Jeritan tangis bayi yang belum genap 40 hari semenjak dilahirkannya itu terdengar membahana, memenuhi seluruh ruang apartemen sederhanya.
Suara tangisnya yang tersedu menandakan betapa lamanya dia menangis. Mungkin bayi itu merasa lapar atau mungkin dia tidak nyaman karena popoknya sudah penuh dan kotor.
"Mommy, Cila lapel. Cila juga mau cucu." Seorang anak balita merengek sambil menarik-narik baju Ibunya.
Anak balita yang umurnya belum genap dua tahun itu terus saja merengek karena tidak mendapatkan respon dari sang Ibu.
"Mommy bangun... Hiks" Tangisnya ikut pecah, menambah suasana bising di kamar itu.
Anak-anak itu tidak tahu beberapa saat lalu Siska, mommy mereka telah menenggak pil penenang dengan jumlah banyak. Semenjak kelahiran anak keduanya Siska sering mengalami halusinasi. Baby blues yang menimpanya kini sudah berkembang lebih parah.
Siska mengalami postpartum depression yang merupakan kondisi yang lebih parah dibandingkan dengan baby blues. Postpartum depression membuat penderita merasa putus harapan, merasa menjadi ibu yang tidak baik, sampai tidak mau mengurus anak.
Siska kini berada di ambang kematian.
Semenjak anak keduanya lahir, Siska menjadi kurang percaya diri dan merasa jadi manusia yang tidak berguna.
Siska dulunya seorang wanita cantik dengan karir yang gemilang. Dia menjadi manager keuangan termuda di sebuah perusaan yang lumayan besar.
Dia kemudian menikah dengan Roni, seorang pria pekerja keras yang baru saja berhasil merintis perusahaan barunya. Siska dan Roni berpacaran sudah lama, sedari mereka masih sama-sama duduk di bangku kuliah.
Pada awalnya mereka hidup bahagia, tinggal di rumah mewah dan serba kecukupan. Setelah menikah Siska di paksa berhenti bekerja oleh suaminya.
Suaminya ingin Siska diam di rumah hanya mengurusi anak-anak dan keluarga kecilnya saja. Siska setuju, karena dia pikir penghasilan suaminya cukup besar jadi dia tidak perlu ikut bekerja.
Kini semua telah berubah, satu tahun yang lalu teman Roni yang merupakan partner bisnisnya itu melarikan diri sambil membawa uang perusahaan. Roni kelabakan dan akhirnya melakukan pinjaman pada bank, sayangnya laba perusahaannya tidak bisa menutupi cicilan hutangnya. Perusahaan Roni pun gulung tikar.
Mereka menjual semua aset dan juga rumah mewah yang mereka tinggali untuk menutupi semua hutang.
Kini mereka tinggal di sebuah apartemen sederhana yang Siska beli saat masih bekerja dulu.
Siska depresi mengahadapi semua masalahnya ini. Roni sebagai suaminya tidak diam begitu saja. Setiap pagi Roni keluar dari rumahnya untuk mencari pekerjaan baru. Roni akan pulang saat matahari sudah tenggelam.
Tinggalah Siska di rumah hanya dengan bayi dan anak balitanya sepanjang hari, seorang diri dia menghadapi dua mahluk mungil dengan wajah lucu tapi terkadang terlihat seperti monster kecil di mata Siska.
Tidak ada sanak saudara yang membantu. Kedua orang tua mereka berada jauh di sebrang pulau sana. Roni dan Siska sama-sama merantau ke Jakarta.
*******
Hormon setelah melahirkan Siska yang tidak seimbang membuat depresinya semakin parah. Siska tidak kuat lagi, dia menenggak puluhan butir obat penenangnya. Siska sangat menyesal kenapa dia dulu memilih menikah dengan Roni. Siska juga menyesal karena sudah berhenti bekerja sehingga dia kini tidak memiliki penghasilan sama sekali. Hidupnya yang dulu serba tercukupi kini tinggal kenangan.
Kilasan balik hidupnya yang dulu terlihat sempurna berkelebat di dalam kepalanya. Siska tersenyum, "Aku ingin kembali pada masa-masa itu," gumam Siska sebelum menutup matanya.
