Lelah, hanya itu yang Giandra rasakan selama memacu motor bekas tak terawatnya. Jalanan sepi, lampu sorot barangkali teman yang menemaninya selama perjalanan. Lampu berubah merah, mau tak mau dia harus berhenti kemudian meregangkan tangan, pukul 23.45. Menghela napas panjang, Giandra tahu perut keroncongannya tidak bisa diabaikan, bergemuruh seakan menuntut keadilan.
Satu motor berhenti di sebelahnya, beberapa tampak dari kedua spion yang sudah buram. Walaupun tidak ada kendaraan satupun yang melintas, dia masih menunggu disaat salah satu pengendara menerobosnya tanpa celaka. Kantuknya masih meneror kepala, kelopak tak kuasa menahan agar tidak mengatupkan mata, suara klakson itu membangunkannya seketika. Lampu sudah berubah, diperbolehkan melanjutkan perjalanan.
Dalam keadaan siaga dia terus mengedarkan pandangan, menemukan nasi goreng gerobak yang masih berjualan. Tanpa banyak pertimbangan Giandra memarkirkan motor ke tepian, memesan satu untuk sumber bahan bakar. Dia duduk di kursi yang tersedia, terdapat dua orang di sampingnya bercengkrama ria, bisa disimpulkan mereka adalah pasangan mesra dari gerak-gerik dan kedekatannya.
Seketika dia membuka ponsel dan menyalakannya, ada setidaknya sepuluh panggilan dengan nama yang sama. Secepat mungkin dia menelponnya berharap seseorang di seberang sana masih belum menyelam dalam mimpinya. Di layar tertera nama Miranda yang membuatnya risau bukan kepalang, namun dia lega akhirnya bisa berbicara dengan lawan bicaranya.
"Kamu kemana aja, sih?" Suaranya terdengar marah, berteriak di tengah kelamnya malam.
"Maaf, aku lembur mendadak," ucap Giandra berusaha memelankan suara.
"Kan bisa ngabarin tau!" Katanya masih belum mereda sampai-sampai menarik beberapa mata.
Sambil senyum terpaksa ke arah pasangan itu, Giandra berusaha menenangkan. "Sayang, hari ini aku lupa bawa charger, ok?"
"Aku gak mau dengar alasan!" Seru Miranda tanpa pengampunan. "Kamu tau gak sih, kalau dari tadi aku itu khawatir kamu ada apa-apa? Bisa kirim kabar kek, walaupun cuma chat kan bisa!"
"Iya aku salah, tapi gak perlu teriak-teriak juga udah malam, loh. Pada ngeliatin, Yang." Giandra masih berusaha mendinginkan kepala perempuan itu.
"Bodo amat! Gak peduli! Biarin biar kamu tau rasa!" Miranda masih mengoceh dengan rapalan beraneka ragam.
Tampak pesanannya selesai, penjual itu mengantarkan sepiring nasi goreng yang aromanya memulihkan kembali semangatnya. Tepat setelah meletakkan di meja Giandra, dia berkata, "Lagi ada masalah ya, Mas?"
"Cuma masalah rumah tangga, Bang." Giandra menjauhkan ponselnya semoga tidak terdengar oleh Miranda. Tapi kenyataan memilih berbeda.
"Hah? Apa? Rumah tangga? Jangan aneh-aneh deh ngabarin ceweknya aja gak bisa gimana mau bangun keluarga!" Sahut perempuan itu mencerocos.
"Sayang, aku mau makan dulu, ya? Marah-marahnya bisa ditunda, kan?" Kata Giandra meletakkan ponselnya di sebelah makan malamnya.
"Tuh kan, sampe lupa makan. Kamu itu ya, walaupun lembur, sempetin makan snack, kek, apa kek, biar gak lemes." Nasihat Miranda hanya direspons anggukan oleh Giandra.
"Iya, iya, ini makan." Giandra mulai memakan nasi gorengnya dengan beberapa mentimun.
"Baru sekarang, ih!" Kesal Miranda di seberang telepon.
Giandra tiba-tiba terpikirkan sesuatu. "Eh, ayah sama ibu kamu masih melek, kan?"
Miranda terdengar beranjak, memastikan. "Ibu udah tidur, sih, kalau bapak lagi main catur sama tetangga di depan, kenapa?"
"Mau gak aku bawain oleh-oleh?" Ucap Giandra dibalas senyuman oleh Miranda.
Jalanan mungkin sangat sepi, namun di perkotaan, hal itu tidak diterapkan. Trotoar masih tersedia bermacam-macam makanan dan manusia yang menikmati malam tenang tanpa kebisingan. Giandra satu-satunya tontonan mereka saat itu ketika dia melintas tanpa menoleh maupun memperhatikan. Giandra tahu dia sudah mengecewakan Miranda di malam yang sangat perempuan itu tunggu, hanya mereka berdua.
