Matahari dengan perlahan kembali ke tempat peraduannya. Ditemani dengan secangkir teh hangat yang masih terasa panas di dalam cangkir, seorang gadis tengah menuliskan sesuatu di dalam buku tulisnya.
Entah apa yang sedang gadis itu tuliskan, sebuah catatan kecil yang biasa menemani gadis itu untuk menghabiskan waktu luangnya seperti ini.
"Kenapa secepat ini sih?" gumam gadis itu pelan, sambil tangannya meraih handphone yang tergeletak di samping buku catatannya.
Tangannya dengan lincah masuk ke aplikasi galeri, menggulir foto demi foto seseorang yang terpampang jelas di sana. Foto yang diambil beberapa hari yang lalu, sebelum sang objek kini sudah jauh tak menapak lagi pada bumi.
Ingatannya terlempar beberapa hari yang lalu, saat foto itu diambil, di sebuah pasar malam yang tidak jauh dari perumahannya. Senyum itu, tawa itu, semuanya masih terekam jelas di dalam ingatannya. Namun, sekarang sudah tak lagi sama, sosok yang berada pada foto itu telah pergi jauh untuk selama-lamanya.
*****
Malam Minggu, adalah waktu yang biasanya digunakan oleh para remaja untuk menghabiskan waktunya bersama sang kekasih.
Namun, hal itu berbeda dengan Anabella, yang malah duduk manis di depan televisi yang terletak di ruang keluarga, sambil memangku toples yang penuh dengan kue nastar hasil buatannya sore tadi bersama sang kakak.
"Cie jomblo, malmingan nonton tv doang," celetuk seorang cowok jangkung dengan stelan baju berwarna hitam polos, dan celana pendek Levis berwarna hitam juga.
"Ih Kakak sewot aja, ga ngaca dulu, Kak di kamar? Situ juga jomblo loh," jawab Anabella, dengan posisi yang tak berubah sedikitpun.
Berakhir dengan suara dengusan keras dari Andre, Kakak Anabella, yang merasa bahwa apa yang dikatakan sang adik memang benarnya. Dirinya kurang ngaca, sehingga harus banyak introspeksi diri.
"An, malming loh, ga mau keluar gitu?" tanya Andre, berusaha mengalihkan atensi Anabella. Namun usahanya sia-sia, yang hanya dibalas Anabella dengan gelengan kepala dengan sangat pelan.
Karena terus-terusan merasa diabaikan, akhirnya Andre memilih untuk membuka ponselnya, dan mulai asik dengan dunianya sendiri.
"Kak ke pasar malam, yuk! Kata Anggi ada loh pasar malam yang baru buka, ga jauh dari rumah." Anabella akhirnya mengalihkan pandangannya dari tv ke arah Andre, dengan tatapan penuh harap.
Sejenak Andre nampak berpikir, membuat dahinya berkerut dengan sesaat. Namun, tak membutuhkan waktu lama, tiba-tiba Andre segera berdiri dan melipir begitu saja ke lantai atas menuju ke kamarnya.
Sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar, Andre kembali ke tangga, hingga posisinya bisa melihat Anabella yang melihatnya dengan terbengong. "Ayo lah, gas keun aja. Ga usah dandan lama-lama, gue tungguin sepuluh menit, kalo enggak oke gas gue tinggalin."
Setelah tersadar dari keterkejutannya, Anabella segera berlari menuju kamarnya untuk bersiap-siap. Kadang, dirinya tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh kakaknya yang sangat absurd itu.
Kadang bersikap sangat baik, kadang menyebalkan, perhatian, dan masih banyak lagi. Tapi satu yang sangat berarti bagi Anabella, Andre tidak pernah meninggalkan Anabella sendirian, meskipun Anabella melakukan kesalahan sekalipun. Kakaknya itu selalu menegurnya saat dirinya salah, selalu mendengarkan keluh kesahnya, dan Anabella suka saat kakaknya memeluknya penuh dengan kasih sayang.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk berdandan, Anabella segera menuju ke ruang keluarga kembali. Ternyata, Andre belum sampai kembali ke ruang keluarga, dan hal itu membuat Anabella menunggu lumayan lama.
Saat Andre mulai muncul dari lantai atas, Anabella segera mencibirnya dengan nada menye-menye. "Jingin dindin limi-limi, ninti gii tinggilin."
Sedangkan sang empu yang dicibir hanya nyengir, tanpa merasa bersalah sedikitpun. Bukanya meminta maaf, cowok itu justru segera menarik tangan Anabella lembut menuju ke garasi rumah.
Tanpa banyak protes pun, Anabella hanya menyamakan langkahnya dengan langkah Andre. Kini yang ada di dalam benaknya hanya bersenang-senang dan menaiki berbagai wahana bersama Andre.
Rasanya, momen ini adalah momen paling langka di hidupnya. Bagai mana tidak, Andre sangat sibuk dengan kegiatan organisasi di kampusnya, membuat waktu kebersamaan mereka harus berkurang. Bahkan tak jarang, Andre harus menginap kosan temannya yang jaraknya dekat dengan kampusnya.
