Dalam sebuah ruangan yang terisi dengan 35 orang peserta rapat, terlihat begitu padat. Namun, hal itu tidak menghalangi jalannya diskusi.
Dengan dipimpin oleh pemuda dengan rambut yang tersisir rapi, dan seragam yang dipadukan dengan jas kebanggaannya yang menambahkan kesan wibawa, rapat terlihat berjalan dengan begitu lancar.
"Jadi kesimpulannya, kegiatan pagelaran seni untuk HUT sekolah masih jauh dari kata seratus persen, oleh karena itu, saya sebagai ketua OSIS sekaligus ketua pelaksana kegiatan meminta dengan sangat untuk para defisi kegiatan masing masing untuk berkontribusi penuh dalam kelancaran persiapan kegiatan ini. Karena peserta yang hadir bukan hanya siswa-siswi sekolah kita saja, tapi ini dibuka untuk umum. Untuk Desi, Anta, dan Hani, nanti tolong tinggal di tempat dulu, saya mau cek data keuangan, proposal kegiatan, dan proposal untuk sponsor," ucap ketua OSIS yang masih berdiri di depan para audiens.
"Sebelum rapat saya tutup apakah ada yang ingin ditanyakan?" Senyum tercetak di bibir pemuda itu.
"Baik lah, terima kasih saya ucapkan untuk yang telah hadir dalam rapat ini. Hati-hati di jalan ya," ucapnya kembali, setelah di rasa tidak ada yang mengajukan pertanyaan.
Setelah semua keluar dari ruangan itu, dan tinggalah empat ornag yang tersisa. Mereka segera membuat lingkaran kecil untuk berdiskusi bersama, mengevaluasi kekurangan dalam masing-masing tugas.
"Dian, ini kayaknya kita harus meminimalisir pengeluaran deh, kalo pengeluaran kita banyak banget kayaknya dana dari sekolah ga akan cukup buat acara ini," ujar Hani, selaku bendahara kegiatan tersebut.
"Bisa juga, nanti kan juga akan ada dana dari sponsor nah itu nanti bisa diolah lagi, belikan apa yang sekiranya bener-bener penting buat acara nanti, kalo sekiranya gak perlu-perlu banget bisa dipotong anggaran aja jangan makan dana terlalu banyak," jawab Dian, sambil mengangguk-angguk tanda setuju dengan saran sang bendahara.
Selanjutnya pemuda itu beralih pada Desi selaku sekertaris kegiatan, yang mengurus proposal pengajuan. Dalam kegiatan ini, pembuatan proposal tidak hanya dibuat oleh sekertaris saja, namun mereka membagi beberapa tugas. Seperti proposal untuk diajukan ke sponsor dibuat oleh sie administrasi yang dibuat oleh Anta.
"Coba mana lihat proposal yang baru."
Desi dengan sigap menyerahkan dokumen yang ada di dalam map, yang sedari tadi digenggamnya dengan erat.
"Gue liat dulu ya," ucapnya setelah menerima dokumen itu, selanjutnya Dian mengambil pulpen yang ada di salah satu saku jas yang dia kenakan.
Wajahnya yang serius, membuat dahinya berkerut untuk sesaat. Lalu beberapa kali tangannya mengusap hidungnya, kemudian kembali fokus pada dokumen yang ada di genggamannya.
"Des! Coba deh ini kata-katanya jangan dibuat belibet, lebih jelas gitu, jadi to the point." Dian menunjuk beberapa bagian yang sekiranya perlu dirubah.
"Tapi ini sudah bagus, nanti tinggal masukkan anggaran aja, nunggu persetujuan sponsor sama data anggaran sama Hani." Dian kembali menyerahkan dokumen itu ke Desi, dan beralih pada Anta.
"Kalo lo sih udah bener, nanti tinggal datangi sponsor, negosiasi, sama persiapkan argumen, dan jelaskan sejelas-jelasnya. Setelah itu kalian bertiga kerja sama dalam hal ini, harus kompok."
"Siap, nanti kemungkinan besok gue dateng ke sponsor kita yang ada di Badung, buat presentasi," ungkap Anta.
"Gue ikut sekalian aja besok, biar nanti sekalian list keperluan apa aja," tawar Hani, yang disetujui oleh Anta.
Tak terasa hari sudah semakin sore, mereka memutuskan untuk segera pulang, setelah sebelumnya membersihkan ruangan yang telah mereka gunakan tiga jam belakang.
"Gue duluan ya, ada janji soalnya." Dian melambaikan tangan kepada ketiga temannya, dan melipir cepat ke parkiran.
Jika banyak yang mendefinisikan bahwa ketua OSIS itu banyak yang cool, irit ngomong, kejam, tegas, garang. Namun tidak untuk Dian, cowok itu begitu friendly, humble, care dengan siapapun, dan mengayomi. Tapi semua itu tidak menurunkan sedikitpun kewibawaannya.
