Di sebuah kota yg bernama Newhole, hiduplah seorang lelaki bernama Zen. Zen seorang pelajar SMA berumur 17 tahun yang akan melanjutkan kuliah beasiswanya di Jerman. Sebenarnya ia berasal dari kota Lofa tetapi ia pindah ke kota Newhole 12 tahun silam. Zen adalah lelaki yang memiliki wajah yang tampan, sekian banyak perempuan di sekolah yang menyukainya namun tidak ada yang menarik baginya. Selain ia memiliki wajah yang tampan, ia juga memiliki segudang prestasi dan bakat dalam bidang IPA. Pantas saja ia selalu menjadi buah bibir di sekolahnya.
__________
Saat itu ia sedang berada di taman, matanya terfokus melihat kupu-kupu yang sangat cantik sedang terbang di atas bunga Amarylis yang bermekaran dengan indah di awal musim semi. Tetapi suatu hal yang tidak disangka-sangka terjadi, kupu-kupu tersebut berubah menjadi seorang gadis yang sangat cantik. Zen sangat terkejut, ia merasa ini adalah mimpi. Zen pun mencubit pipinya, dan terasa sakit. Zen berusaha untuk tenang, lalu Ia pun menghampiri gadis itu perlahan dengan penuh pertanyaan.
“Kau baru saja merubah dirimu menjadi seorang manusia?!” Ucap Zen dengan pengucapan yang terpenggal-penggal.
“E-eh, kau ada disini sejak kapan?” Jawab gadis tersebut panik dan terkejut.
Zen tidak menjawab, ia hanya melihati gadis itu dengan raut muka yang tidak kalah terkejutnya dengan gadis itu.
“uhmm, ah oke, kau juga sudah terlanjur melihatku berubah, apa boleh buat. Namamu siapa? Kata gadis tersebut.
“Tidak, tidak aku tidak ingin membahas itu, pertama kau harus jelaskan mengapa ini bisa terjadi?!” Jawab Zen tidak menyangka.
“Baiklah, tapi kau sepertinya tidak akan mengerti, Jadi begini, dari ingatan dipikiranku saat itu aku sedang berada di sebuah rumah yang sangat gelap, aku pun tidak ingat mengapa aku sendiri bisa ada di rumah itu, dan tiba-tiba ada cahaya hitam masuk ke dalam diriku. Sehingga membuat ku menjadi seekor kupu kupu, dan aku hanya bisa menjadi manusia saat musim semi. Aku tidak bisa mengingat apapun sebelum kejadian itu, maka dari itu aku pun tidak mengenal jati diriku sendiri. Menurutku cahaya hitam itu seperti kutukan dan kutukan itu hanya bisa dipecahkan jika aku bertemu dengan jodohku” Kata gadis tersebut.
Zen pun terdiam dengan raut muka yang penuh kebingungan.
“Sudah aku bilang, kau tidak akan mengerti. Sepertinya kita harus berkenalan terlebih dahulu bukan? Perkenalkan namaku…. Ah, tidak, aku tidak mempunyai nama. Bagaimana dengan namamu?” kata gadis tersebut.
“Ini tidak masuk akal, sepertinya aku benar-benar bermimpi” Ucap Zen tegas.
Gadis itu pun menampar Zen dengan keras untuk membuktikan bahwa ini nyata.
“Hei!, Itu sakit!” Kata Zen
“Masihkah percaya ini mimpi?” Tanya gadis itu tersenyum kecil.
Beberapa menit berlalu. Zen pun mencoba untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Ia mencoba berpikir bahwa semua ini masuk akal.
“Oke-oke, jadi kau seseorang yang terkena kutukan, dan sebenarnya itu tidak apa-apa” ucap Zen.
“Ya ya ya, tidak apa-apa dengan hidupku yang tinggal beberapa bulan ini.” Jawab gadis tersebut pasrah.
“Hah?! Apa maksudmu dari kata ‘beberapa bulan’…?!” Tanya Zen panik.
“Sepertinya aku lupa memberi tahu padamu, jika pada musim semi ini aku tidak menemukan siapa jodohku, aku akan mati. Itu sudah syarat dari kutukan itu” Jawab gadis itu santai.
“Dan.. mengapa kau tidak panik atau apa? Setidak nya berusahalah agar nyawa mu itu tidak direnggut oleh kutukan itu” Jawab Zen tegas.
Mereka berbincang cukup lama, tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 18.30, Zen pun pulang setelah berpamitan dengan gadis tersebut.
___________
Hari demi hari pun berlalu, Mereka semakin menjadi akrab. Mereka juga mencoba mencari pasangan hidup gadis, Dengan harapan dapat menemukannya. Tetapi entah apa yang terjadi, dari semua rangkaian cerita itu ada perasaan yg terbawa di hati Zen.