Tak butuh waktu lama, setelah masuk beberapa lintasan sempit desa, suara motor buntut Giandra terdengar, disambut meriah oleh Miranda di depan pagar rumah. Di teras terlihat ayahnya sedang menoleh begitu pula lawannya, dia belum tahu siapa orang yang bertamu, namun setelah Giandra masuk ke pelataran, dia pun beranjak.
"Oh, Nak Andra, ternyata," Giandra mendekat, mencium tangannya. "Kok, malam-malam ke sini?"
"Iya, Pak, habis lembur, sekalian mampir," kata laki-laki itu mengerahkan senyuman.
"Pasti kangen sama Mira, ya?" Ucap ayah Miranda seketika disahut sama anaknya.
"Apaan sih, Yah! Sudah ayo masuk." Miranda menarik tangan Giandra ke dalam sesegera mungkin.
"Kenapa itu?" Tetangganya penasaran sesekali menyeruput kopi hitamnya.
Ayah Miranda kembali duduk bersila dengan wajah sumringah. "Biasa, anak muda."
Di ruang tamu berbaris sepeda yang sering Miranda dan keluarganya gunakan, mulai dari pergi ke pasar sampai olahraga. Giandra duduk di salah satu sofa, melihat foto-foto keluarga yang terpampang jelas di dindingnya. Dia menoleh, menemukan nakas yang di atasnya tumbuh bunga di dalam vas beserta foto masa kecil Miranda. Senyumannya merekah seketika, lucu melihat Miranda disaat-saat masih sekolah dasar.
"Gak sopan!" Kata Miranda tiba-tiba, mengagetkan Giandra yang hampir melompat.
"Kamu dulu kok imut banget?" Giandra masih tersenyum, tertawa kecil membuat wajah Miranda sinis.
"Sekarang amit-amit, ya?" Miranda mempersiapkan makanan.
"Makin cantik." Singkat dan padat, jurus yang mampu menciptakan rona merah di air muka Miranda.
"Mulai, nih, ih!" Miranda salah tingkah. "Bodo lah gak aku siapin!"
"Iya, iya, ngambekan!" Giandra mengembalikan foto Miranda pada tempatnya. "Kok ada di sini?"
"Entah, ibu aku kayaknya suka pamer deh," ucap Miranda membuka bungkusan itu menuangkan tepat di piring putihnya. "Lanjut makannya biar kenyang!"
"Makasih ya, Sayang," Giandra mengambil satu suapan di nasi goreng sisa sebelumnya. "Mau nyobain, gak? Enak, loh."
"Gausah, aku udah kenyang, kok." Kata Mirandra menggelengkan kepala.
"Rasain doang, spoiler deh!" Giandra terus menyodorkan sendok itu ke Miranda yang berusaha menolak dengan terus mengatupkan mulutnya. "Pesawatnya datang!"
"Gak mau!" Sekeras apapun Miranda menolak, dia akhirnya melahapnya.
"Gimana?" Tanya Giandra penasaran.
"Kamu beli di mana?" Kata Miranda tak kuasa menahan akan kelezatannya.
"Enak kan?" Ucap Giandra mempersiapkan penerbangan selanjutnya. "Jalan Yamin tadi ada yang masih jualan."
"Oh iya, gimana kerjanya?" Miranda menyadari dari raut wajah Giandra, dia seperti sangat kelelahan.
Laki-laki itu membutuhkan waktu lama untuk mengeluarkan apa yang sedang dia rasakan. "Lancar sih, ya, cuma ya itu, capek."
"Sudah kuduga, kamu boleh kok, tidur di sini daripada kenapa-kenapa di jalan, kan?" Ucap Miranda menawarkan.
"Satu kamar?" Sahut Giandra cepat.
"Mesumnya tolong dikondisikan, ya!" Miranda cemberut seraya menyilangkan tangan.
Giandra yang tertawa lambat laun menunduk, seharusnya malam ini adalah malam yang menyenangkan untuk Miranda, dia sudah menghancurkan rencana mereka yang tadinya akan mampir ke sebuah kafe maupun sekadar jalan-jalan sekitaran kota. Melihat Miranda yang sekarang sedang antusias membicarakan teman-teman dan bagaimana hari-harinya, seakan dia lupa atau memang sengaja melupakan quality-time mereka.
"Yang, maafin aku, ya." Kata Giandra lirih.
Miranda yang asyik bercerita, tiba-tiba terdiam. "Lah, kenapa?"
