Sebagian orang mungkin tidak percaya dengan adanya reinkarnasi. Namun bagaimana jadinya jika AKU sebagai orang yang sama sekali tidak percaya malah mengalami nya?!
.
.
.
Hai nama ku Surya, mahasiswa di jurusan Biologi. Kehidupan biasa di kota metropolitan. Semua berjalan lancar sampai pada suatu hari saat ku melihat kucing kecil ada di jalan raya. Gila, gimana jika dia tertabrak?! Aku menghampiri dan berniat untuk membantunya menyebrang.
Jalan merah Cuy! Harusnya orang yang PUNYA mata berhenti. Namun, baru juga aku menggendong kucing hitam tersebut, dari balik arah terdengar suara ban dan klason berbunyi.
Suara itu semakin kencang, saat aku berbalik arah terlihat sebuah truk mengarah kemari.
BRAAKK!!
Samar-sama kulihat kucing kecil itu menjilat tangan ku. Btw, kenapa...aku berbaring di tanah? Orang-orang mulai menggerombol ke sekitar ku. Wajah ketakutan, simpati, terlihat di mata mereka. Sial, kepala ku sangat sakit. Tunggu, kenapa ada bercak merah di tangan ku?!
Aku mulai kehilangan kesadaran, mungkin tidur sebentar gakpapa kali ya?
Entah kenapa saat menutup mata, aku merasa tenang dan hangat. Tubuh ku seperti di peluk oleh sesuatu yang nyaman. Nyanyian nina bobo terdengar, elusan kasih sayang terasa seperti seorang ibu. Walau aku tidak tau apa yang ku alami ini, tapi...ini menyenangkan.
.
.
.
Saat terbangun ku mendapati seorang wanita cantik di depan ku. Rambut perak nya yang indah dan mata sebiru laut terpancar. Apakah dia seorang perawat? Ah tidak, saat dilihat lebih teliti, dia lebih pantas di sebut pasien daripada perawat. Terlihat ekspresi senang dan terharu di mata biru nya. Keringat terlihat di wajah nya, apakah dia sedang menahan rasa sakit? Ngomong-ngomong sedari tadi aku tidak bisa menggerakan tubuh ku.
Benar-benar tidak bisa di gerakan! Seperti tertahan oleh sesuatu. Sial, wanita cantik tolong bantu aku..
"Oeekkk"
Ups, a..apa yang baru saja keluar dari mulut ku?!
"Oekk hiks oeekkk"
Tak bisa di percaya, a..apa yang terjadi? Wanita itu mendekat dan mengelus kepala ku. Entah mengapa tubuh ku seperti tergoyang akan sesuatu. Ini tidak nyaman. Jika aku bicara akan muncul suara bayi di mulut. Tunggu, bayi? Jangan bilang aku sekarang ini adalah bayi?
Wait wait, j..jangan bilang ini yang di sebut Reinkarnasi?
Sumpah, aku memang selalu membaca karakter anime atau manga akan ke isekai saat tertabrak truk. Tapi, AKU MAH OGAH! Bukannya ke akhirat malah berakhir menjadi bayi. Dan lagi, kenapa dari semua orang kenapa aku yang mengalaminya? Padahal...aku tidak percaya dengan kehidupan kedua.
Hiks, ini semua karena truk bodoh itu!! Wakhh apakah truk berpindah profesi menjadi malaikat penyabut nyawa?!💢
"Oeekk oeekkk"
"Cup cup anaku sayang, kamu ngantuk ya?"
Tsk, berapa kali pun mencoba hanya ada suara tangisan bayi keluar dari mulut.
Wanita itu menepuk pelan perut ku, dan lagi-lagi tubuh ku seperti tergoyang akan sesuatu. Ini keranjang bayi yang bisa di goyangkan ya? Benar-benar tidak nyaman.
