Kala Dewa Surya mengerahkan kekuatannya untuk menyinari seluruh alam semesta, di bawah naungan biru Dewa Zeus, di tengah kesejukan oleh Dewa Bayu, dalam berkat sepanjang masa Dewa Aesterford, jadilah satu hari lagi yang tenang di alam dewa. Terdengar tawa anak-anak dari tanah lapang. Suara gebrakan meja dan pendapat yang saling bersilangan di ruang aparat kerajaan dewa. Suara kekuatan suci yang saling beradu. Para dewi yang bernyanyi demi kedamaian semua makhluk di alam semesta. Juga suara para professor yang bergema di lorong-lorong akademi.
Buk! Buk! Buk! Buk! Buk!
Di sepanjang lorong sepi di lantai paling atas akademi keturunan dewa, terdapat sebuah ruangan terlarang. Konon siapa pun yang masuk ke sana tidak dapat keluar hidup-hidup.
Buk! Buk! Buk! Buk! Buk!
Temaram menyambut di balik salah satu pintu kayu di lorong itu , hanya mengandalkan 2 buah obor. Ruangan sempit yang nyaris kosong. Hanya satu, sebuah pilar tinggi kokoh di tengah ruangan.
Buk! Buk! Buk! Buk! Buk!
Dan dari pilar itulah suara gaduh ini berasal. Tepat dari tinju beruntun seorang putra dewa yang meluapkan kekesalan. Gigi putra dewa itu bergemeretak, lebih keras dari pilar di depannya. Tak peduli panas pada kepalan, maupun tiap helaian rambut merah mudanya yang mulai lengket, putra dewa dalam balutan kain putih itu terus meninju pilar tak berdosa di depannya.
“Bukannya saya menghina ya, saya hanya mengingatkan. Sekali lagi saya bukan menghina jadi jangan salah paham. Saya berkata seperti ini karena saya peduli padamu, Regulus frost Aesterford.”
Kekuatan yang disalurkan pada tinju putra dewa berusia 14 tahun itu bertambah tatkala teringat perkataan professor keriting beberapa menit yang lalu, menyebabkan suara gaduh itu kian menjadi.
“Regulus, kau adalah penerus Dewa Rossiel frost Aesterford yang agung, raja dari para dewa. Kau adalah harapan kami untuk membunuh dewi kegelapan….”
Regulus menggigit sudut bibir. Mata hitamnya menatap tajam pilar yang sejak tadi ia tinju seolah pilar itulah sumber kekesalannya.
“Kalau kemampuanmu hanya segini, kau bahkan tidak pantas menyandang nama ‘Aesterford’.”
BUAK! Kali ini bukan tinju, melainkan tendangan yang dilancarkan kaki telanjang putra dewa itu. Namun berbeda dari yang lain, kaki putra dari raja para dewa itu baik-baik saja, tidak ada lecet maupun bekas kemerahan. Regulus tersengal, mengusap peluh di pelipis.
Buk! Sekali lagi Regulus meninju lemah pilar itu, bersender pada tinjunya. Sebenarnya ini bukan kali pertama ia mendengar hal serupa, tapi yang kali ini benar-benar membuatnya kesal.
“Memang siapa dia berani menilai aku tidak pantas menyandang nama ‘Aesterford’?” gumam Regulus. “Dia bukan siapa-siapa, hanya putri dewa berstatus rendah yang kebetulan berjasa dan diangkat sebagai professor akademi.”
Wajah wanita tua penuh keriputan berkulit cokelat, dengan rambut keriting putih kembali terngiang dalam benak Regulus. Putra dewa satu itu menggeram tatkala senyum miring professor itu masih terukir jelas dalam ingatannya.
Regulus menghela kasar, mendongak, menatap angka “9998” bertinta merah yang terukir pada pilar kayu itu. Meski sadar apa yang ia lakukan saat ini melanggar peraturan, tapi Regulus tidak punya pilihan.
Dia tidak bisa meninju dinding asrama karena baru setengah jalan, dinding itu akan jebol hingga ke ruangan-ruangan sebelahnya karena kekuatan Regulus sebagai keturunan raja dari para dewa amat besar.
Lebih tidak mungkin lagi dia meminta latihan berperang dengan murid lain, kecuali ada keturunan dewa yang bosan hidup.
Juga tidak mungkin dirinya hanya diam saja. Sebab jika ditahan, kekesalan dan amarah dalam dirinya hanya akan memuncak dan membuat dirinya tambah gila.
