_Bruak!_
Suara bantingan pintu mobil terdengar begitu kuat, hingga orang-orang di sekitar tempat parkir di salah satu swalayan itu menoleh ke arahnya.
"Dasar laki-laki tidak tau diuntung.
Belanja gitu aja lama banget!" Siska mengoceh, sembari berjalan menuju ke arah pintu masuk swalayan. Namun, diurungkan niatnya untuk masuk karena yang ditunggu sudah datang.
Sementara beberapa saat yang lalu di dalam sebuah swalayan.
"Eh, Mas, antri, dong! Kita juga capek mulai tadi nunggu giliran buat bayar. Jangan main serobot gitu aja!" Aqila menegur seorang laki-laki paru baya karena tidak mau mengantre dan langsung berdiri di depan kasir.
"Maaf, Mbak! Saya sedang buru-buru. Belanjaan saya juga sedikit kok, Mbak." Azwan tetap memaksa menyerobot antrean.
Aqila terdiam. Dia hanya mengamati sosok Azwan yang sejak tadi terburu-buru. Ada hal aneh yang dilihat Aqila dari sosok Azwan.
Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Azwan selesai juga dengan barang belanjaannya. Dia buru-buru mencari pintu keluar. Sekilas dia melihat sosok Aqila dan segera dia menghampirinya.
"Mbak, maaf dan terima kasih atas antreannya!" Azwan pergi begitu saja setelah mengucapkan permintaan maaf kepada Aqila.
"Tunggu!" Aqila menghentikan langkah Azwan seraya berjalan menghampirinya.
"Ada apa lagi, Mbak! Bukankah saya juga sudah minta maaf?" tanya Azwan.
"Begini saja, Mbak! Ambil kartu nama ini. Nanti Mbak bisa telepon saya atau chat saja, biar saya yang telepon kalau Mbak mau tahu alasan saya menyerobot antrean, Mbak." Azwan menaruh kartu namanya di atas tangan Aqila. Dia segera berlari menuju mobil yang dia parkir di depan swalayan.
Sesampainya di tempat parkir, Azwan langsung saja diberondong pertanyaan dan cacian dari sang istri. Ya, Siska adalah istri dari Azwan Saguvta Lazwardi. Siska yang notabennya anak seorang konglomerat harus menikah dengan Azwan karena perjodohan.
Awalnya Azwan juga tidak mau menikahi Siska. Akan tetapi, akibat utang keluarga Azwan yang cukup banyak kepada keluarga Siska, mau tidak mau dia harus mengikuti permintaan keluarga Siska untuk menjadi menantunya.
Azwan yang seorang jenius menjadi incaran para pengusaha waktu itu. Kepintaran yang di atas rata-rata sejak kecil membuat dia selalu di segani dan dicari banyak orang karena kemampuannya.
"Lama amat, sih! Cuma beli snack sama susu doang. Dasar laki-laki b*doh, tidak tahu terima kasih. Tidak tau diuntung!" Siska membentak, sambil tangannya menunjuk ke arah Azwan.
Azwan hanya diam tidak menjawab. Dia tidak mau terjadi keributan di tempat umum. Namun, Aqila yang sudah terlanjur mendengar omelan sang perempuan menjadi ibah melihat Azwan. Pasalnya Azwan seorang laki-laki yang penuh wibawa dilihat dari penampilan secara fisiknya. Dia dibentak dan dimaki begitu miris menyayat hati.
Dua minggu telah berlalu. Tanpa sengaja Aqila yang sedang duduk di sebuah kafe, melihat sosok Azwan sedang berkumpul dengan beberapa temannya. Mungkin mereka sedang melakukan pertemuan di kafe tersebut.
Aqila teringat kartu nama yang pernah diberikan Azwan. Dia masih menyimpannya dengan rapi di dalam tas punggung miliknya. Diambilnya kartu nama itu, lalu Aqila mencoba mengetikkan beberapa kata pada layar ponselnya. Nomor milik Azwan menjadi tujuannya.