****
Tok... Tok...
Bunyi ketukan pintu membuat Siska terbangun.
"Berisik sekali," gumamnya masih dengan mata yang terpejam.
"Iya... aku datang...," Siska bangkit lalu berjalan untuk membuka pintu.
Siska tercengang saat melihat seseorang di depannya, dia mengerjap dan mengucek-ngucek matanya.
"Apaan sih loh, kaleng rengginang. Kaya ngeliat hantu aja. Gue masuk ya, cape nih bediri diluar terus." Orang itu menerobos masuk tanpa menunggu jawaban dari Siska.
Suara dan cara bicara yang nyablak ini..., tidak salah lagi. Orang yang ada di depannya ini adalah Icha, teman kampusnya yang sedikit bodoh tapi kaya raya dan juga cantik jelita.
"Gue bawa bubur nih, cepetan makan dulu deh. Gue ngeri liat muka loe yang melongo macem kambing ompong itu." Icha kemudian duduk lalu memainkan ponselnya.
"Ini beneran loe, Cha?" Siska mendekat lalu mencubit kedua pipi Icha.
"Aduh, sakit bego! Lepasin...," Teriakan Icha membahana memenuhi seluruh isi kamar kos Siska yang hanya berukuran 5x5 meter ini.
Siksa tertawa, lalu dia berlari kearah kalender yang ada di meja belajarnya.
Benar, disana tertanggal 13 februari 2012. Hari dimana malam nanti Roni akan menembak Siska.
Siska masih sedikit Ragu, dia duduk di hadapan Icha lalu bertanya sekali lagi. "Cha, sekarang tanggal berapa?"
"Tanggal 13 Februari 2013, puas! Gue jawab lengkap noh...
Oh iya sekarang jam 08.37 pagi, emang kenapa sih aneh banget loe?" tanya Icha tapi matanya masih tetap fokus pada ponsel BlackBerry keluaran terbarunya.
Siska tertawa gembira sambil meloncat dan menari tidak jelas.
****
"Maaf Roni, aku ga bisa terima kamu. Kita temenan aja ya." Itu adalah jawaban yang Siska berikan pada Roni tadi. Dulu Siska mengatakan iya dengan senang hati, karena Roni yang tampan dan juga pekerja keras sangat berkesan di hati Siska jadi tanpa pikir panjang Siska mengiyakannya.
Siska sudah tau masa depan yang akan dia dan Roni jalani akan berakhir buruk jadi tanpa pikir panjang dia menolaknya.
"Di kesempatan kedua ini aku akan berhati-hati agar tidak salah pilih." Siska bertekad dalam hati.
***
Di kehidupan keduanya Siska menjalani hidupnya dengan lebih baik. Sedikit banyak dia sudah tahu jalan cerita yang akan dia lalui kedepannya.
Tahun ini seharusnya Siska menikah dengan Roni. Tapi di kehidupan keduanya ini Siska lebih senang memilih menikmati hidup lajang dengan karir cemerlangnya.
"Ah, indah sekali hari ini." Siska bangun dari kasur empuknya. Bergegas ke kamar mandi lalu melakukan joging sebelum pergi ke kantor.
Sejauh ini hidupnya berjalan lancar.
***
Hari ini keadaan kantornya sedikit riuh.
"Ada apaan sih, rame amat." Siska bertanya pada salah satu teman kerjanya.
"CEO baru kita udah dateng. Keren banget dia. Masih muda ternyata."
Siska mengangguk-anggukkan kepalanya saat mendengar penjelasan dari temannya itu.
Seiring berjalannya waktu, Siska semakin dekat dengan CEO nya itu. Rupanya mereka sama-sama saling tertarik.
Tidak menunggu waktu lama, setelah berpacaran selama 5 bulan, tanpa ragu Siska langsung menyetujui lamaran yang Indra berikan.
Seorang CEO perusahaan besar. Tampan. Anak orang kaya dengan warisan yang tidak akan habis sampai tujuh turunan.
Pernikahan mereka sangat meriah. Diadakan di ballroom sebuah hotel mewah yang ada di Jakarta ini.