"Oeek oekk"
Sumpah itu bukan aku! Saat aku menengok ternyata ada satu bayi lagi tertidur di ranjang yang sama dengan ku. Dia menangis, uhh apa karena dia terganggu saat mendengar rengekan ku tadi ya. Aku merasa bersalah.
"Nyonya, Tuan Muda pertama sangat mirip dengan Tuan. Mata merah ruby indah dengan rambut sehitam arang. Benar-benar tampan"
"Iya, dia sangat persis dengan ayahnya. Sedangkan adiknya mirip dengan ku. Namun mereka benar-benar anak yang tampan" *senyum
"Benar Nyonya, kedua Tuan Muda kami memang sangat tampan" *tertawa
Jadi wanita cantik ini adalah ibu ku. Dan yang di sebelah...saudara...baru di dunia baru ini. Haah, benar-benar memusingkan kepala. Jika di lihat dari pakaian wanita di sebelah ibu, seperti pakaian pembantu Eropa di zaman dulu. Wanita yang ku sebut ibu itu tersenyum, tangan indah nya menyentuh kepala ku serta bayi yang ada di samping ku. Dengan lembut dia berkata...
"Nama sang kakak adalah Alexis, dan si adik bernama Aiden. Semoga kalian suka ya"
Wanita itu tersenyum. Bodoh, terlihat sekali dia sedang kesakitan namun ia malah berdiri dan mengelus kami. Ibu itu sama saja ya.
.
.
.
5 tahun berlalu...
"Aiden! Kembalikan kue ku!!"
"Jika kau mau ambil saja, hahaha"
"Sial, ku adukan kau kepada ibu dasar adik bodoh!"
"Aku juga akan mengadukan ibu jika kakak berbicara kasar, bwee"
Bocah kecil dengan rambut perak berlari menjauh dengan cepat. Membawa sekeranjang penuh kue di tangannya.
"Lari nya kencang sekali, awas saja jika aku menangkapnya!💢"
Dan dia adalah adik ku, Aiden. Dia...ah tidak, kami tumbuh menjadi anak yang tampan. Rambut indah seperti kedua orang tua, kulit putih seperti butiran salju, dan mata besar seperti bocah membuat orang yang melewati kami menjadi gemas.
Ternyata benar dunia ini adalah zaman kerajaan Eropa. Sungguh tidak bisa di percaya, jika aku akan berinkarnasi menjadi salah satu Bangsawan di zaman ini. Status ku juga bukan main-main, aku adalah anak dari Marquess di dunia ini. Dari buku yang ku baca peringkat Marquess adalah salah satu peringkat tertinggi. Tangan ku saja bergetar saking tak percaya dengan kehidupan baru ini.
Seiringnya dengan waktu aku mulai terbiasa. Perhatian lebih oleh para pelayan, pakaian mewah, rumah yang super duper luas, dan masih banyak lagi. Tapi untuk saat ini, bukan itu masalah ku. Adik ku Aiden mengambil jatah cemilan kami!! Bocah itu💢
Dasar bocah ingusan, aku yang berumur 21 tahun ini (di kehidupan dulu) tidak akan kalah dari anak umur 5 tahun. Fufufu...
"Ah baiklah aku menyerah, padahal aku ingin memberikan kisah seru untuk adik ku. Tapi sepertinya tidak jadi deh"
Teriak ku sambil menyilangkan kedua tangan. Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat, dia mudah terjebak ya.
"Ini"
Aiden menyodorkan sekeranjang penuh kue kepada ku.
"Ini bukan sogokan bukan?"
Goda ku dengan ekspresi merendah. Dia terdiam dan tertunduk. Tetesan air terjatuh di susul dengan suara tangisan.
"Hueee kak Alexis bodoh! Hueee"
S..sial, jurus bocah yang paling ku benci. Jika ibu mendengarnya, aku akan di marahi atas perbuatan yang tidak ku lakukan.
