Senja malu-malu menyapaku yang sedang mengunci pintu belakang toko roti di mana aku bekerja. Aku berjalan untuk pulang ke kost-kostan. Tetapi, aku menghentikan langkahku dan bersembunyi dibalik tiang listrik.
Sebelum memberitahumu apa yang terjadi di depan mataku. Aku punya pertanyaan penting untukmu. Apa kamu masih ingat ceritaku tentang Richie yang bertemu di sudut selama 100 hari?
Kalau kamu masih ingat, berarti kamu tepat berada di sini. Iya, di sini menjadi saksi bisu bagaimana seorang Richard Sullivan berjongkok dengan kemeja mahalnya di gang belakang pertokoan yang becek kena air bekas cuci piring toko makanan.
Inginku tertawa tapi takut krama. Jadi, aku menahannya. Aku mempersiapkan nyaliku sambil memandang langit kemerahan di sana.
"Sampai kapan kamu mau sembunyi di sana, Melisa?" Tegur Richie dengan matanya yang melirik tajam padaku lalu dia kembali mencercaku, "ini sudah senja. Gak ada niatan untuk menyapaku?"
"Oh, hai Richie...." sapaku dan dia memutar bola matanya melihatku yang perlahan-lahan menghampiri dirinya.
"Ini sudah hari ke berapa?" tanya Richie padaku.
"Huh?" aku berlagak bingung.
Tak! Richie menjentikkan jarinya pada keningku.
"Aww.....sakit," keluhku.
"Ini hari ke 100. Tepat di hari ini, kamu janji akan memberitahuku di mana kotakku?" tanya Richie.
"Hmmm...." ucapku sambil pura-pura berpikir.
"Jangan bilang kamu gak ambil. Nyatanya kamu yang ambil. Aku liat sendiri di cctv kamarku. Liat benar-benar ini kamu kan?" tuduh Richie sambil memperlihatkan rekaman cctv dari layar handphonenya.
Aku membelalakkan mataku saat melihat rekaman itu. Richie tersenyum penuh kemenangan dan berkata, "kalau bukan karena kita saling kenal baik gak mungkin aku masih baik banget ngikutin mau konyolmu."
"Sekarang mana kotaknya?" tagih Richie sambil menadahkan tangannya padaku.
"Itu... aku bakar...." kataku lirih sambil menatap Richie penuh kesedihan.
"APA!" teriak Richie sambil memegang erat kedua bahuku.
Aku memejamkan mataku sambil menyatukan kedua tanganku di depan jidatku, "aku khilaf, maafkan aku...."
"Maaf tidak akan mengembalikan barangku yang kau curi dan kau bakar," kata Richie dingin.
"Lalu kamu mau aku bagai---gaimana...." tanyaku sambil memberanikan diri menatapnya.
"Kamu menikah denganku," kata Richie dingin.
"Hah?" aku kaget mendengar perkataan Richie. Mengedipkan mataku beberapa kali. Belum cukup yakin dengan itu, aku pun mencubit lenganku pelan. Terasa sakit berarti ini bukan mimpi.
Serius seorang Richie mau mengajakku menikah?
"Kalau kamu menolak, aku akan melaporkanmu atas tuduhan pencurian aset berharga," tegurnya.
Aku tahu Richie tidak mencintaiku. Dia juga anak orang kaya. Kalau dia ingin memenjarakan aku itu bukan hal yang sulit.
Pernikahan yang Richie inginkan mungkin salah satu siasat Ariana yang ingin balas dendam padaku. Harus apa aku? 🤯
Tarik nafas panjang, Mel. Kita tidak boleh gegabah.
Tenangku pada diriku sendiri. Kemudian aku menatap Richie dan berkata, "beri aku waktu oke?"
"Oke, senja besok aku akan menemuimu lagi. Aku harap kamu sudah punya jawabannya," katanya sambil tersenyum licik lalu berpergi dari hadapanku.
🌺