~~~
Matahari sudah digantikan tugasnya oleh bulan beberapa menit yang lalu. Di tepi danau, dengan duduk bersender di sebuah pohon sendirian, gadis itu tengah menunggu seseorang sejak beberapa jam yang lalu.
Namun, orang yang ditunggu tidak kunjung muncul juga. Banyak pikiran negatif yang berseliweran bahwa ornag itu tidak akan datang, tapi dengan berbekal kepercayaan gadis itu terus menunggu, dan menunggu.
Hingga pundaknya ditepuk oleh sebuah tangan dari belakang.
Dengan sigap, gadis itu berbalik badan dan segera memeluk orang yang sedari tadi ditunggunya. "Lama banget sih, gue udah nunggu lama tau, ini tuh perdana banget seorang Dinda mau nunggu sampe dua jam, bayangin kejem amat lo."
"Ya maaf, tadi gue rapat sampe kelupaan waktu. Lagian lo ngajak ketemuan ngedadak amat, biasanya juga di gedung tepi kota itu," ucap orang itu sambil mengusap rambut Dinda, tanpa melepas pelukannya sedikitpun.
"Gini dulu ya, udah lama ga dipeluk sama ketua OSIS yang super duper sibuknya minta ampun," ucap Dinda sambil mencubit kecil pinggang Dian.
Ya, orang yang Dinda tunggu selama dua jam adalah Dian, Si ketua OSIS SMA Gemilang yang terkenal dengan keramahannya.
Ada yang penasaran dengan hubungan keduanya? Biarlah waktu yang menjawabnya.
"Seorang Dinda nunggu sampe dua jam? Ga percaya gue, disuruh antre ice cream lima menit aja mending ga beli, ini dua jam. Kangen gue kan lo, hayo ngaku aja!" goda Dian pada Dinda.
Dengan gemas campur kesal, Dinda melepaskan pelukan mereka dan mencubiti Dian dengan brutal. Akibat cubitan dari Dinda, Dian berlari berusaha menghindari Dinda. Jadilah mereka saling kejar.
"Kan jadi lupa gue tadi mau ngomong apa, lo sih," protes Dinda sambil terengah-engah, karena capek berlari.
Akhirnya Dinda menjatuhkan tubuhnya untuk berbaring di tanah, sambil menggunakan tangannya sebagai bantal, membuat Dian mengikuti kegiatannya.
Setelahnya hanya keheningan yang mengambil alih semuanya, keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"Bintangnya banyak ya, Din," ujar Dian membuka percakapan.
"Iya banyak, kita dulu sering nonton gini ya, di halaman belakang rumah elo." Dinda mengalihkan pandangannya dari langit ke wajah Dian.
Dian yang merasa diawasi pun, ikut menoleh ke arah Dinda. "Iya, sekarang kita udah sibuk sama kegiatan kita masing-masing, ya. Cepet banget kita sekarang udah segede ini, di titik sekarang ini."
"Sebentar lagi kita bakalan kayak dulu lagi kok, Yan. Jangan hawatir, gue akan pindah ke SMA Gemilang."
Pernyataan itu membuat mata Dian yang sipit melebar sempurna. "Serius?"
Pertanyaan iy hanya dijawab dengan anggukan oleh Dinda, dan tersenyum lebar.
~~~~~
Sudah satu bulan Dinda pindah satu sekolah dengan Dian, semuanya terlihat lancar-lancar saja.
Hingga pagi ini, sekolah dibuat geger oleh sebuah foto beserta keterangannya yang terpasang di mading sekolah.
Foto itu menunjukkan seorang gadis tengah berjalan dengan seorang pria yang usianya jauh diatas gadis itu, mereka berjalan di lorong sebuah hotel. Foto itu diambil dengan posisi dari samping, yang memperlihatkan secara langsung wajah sang gadis.
Dinda yang tidak tahu menahu, dibuat heran dengan tatapan penuh dengan sorot jijik dan merendahkan.
"Oh ini, sahabat Ketos yang bikin rusak nama Dian, mending menjauh aja deh," ucap seorang perempuan, yang entah datangnya dari mana menghadang Dinda.
Dinda yang tak mau mencari masalah, berusaha untuk menghindari, namun jalannya masih tetap dihadang.
"Minggir, gue mau lewat!"
"Minggir minggir, emang lo siapa nyuruh-nyuruh gue? Dibayar berapa lo sama si om om itu?" cibir perempuan yang bername tag Anggi pada seragamnya.
Hannya Anggi memang yang merenteti Dinda dengan berbagai pertanyaan, namun tak sedikit juga yang hanya menonton tanpa mau ikut campur.
"Apa sih maksud, lo?" tanya Dinda tidak mengerti.
