Alenna menghempas tubuh lelahnya keatas kasut sebaik saja dia masuk ke dalam kamarnya.Rasa lelahnya bekerja seharian benar-benar menguras tenaganya.
"Mom?Makan malam udah sedia.Ayo,kita makan bareng."
Ajak suara anak laki-laki berusia tujuh tahun yang sedang berdiri di ambang pintu kamar tidur sang ibu.
"Oh,Aren.Mommy lelah sekali.Mommy rehat sebentar yah?"
Sang ibu menantap wajah dingin sang anak dengan mata yang sudah tidak bisa dikompromi lagi.Dalam hitungan detik sang ibu sudah terlelap diatas kasur yang empuk.
"Ck!Ck!selalu aja seperti itu."Sungut sang anak yang mesra dipanggil Aren.
Alenna dan Aren tinggal berdua di kota London yang besar dan penuh cabaran.Lapan tahun lalu ibu kandung Aren meninggal dunia karena kecelakaan jalan raya dan tewas ditempat.Kerena Aren tidak mempunyai keluarga lain setelah ibu dan ayahnya bercerai,Alenna membawa Aren jauh dari kota kelahiran balita itu dan berangkat menuju London.
Tujuh tahun wanita yang bergelar ibu angkatnya itu tidak pernah melewatkan tahun demi tahun pembesaran Aren sehingga dia menjadi seorang anak laki-laki yang mandiri dan memahami kekurangan kekurangan yang ada pada mereka?
Soal materi?Mereka punya segala-galanya.Rumah,mobil, perhiasan dan apa yang Aren butuhkan semuanya tersedia penuh oleh Alenna.Alenna seorang wanita yang berkarir dan mampan.
Alenna wanita yang hatinya sekuat baja,kasihnya serapuh air mata yang tidak bisa melihat Aren kekurangan satu benda apa pun termasuklah kasih sayang.Bahkan wanita berhati kental ini menumpahkan segala yang dia punya untuk Aren meskipun anak laki-laki berusia tujuh tahun itu bukan anak kandungnya.
Namun sejak mereka berdua hidup sebatang kara,mereka saling bergantung hidup sama satu yang lain.Aren tidak pernah menghalang Alenna untuk mencari pasangan hidup.Hanya saja keberuntungan dalam perbincangan tidak pernah berpihak kepada Alenna karena adanya Aren di antara mereka.
Aren lalu mengambil selimut dan lalu menyelimuti tubuh Alenna yang sudah terlena di ranjang milik wanita tangguh itu.
"Mom, seandainya Aren tidak lahir kedunia pasti hidup mom tidak sesulit ini."Gumannya yang masih didengari oleh Alenna.
"Gak usah ngaco.Apa-apa pun yang terjadi kamu tetap anak mommy."Lirih Alenna dalam mata yang masih terpejam.
"Mom tidak tidur?"Aren menatap Alenna sedikit kaget.
Alenna mendudukkan dirinya dan bersander pada kepala ranjang.
"Maafin mommy karena tidak bisa memberi kasih sayang seorang daddy pada Aren."Ucap Alenna sambil mengusap pipi kanan Aren dengan lembut.
"Tidak apa mom?Apa gunanya kasih sayang seorang laki-laki jika mereka tidak tulus pada kita.Menyintai mommy hanya karena tampang mommy dan bukan orang yang ada didalam hidup mommy,mereka itu tidak pantes buat mommy."Ujar Aren dengan jujur.
"Oh,anak mommy sekarang udah dewasa yah.Kalo gitu,ayo kita makan bareng.Mommy juga udah laper."
❄️❄️❄️
Di belahan dunia yang lain.
"Zio,apakah kau sudah tau mereka ada dimana?"Tanya seorang pria tampan yang sedang berbaring lemah diatas ranjang.
"Maaf,kak.Aku tidak bisa menemukan mereka."Jawab pria yang dipanggil Zio.