"Diamlah, baiklah aku akan menceritakannya. Jika kau tidak diam aku sama sekali tidak akan menceritakannya"
Tangisannya mereda, ia menatap ku dengan wajah memelas dan wajah tanpa dosa nya. Jika kau bukan adik ku, akan ku masukkan kau ke tong sampah-_-
Aku memegang erat tangan Aiden sambil membawa keranjang di tangan satu nya. Para pelayan memandang gemas saat kami berjalan. Kami berjalan menuju taman pribadi, dan duduk di air mancur dekat sana.
"Huplah, duduk lah kemari"
Aiden naik dan duduk di samping ku, kami memakan cemilan kami. Hmm ini enak...saat aku memandang ke air di kolam, bayangan kami terpantul. Rambut ku hitam dengan mata merah indah. Sedangkan Aiden adikku, mata biru laut dan rambut perak.
Kuakui kami benar-benar anak yang tampan. Kata ibu, Aiden lebih mirip dengannya, sedangkan aku lebih mirip dengan ayah. Padahal...selama 5 tahun ini kami tidak mengetahui wajah ayah kami. Kata ibu beliau sedang dalam tugas yang sangat penting yang mengharuskan kami berpisah cukup lama. Namun tugas apa sampai sesibuk itu?
Keheningan pecah saat Aiden menarik tangan ku.
"Alexis, ceritakan dongeng yang kau tau dong. Atau tidak, ceritakan fenomena makhluk hidup. Apa namanya, hm I..I.."
"IPA?"
"Iya, kemarin Alex menceritakan tentang fotosintesis. Menurutku itu sangat menarik, bisa ceritakan lebih?"
Ya, aku memberitahukan apa yang kupelajari dulu kepadanya sekitar 1 bulan yang lalu. Dimulai dari dongeng dan pelajaran dasar. Tak ku sangka dia sesuka ini. Sebagai seorang kakak tentu saja aku bangga, dia adalah anak biasa namun sudah unggul dalam pelajaran anak tk. Berhitung, membaca, bahkan belajar bahasa asing tak masalah baginya. Jika aku memang wajar karena sebenarnya aku adalah orang dewasa, namun Aiden benar-benar anak jenius.
"Baiklah" *senyum
Haah, adik yang pintar, ibu cantik dan ramah, bahkan kediaman mewah dan hidup tercukupi. Apa yang kurang dari ini semua? Itu yang kupikirkan sampai...
4 bulan berlalu...
Kami berjalan-jalan di kebun, dari jauh nampak ibu yang sedang memperhatikan kita dengan senyuman. Kami bermain dan bersenang-senang layaknya bocah berumur 5 tahun. Tak lama, datang seorang pria menunggangi kuda penuh dar*h masuk ke kediaman Marquess. Pria berkuda melewati kami, angin berhembus mengikuti jejak tapak kuda. Dia berusaha ingin mencari ibu, namun pengawal terus melarangnya.
Para dayang yang melihat dengan sigap langsung menggendong kami berdua untuk masuk ke kamar. Pandangan ini memang tidak cocok untuk anak-anak. Sesampainya di kamar para dayang menurunkan kami secara perlahan.
"Apa yang terjadi?"
Tanya ku dengan wajah datar. Aiden terus bersembunyi di belakang sambil menutup wajahnya menggunakan punggung ku.
"J..jangan khawatir Tuan Muda semua baik-baik saja"
"Aku menanyakan apa yang terjadi bukan meminta kalian untuk menenangkan kami"
Ucapku sambil mengernyitkan alis. Wajah mereka nampak bimbang.
"Walau samar dari lambang yang ada di zirah, seperti lambang kediaman Marquess. Saya harap saya salah lihat, karena jika benar..."
Dayang itu tidak melanjutkan kalimatnya. Rekannya juga terdiam dengan wajah khawatir.
"Ada sesuatu yang terjadi...dengan ayah?"