"Ga usah sok polos deh, lo. Sini gue kasih liat!" Anggi menarik tangan Dinda kasar, menyeretnya hingga ke depan mading yang merupakan kunci jawaban dari pertanyaan yang bersarang pada otak Dinda sedari tadi.
Kepala menggeleng tak percaya, siapa yang sudah mengambil foto itu? Batin Dinda berteriak nyaring.
Ingin rasanya mengambil dan merobek foto yang ada di sana, namun tangannya masih dicekal kuat oleh Anggi.
"Gimana? Udah liat kan?" tanya Anggi semakin memojokkan Dinda.
"Lo itu gak pantes jadi sahabatnya Dian, kalian itu bagaikan langit dan bumi. Udah deh jatuhin aja, dari pada lu bikin malu dia." Anggi mendorong-dorong pundak Dinda dengan telunjuknya yang bebas.
Kerumunan makin memadat, dan air mata Dinda mulai berjatuhan. Banyak yang berbisik-bisik bahkan berbicara dengan keras, seperti disengaja agar dapat didengar oleh Dinda.
Namun tidak berselang lama, kerumunan dibubar paksakan oleh Dian. Dengan tatapan tajamnya, Dian mengambil alih tangan Dinda dari cekalan Anggi, dan menarinya menjauh dari mading.
Dinda tak tahu, kemana Dian akan membawanya pergi. Yang dia butuhkan sekarang hanyalah sebuah pelukan, dan ucapan pemenang bahwa semua akan baik-baik saja.
Namun tiba-tiba, Dian menghempaskan tangan Dinda dengan kasar, saat keduanya telah sampai di taman belakang sekolah.
"Lo ngapain sih Din, jalan sama om om di hotel segala, lo ga malu? Lo ga merasa bersalah sama kedua orangtua lo yang udah ga ada? Lo ga mikir gimana perasaan mereka di sana? Liat kelakuan anaknya yang murahan itu, ha? Mikir, gue aja malu sama kelakuan lo. Gue ga kenal sama Dinda yang sekarang ada di hadapan gue, lo bukan Dinda sahabat gue yang lembut dan pengertian, bahkan sangat ga mau pacaran. Tapi apa? Lo malah jalan sama laki-laki yang umurnya jauh di atas lo, mikir!" bentak Dian pada Dinda.
Bukan, bukan hal ini yang dia harapkan, bukan bentakan yang ingin dia dapatkan.
"Enggak Yan, lo percaya sama gue, kan? Lo sahabat gue, gue ga ngelakuin apa-apa, Yan, sumpah gue ga ngelakuin apa-apa," ucap Dinda berusaha meluruskan semuanya kepada Dian.
Air mata yang turun dari kedua matanya sudah tak dapat lagi dibendung, semua sudah hancur, penopangnya selama ini tidak percaya lagi padanya.
"Percaya apa, ha? Lo ga liat foto itu? Lo mau ngelak, kalo foto itu bukan lo, iya? Kalo foto itu cuma editan seseorang? Liat! Buka mata lo, jelas-jelas itu muka lo! Bahkan di foto itu lo masih pake seragam, tas lo bando yang lo pake, itu bando yang gue beliin buat kado sweet seventeen lo, Din! Lo mah ngebodoohi gue! Gue malu, Din, gue malu!" teriak Dian dengan keras, bahkan pemuda yang biasanya sangat menjaga perasaan Dinda, kini tak memperdulikan hal itu lagi.
"Lo malu punya sahabat miskin kayak gue? Iya? Oke biar gue pergi aja kalo gitu, Yan. Makasih untuk semuanya," ucap Dinda parau, dia sudah tidak tahan dengan semua tekanan ini.
Dengan perlahan, Dinda mengambil sebuah kertas kuitansi dari saku jaket yang dia gunakan. Diraihnya tangan Dian yang sedari tadi mengepal kuat.
"Ini alasan gue ada di foto itu, gue ngejual apartemen gue, biar bisa beli rumah yabg ada di samping rumah lo, biar kita bisa sama-sama lagi, tapi ternyata lo terlalu percaya dengan sebuah foto uang bahkan belum jelas siapa yang mengambil foto itu. Gue pergi, selamat tinggal," ucap Dinda.
Gadis itu berbalik badan dan berlari dengan cepat, hingga tubuhnya yang mungil hilang dari pandangan setelah di belokan menuju gerbang depan langsung dan arah ke kelas.
Namun Dinda memilih untuk berlari menuju arah gerbang depan, yang menandakan gadis itu benar-benar pergi.
Dian dengan perlahan membuka lipatan kertas yang tadi diberikan oleh Dinda.
Sesaat, tubuhnya menegang, syaraf dalam otaknya berhenti bekerja setelah membaca deret demi deret huruf yang tertulis.
Akhirnya, dia terlambat untuk mencegah sebuah kehilangan.
~End~