"Sudah lapan tahun berlalu.Aku benar-benar menyesali apa yang aku pernah lakukan terhadap Farisha.Bahkan aku tidak tau bahawa dia mengandung buah hati kami saat aku usir dia dari rumah.Hanya karena aku terlalu mempercayai kata-kata Yuri,rumah tangganku berantakan.Jika aku tidak mendengar sendiri siasat apa yang Yuri gunakan untuk memisahkan aku dan Farisha,sampai kapan pun aku akan membenci Farisha yang dikatakan berselingkuh dibelakang ku."Zion terisak diatas kasurnya sendiri.
Sekarang keadaannya tidak mengijinkan dirinya berleluasa untuk bergerak karena teribat dalam kecelakaan beberapa tahun silam dan menyebabkan dia kehilangan salah satu kakinya.
"Kakak yang sabar aja.Zio akan cari mereka meskipun ke liang lahat sekalipun."Jawabnya lugas.
"Minggu depan,Zio ada projek terbaru di London.Jadi beberapa minggu ini Zio tidak bisa nemanin kakak di rumah."Ujar Zio lagi.
******
"Mom, where are you?"Panggil Aren lewat gawainya .Siapa lagi jika bukan Alenna yang ditelefon olehnya.
"Mommy masih di jalanan sayang.Gimana sayang masuk dulu ke cafe.Pesanin mommy hot latte sama sakura velvet."Titah Alenna di sebalik sana.
"Huff!selalu aja seperti ini."Omel Aren lalu mematikan penggilannya setelah menelefon sang ibu.
Saat ingin masuk ke cafe,tanpa sengaja tubuh Aren ditabrak oleh seorang pria dewasa.
"Sorry,sorry.I accidentally."
Ucapan minta maaf dari pria tadi membuatkan Aren menghela napas pasrah.Dia hanya menggelengkan kepalanya petanda tidak kisah akan perbuatan pria dewasa itu keatas dirinya.
"Hey kid.Are you ok?"Ujar pria dewasa itu bertanya setelah diacuhkan oleh Aren.
"Aku baik-baik saja Sir.Jadi gak usah khawatir."Ujarnya singkat.
Pria dewasa yang berucap dalam bahasa Inggeris itu sontak kaget mendengar anak laki-laki itu berbicara dalam bahasa ibunda mereka.
"Jadi kamu bukan orang sini?Tapi wajah kamu."Pria dewasa yakini Zio terperagah saat mendengar suara berat Aren.
"Paman,maaf.Saya pamit duluan.Mommy akan marah dengan Aren jika mengobrol dengan orang yang tidak dikenali."Jawab Aren ketus.
Tanpa menunggu Zio menghabiskan ucapannya,Aren sudah meleset masuk kedalam cafe untuk menunggu kedatangan Alenna.
"Tuan,apa kita harus pergi sekarang?"Tanya Arga sang asistennya.
"Mengapa wajah anak laki-laki itu terlihat sungguh familiar sekali.Dan juga perasaan akrab ini membuatkan aku nyaman dekat dengannya."Bisik Zio di dalam hati sambil meremas dadanya sedikit kencang.Ada getaran hebat iya rasakan dalam dadanya disaat netra biru anak itu bertubrukkan dengan netra biru miliknya.
"Siapa anak laki-laki itu.Mengapa perasaan ini begitu akrab sekali?Tidak mungkin aku memiliki seorang anak dengan mantan wanita ku bukan?Seharusnya tidak.Aku sentiasa bersih melakukan hal itu.Tapi anak laki-laki ini."
Lagi dan lagi Zio memikirkan Aren yang ditabraknya tadi.Sehingga di pusing kepala memikirkan hal yang tidak masuk akal olehnya sendiri.
****
"Mommy,mommy udah telat limabelas menit.Bagaimana mommy mau beri kompesasi kepada Aren."Pinta Aren dengan wajah yang sudah ditekuk kesal.
"Anything for you honey."Ucap Alenna manja.
