Dewa Hedon tertawa dengan keras di singgasananya. Kepongahan tampak terlihat jelas dari busana yang membalut tubuh tegapnya. Jubah emas yang tampak menyilaukan mata.
Perhiasan yang begitu banyak menghiasi bagian bagian tubuhnya. Ada kalung, gelang, cincin, bahkan alas kakinya berlapis emas dan mutiara.
"Aku puas bisa memukul mundur tentara Noe. Hahahahaaha..." Ucapnya penuh keangkuhan.
"Dia akan menyesal berurusan denganku" Lanjutnya.
Para anak Dewa tidak ada yang berani melarangnya
karena kekuatan bertarung Dewa Hedon sangat kuat.
Dia adalah dewa yang penuh nafsu, cinta dan ambisi. Dia tidak akan peduli bahwa tindakannya dapat merusak keseimbangan.
Dewa Hedon sedang bertarung dengan Dewa Noe dari kerajaan Teratai timur. Hal ini bermula dari rasa iri Dewa Hedon pada Dewa Noe yang akan di sandingkan dengan Dewi Ning. Hedon merasa Noe yang sederhana tidak pantas untuk Ning, dewi cantik jelita yang penuh ketenangan.
Namun selain itu, Hedon ingin menguasai Teratai Timur yang penuh dengan sumber daya.
Pada saat Hedon sedang tertawa atas kemenangannya teriakan penjaga istana membuatnya tersentak.
"Kita di seraaaaaaaaaangg..." Teriak penjaga dengan keras. Pertempuran pun terjadi. Noe, dewa sederhana dan penuh ketenangan itu terbang diatas daun teratai menuju ke arah Hedon. Tak lupa di belakangnya Dewi Ning membawa cambuk pengajaran bagi Dewa yang membangkang. Aura kecantikannya menghipnotis siapa saja.
"Hedon, menyerahlah maka kami akan megampunimu"
"Tidak akan, bermimpilah"
Hedon langsung menyerang membabi buta. Noe hanya menghindar kesana kemari.
"Lawan aku pecundang" Teriak Hedon marah.
"Baiklah kalau kau tidak sabar"
Noe tersenyum. Tangannya begerak pelan. Tiba tiba muncullah sulur sulur liar yang membelit tubuh Hedon. Hedon berusaha memotongnya dengan pedang. Tetapi semakin di potong sulur sulur itu semakin panjang.
"Ingat Hedon, semakin kau melawan. Semakin kuat mereka mengikatmu" Ancam Noe.
Hedon menatap marah pada pasangan dewa dewi itu. Noe yang penuh ketenangan dan Ning yang melambangkan perdamaian.
Perlahan Ning mendekati Hedon. Tersenyum lembut seperti seorang ibu.
"Aku tidak akan menghukummu, jika kau mau belajar kembali"
Hedon meludah. Dia menatap marah pada Dewi incarannya. Ternyata kemenanganya tadi malam hanya trik sepasang Dewa Dewi itu agar membuatnya lengah.
Hedon kemudian mengeluarkan semua kekuatannya. Api keluar dari tubuhnya. Membakar
sulur sulur itu. Dia berhasil lolos. Tangannya memegang tombak yang sangat runcing, ujung tombaknya berkilauan seperti emas. Mengabaikan Ning, Hedon maju dengan cepat ke arah Noe.
Tombak pun mengenai bahu kiri Noe yang terlambat mengelak. Ning menjadi marah. Tubuhnya terbang ke atas tangan kanannya siap mengayunkan cambuk ke arah Hedon.
Blam.. cambuk telah di angkat. Dewi ketenangan sudah murka. Perdamaian yang dijaga olehnya di injak injak oleh Dewa penuh ambisi.
Tubuh Hedon terpelanting. Dengan cepat Noe langsung mengeluarkan sulur dan juga sebuah bola kristal. Hedon di masukan ke dalam bola kristal. Di lemparkan jauh ke dalam dasar bumi.
Namun sebelum benar benar lenyap dari pandangan suara Dewa Noe terdengar sangat tegas
"Hedon, menetaplah dalam kegelapan. Renungkanlah semua kesalahanmu"
Noe dan Ning tidak bisa memusnahkan Hedon. Tetapi bisa memenjarakannya agar ketenangan dan keseimbangan semesta dapatlah terjaga.