Manakah yang lebih berarti diantara keberadaan waktu? Pagi dengan mentari yang hadir di ufuk timur dan membenamkan diri di ujung barat atau senja yang dengan semburat jingga dan kemerahannya di langit yang menutup biru pertanda beralih pada malam. Barangkali justru malam dengan kelam yang menutup hari suram kadang rumit. Apalagi jika disandingkan atau dikaitkan dengan sebuah rindu, semua berlomba menjadi yang pertama dan dipastikan utama.
Ketika rindu pun melintas diantara ramainya para perindu atau justru sendiri dari kaum perindu yang menikmati sepi dan waktu-waktu yang berarti tersebut, seperti ada perdebatan kecil yang mengunci bagian paling penting.
Pagi: “Aku adalah awal dari segala kegiatan dan hiruk-pikuk semua orang, pastilah aku paling ditunggu.” Ini dipastikan benar dan tidak ada penyangkalan.”
Senja: “Aku justru paling dipuja, semua orang tahu bahwa aku adalah waktu yang cocok melepaskan penatnya hari, lelah lebih-lebih kalau ada rindu, siapa tak mengenal kecocokannya denganku.”
Pagi: “Kenapa kamu yakin sekali? Bahkan yang mungkin mendambamu segelintir orang dengan harapan patah.” Berbeda denganku, aku mengawali keinginan semua orang tentang kehidupan yang rumit ini, apalagi ya kalau rindu bersamaku, seakan-akan menjadi semangat.”
Berlalu lalangnya para penikmat rindu dalam keadaan apapun makin bertambah sembari melakukan kegiatan lain, entah mengobrol dengan teman atau lebih dari itu. Mungkin sambil menikmati alunan lagu yang disukai hingga yang memiliki makna berarti. Seakan menjembatani antara suasana yang dikenang maupun sosok yang membuat kembali mengenang. Jika itu kamu, dan kamu berada diantara dua keadaan itu, selamat kamu sedang menjadi perindu.
Rindu mungkin mengetahui keberadaannya menjadi adu pengakuan dari sang waktu. Sang waktu yang awalnya damai dan tak pernah ada perebutan, kini mulai menunjukkan diri, bahwa masing-masing memiliki keterikatan tak dapat ditepis. Mungkin ini sedikit terlihat egois, namun, bukankah ketika keserasian itu ada dan diakui oleh pemilik rasa harusnya inilah yang disebut cinta. Cinta yang membuat sang waktu berani menyatakan bahwa, rindu memang milik ku, bukan padamu. Titik terkecilmu pun tak siap menerima rindu, karena memang bukan pada batas wilayahmu.
Senja: “Kamu terlalu ingin diakui wahai pagi.”
“Diakui bahwa yang abadi bersama rindu itu kamu, sedangkan yang lain seperti tak berarti.”
Pagi: “Aku pemula dari segala hal ketika mata yang terpejam pun mulai menatap dunianya lagi dan akulah pemula yang sanggup melukiskan senyum indah pada setiap orang. Apalagi jika dia sedang merindu pada cinta yang sedang ia puja.”
Malam pun akhirnya menyela adu pengakuan antara senja dan pagi. Malam sedikit terusik dengan pengakuan yang sulit untuk menemukan penyelesaian. Malam yang sering menjadi peraduan seorang perindu pun tak pernah menampilkan diri bahwa ia yang lebih didamba, ia hanya menikmati bagaimana perindu mencoba menemukan sosok yang membuatnya seolah siap jatuh bahkan tak apa untuk runtuh.
Malam: “Kalian terlalu rumit untuk hal yang bisa disederhanakan.” Sungguh kalian sebenarnya Cuma mencari alasan agar tak terabaikan, padahal kalian tahu ada ruang tertentu untuk bisa hadir tanpa harus kalian beradu.”
Senja: “Kamu hadir setelah ku, setelah aku undur diri dan membawa serta jinggaku, bukankah memang benar aku yang dinanti banyak orang?”
Para perindu dengan pernyataan bahwa rindu memang miliknya senja sudah tersemat pada diriku. Hal mana lagi yang harus diingkari, jika pemilik hati dan pengagum rindu memang sudah menautkan rindunya pada senja.”
