Ramai sekali membuatku berdesak-desakan dan mengantri cukup panjang, Aku Keysah ananta pahira. Aku bersekolah di SMK Go Internasional, sekolah yang terbilang cukup terkenal dibekasi. Disekolah aku selalu disebut Bad grils, jadi bahan perbincangan semua siswa SMK Go Intetnasional.
Karena awal masuk SMP, duniaku hilang dengan kebahagian yang aku punya. Banyak perubahan pada diriku dan disekitarku, dari ayah yang menikah lagi dan ibu tiriku tidak tulus sayang kepadaku. Kehiduapanku benar-benar dalam sekejap mejandi seperti sekarang.
Aku berdiri dengan pandangan tanpa kehidupan tiba-tiba.
BRUK!
Seperti kehidupan nyataku kembali, aku melihat keselilingku. Merasakan sakit disekitaran lututku, dan mencari kemana teng-tengan yangku bawa. Ternyata berserakan hingga tidak berbentuk, sungguh mengenaskan. Tubuh ini memutar dan mata mencari siapa pelakunya, ingin meminta pertanggung jawaban atas perbuatannya. Sungguh tidak mempunyai rasa kemanusiaan, atas perbuatannya. Dia yang berlari hanya menengok sekali kepadaku, sungguh seperti orang yang tidak memiliki rasa bersalah.
Aku segera merapihkan belanjaan aku, dan membawa pulang yang sudah tidak berbentuk.
“Pasti aku dimarahi oleh ibu tiriku,” batinku.
Ceklek!
Aku masuk kerumah dengan menenteng belanjaanku. Melihat ibu yang sudah setia menunggunya diruang tengah. Pasti karena aku pulang terlambat, ia akan lebih marah melihat belanjaan yang disuruhnya ancur.
“Dari mana aja kamu!” Omelnya dengan nada tinggi.
“Maaf bu, tadi ada kecelakaan kecil.” Jawabku dengan menundukan kepala.
“Kecelakaan apa?” Tanya ibu yang mendekatinku.
“Aku ditabrak sama orang, belanjaanya pun jatuh dan rusak,” kataku dengan lemas dan masih menundukan kepala.
“Apa!” Kagetnya “dasar anak engga tahu diri.” Lanjutnya yang memaki.
“Maaf bu,” kataku yang masih menunduk lesuh.
“Maaf, maaf. Kamu kira bilang maaf belanjaanya bisa kembali dengan semula, hah!” Bentaknya yang menarik rambutku.
“Maaf bu, nanti aku ganti.” Jawabnya yang merasakan sakit dikepala akibat rambutku ditarik oleh ibu.
“Ganti pakai apa kamu!” Sentaknya “pakai daun! Kamu itu anak engga bisa apa-apa. Engga usah so mau ganti,” lanjutnya yang melepaskan tangannya dari rambutku.
Aku hanya diam yang sedang menahan tangisan.
“Sebagai gantinya, kamu tidak makan dan tidak ada uang sekolah selama seminggu,” ucapnya yang sudah berjalan jauh dariku “paham tidak!” Bentaknya.
Aku hanya pasrah. Ia yang sudah pergi dari hadapanku, segera lari masuk kedalam kamar. Meringkuk dipojok, dan memeluk boneka pemberian mama.
“Mah, aku kangen.” Tuturnya yang memeluk erat bonekanya “Aku ingin bertemu sebentar saja, aku hanya ingin menceritakan keluh-kesahku kepada mama. Aku tidak menyerah hanya saja aku butuh teman cerita untuk membagi bebanku, mah.” Lanjutnya dengan tangisan hingga terlelapnya dalam kesendirian.
•••
Hembusan angin masuk kesela-sela jendela. Membuat tidurku terganggu, membalikan badan meraba nakas untuk menggambil sesuatu. Melihat angka menunjukan pukul setengah tujuh pagi, yang tadinya mataku kantuk tiba-tiba hilang dalam sekejap. Segera berlari kedalam kamar mandi dan bersiap-siap untuk kesekolah.
Menuruni satu persatu anak tangga, dan mencari ibu.
“Ternyata ia berada di belakang rumah” batinku.
“Bu,” sapaku.
“Emm,” singkatnya.
“Aku pamit berangkat sekolah ya. Bu,” ucapku dengan memegangi rok.
Ibu hanya diam tidak menyautiku.
“Iyaudah. Aku berangkat ya, bu.” Ucapku aku yang memperhatikan ibu tidak sama sekali menoleh ataupun sedikit menanyakan keadaanku.
Aku berjalan keluar rumah dengan sedikit lesu, dan harus berjalan kedepan komplek untuk mendapat angkutan umum. Sambil berjalan aku melihat jam yang melingkar dipergelangan tanganku, waktu terus berjalan dengan cepat. Sekarang sudah menunjukan pukul tujuh pagi, aku berlari untuk segera sampai depan.
“Huh, untung saja aku mempunyai uang simpanan.” Ucapku dengan membuang nafas dengan mengelap keringat didahiku.