Buk! Akhirnya, hanya pilar inilah pelampiasan Regulus. Pilar kokoh yang tidak sekali pun retak meski Regulus tidak menahan diri. Awalnya Regulus hanya penasaran dengan isi ruangan ini. Sejak awal Regulus tidak percaya bahwa ia akan mati hanya karena menginjakkan kaki ke sini. Namun lama-kelamaan, ruangan ini bagai kamar kedua bagi Regulus. Sekaligus tempat meluapkan kekesalan sejak ia tidak sengaja menendang pilar ini kala kesal.
“Sudah 9.999 kali ya aku memukulmu?” Putra Dewa Rossiel frost Aesterford itu bermonolog. “Kalau begitu, biar kugenapkan jadi 10.000.” Suara benturan tinju dengan pilar kayu itu sekali lagi terdengar, kemudian angka bertinta merah di sana berubah menjadi “10000”.
Namun sebelum Regulus sempat menarik kembali tinjunya, dalam sekejap tubuh Regulus terbungkus oleh sinar merah yang entah muncul dari mana. Mulai dari kepalan yang menempel pada pilar, leher, kemudian kepala dan ujung kaki. Tanpa sempat membela diri, putra dewa paling agung itu lenyap bak ditelan sesuatu.
***
Di bawah sinar hangat rembulan, serangga-serangga malam melenguh pelan. Daun pepohonan tersibak oleh embusan malam. Rumput ikut bergoyang mengikuti angin.
Tiba-tiba sekelebat sinar kemerahan menganggu malam yang damai. Bruk! Sinar merah itu menghilang, bergantikan tubuh seorang remaja laki-laki dalam bungkusan kain putih, bersender pada salah satu batang pohon. Mahkota emas berbentuk dua daun panjang yang ujung tangkainya saling tertaut terjatuh ke rerumputan. Remaja itu mengusap belakang kepala yang sempat terantuk batang pohon. “Apa-apaan ini?”
Namun gerakan tangan remaja itu terhenti begitu kelopak matanya terangkat. Pemandangan yang asing dan langit yang berubah seratus delapan puluh derajat dari yang terakhir dia ingat. Bibir semerah mawar itu bergetar. “S-s-s-sial!!!”
Buk! Dua ekor burung pipit yang semula terlelap, terperanjat tatkala pohon tempat mereka bertengger bergoyang seolah hendak roboh. Kicauan-kicauan panik disertai lompatan-lompatan kecil terdengar dari paruhnya, kemudian segera terbang menuju langit malam ke dua arah berbeda. Kerutan pada dahi remaja itu menghilang, mengerjap beberapa kali menatap kepalan yang menempel pada batang pohon di belakangnya.
Ya, “seolah hendak roboh”, bukan roboh.
Regulus menatap kedua telapak tangannya ragu, membaliknya, kemudian sekali lagi meninju pohon itu dengan kedua tangan. “Tidak roboh...,” gumamnya. Padahal biasanya pohon ‘rapuh’ seperti ini akan terbang bahkan ketika tinju Regulus masih setengah jalan.
“Ah….” Raut terkejut Regulus luntur dalam hitungan detik. Netranya terfokus pada angka “3” bertinta merah yang terukir pada batang pohon itu. “Jadi ini sama saja dengan pilar tadi.”
Regulus bangkit, menekan kesepuluh ruas jari. Baiklah, kebetulan dirinya masih kesal dengan professor keriting itu.
Buk! Bukan, kali ini bukan suara tinju Regulus. Melainkan… suara kepala Regulus yang terantuk sesuatu.
“Maaf! Maaf!” terdengar suara perempuan dari belakang sana.
Regulus menarik sudut kanan bibir kesal, berbalik. “Kau….” Ucapan Regulus terhenti begitu melihat wujud perempuan itu. Seorang gadis yang kira-kira seusia dirinya, dengan rambut hitam panjang dan warna mata senada. Berkulit putih. Mengenakan hoodie biru azure dengan tali putih di dekat leher, juga celana panjang longgar berwarna abu-abu. Dalam dekapan perempuan itu terdapat bola sepak yang tadi mengenai kepala Regulus.
Namun lupakan dulu semua itu. Perempuan di depannya… tidak mengenakan aksesoris apapun yang menunjukkan dirinya adalah anak dewa, pakaian yang jauh berbeda dari yang dikenakan Regulus. Putra Dewa Rossiel itu juga tidak merasakan sedikit pun kekuatan ilahi dari tubuh perempuan itu.
