Suasana ruangan di kantor kecamatan siang itu terasa sepi. Semua orang sibuk di meja kerja masing masing tanpa bicara. Menyelesaikan tugas kerja, memindahkan data atau merapikan dokumen dokumen. Mereka bekerja dengan sesekali melirik pada sebuah meja kosong yang terletak di pojok ruang. Di atas mejanya tampak sebuah mesin ketik bukan komputer. Map map berisikan dokumen kerja tertumpuk di sebelah mesin ketik. Alat alat tulis seperti pulpen, pensil, penggaris, semua terkumpul jadi satu dalam sebuah wadah plastik. Sebuah meja sederhana yang bersih lagi rapih.
Tik. Tik. Tik.
Terdengar pelan suara itu. Meski pelan, semua orang di ruangan bisa mendengar.Beberapa orang yang duduk berdekatan saling pandang. Mereka menggeleng seakan berkata, mungkin salah dengar. Suara itupun tak terdengar lagi. Mereka melirik pada meja kosong di pojok ruang, terutama pada mesin ketiknya. Tidak ada yang aneh. Mereka pun kembali bekerja.
Tik. Tik. Tik. Suara itu terdengar lagi. Kali ini semua mendengar lebih jelas. Mesin ketik di meja itu mengetik sendiri.
Semua orang menoleh pada meja kosong itu dan serempak menjerit ketakutan. Di meja itu tampak seorang perempuan sedang duduk menunduk sambil mengetik. Maka semua orang di ruangan berhamburan lari keluar. "Ada apa? ", heran pak patianom melihat semua anak buahnya panik berlarian. "Itu... Itu pak... Di dalam ada penampakan... " Gemetar salah seorang anak buahnya. "Penampakan apa? " Penasaran pak patianom. "Penampakan... I... Ibu... Hiii", anak buahnya tidak melanjutkan kalimatnya ia malah lari. Pak patianom geleng geleng kemudian melangkah menuju ruangan itu, melongok kedalamnya dan terkejut.
Mesin ketik itu terlihat bergerak mengetik sendiri.
" Astagfirullah", desis pak patianom.
Mesin ketik itu terus mengetik hingga 20 detik lamanya lalu diam.Pak patianom hanya bisa menatap nanar antara percaya dan tidak dengan apa yang baru di lihatnya. Mesin ketik itu seperti ada yang menggunakannya, seperti ada orang yang sedang bekerja di meja kosong itu. Hal ini membuat pak patianom teringat akan kejadian 10 hari yang lalu.
FLASHBACK 10 hari yang lalu.
Dia berbaring di atas ranjang dengan tubuh yang terlihat lemah. Wajahnya pucat dan sesekali terbatuk. Seorang perawat yang baru saja mengecek kondisinya melangkah keluar, berkata, "silahkan pak, tapi ibu tidak bisa di jenguk terlalu lama, beliau butuh istirahat".pak patianom yang mendapat pesan itu, mengangguk kan kepala. Ia melangkah masuk, hatinya trenyuh melihat anak buahnya yang sedang terbaring sakit itu. Dia terkejut bercampur senang melihat pak patianom datang. "Assalamu'alaikum... Gimana kondisi ibu? Tanyak pak patianom. " Waalaikumsalam. .. Seperti yang bapak lihat", jawabnya mencoba tersenyum. Dengan rasa prihatin pak patianom melihat semua selang selang yang menempel di tubuh juga lengannya itu.
"Maaf Pak, saya masih tidak bisa masuk kerja hari ini", ucapnya lemah.
Pak patianom tersenyum, " Tidak apa apa bu".
"Tapi bagaimana dengan pekerjaan saya pak, saya hampir seminggu lebih tidak bekerja, pasti pekerjaan saya sudah menumpuk, saya tidak enak---"
"Sudah bu, jangan di pikirkan", potong pak patianom lembut, " Sudah empat kali setiap saya ke sini ibu selalu menanyakan soal pekerjaan, sudah ibu tenang saja, pekerjaan sudah di handle, sekarang yang penting ibu sehat dulu".
Ibu itu mengangguk lemah, "Terima kasih pak, maaf saya juga sudah merepotkan. .. Membuat... Uhukk... Bapak bolak balik ke sini".pak patianom menggeleng, " Tidak merepotkan sama sekali bu, saya dan teman teman di kantor sering menjenguk ibu untuk memberikan semangat karena kami ingin sekali ibu segera sembuh". Seorang perawat datang dan memberi tanda kalau waktu menjenguk telah habis. Maka pak patianom pun pamit serta berjanji akan menjenguk kembali beberapa hari ke depan.
