Sinar mentari menyinari menerobos masuk melalui celah-celah jendela. Sejenak ... Kupejamkan kedua bola mataku merasakan hangatnya sinar Sang surya pagi itu.
.
"Bunda ...?"
Panggilan nada suaranya mengagetkanku, seketika aku menengok kearah samping. Seorang anak kecil berumur tujuh tahun tersenyum tipis berjalan mendekat.
Kuambil napas dalam-dalam. Lalu, tersenyum renyah padanya.
"Bukankah sudah Bunda bilang kalau mau masuk kekamar Bunda ketuk pintu dulu," tukasku, lembut.
"Iya maaf, Bunda. Salah Bunda juga, kenapa pintu kamarnya gak dikunci," balasnya mengelak.
Kembali aku menarik napasku dalam-dalam ... 'Seandainya, Mas Samar masih ada.' pikirku.
"Bunda?" panggilnya lagi.
"I-iya, Nabil," jawabku singkat memandang nanar wajah manisnya.
"Sudah mau jam tujuh kok, Bunda belum nyiapin sarapan buat, Nabil," pintanya manja.
"Astagfirulloh, Bunda lupa, Nak," jawabku sembari menepuk dada. "Nabil sarapannya makan roti saja, 'Ya?" bujukku.
Ia mengangguk pelan. Aku tersenyum tipis padanya. Lalu, melangkah pelan menuju sebuah ruangan yang sekaligus kujadikan warung kecil, Kuambil satu bungkus roti.
"Makan roti ini ya, Nak. maafkan Bunda ... Semalam Bunda tidur larut," ungkapku.
"Iya, Bunda. Gak apa-apa," jawabnya. "Nabil berangkat dulu ya, Bunda ..."
Kuanggukan kepala dibarengi dengan menyambut tangan mungilnya yang mengecup punggung telapak tanganku.
.
Risma Styaningsih. Itulah namaku, berusia tiga puluh satu tahun. Seorang janda dengan satu anak yang diberinama, Nabila Putri. buah cinta ku dari almarhum suamiku, Mas Samar. Kami tinggal di kota besar. Bandung. tepat nya disudut kota Bandung berlokasi di jl. Margasari.
Sungguh aku tak menyangka kehidupanku akan seperti ini ... Menjadi seorang janda berperang dengan waktu menjalani kehidupan yang keras demi kelangsungan hidup bersama putri semata wayang. terlepas dari semua itu, penyesalan yang teramat dalam menggerogoti hatiku seolah terus mencakar urat nadi.
Empat tahun yang lalu sewaktu, Ayah dan Mas Samar masih ada, sering kali, aku tak menganggap kehadiran mereka. Itu karena, aku sangat membenci ayah karena menurutku Ayah lah yang telah menyebabkan Ibu meninggal. Kerap kali, aku memanggilnya si tua bangka. kebencianku pada Ayah berimbas pada Mas Sarman, kujadikan ia plampiasanku. Padahal Mas Sarman adalah, suami yang baik, sabar juga penurut selain itu, ia sosok lelaki pekerja keras tak pernah sekalipun mengeluh dari rasa