Regulus mengerjap beberapa kali, memperhatikan perempuan itu dari bawah hingga atas.
Seketika kaki dan tangan Regulus bergetar. Perempuan asing, pemandangan dan langit yang asing. Hanya ada satu kemungkinan tempat Regulus berada sekarang. Bumi, dunia para manusia. Sebab hanya makhluk itulah yang wujudnya menyerupai dewa.
Regulus menggeleng, terbahak hingga membuat gadis di depannya mematung. Tidak-tidak, itu tidak mungkin. Dunia manusia hanya bisa dicapai dari alam dewa jika…. Netra putra Dewa Rossiel itu membelalak, menoleh cepat ke arah pohon di belakangnya. Jika melewati berkah leluhur para dewa.
“Maaf, ini… milikmu?” Perempuan berambut hitam itu menyodorkan mahkota emas Regulus yang sempat terjatuh. Regulus yang membelalak tambah membelalak, cepat-cepat merebut dan mengenakan mahkotanya.
“Kakak! Sudah dapat bolanya?” kali ini suara anak laki-laki, lebih muda.
***
Regulus mengerjap beberapa kali. Mulutnya mengaga lebar, sangat menggoda bagi nyamuk-nyamuk di sana untuk masuk ke dalamnya jika bukan karena insting yang melarang. Tubuhnya terbaring di rerumputan, menatap bintang yang bertaburan di langit. Seluruh tubuhnya terasa lengket. Tenggorokannya kering dan panas.
“Maaf, kau pasti lelah, ya.” Bola mata Regulus mengarah ke sumber suara, seorang gadis berambut hitam yang duduk sambil meluruskan kaki di sebelahnya. Gadis itu meletakkan sebotol air mineral di atas hidung mancung Regulus.
“Kau minta maaf atau minta dipukul?” gumam Regulus kesal, tapi tetap menerima botol itu. Sedangkan gadis itu hanya terkikik mendengarnya.
Masih dengan posisi yang sama, Regulus membuka segel botol mineral itu, menjadikan salah satu tangan sebagai alas kepala, kemudian meminumnya tanpa menempelkan bibirnya dengan botol. Dalam beberapa tegukan, botol mineral itu kosong tanpa tersisa setetes pun.
“Kau lebih lelah dari yang kukira,” komentar gadis itu sambil menumpukan dagu di tangan, menatap Regulus seolah menatap pertunjukkan sirkus yang menarik.
Regulus tak menanggapi, memilih menutup mata. Ia sudah sangat lelah direpotkan anak lelaki tadi yang memaksa Regulus bermain sepak bola dengannya. Berlari ke sana kemari merebut bola, itu sangat melelahkan dan membuang waktu.
Regulus menghela pelan. Padahal harusnya mengitari padang rumput ini ribuan kali pun, Regulus tidak selelah ini. Bahkan Regulus sanggup meninju pilar di ruangan terlarang itu ribuan kali jika kesal.
Ingatan Regulus kembali saat tadi dirinya benar-benar kesal dengan kelakuan anak laki-laki itu yang sok hebat, meski menerima satu bola pun tidak ada yang becus. Lupa akan fakta dirinya adalah putra Dewa Rossiel frost Aesterford, Regulus menendang bola ke arah anak lelaki itu sekuat tenaga tepat ke kaki anak itu.
Namun justru anak itu baik-baik saja, meski bola sempat memantul pada percobaan pertama. Anak itu tidak berteriak kesakitan ataupun memaki karena Regulus terlalu kasar. Jauh berbeda dari perkiraannya.
Itu hanya berarti satu hal, kekuatan fisik Regulus mengikuti sebagaimana kekuatan fisik manusia di dunia ini. Lemah.
Netra Regulus terbuka tatkala merasa sesuatu yang lembut mendarat di dadanya. “Untukmu, sepertinya kau tidak punya rumah maupun pakaian ya?” ucap gadis yang mengenakan kaos merah itu, melemparkan hoodie-nya untuk Regulus.
Regulus menatap gadis itu tajam. Di mata gadis itu yang mengenakan pakaian berlapis-lapis, pastilah dirinya seperti orang tidak mampu yang membeli pakaian saja tidak bisa.
“Adikku sakit. Besok dia akan menjalani operasi, makanya malam ini aku mengajaknya kabur untuk bersenang-senang,” gadis itu berkata pelan, masih dengan senyum yang menghias wajah. “Aku tidak minta banyak, tolong doakan saja semoga operasi adikku berhasil.”