Segera aku naik angkutan umum yang sedang berhenti. Melihat penumpang sudah ramai, akhirnya pun mobilnya melaju. Untung suasana dijalan tidak terlalu macet .
Aku berlari menuju gerbang sekolah, saat ingin masuk tiba-tiba.
BRUK!
Kepalaku terasa pusing akibat menabrak.
“Woi! Punya mata engga si lu,” teriak cowo itu.
Kupingku merasa sakit akibat teriakan cowo itu “Ko aku si?” Tanyaku dengan polos.
“Peke nanya lagi!” Sentaknya yang melihat perempuan dihadapannya seperti tidak diurus.
“Maaf,” satu kata yangku lontarkan kepada laki-laki dihadapkanku.
Tidak lama suara BK sangat nyaring dari sebrang sana.
“Kalian mau disitu terus!” Teriak pak Adung dengan melihat kami berdua “Masuk kalian!” Lanjutnya pak Adung.
Aku pun segera berlari dan berdiri dihadapan guru BK yang super killer. Tidak lama laki-laki tadi mengikuti baris di sampingku, dan melirik ke wajah cowo itu biasa saja.
“Kalian ini bukannya masuk malah pacaran, didepan gerbang!” Ocehnya dengan tangan di pinggang.
Aku melotot dan menggelengkan kepala, sedangkan cowo disampingku menyahuti ucapan pak Adung.
“Enak aja! Saya_” ucapnya dengan terptong dan menunjuk kearah dirinya “pacaran sama dia. Ogah!” Lanjutnya yang menunjuk kearahku.
Aku hanya mendengar ucapannya dan melirik ke arahnya sebentar.
“Sudah-sudah. Kalian kena hukuman merapihkan perpustakaan yang sedang direnovasi.” Tuturnya dengan tegas.
Aku mengikuti perintah pak Adung yang terkena hukuman darinya. Berjalan kearah perpustakaan, dan masuk ternyata benar sedang diperbaiki. Aku memulai bekerja. Sedangkan laki-laki tadi belum terlihat sama sekali, sudahlah tidak usah memikirkan dia lebih baik aku menyelesaikan hukuman agar bisa masuk kelas.
Keringat sudah memenuhi dahiku.Baju sudah basah oleh keringetku, aku yang baru saja menyelesaikan setengah hukuman tiba-tiba cowo itu datang tanpa rasa bersalah. Ia berjalan mendekatiku, tiba-tiba ia.
“Woi, cewe frik!” Teriaknya dengan melontarkan perkataan yang tidak enak.
“Kenapa?” Tanyaku dengan singkat.
“Sekalian kerjain hukuman gua!” Sentaknya sambil melemparkan botol air minum “tuh, engga usah geer ya. Gua ngasih karena kasihan!” Cecarnya.
“Aku engga mau!” Tolak Aku dengan melemparkan balik botol yang ia berikan.
“Belagu banget!” Sentaknya “segala nolak,” lanjutnya dengan menangkap botolnya.
Aku hanya diam dan melanjutkan hukumanku agar cepat selesai.“Ni cowo belagu banget si! So banget punya duit pling duit ortunya.” Batinku.
•••
Hukuman sudah selesai sekarang aku kembali kekelas, karena sekarang sudah bell istirahat. Riri teman sebangku mengajak untuk kekantin namun aku menolaknya. Lebih baik aku ketoilet dari pada jajan , lebih baik aku bersih-bersih karena tadi lansung kekelas untuk menaruh tas. Saat aku berjalan dikoridor banyak yang melihat aku dengan tatapan tidak suka, namun cuek tidak memikirkan. Melanjutkan berjalan sambil menunduk, tetapi aku tidak sengaja narbarak seseorang.
BRUK!
Aku seperti menabrak dada bidang cowo, aku mendongak untuk melihat dan mau meminta maaf. Tetapi kulihat ternyata cowo tadi pagi, sungguh sangat tidak beruntung hari ini.
“Maaf,” ucap Aku sambil memegang rok dengan ketakutan.
“Lu lagi, lu lagi.” Tuturnya “sekali aja engga usah nongol dihadapan gua!” Bentaknya.
Aku hanya menunduk malu dibentak oleh cowo itu. Banyak sindiran dari mereka, banyak yang membicarakannya. Aku pergi dari hadapan cowo itu dan berlari menuju toilet, dan mengkunci dari dalam. Menangis dengan kesendirian dipermalukan depan banyak orang. Sudah merasa lega dengan mengeluarkan air mata. Aku bergegas keluar memencuci muka untuk menghilangkan bekas sisa menangis. Beberapa seorang siswi cewe masuk toilet, ia berbincang tentang mengenai pesta yang diadakan malam ini disekolah paling kagetnya semua siswa-siswi diundang “Apakah aku bisa ikut dalam pesta sekolah?” dalam hati.
Bel pulang sekolah berbunyi sejak tadi, Aku keluar dari area sekolah cuacanya yang masih terasa panas. Aku berjalan ditrotoar untuk sampai kedepan jalan, saat aku ingin menyebrang ada seseorang nenek yang membawa tas besar yang ingin dirampok oleh pereman, aku segera berlari untuk menolongnya.