Namun, Anabella akan merasa sangat egois jika melarang kakaknya itu untuk meninggalkan organisasinya. Dia tahu, bahwa Andre sangat mencintai organisasi tersebut, bahkan rela menukarkan waktu luangnya untuk mengurus sebuah kegiatan yang akan diadakan.
"Kak, Mama sama Papa kapan pulang ya?" tanya Anabella, membuka percakapan pertama mereka setelah keduanya masuk ke dalam mobil.
"Belum tau nih, Dek. Soalnya mereka juga belum ngabarin sama sekali, terakhir kali hubungin cuman ngasih tau udah transfer buat uang SPP sekolah kamu," jawab Andre, tangan kirinya meraih tangan kanan Anabella dan menggenggamnya.
Andre tahu, bahwa Anabella berusaha untuk tetap tersenyum di depannya. Agar dia tidak merasa hawatir dengan keadaan adiknya tersebut, tapi dia tahu bahwa Anabella merindukan orangtuanya.
"Mereka pasti pulang, kan cuman nyelesein pekerjaan Papa, kan?" imbuh Andre, yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Anabella.
Tidak membutuhkan waktu lama, keduanya sudah sampai di parkiran pasar malam yang Anabella maksud tadi.
Tanpa ba-bi-bu, Anabella segera keluar dari mobil dan memutari mobil untuk segera menarik Andre menuju stand wahana yang ingin dia naiki segera.
"Pelan-pelan napa, An!" protes Andre, saat tangannya ditarik dengan kuat oleh Anabella.
"Ih buruan, Kak. Nanti antreannya panjang," jawab Anabella, namun tak membuat langkah gadis itu memelan sedikitpun.
Dengan pasrah, Andre pun mengikuti langkah Anabella.
Sesampainya di tempat bianglala, senyum yang tercetak di bibir Anabella tak pudar sedikitpun. Andre yang melihat itu pun ikut tersenyum.
Setelah membayar karcis untuk naik, mereka akhirnya dipersilakan untuk naik wahana tersebut. Wajah keduanya tampak berseri-seri, tak ada paksaan sama sekali di setiap senyum yang tercipta malam itu.
"Tetap bahagia, ya," ucap Andre ke pada Anabella, dan dihadiahi oleh anggukan kuat oleh gadis itu.
"Janji," ucap keduanya dengan jari kelingking yang saling bertaut.
"Kak foto, yuk. Udah lama tau kita ga selfie lagi bareng." Anabella mengeluarkan ponselnya dari tas selempang, dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
Saat itu, hanya ada gurat bahagia yang tercetak jelas dalam memorinya.
*****
Namun, sepertinya Anabella bahkan merasa tak bisa menepati janji yang dibuat oleh dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa tersenyum? saat penopangnya telah hilang.
Ingatannya terlempar pada kejadian dini hari tadi, saat suara sirine dari ambulans mulai terdengar jelas, mesin mobil yang dimatikan tepat di pekarangan rumah, ketukan pintu rumah dengan seorang pria berpakaian serba hitam yang membawa berita mengejutkan, hingga satu persatu tetangga yang mulai berdatangan ke rumahnya mengucapkan bela sungkawa.
Dunia terasa begitu kejam, bagaimana bisa dirinya ditinggalkan oleh orang yang kemarin saja mereka masih bercanda bersama.
Anabella ingat, saat malam itu Andre berpamitan kepadanya untuk mengambil sebuah dokumen hasil rapat di rumah temannya, yang katanya rumahnya tidak terlalu jauh.
Mungkin saja, jika Anabella tau hal ini akan terjadi, dia tidak akan mengizinkan Andre untuk keluar malam-malam sendirian.
Namun semua hanya sebatas jika, jika, dan jika.
Diseruput nya teh hangat yang tinggal setengah itu, sebelum kembali menulis sesuatu di buku kecilnya. Sebuah surat, surat yang tak akan pernah sampai kepada penerima.
Teruntuk Kakak
Terima kasih atas semua yang telah lo berikan kepada gue, gue sadar kalo gue selalu ngerepotin lo. Tapi yang perlu lo tau, gue sayang banget sama lo, melebihi apapun. Setelah ini, gue akan memulai lembar kisah baru, dan tentunya tanpa lo yang selalu ada di sisi gue. Lo selalu punya tempat paling tinggi di hati gue. Thank you very much for the memories we carved together, goodbye brother.
Andre Pradana.
Anabella menutup buku itu, setelah menempelkan sebuah foto mereka berdua, Andre dan dirinya sendiri. Dia berharap, tidak akan adalagi air mata yang mengiringi setiap langkahnya, juga dia percaya bahwa sang kakak telah berada tempat terindah.
Catatan penulis:
Hallo semuanya! cerpen ini gue tulis karena mengingatkan gue pada kakak kelas yang bahkan kepergiannya ga pernah disangka, semoga dia ditempatkan di tempat terbaik oleh Tuhan, dan keluarganya diberikan keikhlasan dalam menghadapi musibah ini, see you next time kalian