"Oke,jika begitu Aren gak akan sungkan lagi."cengir sang anak sambil tersenyum sumrigah.Bahkan p****gan yang mengunjungi cafe itu juga turut kagum akan ketampanan yang dimiliki oleh Aren.
"Aren mau ikut perfom di panggung dengan Tim sekolah."
"What!Apa kamu pasti honey?"
"Yes mom.Aren pasti."jawabnya lugas.
"As you wish honey."ucap Alenna lalu turut tersenyum senang.
******
"Tuan,hari ini ada peresmian sekolah terbaru yang sudah siap dibangun di area komplex B.Kita sebagai investors utama dijemput untuk menghadiri peresmian sekolah itu."
"Baiklah."Jawab Zio singkat.
Saat acara peresmian pembukaan sekolah yang baru,pelbagai acara ditunjukkan oleh anak-anak sekolah.
Salah satu pertunjukan yang membuat hati Zio bergetar hebat iyalah pertunjukan dari Aren yang bermain piano dengan lihainya.
"Arga,aku mau kau cari tau siapa anak yang bermain piano itu.Aku butuh sesegera mungkin."Titah Zio.Entah mengapa ada getaran hebat di dadanya yang tidak bisa Zio ungkapkan dengan kata-kata.Bahkan segala keperibadian anak laki berusia tujuh tahun itu meninggalkan kesan yang mendalam pada dirinya.Dia harus cari tau akan hal yang mengganggu pikirannya ini.
Dua hari setelah peresmian pembukaan sekolah baru,Aren dan Alenna kembali semula ke tanah kelahiran mereka di Kota Z.Kembali karena tidak lama lagi akan menjelang hari memperingati kematian Farisha,ibu kandung Aren.
Tempat di ulangtahun kematian Farisha,kedua manusia berbeda generasi dan jantina itu sudah pun berada di makam almarhum Farisha.
"Mom,Aren sudah berumur tujuh tahun.Jadi Aren mau tagih janji mommy pada Aren.Aren siap kok."Jawab Aren dengan mantap.
"Apa Aren pasti mendengarkan rahasia yang mommy simpan selama ini?Apa Aren nanti tidak menyesal setelah mengetahui kebenarannya?"Tanya Alenna memastikan apa yang dipinta oleh Aren tidak mempengaruhi sosiologi putra angkatnya ini.
"Tidak mom.Sesakit mana pun kebenarannya,Aren mau juga mendengarkanny.Dewasa atau tidak, kebenarannya tetap akan terungkap.Yang pasti Aren mau mengetahuinya agar kemudian hari Aren tidak akan sakit mendengarkan kebenaran tentang mama."Kata Aren lagi.
"Baiklah."
Akhirnya,Alenna pun menceritakan asal usul Farisha dan siapa suami sahabat baiknya itu.Kemudian barulah dia menceritakan tentang siapa Aren yang sebenarnya tanpa melewatkan satu hal pun yang dia ketahui.
"Alenna?"panggil satu suara pria yang amat dikenali oleh Alenna.
"Alenna,kamu Alenna bukan?Oh,God.Akhirnya kamu kembali juga.Kemana saja kamu pergi selama ini Alen."Sapa Zio dengan nada suara yang bergetar.Bahkan pria itu tanpa sungkan memeluk Alenna sehingga membuatkan tubuh Alenna mematung tidak bergerak sedikit pun.Zio merupakan kekasih pertama Alenna.Mereka berpisah karena Alenna lebih memilih berpihak kepada Farisha setelah sahabatnya diperlakukan dengan buruk olah keluarga Zion.
Kedatangan Zio ke makam adalah untuk mencari keberadaan dimana almarhum Farisha dimakamkan.Dan tanpa terduga,dia bertemu dengan Alenna.Kekasih yang dia amat cintai,pergi tanpa mengucapkan sepatah kata perpisahan.
"Paman,anda terlalu tidak sopan.Mengapa paman dengan seenaknya memeluk ibuku.Kalian bahkan tidak memiliki apa-apa ikatan."kedengaran Aren menyeletuk setelah mendapat Zio tidak kunjung melepaskan pelukannya dari tubuh sang ibu.
