Awan sudah mulai mendung, warna nya kian menjadi gelap. Perlahan, Rintik hujan turun membasahi sekeliling nya. Aku meratapi Rintik hujan yang makin lama menjadi hujan yang deras, angin yang makin lama makin bertiup kencang.
aku mengulurkan tangan ku kedepan merasakan dingin nya air hujan yang jatuh membasahi genteng.
aku asik memejamkan mataku tanpa sadar Sosok cowok muncul tiba-tiba dihadapan ku yang sudah basa kuyup karena menembus hujan.
"Nih, payung," ujarnya padaku yang langsung menarik tangan ku yang sedang menikmati tetesan hujan untuk menggenggam payung yang dia bawakan.
"Kenapa kamu memberi ku payung sedang kan kamu lebih memerlukan nya" ucapku padanya yang langsung memberikan payung tersebut kepadanya.
aku pun berjalan ketempat duduk yang di sediakan untuk para mahasiswa bisa duduk dengan enak dikala sedang menunggu.
"Kamu masih marah sama aku?" ucap Randy cowok yang memberikan payung tersebut kepadaku. Rendy duduk disebelah ku menatap ku dengan tatapan sedih.
"Aku tidak marah padamu, tapi aku marah kepada jalan cerita ini yang dimana kamu diciptakan seperti "hujan" Hadirmu berarti tapi memberi rasa sakit. Dan sekarang aku merasakan itu," ucap ku dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Andai dulu aku ngga kenal sama kamu, andai dulu aku bisa memilih untuk menyukai seseorang pasti aku bukan memilihmu," ucapku dengan tangis yang terisak-isak menahan rasa sakit di dada.
Sebegitu besar, kah, rasa suka ini kepadamu sampai aku merasakan sakit sebesar ini juga.
"Maaf aku tidak bisa membalas perasaan mu. Aku meletakkan payung ini di sampingmu. Semoga, kamu menemukan orang layaknya payung yang bisa melindungi mu dari orang yang kaya aku, hujan ini. Ucapnya dengan wajah nanar. Dia pun langsung pergi setelah mengatakan itu, dia berlari menembus hujan. aku hanya bisa melihat kepergian nya yang perlahan sudah tidak terlihat lagi.
.
.
.
.
Tidak terasa seminggu berlalu, kita saling kenal tapi kita tidak saling sapa disaat kita bertemu diantara lorong kampus ini.
Hujan turun dengan deras digelap malam. Suatu hal yang paling tidak aku suka.
Aku mengambil Ponsel ku dan memesan Gocar. tidak menunggu lama sebuah go car muncul. Aku pun menaiki nya. Sepanjang perjalanan aku hanya menatap kaca yang dibasahi oleh hujan.
Suara riuh orang di persimpangan jalan besar membuat aku mengalihkan pandanganku. Aku pun melihat sudah tidak ada supir didalamnya. Aku pun memilih keluar.
Aku melihat keramaian di tengah persimpangan jalan pendangan ku sedikit kabur dikarenakan rintik hujan tapi bisa aku lihat kalau supir go car sedang berada di kerumunan tersebut.
Aku pun menghampiri nya dan betapa terkejutnya aku saat melihat ada yang kecelakaan. Aku pun menjadi penasaran dan melihat jenazah nya yang ditutupi kain. Tiba saja angin bertiup kencang membuat kain itu terbang. aku diam membeku tidak tahu harus apa. Kaki ku lemas aku berjalan sempoyongan mendekati jenazah itu.
"Rendy? Rendy!!!!" teriak ku pecah dengan tangis. Aku meletakkan kepalanya di pangkuan ku berharap dia terbangun.
"Ren... bangun. Bukan begini caranya. Bangun, kamu ngga boleh mati," ujar ku sambil menangis tersedu-sedu. Orang yang melihat itu hanya diam menunggu ambulans datang.
"Ren, bukan begini meninggalkan aku, ini udah kelewatan!!" teriak ku menembus suara hujan yang deras.
Ambulans pun datang dan langsung membawa Rendy, aku pun mengikuti nya dari belakang dan masuk kedalam ambulans.
Sesampainya di rumah sakit dokter mengatakan kalau dia tidak bisa diselamatkan karena dia sudah mati ditempat kejadian.
.
.
.
.
.
Aku terbangun dari mimpi ku, mimpi buruk sekaligus kenangan terkahir ku bersama dia.
Aku pun memilih beranjak dari kasur ku memilih menenangkan diri di balkon. "Ren, aku kangen. Udah dua tahun kamu pergi dan rasa ini belum hilang jaga. Bagaimana ini? aku Kangen, ren," ucapku dalam batin.
15 menit berlalu di loteng membuat ku sedikit tenang. Saat aku membalikkan badan, aku melihat payung Rendy yang berada disisi balkon, dan aku pun ingat kalau aku belum pernah menggunakan payung tersebut.
Aku pun mengambil payung tersebut dan membuka payung tersebut. aku melihat sebuah surat tergulung disela kawat-kawat payung tersebut.
Aku membuka surat itu dan aku bisa melihat kalau ini tulisan tangan Randy.
"Sarah, Kamu terus bertanya kenapa aku tidak bisa mencintai mu, kan? Aku sudah mencintai mu sebelum kamu mencintai ku, Sar. Aku tidak bisa mengungkapkan nya karena hidup ku tidak berlangsung lama. Aku sakit, Sar. Aku sakit jantung yang dimana hidupku tidak lama lagi. Aku menulis ini karena aku tahu kamu membaca nya saat aku pergi, dan benar saja kamu membaca nya saat aku sudah tiada. Kalau kamu membaca nya sebelum aku tiada pasti kamu akan memukul ku dengan sendal swallo kesayangan kamu, hahaa. Maaf yah cuman bisa jujur lewat selembar kertas tipis ini. Dari Reno buat Sarah."
Aku yang membaca surat ku menangis tersedu-sedu. "Aku pikir aku yang terluka disini ternyata tidak. Kamu lah yang paling terluka disini, Rendy."