulutnya. Noxita mengeluarkan sepasang sayap berwarna perak dan dengan cepat menerjang lelaki bertopeng itu.
“Hancurlah!” seru Noxita saat mengeluarkan kilatan cahaya dan mengarahkannya pada lelaki tersebut. Namun serangannya bisa ditangkis dan menghantam ke dinding. Noxita terkesiap, lelaki itu hanya berdiri dengan tenang.
“Akhirnya kau menampakkan wujud aslimu. MONSTER,” suara lelaki tersebut terdengar menakutkan dan kejam, namun Noxita tak gentar.
Ia kembali menyerang dengan segala macam sihir serangan. Namun dia tak tergores sedikitpun. Lily yang melihat kakaknya kewalahan, akhirnya mendekatinya. Namun seekor serigala bayangan menerjangnya. Semua terjadi dengan cepat. Lily hanya bisa menutup matanya, tetapi tidak ada rasa sakit yang ia rasakan.
Manik merahnya membulat sempurna, saat ia membuka matanya. Nampak Briallan yang menghadang serangan serigala bayangan tadi dan berakhir ia terluka parah. Lily yang kembali shock, merasakan amarah yang membuncah di dadanya. Hingga sesak.
Lily yang menggunakan sihir teleportasi, berpindah ke hadapan lelaki bertopeng dan siap menyerangnya dengan pedang sihir yang ia keluarkan. Namun saat di dekatnya, pedang sihir Lily lenyap dan ia tak bisa menggunakan sihir yang lain. Saat Lily panik, lelaki bertopeng itu menyeringai dan mencengkeram erat leher Lily dengan tangan.
“Monster. Akan kumusnahkan kalian!” serunya seraya menghunuskan pedangnya ke jantung Lily.
Gadis itu terperanjat dan seketika ia dilempar ke dinding oleh lelaki itu. Lily berteriak saat membentur dinding.
“Aakkhh?!”
Noxita dengan segera menghampiri Lily yang tergeletak dan memangku kepala adiknya. Gaun putihnya sekarang menjadi merah karena dibanjiri oleh darahnya. Noxita makin murka.
“Ka–kak ....” ucap Lily terbata, dengan lemah ia berusaha tersenyum. Noxita yang semakin murka, dengan sihir ia memindahkan Briallan ke dekat Lily. Dan kemudian pergi untuk menghadapi lelaki bertopeng itu.
“Li ... ly? Lily tenanglah ... Aku sudah ada disampingmu,” suara Briallan terdengar bergetar saat mencolok untuk membuat sang gadis tenang. Briallan tak kuasa untuk menahan air matanya.
Di sisi lain, Noxita tanpa pikir panjang. Segera menerjangnya. Dengan kecepatan tinggi, ia terbang ke arah lelaki itu. Namun lawannya pun bisa menggunakan teleportasi dan menghindari serangan yang dilancarkan Noxita.
Namun saat Noxita sedikit lengah, iapun terkena serangan listrik yang lelaki itu keluarkan. Noxita seketika menjerit, saat sihir itu mengenainya.
“ Aaakkkhhh???!!”
Noxita ambruk, tak berdaya. Lelaki tersebut mendekatinya dan menatap Noxita dengan tatapan bengis.
“Monster lincah satu ini sudah tertangkap. Hahahaha!” ia tertawa setelah berhasil melumpuhkan Noxita.
Digenggamnya rambut silver Noxita dan ditarik ke atas. Yang mana membuat sang gadis mengeluarkan ekspresi kesakitan. Lelaki bertopeng itu tersenyum lebar dan bisa dibayangkan jika ia membuat ekspresi gila.
“Selamat tinggal Monster cantik,” ia tertawa dan menghunuskan pedangnya tepat di jantung Noxita berada. Sang gadis tersentak dan membelalakkan matanya, terlihat darah merembes ke gaun putihnya yang indah.
“Al–len ...” sang gadis menyebut nama orang yang ia cintai.
Di tempat lain....