Pagi: “Ternyata kamu sebegitunya takut kehilangan pada suatu hal yang sebetulnya bukan hanya padamu saja ia berpihak. Namun, kamu harus memahami rindu bisa beralih kapanpun ia mau, dimana pun ia berada dan jeda yang memberikan ia nyaman.”
Mengapa harus sebegini runyam perihal rindu dan ruang pemiliknya? Setiap waktu memiliki batasan masing-masing dan setiap rindu boleh menetap atau berpindah asalkan tidak pada ruang asing. Rindu tahu bahwa ada wilayah waktu yang pernah menerimanya saat ia diatas segalanya. Rindu paham menjelajahi wilayah waktu ternyata membuat ia sedemikian dalam diharapkan hadirnya walau ia samar.
Senja: “Tadi kamu begitu membanggakan diri, seakan kamu pasti yang rindu diinginkan, kamu merasa untuk pantas kami harus menghamba. Padahal kamu tahu, kamu juga bukan pilihan.”
Malam: “Kalian tak tahu, seiring bergulirnya waktu kalian bukan segalanya. Hari ini memberi peluk, besok bisa saja berpaling lalu melupakan.”
Pagi: “Kamu sendiri bagaimana malam, yakin jika kamu yang menjadi pemilik rindu?”
Malam terdiam cukup lama, ia tak ingin menjadi penabur cerita yang justru menjadikan keadaan makin sulit untuk mendapat ketenangan. Meskipun, malam tahu betul, jika ia sering ditemui rindu untuk menelusuri bayang atau hanya sekedar bergurau perihal kilas kisah yang pernah tergoreskan. Malam menyambut hadirnya rindu, malam tahu rindu butuh penenang dan bersandar.
Pagi: “Kenapa tidak menjawab, kamu bingung bukan, padahal tadi kamu berkata seolah paling mengerti.”
Senja: “Kamu tidak memberikan pengakuan, berarti kamu memang tidak dinantikan oleh rindu. Rindu bukan milikmu, tak bisa kamu bersanding dengan rindu.”
Malam: “Kalian benar-benar harus begini ya?” Rindu sesungguhnya tak memihak siapapun, aku maupun kalian.” Ia hanya datang berkunjung ketika ia ingin dan kembali pulang saat ia benar-benar telah menemukan yang ia cari, bukan lantas tinggal dan setia menemani.”
“Aku sepenuhnya memahami, kalian mencinta yang menurut kalian memang memandang pada diri kalian, tapi yang memandang bisa saja memalingkan pandang tersebut dalam sekejap.”
“Pernah kalian bertanya pada rindu, ruang waktu mana yang ia cinta? Ruang waktu mana yang ia pilih untuk menjatuhkan diri?”
“Apa ia memilih pasti salah satu dari kalian?” Aku tak mau dianggap paling memiliki, aku tak ingin egois, aku mengikat rindu seolah hanya padaku, padahal aku tahu rindu memiliki banyak penanti yang siap mengisi. Biarkan rindu mengembara dan memilih sendiri indahnya, biarkan ia menentukan mana yang ia pilih cocok bersamanya disela perindu semakin hanyut. Menjelajah jauh melayang diantara hati yang beradaptasi hangat pada suatu bayang.” Bukan caraku memaksa, jika memang belum tentu pilihan.”
Senja dan pagi terdiam. Seolah ada hujaman yang cukup tajam karena ucapan malam dan rindu yang ingin mereka miliki, sangat ingin dimiliki. Sebenarnya, malam hanya ingin membagi apa yang dia tahu tentang rasa ingin pada sesuatu yang tak dapat dimiliki dengan pasti, sehingga tak ada pedih dan tak ada alasan untuk patah. Mungkin sering terjadi, menganggap sesuatu milik kita, mengunci bahwa kita menjadi peraduan terakhir, menjadikan kita lupa, bisa saja ada luka yang tak terduga.
Senja dan pagi pun kini mulai memahami, hak mereka untuk mencintai dan berusaha menjadikan pantas untuk rindu. Namun, rindu lebih tahu, kapan dia datang kapan dia menabur bayang mesra dan kapan dia beranjak pergi atau justru melekatkan pada ingatan.
Barangkali sang waktu boleh saja beralih
Diantara biru yang menyematkan rindu
Atau justru jingga yang membawa serta setia
Bersama dengan rumit maupun bahagia
Aku membawa sediaku demi bertaruh pada runtuh
Yang tak hilang meskipun banyak aral melintang
Selesai...