_'Gimana nyapanya, coba?'_ tanya Aqila dalam hati.
Kemudian Aqila melihat lagi ke arah Azwan, tadinya mereka berlima, sekarang tinggal bertiga saja. Aqila segera mengirimkan chat kepada Azwan.
💌 "Selamat siang!" Aqila menyapa dalam pesannya.
Setelah beberapa menit kemudian Azwan membuka ponselnya yang baru saja bergetar.
💌 "Selamat siang juga! Ada yang bisa saya dibantu?" Azwan membalas pesan Aqila.
💌 "Perkenalkan, saya Aqila! Saya mau minta penjelasan kepada Anda tentang penyerobotan antrean di swalayan tempo hari."
Setelah beberapa saat mereka berkirim pesan melalui aplikasi WhatsApp, akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu. Aqila segera mendatangi tempat duduk Azwan.
"Siang, apa kabar?" Aqila mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Siang juga! Kok, cepet banget nyampainya?" Azwan menyambut uluran tangan Aqila.
"Karena sejak tadi saya duduk di pojok belakang sana." Aqila menunjuk ke arah pojok belakang.
Keduanya pun saling berbincang. Keakraban di antara mereka mulai terjalin. Azwan menceritakan semua yang terjadi antara dirinya dan sang istri. Aqila akhirnya mengerti kenapa Azwan selalu terburu-buru. Pada saat itu pun sebelum mereka memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing, Siska sudah lebih dahulu menyuruh Azwan pulang.
"Maaf, ya, Mas! Sudah buang-buang waktu Mas!" Aqila meminta maaf sebelum pergi meninggalkan tempat parkir di kafe itu.
"Lain kali kita ngobrol lagi," kata Azwan sembari menutup pintu mobil Aqila.
Waktu begitu cepat berlalu, kini hubungan Azwan dan Aqila bukan lagi pertemanan, mereka menjalin hubungan terlarang. Azwan yang sempat tak punya lagi gairah hidup kini mulai bersemangat. Aqila Khumaira gadis cantik yang sangat dipuja banyak lelaki kini telah dipinang secara agama oleh Azwan.
Awalnya keluarga Aqila sangat menentang pernikahan mereka, tetapi karena Aqila anak mereka satu-satunya, mereka mendukung saja keinginan Aqila, asalkan Aqila bahagia.
Dua tahun sudah mereka mengarungi bahtera rumah tangga. Kehidupan mereka sangatlah bahagia, tak ada sedikit pun kesedihan menghampiri mereka.
Hampir satu Minggu, Azwan tidak datang ke rumah Aqila. Dia hanya beberapa kali saja mengirimkan pesan. Aqila yang sendirian merasa kesepian.
_'Mas Azwan ke mana, ya? Uda hampir seminggu, kok, ga datang? Apa aku samperin aja, ya, ke rumahnya?'_ tanyanya dalam hati.
Tak lama kemudian ketukan pintu terdengar dari dalam rumah.
_Tok, tok, tok!_
_'Siapa, sih, masih pagi uda bertamu?_
Tanpa menunggu lama, Aqila membuka pintu rumahnya. Ternyata yang datang adalah Azwan. Hati Aqila begitu bahagia. Berbunga-bunga layaknya remaja yang sedang kasmaran.
"Kangen, ya?" tanya Azwan sembari memeluk istri cantiknya itu.
"Sangat, Mas!
Keduanya pun melepaskan kerinduan yang sudah tak bisa dibendung lagi. Kegiatan panas pun mereka lakukan di pagi buta itu. Tanpa terasa, sudah tiga jam mereka bergelud di dalam satu selimut yang sama.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Aqila dan Azwan yang sudah berbenah diri segera keluar dan melihat siapa yang datang.