"Malam minggunya jadi berantakan," Giandra melipat bungkus makanan di depannya. "Kalau saja aku menolak lemburan, pasti gak bakalan begini akhirnya. Aku udah ngancurin malam yang seharusnya spesial buat kita."
Hening, tanpa ada suara apa-apa kecuali obrolan samar ayah Miranda di depan. Giandra masih menenggelamkan kepala, tak mampu melihat batang hidung perempuan kesayangannya. Dia ingin membuat Miranda bahagia, namun yang ada hanyalah kekecewaan.
"Sayang, kamu gak perlu merasa bersalah, kok," Kata Miranda lemah. "Aku paham gimana kamu berusaha untuk masa depan kita, kamu udah berkorban untuk aku, melakukan hal yang bikin aku senang. Makasih, ya."
Giandra menatap Miranda seketika.
"Lagipula masih ada sabtu lain, kan?" Senyuman Miranda itu seakan sihir yang memulihkan suasana hati Giandra.
Malam itu terasa kelam, namun Miranda memberikan cahaya dalam kehidupan Giandra. Ketika sentuhan sudah diperbolehkan, tangan yang bergandengan, dan dua minda yang menyatu dalam sebuah ikatan. Giandra tahu itu tidak akan mudah, namun, Miranda telah memberikan kepercayaan penuh yang tidak boleh Giandra sia-siakan.
Sudah dua tahun semenjak itu, Giandra naik tahta yang semakin tidak ada waktu untuk mereka berdua. Status hubungan mereka sebatas video call semenjak Giandra dikirim di luar kota, tanpa bertemu senyum yang pernah meluluhkan hati kedua insan. Giandra tidak bisa menolak kesempatan itu, kedudukan terhormat serta upah yang termasuk besar, ini semua serta merta untuk masa depan mereka.
Benang semakin hari semakin terulur, hampir terlepas. Kesibukan Giandra menyita waktunya berhubungan dengan Miranda, sementara perempuan itu, tidak secerewet biasanya. Giandra akan membaca curhatan Miranda di waktu istirahat, mendengar kondisinya di sana, menceritakan semuanya. Perbedaan itu terasa aneh, Miranda tidak pernah membalas seadanya, untuk pertama kalinya dia menamatkan pembicaraan.
Tiba-tiba entah kenapa ibu Miranda menanyakan kabarnya, seolah-olah kerinduannya tidak bisa ditahan. Pesannya semakin tidak searah, basa-basi yang belum pernah dilontarkan oleh wanita setengah abad itu. Hubungan Giandra dan Miranda dipertanyakan, seakan kalimatnya ada keraguan. Laki-laki yang kalang kabut hanya bisa menelan saliva, tangannya mendadak membeku serta kelopak mata yang terbuka.
"Punten, Jang Andra. Miranda tos dilamar ku nu sanes."
"Mira tos nampi lamaran."
"Ibu nyungkeun keikhlasan kangge ngaleupaskeun Miranda."
Ruangan kantin yang penuh kebisingan samar-samar tidak terdengar, Giandra masih terdiam, dapat merasakan detak di dadanya yang semakin cepat. Salah satu rekannya, Hendra, kebetulan memperhatikan menautkan alisnya bertanya-tanya. Tidak lama setelah itu Giandra meletakkan ponselnya, menunduk dalam-dalam semakin membuat kumpulannya menaruh perhatian.
"Kamu kenapa, Ndra?" Kata Hendra penasaran.
Giandra terangkat, kedua matanya berkaca-kaca, masih berusaha menaikan sudut-sudut bibirnya. "Gak tau nih, tiba-tiba mules. Aku ke toilet duluan, deh."
"Baru makan padahal," timpal perempuan berkacamata serta rambut yang terikat konde, di pakaiannya terdapat nama Haninda. "Makanannya gimana?"
Langkah berat menuntun Giandra keluar kantin, udara semerbak masuk ke dalam pernapasannya yang terseok-seok. Dia bersandar di tembok, sorotannya lemah memperhatikan awan-awan tak beraturan di birunya angkasa. Air itu memaksa keluar namun Giandra berusaha keras menahannya dengan mengerjapkan mata.
Tangan Giranda meraih ponsel di saku celana, memperhatikan pesan dari ibu Miranda yang sempat menghancurkan harinya. Dia bahkan memberitahu secara rinci acaranya, semakin menusuk wadah yang selama ini dia simpan erat-erat, bocor seketika. Giandra secara cepat mengecek kontak Miranda, foto manisnya itu tidak ada, hanya tersedia lembaran hampa berwarna abu-abu.