Di pagi hari, Zen pun bersiap siap pergi ke sekolah, matahari yang kemarin terlelap sudah bangkit lagi dari ujung timur. Zen pun menyiapkan sepeda nya untuk berangkat ke sekolah. Sekolah diawali dengan pengumuman mengenai Penilaian Akhir Semester 2. Raut muka teman-teman Zen terlihat sangat buruk saat itu. Tapi tiba tiba Zen dikejutkan oleh temannya yang bernama Azka
“Hei bro, Apa kabar nih?” Tanya Azka.
“Ehh, Baik bro. Kagetin aje lu” Jawab Zen.
“Ini nih, gue mau ngajak lu ke perpustakaan pulang sekolah, bisa gak? Nemenin belajar aja sih” Tanya Azka.
“Siap bro” Jawab Zen.
Sekolah dilaksanakan dari pukul 07.00 sampai pukul 15.00. Banyak murid murid yang bolos saat itu dikarenakan malas mengikuti pelajaran Bu Friska, mata pelajaran fisika. Pelajaran Bu Friska terasa sangat lama. Zen mulai merasa mengantuk, matanya sangat berat untuk dibuka. Dan akhirnya Zen pun tertidur di kelas.
Beberapa menit kemudian guru Zen pun menyadari nya dan berkata, “ Zen, Bangun!! Kau ini, Sedang mengikuti pelajaran kok malah tidur!!”
“Ehh, Maaf Bu. Lagian pelajarannya agak bikin ngantuk.” Jawab Zen sambil nyengir.
“Hehh!! Kamu ini malah makin melawan lagi. Sudah sudah kamu ibu hukum. Kamu keluar dari kelas sekarang sampai pelajaran ibu selesai baru kamu boleh masuk kelas!”
“Lah bu? Serius nih bu?” Tanya Zen memelas.
“Serius lah! Memang saya pernah bercanda?”
“Iya iya, maaf bu” Jawab Zen sambil keluar kelas.
“Iya ibu maafin, tapi hukuman kamu tetep jalan ya”
Zen pun keluar dari kelas, Ia memang habis dimarahi tetapi muka nya terlihat santai. Ia ke kantin sekolah untuk memesan makanan. Ia juga sambil menunggu pelajaran Bu Friska selesai.
Pulang sekolah pun akhirnya tiba. Zen dan Aska langsung berjalan menuju perpustakaan. Sesampainya disana Aska pun memulai topik.
“Baca buku apa lu?” Tanya Azka.
“gak tahu deh, lo duluan aja. Gue masih cari-cari.” Jawab Zen.
“Sip gua ke meja duluan ya” Jawab Azka.
Zen pun mencari cari buku yang menarik. Zen pun mencari di pojokan rak buku itu, Ia terus mencari ke dalam rak buku itu. Tapi sampai saat itu belum ada yang menarik, Tiba tiba melihat suatu buku yang menarik perhatiannya di pojok rak. Buku itu berjudul 𝘙𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘰𝘭𝘶𝘴. Buku itu terlihat 2 kali lebih besar dari buku-buku biasanya. Di sampul depan buku itu tertulis ‘Berdasarkan Kisah Nyata’. Zen pun mengambil buku itu dan membacanya.
Tanpa disangka sangka saat itu waktu sudah menunjukan pukul 16.00, tepat dimana Zen sudah selesai membaca. Isi dari buku itu sedikit mengejutkan Zen. Zen tiba tiba terpikir oleh gadis yang ia temui kemarin, karena isi dari buku itu sama persis dengan apa yang dialami gadis itu.
Zen ingin pulang, tetapi Azka masih mengulur waktunya untuk membaca buku. Katanya, “Tungguin bentar, dikit lagi selesai tanggung.”
“Haduh, baca lama banget si.”
___________
30 menit berlalu. Azka pun selesai membaca buku pelajarannya. Mereka pun pulang ke rumah masing-masing. Saat itu Zen tidak pulang, Ia pergi ke taman yang kemarin ia kunjungi dengan harapan ada gadis itu disana. Ia juga ingin memastikan mengenai 𝘙𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘰𝘭𝘶𝘴 itu.
Sesampainya di taman, harapannya terkabul. Ada gadis itu disana seorang diri. Pandangannya kosong melihat langit senja yg indah. Zen menghampirinya dan berkata, “Hei Apakah peristiwa itu berkaitan dengan 𝘙𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘰𝘭𝘶𝘴?” Tanya Zen.
“Darimana kau tahu kata kata itu?” Jawab gadis tersebut kaget.
“Aku hanya pernah membaca salah satu buku yg berjudul 𝘙𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘰𝘭𝘶𝘴, Itu juga berkaitan dengan kutukan kupu-kupu. Buku itu dikatakan dari kisah nyata, karena itulah aku menanyakan itu padamu” Jawab Zen.
“Iya kah?” tanya gadis tersebut.
“Tunggu... Sepertinya aku mengerti tentang kutukan ini… Namun aku tidak yakin.” Kata Zen ragu ragu.
“Bagaimana?” Tanya gadis itu penasaran.
“Ahh, Dari buku itu sih, dituliskan jika seseorang mendapat kutukan dari nenek 𝘙𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘰𝘭𝘶𝘴 itu harus dipertemukan dengan pasangan hidup nya. Hal yang menarik hahahah” Jawab Zen.