“Tidak akan berhasil,” ucap Regulus dengan dinginnya, membuat senyum di wajah gadis itu luntur seketika. “Manusia memang boleh berharap, tapi takdir yang menentukan.” Regulus mungkin kehilangan kekuatan fisik luar biasanya, tapi tidak dengan kekuatan ilahinya, terutama ‘mata’ yang melihat masa depan sebagai putra Dewa Rossiel frost Aesterford.
Di mata Regulus, anak lelaki itu diselimuti kabut hitam, yang berarti ajalnya sudah dekat. Karena itu pula Regulus berbaik hati, bersedia berkorban untuk bermain dengannya.
“Itu aku juga tahu. Tapi apa boleh buat, hanya ini ‘senjata’ terkuatku,” ucap gadis itu tenang. Sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan remaja lelaki yang baru ditemuinya. Malah, kini gadis itu tersenyum lembut.
“’Senjata’?” ulang Regulus, kini kedua kelopak matanya terangkat, menampakkan bola mata hitam yang memantulkan bayangan gadis itu.
“Ya. Aku tidak mungkin terlibat langsung dalam operasi itu kan? Makanya, cuma ini senjataku untuk bertahan, berdoa dan berharap.” Gadis itu berdiri. “Kau juga, pasti memiliki ‘senjata’ sendiri untuk bertahan kan?” ucap gadis itu menatap Regulus dengan tatapan misterius. Angin malam berembus, memainkan rambut panjangnya.
***
Kilatan kuning bak petir menyelimuti tubuh putra dewa yang duduk bersila di atas sebuah batu besar, meletakkan tangan yang menghadap ke atas di kedua lutut. Putra dewa itu dapat merasakan aliran darah di seluruh tubuh menghangat hingga ke titik kulitnya terasa terbakar.
Kedua kelopak matanya terangkat. Dengan cepat kedua tangannya membentuk sebuah lingkaran penuh ke arah berbeda, hingga telapak tangan kiri mengarah ke bawah dan kanan ke atas, pada satu garis lurus.
Regulus dapat merasakan kedua telapak tangannya memancarkan kehangatan, bersatu membentuk sebuah bola dengan embusan bak tornado mengelilinginya. Sinar putih dari bola itu mengenai wajah Regulus. Hangat.
Dahi Regulus membentuk kerutan, berusaha berkonsentrasi. Embusan di sekitarnya bertambah kencang, hingga membuat rambut dan kain putih yang membungkus tubuh Regulus tersibak ke belakang. Putra dewa itu tetap berusaha menjaga konsentrasi dan degupan jantung yang makin tak karuan.
Namun beberapa detik kemudian, muncul retakan pada permukaan bola sinar itu. Retakan yang memajang ke samping. Kemudian muncul lagi dari berbagai atas dan bawah, semakin panjang. Hingga akhirnya retakan-retakan itu berkumpul dan membuat lubang di tengah.
Crashh.... Sekali lagi, percobaan kesekian Regulus frost Aesterford, gagal.
Bola sinar itu hancur, terpecah menjadi beberapa bagian, kemudian menghilang bak asap. Regulus mengusap peluh yang membanjiri pelipis, tertawa pelan.
“Anna frost Freylica.” Regulus berdiri, berjalan menuju tubuh seorang gadis berambut hitam yang tergeletak di bawah pohon. “Meski gagal, kurasa sebentar lagi aku bisa menguasainya, kekuatan sebagai syarat penerus posisi raja para dewa. Ternyata benar, kekuatanku harus dicampur sedikit dengan kegelapan agar lebih mudah kukendalikan."
Regulus berjongkok. Jemarinya memainkan ujung rambut gadis itu, kemudian menari di atas pipi dingin itu. "Kau juga benar, tentang harapan dan doamu itu adalah 'senjata' terkuatmu. Selamat karena aku bersedia mengabulkannya sehingga kau tidak perlu menjalani takdir keji."
Bibir pucat kering gadis itu setia tertutup, tapi netra hitamnya terbuka sempurna, membuat Regulus menghela. Tubuh tak bernyawa itu menatap Regulus seolah dirinya pembunuh keji. “Putri Dewi Kegelapan, Anna frost Freylica. Semoga jiwamu diampuni oleh Yang Mahakuasa. Terlepas dari status kelahiranmu, kau tidak jahat.”