Tak di sangka,kabar buruk di Terima pak patianom. Ibu itu meninggal setelah 10 hari di rawat di rumah sakit. Pak patianom pun menundukkan kepala berduka.
FLASHBACK Off.
-Hari ini-
Pak patianom melangkah keluar ruangan, semua anak buahnya yang tadi lari ketakutan terlihat berkumpul di kantor kecamatan. "Sudah tidak ada yang harus di takuti, semua kembali lagi bekerja", perintah pak patianom. Beberapa terlihat ragu tetapi pak patianom meyakinkan mereka. Dengan takut takut semua kembali masuk, mata mereka terus melirik pada meja kosong di pojok ruangan itu. Untuk meyakinkan anak buahnya itu,pak patianom mendekati meja kosong tersebut, menyentuh mesin ketiknya dan menunjukkan pada anak buahnya, "lihat, gak ada apa apa kan? ", semua mengangguk dan kembali bekerja.
***
Tiga hari kemudian
Mendung gelap menggantung di langit sore.
Beberapa kali terdengar gemuruh halilintar dari balik awan mendung tersebut, tak lama lagi maghrib menjelang. Tampak dua orang pegawai masih merapikan meja mereka bersiap untuk pulang. "Ayo mbak sis nanti keburu hujan nih", cetus seorang perempuan muda seraya merapikan jilbabnya pada rekan kerjanya. " Iya, sebentar lin",tanggap perempuan yang di panggil mbak sis itu sambil menyimpan dokumen dokumen di dalam lemari. Setelah dokumen itu di simpan, mbak sis berkata,"ok,Lin beres... Yok pulang". Mereka pun melangkah keluar bersama, bertepatan dengan hujan yang turun.
"Aduh! Mbak kelupaan!Makanan buat anak anak di rumah ketinggalan di meja tadi! ", seru mbak sis menepuk jidatnya. Lina yang sudah membuka payung menghela napas, " Pffffffhhh, yah sudah aku tunggu di luar sini aja yah mbak". Mbak sis menggeleng cepat, "gak mau... Temenin aku lin, ayolah yah.... ". Lina tak bisa menolak permintaan seniornya itu, ia pun melangkah menemani. Mereka berjalan kembali ke ruangan kerja, sedang hujan telah turun deras. Ruangan ruangan lainnya di kantor kecamatan itu tampak sudah sepi.
Mbak sis dan Lina sampai di depan ruangan kerja mereka yang gelap. Mbak sis menyalakan lampunya tetapi lampunya tidak menyalah. "Haduhhh! Tadi masih nyala deh, kok sekarang mati sih! Suka ada ada aja yah! ", kesal mbak sis. " Mbak aku tunggu di sini"sahut Lina berdiri di depan pintu. "Gak lin, kamu temenin aku masuk juga ih!! "Desak mbak sis sembari menarik lengan Lina. Lina hanya bisa pasrah mengikuti. Di dalam ruangan yang tanpa lampu itu, mereka melangkah di antara meja meja dan kursi kerja. Mereka tidak melihat ke kanan kiri. Pandangan mereka hanya lurus ke meja kerja mereka saja. Terlihat sebuah bungkus plastik di atas meja. Mbak sis dengan cepat mengambil plastik itu lalu dengan cepat kembali menggandeng tangan lina. "Hufffhhhh, udah nih, ayo cepetan kita keluar dari sini! ", ujar mbak sis legah.
Tiba tiba petir menggelegar keras membuat mereka terpekik, bersamaan dengan pintu ruangan yang menutup keras. Mengurung mereka di ruang kerja. "Yah Allah", kaget Lina melihat pintu yang menutup di hadapan mereka. Ia segera membukanya tapi tidak bisa. " Mbak ini gimana? " Panik Lina menggedor gedor pintu. Mbak sis pun berteriak memanggil manggil nama penjaga kantor. Tetapi tidak ada tanggapan dari luar. Hujan turun semakin lebat.Lamat lamat terdengar suara.
Tik. Tik. Tik.
Terdengar suara mesin ketik di belakang mereka. Mbak sis dan Lina saling pandang. Suara ketikan itu terdengar lagi, kali ini lebih cepat seakan sedang sibuk mengetik pekerjaan. Mbak sis dan Lina saling berpegangan tangan dalam gemetar. "Mbak... Itu suara... "Desis Lina. Mbak sis mengangguk, wajahnya terlihat pucat, bulu kuduknya merinding. Mesin ketik itu terus mengetik, bahkan hingga berbunyi ting!Yang menandakan kertas di mesin ketik itu harus di ganti. Sreeek! Terdengar suara seperti kertas yang di tarik dari mesin ketik. Kemudian mesin itu mulai mengetik lagi.