Ketika pintu dibuka, tanpa sepatah kata pun seorang wanita langsung menyerang Aqila.
Aqila yang merasa kesakitan segera berteriak. Seketika itu juga Azwan yang sedang menikmati secangkir kopi langsung berlari keluar. Dilihatnya Siska sedang menjambak rambut Aqila. Perkelahian pada siang bolong pun terjadi dan tak bisa dihindari.
"Hey, wanita jalang! Berani kamu menggoda suamiku. Hidupmu tak akan bisa tenang sedikit pun." Siska langsung menjambak rambut Aqila.
"Siska! Apa yang kamu lakukan?" Suara teriakan Azwan mengejutkan Siska. Namun, dia masih tetap menjambak rambut Aqila. Azwan mengatur langkah seribu, menghampiri kedua perempuan yang menjadi istrinya itu.
"Perempuan ini 'kan, yang selama ini menjadi simpananmu, Mas? Kau bahkan tega membuang waktu keluarga hanya untuk wanita jalang ini.
"Jangan salahkan dia! Semua ini terjadi karena salahmu. Kamu tak pernah menghargaiku sebagai seorang suami." Azwan coba membela diri. Jari telunjuknya menuding Siska.
"Apa maksudmu?" Siska tak mau kalah. Dia melepaskan tangannya dari rambut Aqila, lalu berdiri bercekak pinggang menatap sang suami.
Sementara Azwan dan Siska berdebat, Aqila memilih pergi. Dia berlari memasuki kamar tidur. Hatinya begitu sakit mendengar ucapan Siska yang mengatakan dirinya seorang wanita jalang.
Melihat sang istri muda tidak ada, Azwan segera meninggalkan Siska untuk mencari keberadaan istri cantiknya itu.
"Qila! Qila! Qila!" Teriakan Azwan menggema di seluruh penjuru rumah. Hatinya begitu teriris melihat istri yang begitu disayangi itu menangis. Bukan Azwan tidak menyayangi keluarganya, hanya saja terlalu banyak luka yang dia dapat dari sang istri tua hingga dia memilih untuk menikah lagi.
"Jadi benar kalian kumpul kebo?" tanya Siska diiringi tawa kecil. Nada suaranya terdengar menyindir. Azwan tidak menghiraukannya. Dia berlalu begitu saja menghampiri Aqila di kamarnya kemudian membawanya kembali ke ruang tamu.
"Kami tidak kumpul kebo. Dia juga bukan selingkuhanku, tapi dia istriku juga. Dia memiliki hak yang sama denganmu. Camkan itu!" Azwan menuding telunjuknya ke arah Siska.
"Apa maksudmu?" Siska terkejut mendengar pengakuan Azwan.
"Ya, aku sudah menikahinya sejak beberapa tahun lalu. Maka dari itu, aku mohon, jangan permasalahkan ini semua atau aku akan membebaskanmu!"
Sementara ketiga anak Azwan yang sejak tadi mengamati dari jauh berlari menghampiri kedua orang tuanya.
" Ma, Tante Qila sangat baik. Mama juga harus baik kepada dia. Selama ini Tante Qilalah yang selalu ada buat kami. Mama jarang di rumah membuat kami kurang kasih sayang. Hanya Tante Qila yang mengerti dan memberi kasih sayang lebih kepada kami." Adis berucap kepada sang Mama dengan berlinang air mata.
"Jadi ...." Siska tak dapat melanjutkan ucapannya. Suara tersekat di kerongkongan.
" Ya, kami semua setuju Papa menikah dengan Tante Aqila." Si Sulung menghambur memeluk Aqila yang sedang terisak.
Selesai...
'Cinta adalah tentang rasa sabar yang benar-benar tulus. Mencintai bukan semata tentang sebuah rasa dalam kata. Namun juga sebuah pembenaran didalam cara. Jika kau salah dengan cara mu, maka rasa yang besar pun tak ada artinya.'