Sambung ku tak percaya. Para Dayang terdiam, tak lama mereka menggendong kami ke kasur dan menyanyikan lagu nina bobo. Seakan tidak terjadi sesuatu apapun. Tentu saja aku marah, bagaimana bisa aku tidur di situasi seperti ini?!
Tapi aku tidak bisa apa-apa. Aiden mencengkram tangan ku dengan kuat. Seharusnya tadi aku menutup matanya, pandangan tadi tidak bagus untuk dia.
Dan entah mengapa, walau aku sedang dalam kondisi mendesak...hoaammm. Kenapa aku malah mengantuk. Sial, tubuh ini masih seorang bocah kecil...mata ku tertutup dan menyisahkan para dayang yang pergi meninggalkan kami.
Besoknya...
Ternyata benar dugaan ku, ada sesuatu yang terjadi dengan Tuan Marquess. Tuan besar di kediaman ini sekaligus orang yang kupanggil ayah...gugur dalam medan perang. Ini yang di maksud tugas penting ya? Orang asing berkuda kemarin ternyata adalah pembawa pesan. Dia salah satu pasukan yang selamat. Kekaisaran kami memang sudah menang dengan negara sebelah, namun tak dapat di pungkiri banyak korban berjatuhan.
Ibu sedari tadi berada di kamar dan terus menangis. Pembantu dan para dayang tak bisa mengatasi nya. Bahkan...terdapat kesedihan di mata mereka.
Saat ku berjalan pandangan mereka penuh simpati. Aku tidak nyaman dengan pandangan mereka.
'Kasihan sekali para Tuan Muda'
'Padahal masih sekecil itu'
'Mereka belum bertemu dengan Tuan Marquess sama sekali dan sekarang...'
Itulah bisikan yang kudengar selama perjalanan.
"Alex, kenapa semua orang yang ada di sini membicarakan kita dan ayah?"
"Tidak Aiden, mulut mereka memang tidak bisa di jaga. Jika aku menjadi mereka, seharusnya aku tutup mulut karena ada anak kecil di sini"
Ucapku memandang sinis mereka yang sedang membicarakan kami. Mereka kembali diam dengan wajah ketakutan, dasar.
.
.
.
Di upacara pemakaman, semua nampak sedih dengan kepergian Tuan Marquess. Ibu selalu memeluk kami dengan hangat, tangisannya terdengar dan membuat hati kecil kami remuk. Para orang dengan kedudukan tinggi berziarah kemari. Bahkan ada Putra Mahkota sebagai wali untuk kunjungan Kaisar. Mereka merasa bersalah dan bersedih atas gugur nya Tuan Marquess di medan perang.
Aiden yang sudah mengetahui apa yang terjadi terdiam membisu. Kami tidak pernah melihat ayah sedari kecil, dan saat beliau kembali...dia malah tertidur di dalam peti dengan wajah pucat dan dinginnya. Rambut...sehitam arang dan wajah seorang pria yang pemberani.
"Kak, apa kakak sedih?"
"Aku...juga tidak tau. Kita terbiasa hidup tanpa ayah, dan tidak pernah merengek bertemu dengan ayah"
"Benar, seharusnya kita merengek bertemu dengannya"
Air mata terjatuh, Aiden menangis dalam pelukanku. Tangan kecil nya membuat ku merasakan kesedihannya. Benar, sehebat dan secerdas apapun Aiden...dia tetap lah seorang anak kecil.
"Hiks, apa yang kita lakukan kak?"
Haah, benar juga, apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah kami semua dapat menerima kepergian...ayah?
.
.
.
Tahun demi tahun berlalu, Aiden dan Alex tumbuh menjadi pemuda yang hebat. Sang adik dengan kepintaran tinggi dan sang kakak dengan kekuatan berpedang yang lebih unggul dari pria sebaya'nya. Usia mereka sudah genap 18 tahun. Mereka juga masuk ke asrama kusus Bangsawan dan berhasil keluar membawa kebanggaan menjadi 'Siswa Dengan Nilai Tertinggi'
Kedua pemuda dengan kemampuan tak biasa. Wajah rupawan mereka membuat gadis histeris saat berjumpa. Namun, tak ada yang tau bahwa mereka masih memiliki sifat kekanakan.