“huh mengapa harus pasangan hidup sih? Merepotkan, Aku juga sudah tidak ingin berlama lama hidup di dunia ini” Kata gadis tersebut.
“Hei? Mengapa kau berkata seperti itu? Tidakkah kau khawatir kepada orang yang menyayangimu? “Tanya Zen sambil menatap lekat mata gadis tersebut.
“Tidak ada yang menyayangiku juga” Jawab gadis itu sambil mengalihkan pandangannya.
“Kasihan sekali, Tapi kalau boleh jujur. Sebenarnya aku menyayangimu tanpa kau sadari” Jawab Zen tertawa tipis.
“Hei? Apa yang kau maksud?” Tanya gadis tersebut sedikit terkejut.
“Ahh i-itu sayang sebagai teman” Jawab Zen panik .
“hahahaha lucu sekali” Jawab gadis itu.
___________
Beberapa hari berlalu, tepat di sore hari pukul 5 sore, Zen sedang mengajak gadis tersebut jalan-jalan berkeliling kota dengan motor, Ia ingin menikmati waktu bersama gadis itu selagi mencari pasangan hidup si gadis. Di tengah perjalanan Zen berhenti karena ingin membeli camilan, jadi ia meninggalkan gadis itu sendirian di motor. Saat Zen balik, gadis itu sudah tidak ada. Ia pun panik ia mencari gadis tersebut di sekitaran tempat itu.
Ternyata ia sedang berdiri di depan seorang lelaki, ada cahaya hitam yg lepas dari tubuh gadis itu. Dan gadis itu pun pingsan tergeletak di tanah, Di saat itu Zen ingin berlari menyelamatkannya tetapi Langkah nya terhenti oleh laki-laki yang merangkul gadis tersebut. Zen berpikir itu adalah pasangan hidupnya.
Saat itu hari terasa sangat gelap, banyak kekecewaan yang ada di diri Zen. Walau sebenarnya ia tau bahwa ia tidak bisa memilikinya. Pada detik itu juga, Zen tidak bisa berekspresi apa apa, Zen hanya bisa terdiam melihat dari kejauhan. Zen berpikir bahwa tidak perlu mengkhawatirkan gadis itu lagi, karena ia sudah ditangani dan bersama dengan seseorang yang tepat. Zen tidak berfikir panjang. Ia langsung pergi menggunakan motor nya meninggalkan gadis itu. Sejujurnya ia belum bisa mengikhlaskannya.
_______________
2 tahun berlalu….
Zen pun pindah kota ke kota LartFlew. Sudah 2 tahun berlalu disana, Ia juga sudah kuliah disana. Zen menjadi orang yang lebih bijaksana dalam banyak hal. Ia menjalani hidup yang bahagia dan teratur, ia juga meraih banyak sekali prestasi Internasional. Dan tibalah libur musim semi saat dimana ia pergi mengunjungi kembali kotanya yang dulu bersama keluarganya.
Perjalanan berlangsung dari pukul 1 Siang sampai 5 sore, Zen sudah sampai di rumahnya yang dulu, bersama keluarganya. Tiba-tiba Zen teringat mengenai gadis yang ia temui semasa SMA.
“Bu, saya pamit sebentar ya, mau ke taman.” Ucap Zen.
“Iya nak, hati-hati ya” Jawab Ibu Zen
Zen pun langsung keluar menggunakan sepedanya yang sudah terlihat kuno, tapi masih bisa dipakai. Sesampainya di taman itu, ia sedikit terkejut karena tidak ada yang berubah. Ia pikir akan sedikit di renovasi, ternyata tidak.
Saat itu Zen merasakan banyak kenangan yang tertinggal di taman ini. Awal pertemuannya dengan gadis itu singkat namun sangat membekas dihati Zen. Kini Zen tahu, bahwa level tertinggi dalam mencintai adalah mengiklaskan. Lelaki itu pun tersenyum sambil memandangi langit senja yang indah nan cantik, tak terasa matahari mulai tenggelam, udara dingin mulai menyelimuti. Zen melangkahkan kaki untuk pulang.
𝙱𝚒𝚊𝚛𝚕𝚊𝚑 𝚒𝚗𝚒 𝚖𝚎𝚗𝚓𝚊𝚍𝚒 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊 𝚔𝚎𝚗𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚝𝚎𝚛𝚋𝚊𝚒𝚔 𝚊𝚗𝚝𝚊𝚛𝚊 𝚊𝚔𝚞 𝚍𝚊𝚗 𝚔𝚊𝚖𝚞, 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚓𝚞𝚖𝚙𝚊 𝚕𝚊𝚐𝚒 𝚍𝚒 𝚝𝚒𝚝𝚒𝚔 𝚝𝚎𝚛𝚋𝚊𝚒𝚔 𝚖𝚎𝚗𝚞𝚛𝚞𝚝 𝚝𝚊𝚔𝚍𝚒𝚛. -Zen
TAMAT