KEPALAKU YANG HILANG
Jam 12 malam aku baru bisa pulang kerja, aku lembur karena banyak pekerjaan yang harus ku urus. Aku mengendarai motorku di jalanan yang hanya diterangi lampu jalan yang berkedip-kedip. Aku tidak merasa takut, karena aku sudah terbiasa pulang tengah malam begini.
Aku menghentikan motorku ketika melihat seseorang menghalangi jalanku, ia berdiri di tengah jalan sambil merentangkan tangannya.
Karena gelap aku tidak bisa melihat wajah orang itu dengan jelas, tapi aku bisa tahu kalau ia adalah perempuan karena rambutnya yang panjang.
"Tolong anterin saya Bang, saya mau pulang," ucapnya padaku.
Aku tersentak ketika ia sudah duduk di atas motorku. Aku bertanya-tanya kenapa ia bisa secepat itu? Tapi aku mencoba untuk berpikir positif.
"Kenapa kamu ada di sini pas tengah malem begini?" tanyaku.
Ia hanya diam, aku meliriknya dari kaca spion motorku, aku melihat ia menunduk. Apa ia malu? Aku tidak ingin membuatnya merasa tidak nyaman, ku lajukan motorku ke arah yang ia sebutkan.
Malam ini terasa sangat hening, ia maupun aku tidak berbicara sepatah katapun. Aku tidak merasa curiga kalau ia orang jahat karena ia tidak terlihat seperti itu. Aku ingin memulai obrolan tapi aku bingung harus mulai dari mana, aku takut membuatnya merasa tidak nyaman. Saat memikirkan itu semua aku mendengar suara benda terjatuh.
PLUK
Aku sedikit terkejut mendengar suara itu. "Apa ada sesuatu yang jatuh? Tadi aku dengar sesuatu yang jatuh?" tanyaku padanya sambil meliriknya dari kaca spion.
"Gak Bang. Gak ada yang jatuh," jawabnya. Suaranya terdengar dingin.
Tapi tunggu, saat aku meliriknya dari kaca spion tadi aku tidak melihat wajahnya ataupun rambutnya. Apa karena gelap aku jadi tidak bisa melihat wajahnya?
Aku terkejut saat menyadari kalau alamat rumah yang ia sebutkan sama dengan pemakaman umum yang ada di daerahku. Kenapa aku baru menyadarinya? Apa ini? Siapa dia sebenernya? Perasaan aneh mulai menyelimutiku, aku merasakan bulu kudukku yang merinding.
Aku menghembuskan napas kasar, aku tetap mencoba untuk berpikir positif. Aku menghentikan motorku. "Rumah kamu dimana? Apa tadi gak salah menyebutkan? Yang aku tahu itu pemakaman itu, tidak ada rumah di daerah situ," kataku.
Sudah ku tanya beberapa kali tapi ia tetap saja diam. Aku memberanikan diri menolehkan kepalaku kebelakang, dan betapa terkejutnya aku saat melihat tubuh tanpa kepala, aku segera turun dari motorku.
Aku tersungkur ke tanah, rasanya tubuhku lemas. Aku melihat lehernya meneteskan begitu banyak darah sampai bercucuran di jok motorku, bau darah mulai menyengat di hidungku. Bukan hanya darah, banyak belatung yang keluar dari lehernya.
Aku merasa sangat ketakutan, aku termundur ke belakang. Lagi-lagi aku dibuat terkejut saat tubuh itu terbelah menjadi dua, darahnya semakin mengalir dengan deras dan darahnya hampir saja mengenaiku.
Aku melihat sekelilingku yang sangat sepi. Aku tidak tahu harus apa sekarang. Aku mencoba berdiri saat sepotong tubuh itu bergerak mendekatiku dengan menggoreskan kukunya di tanah.
Aku menolah ke belakang. "Huaaaaaa!" teriakku saat aku melihat sebuah kepala yang sangat dekat denganku. Kepala itu tersenyum lebar padaku, senyumnya sangat lebar sampai ke telinga. "Halo!" sapa kepala itu. Sesaat kemudian kepala itu tertawa dengan sangat keras. "Hahahahaha!"
Aku tidak kuat untuk bergerak, apalagi saat ini tangan hantu itu memegangi kakiku. Kepala hantu itu terus menatapku. Aku benar-benar ketakutan, aku tidak pernah mengalami kejadian ini sebelumnya. Apa yang harus aku lakukan sekarang?
PLUK
Kedua bola mata dari kepala hantu itu mencuat keluar, aku terus membaca doa, aku ingin semua ini segera berakhir. "Hahahahaha!" hantu itu kembali tertawa dengan begitu kerasnya, tawanya seakan-akan menyakiti gendang telingaku.
Aku menutup kedua telingaku agar tidak bisa mendengarnya tertawa. Aku memejamkan mataku dan terus mengucapkan doa agar hantu itu segera menghilang dari hadapannya.
Aku merasakan kuku hantu itu mencakar kakiku, rasanya kulitku seakan terkelupas. Jantungku terus berdegup dengan sangat kencang. Aku berharap akan ada orang yang lewat dan menyelamatkanku dari hantu sialan ini.
Kedua kakiku terus dipegangi oleh tangan hantu itu sampai aku tidak dapat bergerak sedikitpun. Aku sedikit membuka mataku, aku melihat kepala hantu berputar-putar dan berhenti tepat di samping telingaku. "Apa kau takut? Hahahaha! Ayo ikut bersamaku," suara hantu itu benar-benar menakutkan.
Keesokan harinya tubuhku ditemukan tergeletak di tengah jalan dengan keadaan yang mengenaskan. Kulit kakiku sudah terkelupas, badanku sudah terbelah menjadi dua, darahku sudah seperti genangan air, dan kepalaku entah berada dimana. Sampai sekarang belum ada yang bisa menemukan kepalaku. Apa kepalaku ada di tempat kalian sekarang? Berhati-hatilah!