Briallen yang merasakan perasaan yang tak enak dan tiba-tiba khawatir, memutuskan untuk segera pergi ke Rosaceae Duchy. Ia mengeluarkan sepasang sayap berwarna hitam dan segera terbang dengan kecepatan tinggi. Jarak antara Ibukota dengan Rosaceae Duchy adalah 2 jam perjalanan.
Namun dengan kecepatan yang Briallen gunakan, hanya dalam hitungan menit bisa ia tempuh. Saat memasuki area Rosaceae, Briallen melihat banyak warga bergelimpangan. Tercium aroma darah yang sangat pekat. Saat dilihat dengan seksama, warga tersebut sudah meninggal dengan darah mengalir dari mulut, hidung dan telinganya.
“Xita?!” seru Briallen, saat perasaan cemas makin berkecamuk di hatinya.
Ketika ia sampai di tempat pesta, terlihat ada sihir yang menyelubungi bagian luar bangunan tersebut. Dengan sihir penetral, Briallen berhasil menghancurkan pelindung tersebut. Segeralah ia masuk dan melihat kekacauan yang nampak di hadapannya.
Mayat dimana-mana, dari anak kecil hingga dewasa. Saat ia mencari sosok istrinya, iapun menemukan Noxita yang terhunus pedang di dadanya. Amarah Briallen nampak di wajahnya, iapun menjadi gelap mata dan segera menerjang orang yang menusuk kekasihnya.
Saat Briallen menyerangnya dengan serangan sihir, ia sama sekali tak tergores dan segala sihir yang menyerangnya menghilang.
“Nampak ia punya penetral sihir,” pikir Briallen yang berhenti menyerang.
Ia langsung menarik pedang yang ada di pinggangnya, lalu terbang dengan seketika ke lelaki itu. Tebasan demi tebasan mereka lancarkan, saling menyerang dan menghunus. Hingga Briallen berhasil menusukkan pedangnya ke jantung lelaki bertopeng itu. Ketika lelaki itu kalah, topengnya pun jatuh.
“Kau?!” pekik Briallen, namun belum sempat ia melakukan sesuatu lagi. Ia teringat akan Istrinya.
“Xita!” Briallen membiarkan pedangnya dan menuju tempat Noxita tergeletak lemah. Sang gadis tersenyum saat melihat orang yang dicintainya itu.
Di sisi lain....
Briallan sedang merangkul kepala Lily, tak mempedulikan pundaknya yang terluka akibat serangan serigala bayangan. Ia masih menangis menatap manik merah sang gadis yang makin melemah.
“Al-lan ... Ja–ngan ... Mena–ngis ... Ak–ku ak–kan kem–ba–li pa–da–mu ...” ucap Lily terbata-bata.
“Sshh ... Jangan ... Jangan memak–sakan diri untuk berbicara Lily ...” jawab Briallan yang tak sanggup untuk bicara. Sang gadis tersenyum dan berkata lagi.
“Ta–k akan ku– biarkan o–rang o–rang y–ang kusay–yangi sed–ih dan kese–pia–n ...”
Tangan sang gadis pun terkulai lemah, tak lagi bernyawa. Briallan memeluk sang gadis dalam dekapannya dan menangis sejadi-jadinya.
“Lily? Lily?!” panggilnya yang tak ada sahutan.
25 November 1992
Terdengar suara tangis bayi perempuan yang menggema di ruang persalinan. Bayi cantik nan mungil, memiliki rambut berwarna hitam dengan manik mata berwarna merah. Putri ke-2 dari pasangan Sarah dan Nathan Rozenweits.
Gadis mungil itu diberi nama Ella Rozenweits.
~ ☽ ☾ ~
VRXNI
Hai ... hai ... hai....
salam kenal aku NI.光 bersama VR.Stylo mengucapkan terima kasih kepada pembaca yang sudah membaca cerpen kami ini (ღ˘⌣˘ღ)
jangan lupa baca novel kami juga dengan judul "When the Night Come" bila masih penasaran dengan lanjutan cerpen "Blood Rosaceae" 🤗