Merasakan tidak asing dengan suara anak laki-laki itu,sontak Zio meneloh kesamping Alenna.Melihat wajah Aren,Zio terperagah besar.
"Alen?Dia anak mu?Kamu sudah menikah?Dan ini,ini makamnya Farisha.Kamu kenal sama istri kakak Zion?"
Pertanyaan bertubi-tubi dari Zio tidak dijawab oleh Alenna.Malah wanita itu memilih untuk berdiam diri sebelum suara Aren kedengaran sekali lagi.
"Soalan paman terlalu banyak sekali.Siapa yang akan jawab pertanyaan seperti itu jika paman bertanya kayak keretaapi yang tidak akan berhenti pada tempatnya."sindir Aren dengan tajam.
"Oh,hi ganteng.Maafin paman.Paman sudah tidak berlaku sopan."ujar Zio sambil tersenyum.
"Sekarang apa yang paman mau tau.Aren akan jawabkan bagi pihak mommy."Jawab Aren dengan arogannya.Bahkan Alenna sudah menyimpan senyumannya melihat kelakuan konyol sang putra yang kini mengerjai Zio.
"Umm,nama si ganteng siapa?"Zio mulai bertanya.
"Cukup sekadar mengetaui nama saya Aren."
"Nama yang baik."
"Soalan kedua."tanya Aren keintinya.
"Aren kesini sama mommy aja?Papa dimana?"tanya Zio lagi.
"Ya,Aren pergi sama mommy.Dan Aren gak punya papa."jawab Aren lugas.Sontak itu Zio menoleh kearah Alenna untuk mendapatkan jawaban,namun wanita yang dilihatnya kini malah menoleh kearah lain seolah-olah menghindar dari menjawab pertanyaan Zio.
"Soalan seterusnya."
"Apa mommy pernah menikah?"tanya Zio ragu-ragu.Ada ketakutan yang merantai dirinya.Takut Alenna sudah memiliki takdir hidupnya sendiri.Soal anak,pasti Alenna memiliki rahasia tersendiri sehingga dia tidak mau Aren tau siapa ayah kandung anak kecil itu.
"Mommy tidak pernah menikah."
Lagi-lagi Zio terkejut besar mendengar jawaban dari Aren.Jika Alenna tidak pernah menikah,lalu siapa Aren..Apakah Aren anak luar nikah.Apakah Aren hasil dari hubungan satu malam Alenna dengan pria luar negri setelah mereka berpisah.Zio menggelengkan kepalanya berkali-kali.Tidak mungkin Alenna melakukan hal seperti itu.Dia begitu kenal akan keperibadian Alenna.Wanita itu tidak akan bertindak bodoh setelah mereka berpisah.
"Pasti paman kagetkan?Pasti paman menyangka Aren anak luar nikah.Pasti paman menyangka mommy wanita yang tidak baik.Pasti pa.."
"Aren!"sentak Alenna dengan suara yang gementar.Aren yang mendengar suara sang ibu lalu menundukkan kepalanya.Alenna merangkul tubuh sang putra kedalam pelukkannya.
"Maafin Aren mom.Seandainya Aren tidak lahir kedunia,mommy juga tidak akan dihujat oleh orang luar sana karena menghidupi Aren yang bukan anak mommy."Aren mulai terisak dipelukkannya.Zio yang mendengar kebenaran ini turut terperagah karena mengetahui rahasia Aren dan Alenna.
"Jangan berbicara seperti itu sayang.Mommy itu bener-bener sayang sama kamu.Kamu tiada duanya di dunia ini.Kamulah buah hati mommy dan kebanggaan mommy."isak Alenna.Keberadaan Zio tidak sedikitpun mengusik jiwa mereka.