“Bang, kalo berani jangan sama nenek-nenek yang tidak bisa ngelawan!” Teriaknya lantang dengan sigapnya.
“Eh, bocah engga usah ikut campur lu!” Bentaknya dengan badan besar.
“Jangan ngeremehin aku bang, sini lawan aku.” Cecarnya dengan memasang kuda-kuda.
Pereman itu sudah maju duluan akupun segera menghindari, lalu aku mengeluarkan jurus semburan naga.
HAHHHH...
Melihat dua pereman kebauan karena mulutku, segera aku semprot air cabe kemata dua pereman itu. Untung aku selalu bawa air cabe untuk berjaga-jaga, aku teriak untuk minta tolong kepada semua orang untuk membawa pereman itu kepolisi.
Aku menemui nenek tadi yang hampir dirampok, dan aku menanyakan ia ingin kemana.
“Nenek mau kemana?” Tanyaku.
“Nenek mau pulang,” jawabnya.
“Iyaudah saya antar ya nek,” ucap Aku dan menuntun nenek berjalan menuju rumahnya yang ditujukan oleh nenek.
Gubuk kecil yang kusuh, dan tidak ada siapa-siapa hanya nenek seorang.
“Nek ini rumah nenek?” Tanyaku.
“Iya, ini rumah nenek. Kenapa jelek ya,” jawab nenek yang membukaan pintu “Masuk sini, dan duduk sebentar nenek mempunyai sesuatu utnuk kamu. Karena udah nolongin nenek,” ucapnya yang menuju lemari kusam sepertinya sudah lama.
Aku hanya tersenyum dan menunggu, saat nenek itu kembali ia membawa sebuah kotak yang kusam. Akupun tidak enak dan menerimanya dengan senang hati.
•••
Malam ini adalah malam acara sekolah, aku sudah selesai bersih-bersih lalu aku mencari baju namun nihil semuanya tidak ada yang bagus. Sepertinya aku tidak akan pergi, saat aku bangun tidak sengaja kotak pemberian nenek terjatuh dan melihatkan sebuah gaun dengan sebuah kantong kecil. Akupun pergi kedalam toilet mencobanya, namun sangat pas dibadanku. Aku segera membuka kantong kecil itu dan ternyata isinya alat make up yang hanya beberpa macam, aku segera merias wajahku dan terakhir saat aku menggunakan blush on wajahku tiba-tiba bersinar.
Aku berjalan menurin satu persatu arah tangga, mengintip apakah ibu sudah pergi. Tenyata sepi dan aku segera keluar rumah, mencari angkutan umum ternyata nihil tidak ada karena sudah malam. Akupun menuju ketukang ojek tidak jauh dari keberadaanku.
Terlihat sangat mewah dalam acara ini, aku yang didepan dengan melihat dekorasi yang sangat cantik. Aku memasuki kedalam area sekolah, banyak yang melihatku mungkin karena malam ini aku berbeda. “Berkat nenek yang aku tolong, aku bisa datang kepesta” batinku dan tersenyum kecil.
Melihat cowo itu berajalan dihadapanku dengan berbalut jas, melihatnya semakin tampan dari biasanya. Cowo itupun sama seperti pikiran Keysah, satu kata cantik. Aku segera pergi, namun tanganku ditahan oleh cowo itu.
“Lu bukanya cewe pagi tadikan?” Tanya cowo yang melihat kecantikan cewe yang selalu Bad grils tetapi berbeda malam ini.
“Iya,” jawabnya dengan gugup.
“Gua Kenzo abras,” ucap Kenzo yang menyodorkan tangan dihadapanya.
“Kesya,” ucap Keysah dengan menerima tangannya Ken.
“Cantik,” gumam Kenzo dengan pelan.
“Hah, kamu ngomong apa?” Tanya Keysah mendengar suara pelan Kenzo namun tidak jelas.
“Engga ngomong apa-apa.” Jawab Kenzo dengan terpesona kecantikan Bad grils yang selalu dibicarakan semua siswa-siswi sekolah, ia pun pernah jahat kepadanya.
Akhir cerita Bad grils yang hanya sekali dalam sekerjap menjadi seorang princes. Sangat tidak di sangka dalam kehidupanku, namun kejadian itu aku banyak berubah dari penampilan dari biasanya semenjak kejadian pesta. Kenzo abras seorang cowo tengil ia terpesona kecantiakan Keysah dimalam itu. Ia pun menjadi banyak berubah saat berasamaku, Kenzo kelakuannya brutal menjadi seorang pelembut dan sekarang menjadi teman sandaranku menjadi berwarna. Ia tidak akan melepaskanku, karena ia bilang cewe sepertiku sangatlah jarang.
Bad grils yang selalu dibuly dengan penampilan yang urak-urakan cewe polos. Namun semuanya telah berubah karena make up blush on ia menjadi cewe paling canti dipesta, banyak orang terpesona karenanya.