"Selamat ya beb, semoga samawa." Siska memeluk Icha sahabatnya saat kuliah dulu.
Tidak di sangka Icha datang dengan Roni. Ternyata sekarang mereka berpacaran. Bahkan rencananya tahun depan mereka berdua akan menikah.
Hati kecil Siska sedikit bergejolak melihat keintiman sahabat dan juga suaminya dulu.
***
Dua tahun sudah berlalu pernikahan Siska dengan Indra berjalan lancar. Siska di perlakukan bak seorang ratu oleh Indra. Siska sangat bahagia. Tapi ada satu hal yang membuat Siska tidak mengerti. Indra menyuruhnya melakukan KB, Indra tidak ingin memiliki anak dulu katanya.
****
Siang ini Siska dan Icha janjian untuk bertemu di sebuah kafe. Siska datang sambil menggendong anak perempuannya dengan Roni yang baru berusia satu tahun.
"Ya ampun, Siska. Kangen banget gue." Mereka berdua berpelukan sambil menciun pipi satu sama lain.
"Hallo, Cila." Siska mencolek dagu milik Syla, anak perempuan Icha. "Ya ampun, gemoy banget sih kamu. Gemesin tau ga."
Ingatan Siska melayang. Syla mengingatkan dia pada kehidupan lamanya. Dadanya tiba-tiba sesak, saat teringat dengan kedua anak perempuannya. Siksa sangat merindukan mereka.
"Aku ke toilet dulu ya," pamit Siska.
Siska berlari ke kamar mandi sambil menutup mulutnya. Menahan isakan yang akan segera meledak.
Bagaimanapun juga, seburuk apapun sikapnya dulu. Siska tetap seorang ibu.
Siska masuk ke salah satu bilik kamar mandi lalu menguncinya. Didalam sana Siska menangis pilu. Dia benar-benar merindukan anak-anaknya. Setiap momen bahagia yang pernah dia lewati bersama anaknya kini memenuhi seluruh ingatannya.
Setelah puas menangis, Siska keluar menuju wastafel. Siska mencuci muka dan memperbaiki riasannya yang rusak.
"Maaf ya lama, aku sakit perut tadi."
Mereka kembali mengobrol. Lalu Siska melihat Icha yang keropatan saat makan karena syla tidak mau di taruh di stroller nya. Pemandangan itu mengingatkan pada keadaan dirinya dulu.
"Sini Syla sama aku dulu."
Dengan sigap dia mengambil Syla, kemudian menggendongnya keliling kafe agar anak itu bisa tenang.
Saat berkeliling sambil menggendong Syla, tanpa sengaja Siska melihat mobil yang sangat dia kenali terparkir di pelataran kafe.
"Inikan mobil Indra, ngapain dia disini?" gumam Siska.
Ini masih jam kantor dan bukan jam makan siang.
"Hallo, Mas Indra. Mas lagi diman?" Tanpa basa basi Siska langsung menanyakan lokasi keberadaan suaminya.
"Aku di kantor lah sayang, ada apa?" jawab Indra dengan santai.
"Engga... Aku cuma mau ajak Mas buat makan siang bareng. Aku lagi bosen nih makan di rumah."
"Aduh, maaf banget sayang. Nanti siang aku ada acara makan siang bareng rekan bisnis aku. Lain kali ya, gimana?"
Siska diam tidak menjawab suaminya.
"Hallo, sayang. Kamu masih disitu?"
"Hem...," jawab Siska singkat.
"Sayang jangan marah dong, bagaimana kalau nanti malam saja kita dinner? Ah, iya. Biar kamu ga bosen, mendingan kamu shopping aja sayang. Nanti aku transfer 500 juta. Kalau masih ga cukup nanti kamu tinggal telpon aku aja, nanti aku tambahin."
"Hem...,"
"Aku lanjut kerja lagi ya sayang, love you...."
Siska mematikan telpon tanpa menjawab pernyataan cinta dari suaminya. Tidak lama kemudian layar ponselnya berkedip, pesan pemberitahuan dari bank bahwa sejumlah uang telah masuk ke rekeningnya.