Pilihannya ada dua, mempertanyakan semua yang ingin diungkapkan, atau menerima dan melupakan Miranda. Bersama rekan yang selalu mengerti masalah yang diderita, mau mendengar dengan baik, hari libur yang kebetulan tepat bersamaan acara peresmian, Giandra memilih keluar kota untuk melaju ke tempat Miranda berada. Pandangan di depan perlahan tercetak rintikan hujan yang semakin lama semakin deras, sedangkan mereka harus mau menanti kemacetan lalu lintas.
Tangan itu memencet tombol, mematikan musik, "Kamu gak keberatan, kan?"
Giandra tersenyum simpul, "Maaf, Nin, bikin kerepotan, kalau bukan karena motor bututku yang rusak."
"Kalem, aku pun pengen ke Bandung," Haninda menekan tuas yang ada di kakinya, memberikan aktivitas kendaraan beroda empat itu setelah hampir sepuluh menit diam di tempat. "Udah lama aku gak ke sana."
"Ketemu keluarga, kah?" Giandra menoleh ke arah Haninda.
Perempuan bersetelan hoodie putih itu tersenyum, "Waktu libur sekolah dulu aku sering kesana sama temen sekelas."
"Pasti asik," kata Giandra sedikit lemas. "Punya teman yang satu frekuensi."
"Kalau kamu?" Kalimat itu seakan menyetrum sukma Giandra yang masih bermain dengan pikirannya.
"Well, di sanalah aku bertemu Miranda," Giandra membenarkan kacamata bulatnya. "Kenangan indah yang mungkin akan terlupakan."
Perempuan dua puluh dua tahun itu terdiam, berkutat di kemudinya. "Apa kamu mau merelakan Miranda?"
Giandra memperhatikan jendela kabur di sebelah, "Miranda pun akan melepaskan karena dia tidak punya banyak pilihan."
"Ndra," suara Haninda terdengar lembut, mempersiapkan kalimat yang akan dilontarkan. "Pilihan itu bisa ditentukan olehnya."
"Kamu memilih untuk masih berteguh dengan komitmen yang kamu tentukan," kalimat itu memaksa Giandra kembali menoleh. "Atau melepaskan."
"Aku rasa Miranda punya pilihan yang sama."
Giliran Giandra yang membisu, apa yang disampaikan Haninda tidak sepenuhnya salah. "Apa semua yang aku lakukan sia-sia?"
"Usaha tidak ada yang sia-sia, Ndra," Haninda memberhentikan transportasinya ketika lampu di tepian trotoar berubah merah. "Kalau bukan memberikan sesuatu yang membentuk kita lebih baik dari sebelumnya."
Di depan terdapat insan-insan menyebrang di bawah naungan payung teduh dari guyuran yang semakin deras. Ada kalanya berhenti, ada waktunya melanjutkan. Giandra menghembuskan napas berat, berdamai dengan kenyataan pahit yang sudah menjadi arah tujuannya. Dia tahu akhirnya, bahwa perjalanannya belum sampai, masih terus melaju menemukan pemberhentian yang tepat.
Sekitar dua jam berlalu, kendaraan itu berhenti. Kaca secara lambat terbuka, tampak Giandra yang tengah memperhatikan kerumunan penuh sesak di sana. Dua orang yang sedang menyambut para tamu itu tidak asing di kedua manik Giandra, mereka terlihat bahagia, senyuman merekah tanpa adanya guratan kekecewaan. Sementara itu, tidak lama kemudian, dia melihat pujangga yang sempat bersemayam di hatinya selama empat tahun.
Senyuman Miranda. Parasnya anggun mengenakan pakaian pernak-pernik berwarna putih, di sampingnya berdiri tegak suaminya yang tampan mempesona. Mimik mereka ceria, hubungan kekeluargaan akan segera mereka nikmati bersama. Impian Giandra yang hanya sebatas angan-angan harus dikubur dalam-dalam. Dadanya berkecamuk kesakitan, tapi di sisi lain, Giandra berusaha sekuat tenaga merelakan.
"Kamu gak ke sana, Ndra?" kata Haninda mengalihkan minat Giandra.
"Setidaknya aku bisa tau Miranda untuk yang terakhir," kacanya kembali naik ke atas, menoleh ke belakang ke tempat Haninda. "Itu sudah cukup."
"Apa kamu mau ke suatu tempat?" Pertanyaan itu sekilas mencetak senyuman di muka Giandra.
"Apa ya," Giandra menarik transmisinya. "Coba sebutin tempat yang dulu kamu pernah ke sana."
Roda empat itu melesat meninggalkan semua yang telah dibangun oleh Giandra. Menyerahkan kepada manusia yang sudah menjadi bagian dari kehidupan Miranda. Untuk waktu yang masih tersisa, Giandra hanya bisa menerima. Masa lalu itu akan terus memberikan kekuatan di masa depan.
Tamat