Hari ini adalah hari bahagia sahabatku. Seharusnya aku ikut bahagia melihat sahabatku yang sedang tersenyum lebar dengan binar mata yang sangat ceria di atas pelaminan bersama laki-laki yang dia cintai.
Mereka sudah menjalin hubungan sepasang kekasih semenjak mereka kuliah. Aku sudah bersahabat dengan Naera—sahabatku semenjak kami sekolah menengah atas.
Naera terlihat sangat bahagia di atas sana, senyuman nya tak pernah luntur sedikit pun. Tak jauh berbeda dengan laki-laki yang bersanding dengannya.
Seharusnya aku ikut bahagia. Ikut tersenyum lebar melihat sahabatku yang akhirnya mengikat ikatan suci dengan kekasihnya.
Namun, entah kenapa dadaku terasa sesak. Dan sakit. Sangat sakit. Hingga rasanya aku ingin pergi kekamar dan mengunci pintu nya, lalu menenggelamkan diri di kasur memejamkan mata dan berharap agar mataku tidak terbuka lagi. Agar aku tidak semuanya lagi.
Tapi yang bisa kulakukan disini adalah duduk di kursi menatap mereka berdua dengan memaksakan sebuah senyuman yang terasa pait dan mataku berkaca-kaca melihat mereka.
Mungkin orang yang melihatku akan mengira mata ku berkaca-kaca karena ikut merasa bahagia melihat sahabatku menikah.
Ha. ini lelucon kehidupan yang sangat pahit bagiku. Sejak lama aku memendam rasa ini, aku kira rasa aneh yang tidak dapat dideskripsikan ini akan menghilang dengan seiring berjalannya waktu. Tapi ternyata tidak, ini sangat menyesakkan.
Dulu aku sering mendengarkan celotehan ataupun curhatan dari sahabatku, mengenai laki-laki yang sekarang telah berubah status dari kekasih menjadi suami sah nya.
Setiap mendengarkan curhatan ataupun melihat keharmonisan hubungan kasih sahabatku, aku hanya dapat memasang senyuman tipis yang terkesan sangat menghina diriku sendiri menurutku. Tapi orang-orang tidak ada yang tahu, mungkin karena aku sangat lihai dalam mengontrol ekspresi wajah.
Owh.. ngomong-ngomong nama ku Sheila. Secret admirer seorang laki-laki yang bernama Brian, laki-laki yang sama dengan yang berdiri di pelaminan bersama sahabatku.
“Sheilaa! Ternyata lo dateng ke acara pernikahan gue,” ucap Naera sangat riang sambil memelukku erat.
“Ya jelas lah, bego. Ini hari bahagia sahabat gue yang paling brisik sedunia,” balasku sambil mengayunkan pelukan kami kekanan dan kekiri, seolah aku ikut berbahagia.
“Kyaa! Gue masih gak nyangka bisa nikah beneran sama Brian!” Naera memekik kecil yang terendam dan hanya bisa didengar oleh ku.
Sad! Ini benar-benar menyakiti diri. Aku bahagia, sangat bahagia melihat sahabatku yang bahagia. Namun aku tidak munafik untuk mengatakan bahwa hatiku baik-baik saja.
Melepas pelukan, aku manatap sendu sambil tersenyum tipis ke arah Naera yang sekarang tersenyum lebar.
Aku menolehkan kepala ku, menatap Brian yang sekarang ikut menatap ku. Mendekati laki-laki itu, aku menjulurkan tangan ingin memberi salam.
Brian menerima tanganku, tidak lama hanya sebentar namun itu cukup untuk membuat dadaku semakin sesak saat mengetahui bahwa laki-laki yang selama ini aku cintai dalam diam menikah dengan sahabatku.
Aku menatap dalam manik gelap milik Brian. “Jaga Naera, jangan pernah bikin dia nangis ataupun sakit hati. Jangan kecewain dia, jangan bikin dia ngerasa kesepian, janga hil—”
Sial! aku tidak sanggup lagi melanjutkan kalimatku karena air mataku mengalir deras. Ashh.. ini benar-benar memalukan.
Aku terkekeh kecil lalu mengedipkan mataku dengan cepat agar air mataku tidak kembali mengalir, di sebelahku Naera sudah menatapku dengan mata yang berkaca-kaca, terharu.
“Jangan pernah bikin senyuman di wajah sahabat gue luntur dan gue pengen lo janji.” ucapku sambil menatap Brian dengan serius.
“Janji apa?” tanya laki-laki itu pelan sambil mengusap pundak Naera menenangkan agar perempuan itu tidak menangis.
“Janji buat jagain sahabat gue selama gue enggak bisa jagain dia,” ucapku final. Ini menyakitkan, tapi aku tidak ingin menjadi perusak kebahagiaan sahabatku.
“Ngejagain Naera itu udah jadi tanggung jawab gue.” balas Brian seraya menatapku dalam dengan senyuman tipis nya.
Aku tersenyum. Dia benar. Mereka saling mencintai, sudah jelas akan saling menjaga dan membahagiakan.
Pandanganku sekarang beralih menatap Naera yang terlihat sedang mengusap air matanya dengan perlahan agar tidak merusak make up nya. Aku tersenyum lalu melangkah mendekat, mendekap kembali tubuh Naera yang mungkin akan menjadi untuk yang terakhir kalinya.
“Ra, jaga kebahagiaan diri lo, jangan lembek kalau semisal cowok lo bikin hati lo sakit. Gue enggak bisa nemenin lo curhat lagi atau bareng-bareng ngatasin masalah. Dan maafin gue, karena enggak bisa nemenin lo sampai akhir di hari bahagia lo,” ucapku lirih.
Naura melepaskan pelukannya, dia menatapku dengan tatapan mata yang ingin menangis, “Enggak papa, lo bisa dateng ke pernikahan gue aja udah bahagia, padahal pesawat lo bakal berangkat dua jam lagi,”
Aku tersenyum, “Udah, jangan nangis. Ini hari bahagia lo, enggak boleh nangis, itupun kalo lo nangis harus tangisan bahagia,” ucapku sambil mengusap lembut pipi Naera.
Naera mengangguk, “Thanks.”
Aku tersenyum lagi.lalu menatap Brian untuk terakhir kalinya, “Gue pegang janji lo” ucapku, dan laki-laki itu mengangguk.
Setelahnya aku melangkah kan kaki ku keluar dari pernikahan Naera, memasuki sebuah mobil berwarna hitam yang sudah ada barang-barang ku yang akan aku bawa ke Canada.
Aku akan pergi, pergi jauh sampai hatiku sudah memiliki penghuni baru. Dan yang tentunya yang dapat membalas perasaanku.
Semua ini terjadi karena aku yang terlalu pengecut untuk mengungkapkan terlebih dahulu. Karena aku yang hanya terdiam menatap sang pujaan dalam diam.
Ini kesalahanku, ini keputusanku, ini penyesalanku, dan ini akhir kisah ku. Menjadi Secret Admirer seorang laki-laki yang memiliki paras rupawan bernama Brian.
Selamat tinggal. Selamat tinggal masa laluku, doakan aku agar dapat bahagia dengan masa depanku.
—Secret Admirer ; End—