Siska memandang ponselnya dengan nanar. Suaminya selalu begitu, selalu menyogoknya dengan uang dan barang-barang mahal setiap Siska marah atau saat dia merasa bersalah.
Di saat Siska akan kembali menghampiri icha, dia menghentikan langkahnya. Siska melihat suaminya keluar dari privat rooms sambil memeluk mesra seorang wanita yang berpakaian sexi.
Jantungnya mencelos. Siska tidak menangis. Dia hanya diam mematung. Sebenarnya ini bukan kali pertama Siska mengetahui tentang kelakuan suaminya itu. Beberapa kali teman-temannya pun pernah memperingatkan dia, tapi tidak di gubrisnya. Siska seolah menutup mata. Harta Indra yang memanjakannya selama ini membuat dia bertahan.
Siska memegang dadanya yang terasa sesak. Jantungnya seakan di remas.
Siska memeluk Syla dengan erat. Dia rindu anak-anaknya.
Buru-buru dia menghampiri Icha kemudian pamit pulang. Pikirannya benar-benar kalut.
Di kehidupannya sekarang hidupnya mamang sangat-sangat bergelimang harta. Dia punya banyak waktu karena belum memiliki anak. Dia juga tidak merasakan kelelahan karena serba di layani.
Tapi hatinya sangat kosong.
Siska merindukan anak-anaknya.
Meski dia kelelahan, anak pertamanya akan menghujaninya dengan ciuman sehingga lelahnya menghilang.
Bayi mungilnya akan tertawa saat melihat wajahnya ketika akan di beri asi.
Siska juga merindukan Roni. Suaminya itu akan memijat kakinya saat malam, meskipun sambil terpejam dan mengeluh.
Roni sangat setia dan tulus mencintainya.
Siska sadar, selama ini dia lupa bersyukur.
Sesampainya di rumah dia segera naik kekamarnya. Siska masuk kekamar mandi lalu menyalakan shower.
Dia diam di bawah guyuran air sambil menangis tersedu.
"Aku menyesal, hiks... Aku rindu anak-anakku. Aku rindu suami yang mencintaiku."
Penyesalan yang teramat dalam itu kini di rasakan oleh Linda.
Linda terus menangis dan tidak beranjak meskipun tubuhnya sudah menggigil.
Dalam tangisnya dia terus bergumam. Memohon maaf dan meminta ampun sampai dia terkulai tidak sadarkan diri.
***
Tit... Tit... Tit...
Samar-samar Siska mendengar bunyi alat pendeteksi datang jantung.
Bau obat-obatan mulai tercium olehnya.
Siska perlahan membuka matanya. Tembok dengan cat putih mendominasi penglihatannya saat ini.
Siska perlahan menggerakkan tangannya yang saat ini sedang di genggam oleh seseorang.
"Siska! Kamu udah sadar sayang."
Roni yang tertidur sambil duduk di sebelah Siska segera bangun saat merasakan pergerakan tangan istrinya.
Siska tidak menjawab. Dia melongo, kemudian matanya berkaca-kaca saat melihat Roni.
"Dimana anak-anak?" tanyanya sambil berlinang air mata.
"Anak-anak ada di rumah. Tadi aku telpon Icha buat jagain anak-anak."
Siska kemudian menangis sesenggukan. Roni segera memeluknya. Mencoba memberi ketenangan kepada istrinya.
Dokter sudah mengatakan pada Roni tentang keadaan Siska. Mental istrinya saat ini sedang sakit. Roni berjanji dalam hati, tidak akan membiarkan istrinya itu menanggung beban kecemasannya sendiri lagi.
"Apa selama ini aku hanya sedang bermimpi. Kenapa terasa sangat nyata sekali." Siska bergumam lirih.
"Aku berjanji akan menjadi ibu dan istri yang lebih baik lagi. Sekarang aku sadar, aku lebih membutuhkan orang-orang yang aku sayangi di bandingkan hidup bergelimang harta tapi tanpa cinta."
"Aku hanya perlu bersyukur atas semua yang aku miliki saat ini. Anak-anak dan suamiku merupakan hartaku yang paling berharga."