"Alen?Siapa keluarga kandung Aren.Pasti kamu tau bukan?Sejak kali pertama aku ketemu dengannya,aku merasakan begitu dekat dengan Aren.Perasaan ini bertambah kuat,apalagi bertemu seperti sekarang.Alen,apakah Aren putra kakakku?Wajah mereka hampir memiliki kemiripan yang hampir sama.Alen,katakan kepadaku."desak Zio.Alenna menghirup udara sedalam-dalamnya untuk melegakan sesak yang menghimpit paru-parunya sebelum dia membuka cerita tentang Aren dan Farisha.
"Ya,Aren adalah anak kakakmu dengan Farisha.Bukan Zio saja yang kaget.Bahkan Aren juga turut kaget.
"Jika Aren anak kakakku,mengapa kamu membawanya kabur?"tukas Zio.
"Aku? membawanya kabur?Hey,apa kalian lupa apa yang keluarga ku yang terhormat pernah lakukan ke Farisha.Bahkan kakakmu sendiri yang mengusir istri sendiri karena lebih mempercayai omongan orang lain.Waktu Farisha diusir dari rumah,dia juga tidak tau dia sedang hamil.Dalam hitungan detik,akte cerai sudah siap ditandatangani.Lalu dimana salahnya aku."tukas Alenna dengan menatap nyalang kearah Zio.
"Jadi siapa yang bersalah disini?Aku melindungi Aren bukan karena janjiku dengan Farisha,tapi karena aku sudah berjanji akan menjaga mereka dengan segala kodratku yang ada.Apa kalian pernah mencariku?"tanya Alenna kepada Zio.
"Aku mencari Farisha dimana-mana.Bahkan kini sudah tujuh tahun aku mencari.Tapi aku tidak pernah menemukan jejak kalian."terang Zio.
"Bull***t!"sumpah Alenna.
"Aku tidak pernah menutupi satupun dari identitas Aren.Bahkan aku memberikan marga keluargaku setelah aku mengadopsi Aren.Semuanya tertulis di badan berwajib.Apakah sesukar itu kamu mencari kebenaran?Atau kau tidak berpikir ada orang lain di balik semua ini sehingga kamu selalu gagal mencari jejak kami."Sindir Alenna lagi dan lagi.
Hari ini dia akan melampiaskan segala rasa marahnya,rasa kesalnya pada keluarga yang sudah mengabaikan darah daging sendiri.Setiap tahun Alenna dengan sabar menunggu jika saat nanti ada keluarga kandung Aren datang menjemput anak itu.Namun apa yang dia dapat.Lagi dan lagi dia seperti dihapuskan keberadaan mereka terutamanya Aren.Bukan tugas Alenna mencari mereka setelah apa yang mereka lakukan ke atas Farisha.Alenna tidak akan membuat sesuatu perkara yang tidak akan disukai sang putra.
Takdir Aren,hanya anak itu saja yang bisa gubah dan lakukan.Dia sudah buat sehabis baik menjadi seorang ibu pada anak sahabatnya.Mencintai, menjaga dan menumpahkan segala kasih sayang yang tiada tara buat Aren.
"Pantesan aja aku selalu gagal menemukan kalian."Guman Zio setelah menyadari apa 6ang Alenna ucapkan.
"Siapa pun itu,aku akan cari tau tentang mereka.Alenna,bisakah aku membawa Aren bertemu dengan kakak ku?"
"Itu terserah pada Aren.Apakah dia bersedia atau tidak.Aku tidak mau memaksa Aren jika dia tidak mau.Semua keputusan ditangan Aren sendiri.Untuk yang lainnya,kita akan diskusi lagi.Aku lelah.Aren juga.Kami pamit dulu."ujar Alenna lalu meninggalkan Zio yang masih terpaku melihat sosok Alenna dan juga Aren yang pergi sehinggalah kedua-dua hilang dari pandangannya.
"Alen,sejauh mana takdir membawa kalian pergi,senekad apa aku akan mengejar kalian.Kali ini aku tidak akan melepaskan kalian pergi lagi."lirihnya lalu menghayunkan langkah kakinya meninggalkan kawasan pemakaman itu.
♥️♥️♥️TAMAT♥️♥️♥️