Sinar keemasan memancar dari bawah telapak tangan Regulus, kemudian merambat membungkus tubuh gadis di depannya. Regulus yakin, sejak awal putri dewi ini pasti mengenalinya sebagai putra Dewa Rossiel, terutama dari pakaian dan mahkota yang ia pungut semalam.
Begitu juga dengan Regulus. Meski tidak langsung mengenalinya sebagai putra dewi kegelapan, tapi Regulus tahu gadis ini bukan manusia. Tidak bisa merasakan kekuatan ilahi bukan langsung berarti dia manusia, bisa saja putri dewi ini menggunakan semacam cara untuk menyembunyikannya. Ditambah, respon gadis ini terhadap Regulus terlalu tenang. Seharusnya tanpa sadar manusia bersifat agresif atau ketakutan jika bertemu dewa, baik tahu atau tidak yang dihadapannya seorang dewa.
Dewi Kegelapan, seorang dewi yang dihukum Dewa Aesterford terdahulu karena melakukan percobaan gelap pada anak manusia, dosa besar yang menyebabkan kekacauan hebat di bumi karena tersebar kematian misterius anak-anak mereka. Namun dewi kegelapan berhasil kabur tanpa jejak. Karena Aesterford yang memulai, maka Aesterford jugalah yang harus mengakhiri, dan itulah mulanya tanggung jawab besar yang diemban penyandang nama 'Aesterford' dari generasi ke generasi.
"Tapi kau belum menjadi Dewi Kegelapan. Hatimu murni meski jiwa dipenuhi kegelapan, itulah yang paling penting." Begitu genap ucapan Regulus, sinar keemasan yang menyelimuti putri dewi itu bertambah terang, menyilaukan mata. Rambutnya tersibak pelan karena kekuatan dalam sinar keemasan itu. Butuh beberapa detik hingga kemudian sinar itu menghilang.
"Anna, mulai sekarang kau adalah Anna frost Sothike. Sothike yang berarti 'terselamatkan'." Kelopak mata putri dewi itu terangkat, mengerjap beberapa kali.
Regulus berdiri, mengulurkan tangan pada putri dewi itu. "Sebagai balasan karena mengabulkan harapanmu untuk tetap hidup tanpa menjalani takdir keji yang seharusnya kau jalani, kau harus mengabdi padaku seumur hidup," ucap Regulus dengan nada paling serius seumur hidupnya.
Senyum merekah di wajah putri itu. Perlahan warna hitam dari tiap helaian rambutnya berubah menjadi cokelat. Kelopak matanya sekali lagi terangkat, menampakkan bola mata biru hijau di baliknya. Dengan senang hati, Anna frost Sothike menerima uluran tangan Regulus, berdiri. "Dengan senang hati, Tuan Regulus frost Aesterford," ucap Anna, tersenyum seolah ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidup.
Regulus menggeleng. "Panggil aku seperti biasa saja," putra Dewa Rossiel itu mendongak, memincingkan netra, "aku harus membuktikan pada seseorang bahwa aku lebih dari pantas menyandang nama 'Aesterford'. Karena itu, bantu aku."
Putri dewi berambut cokelat itu tersenyum, bola mata hijaunya memantulkan bayangan Regulus yang menatapnya. "Tempat persembunyian ibu saya kan?"
Regulus mengangguk. "Tapi kau yakin tidak akan dendam padaku setelah ini? Kau pasti tahu akhir dari ibumu jika aku menemukannya kan?"
Putri dewi itu terdiam sejenak, raut wajahnya mengeras, menunduk. Detik berikutnya Anna mengangkat pandangan, memarkan senyum miringnya. Matanya menyipit diikuti tangan yang memegang dagu, juga sedikit memiringkan kepala. "Meski dia ibu saya, tapi yang dia lakukan sangat kejam hingga lebih pantas disebut 'iblis' dibanding dewi."
Putra dewa berambut merah muda itu mengangguk. “Anak itu, sekarang pasti berada di tempat ibumu, ya,” ucap Regulus teringat sesuatu. Kedua sudut bibir Regulus terangkat. "Meski kemungkinannya kecil, haruskah kukabulkan doamu, Anna?"
Sontak asap hitam yang entah dari mana, yang tanpa disadari Regulus berkumpul di balik punggungnya. Putri dewi yang melihat hal itu tersenyum, menerima uluran tangan yang sekali lagi ditawarkan putra Dewa Rossiel frost Aesterford itu. "Saya akan sangat berterima kasih, Regulus," ucapnya disertai senyum, yang diam-dian kedua sudutnya semakin memanjang hingga nyaris merobek pipi putri dewi itu.