Terlihat bibir Lina yang gemetar berkomat kamit, membaca doa doa. Sedang suara mesin ketik terus terdengar dan semakin sibuk saja. Mbak sis dan Lina akhirnya penasaran, mereka memberanikan diri untuk menoleh ke belakang, bertepatan dengan petir yang menggelegar memberikan cahaya yang menerangi ruang. Di bawa cahaya petir yang berkeredap nampak seorang perempuan berwajah pucat sedang mengetik dengan cepat di meja pojok ruang itu.
Mata mbak sis dan Lina membelalak lalu mereka menjerit keras bersamaan.
Di luar ruang, seorang penjaga kantor terhenyak mendengar jeritan itu. Ia langsung berlari menuju asal suara tersebut. Sesampainya di depan ruangan kerja, ia membuka pintunya tetapi terkunci. "Tolooooong! " Masih terdengar suara mbak sis dan lina berteriak ketakutan. Dengan cepat ia mengeluarkan kunci cadangan dari kantong jaketnya dan membuka pintu. Setelah pintu terbuka ia terkejut melihat mbak sis dan Lina telah jatuh pingsan di lantai.
***
Pak patianom telah mendengar cerita itu.
Sebetulnya ia bukanlah orang yang percaya tahayul tetapi apa yang terjadi di meja kosong itu seperti nya berkaitan dengan kepergian anak buahnya tempo hari.Ia terus memikirkan hal itu, ia hanya ingin semua kembali normal. Kini tidak ada yang berani sendirian di dalam ruang kerja tersebut. Para pegawai pun tidak mau datang lebih dulu atau pulang terakhir. Jadwal kerja pun jadi terganggu.
Padahal setiap ke ruang kerja, pak patianom selalu menyempatkan mampir ke meja kosong di pojok ruangan itu dengan maksud agar meja kerja tersebut tidak terbengkalai atau terlupakan. Ia memperhatikan semua yang berada di atas meja tidak ada yang berubah, persis sama sejak terakhir si empunya meja masuk rumah sakit. Tidak ada yang berani menyentuh atau merubahnya, hanya petugas kebersihan yang selalu membersihkan debu nya saja.
Enam hari berlalu tanpa gangguan. Semua orang telah kembali fokus bekerja. Hingga di hari ke-6, suara itu terdengar lagi membuat semua orang terkesiap dan segera menghambur keluar ruangan. Mesin ketik itu kembali mengetik lagi. Suaranya terdengar semakin keras saja. Beberapa orang menjauh takut,beberapa orang segera menggumamkan doa doa.Pak patianom yang mendapat laporan itu bergegas mendatangi ruangan.
Ia berdiri terpaku di depan pintu.
Mesin ketik itu bergerak sendiri.
Sibuk sekali mengetik.
Pak patianom mengusap wajahnya, kemudian mendesis kan kata, "Bissmillah". Lalu ia melangkah masuk mendekati meja di pojok ruangan itu di bawah tatapan anak buahnya yang mengintip dari luar ruangan. "Assalamu'alaikum", pak patianom memberi salam lalu menyambung, "... Saya tau ibu masih ada di sini... Mmm... Saya... Saya bisa melihat ibu sedang bekerja", pak patianom berkata sedikit terbata sedang mesin ketik itu masih mengetik sendiri.
Pak patianom menelan ludah sebelum melanjutkan, " Ibu adalah anak buah saya yang paling rajin, aktif dan bertanggung jawab untuk setiap tugas yang di berikan. Sungguh saya bangga bu".
Mesin ketik itu tidak berhenti, terus mengetik.
"Tapi tugas ibu sudah selesai... Ibu tidak perlu bekerja lagi, semua tugas ibu sudah di kerjakan. Sekarang ibu tinggal beristirahat saja yang tenang".
Ketikan di mesin ketik itu tidak terdengar keras seperti tadi.
" Saya dan rekan rekan kerja sungguh berterima kasih pda ibu yang telah bekerja dengan baik selama di sini.Kami bangga pada ibu dan sekarang ibu boleh berhenti".
Mesin ketik itu mendadak diam.
"Sudah cukup bu".
Pak patianom menutup kalimatnya itu. Hatinya berdebar. Ia was was menunggu. Begitupun anak buahnya di luar ruangan. Setelah di tunggu sekian lama mesin ketik itu tetap tidak berbunyi maka pak patianom pun menghela lega nafasnya. Semua anak buahnya juga menghela nafas lega. Dan hingga hari ini mesin ketik itu tidak pernah berbunyi lagi.
-TAMAT-