Suara langkah kaki di lorong terdengar. Kedua orang berlari, membuat para dayang dan pembantu terkejut dengan ulah mereka.
"Aiden, kembalikan buku ku bodoh!💢"
"Ambil jika bisa, dari dulu kau tidak bisa mengejar ku kan?" *memandang remeh
"Sialan kau Aideenn!!"
Alexis terus mengejar dan akhirnya ia berhasil menangkap adiknya. Ia memukul kepala Aiden dengan buku tebal. Sang adik hanya tertawa walau sudah berkali-kali di pukul sang kakak. Sampai, seorang wanita datang dengan wajah menyeramkan. Gaun indah berumbai, rambut perak dengan mata biru nya. Nyonya di kediaman Marquess.
"Alex, Aiden, sudah berapa kali ibu berpesan jangan berlarian di lorong"
Ucap sang ibu sambil menyilangkan tangannya, senyuman dengan intimidasi. Spontan si kembar langsung membungkuk meminta maaf, sang ibu hanya menghela nafas. Karena berapa kali pun di larang, mereka selalu melakukannya. Tak lama, kemarahan ibu mereda. Berganti dengan ekspresi sedih.
"Soal rencana kalian, apa kalian serius melakukannya?"
Alex dan Aiden terdiam, mereka tau pembicaraan ini sampai mana.
"Iya ibu, kami sudah berpikir ribuan kali"
Ucap Alex sang kakak dengan senyuman. Mereka memutuskan untuk menjadi pengembara dan petualang, sama seperti ayahnya saat masih muda. Mereka juga lebih suka kebebasan.
"Ibu tau kalian sudah dewasa, tapi kita baru saja bertemu sebentar saat kalian lulus dari asrama. Dan sekarang, kalian akan pergi lagi. Sudah 3 tahun ibu sama sekali tidak melihat wajah kalian, saat tiba ibu terkejut dan terharu. Kalian...adalah anak-anak ibu yang berharga"
Jelas sang ibu dengan sedih. Kakak adik ini juga merasakan penderitaan yang ibu mereka alami. Jauh dari orang tersayang selama beberapa tahun. Tak lama, senyum kaku terlihat dari si kembar. Mereka memeluk sang ibu dengan hangat.
"Ibu, kami pergi 2 bulan lagi kok, kita bisa menghabiskan waktu bersama"
"Benar, ibu tidak perlu khawatir. Kami juga akan sering memberi kabar lewat surat. Tapi maaf saja jika ada tulisan yang jelek, itu pasti tulisan Alex"
"Kurang ajar💢"
Tawaan terdengar, sang ibu merasa lebih baik. Ia tersenyum dan mengelus si kembar.
"Ibu akan mendukung semua keputusan kalian. Kembalilah dengan selamat, anak-anak ku..."
Si kembar tersenyum lega, mereka menganggukan kepala. Akankah petualangan mereka menjadi hal yang menyenangkan? Kesedihan? Mungkin semua perasaan akan campur aduk di petualangan mereka kali ini.
Surya yang berinkarnasi menjadi Alexis, berusaha untuk menjadi orang terhebat di dunia baru ini. Sedangkan Aiden yang tidak tau apa-apa, memiliki impian untuk menjadi pemuda yang hebat dan dapat menggantikan sosok ayah yang selama ini hilang. Menjadi Marquess di masa depan dan membantu ibu serta kakaknya.
Petualangan mereka, tidak dapat tertulis di buku kecil ini. Namun yang pasti, akan ada petualangan mendebarkan menanti mereka...
.
.
.
Jangan Lupa Like dan Komen, bye👋🏻😁