Disuatu pagi ada seorang gadis yang tidur saat pelajaran matematika. "Nana, bangun! Nanti lo di hukum bu Ida kalo ketahuan" bisikan pelan teman sebangkunya.
"NANA! KAMU KALAU MAU TIDUR JANGAN DISINI! KAMU, IBU HUKUM BERDIRI DILUAR KELAS SAMPAI PELAJARAN SELESAI!" tegur guru yang mengajar di kelas X IPA1, bu Ida guru matematika.
Ia adalah Putri Nana Wulandari, anak kelas X IPA1. Ia memiliki kebiasaan pelor (nempel molor), jadi setiap ia bersandar atau berbaring ia pasti akan langsung tertidur lalu akan sangat susah dibangunkan, walau alarm berdering sangat keras ia akan tetap tidak bangun.
Nana pun keluar dari kelasnya, "Hoaammm, ngantuk banget gue, masa hukumannya disuruh berdiri disini, kan capekkk" mau tidak mau Nana harus menjalani hukumannya, bagaimanapun ia juga salah, tidur saat pelajaran bukan hal baik.
"Bosen ah, jalan-jalan aja deh ke taman" karena bosan sudah melanda Nana, ia memutuskan untuk berjalan-jalan ke taman, dan apa yang Nana lakukan di taman? Yap, tidur. Nana tidur di kursi taman, di sana tampak sepi.
Tiba-tiba ada seorang siswa mendekat ke arah Nana, entahlah wajahnya tampak asing. "Dasar, ngapain coba tidur ditaman gini, emang ngga di marahain guru apa?" setelah mengatakan itu, ia tersenyum manis. "Tapi, dia cantik juga, lumayan lah" ia menowel nowel pipi Nana yang gembul, Nana membuka matanya karena ia merasakan ada yang memegang pipinya. "Eh, lo siapa? Eh, gue kok bisa bangun cepet" Nana heran bukan karena ini siapa tapi Nana heran karena ada seseorang yang bisa membangunkannya selain jeritan bu Ida.
"Kenalin, gue Angkasa. Murid baru disini" Ia adalah Angkasa Putra Purnama, ia pindahan dari SMAN Rajawali. "Gue Nana dari kelas X IPA1, g-gue balik ke kelas dulu" Nana pun beranjak dari duduknya lalu berlari menuju kelasnya. Angkasa geleng-geleng tapi senyum melihat tingkah Nana "lucu banget si".
Bel istirahat pun tiba, semua murid bergerombol keluar dari kelas masing-masing. "Akhirnya istirahat juga" Nana bernafas lega sambil berjalan ke tempat duduknya. "Mangakanya Na, kalo pelajaran jangan molor" Liana Putri Audry, biasa dipanggil Lia, ia adalah sahabat satu-satunya Nana, sahabat dari kecil yang selalu disisi Nana, jika ada Lia pasti akan ada Nana.
"Eh Lia, tadi gue ketemu sama anak baru"
"Siapa? Cewe atau cowo?" Tanya Lia selidik.
"Cowo"
"Cakep ngga? Namanya siapa? Dari kelas mana?"
"Astaga Lia lo kenapa? Mending lo tanya sendiri ke dia, noh" Nana menunjuk ke arah cowo yang duduk di belakang Nana namun membelakangi Nana sambil bermain ponsel.
"Hah? aaaaa cakep, tapi bukan tipe gue" Lia ini maunya apa sih? Heran.
"Terserah lo deh Li, laper gue" Nana beranjak dari tempat duduknya lalu membeli siomay.
Tidak lama kemudian, Nana kembali ke tempat duduknya dengan membawa 2 porsi siomay. "Wahhh, makasih Nana cantik", "Idih, gini aja baru muji gue cantik"
Menyadari ada nama Nana ditelinganya, Angkasa menoleh. Benar saja, ternyata sedari tadi ada Nana yang duduk dibelakangnya, berhubung ia tidak punya teman dan hanya Nana yang ia kenal, ia pun menghampiri Nana lalu duduk di samping Nana.
"Ngapain lo?" tanya Nana selidik.
"Menurut lo?" Jawab angkasa sambil mencomot siomay Nana.
"Lo kalo mau, tinggal pesen aja Angkasa, ga perlu ngambil punya gue"
"enakan punya lo"
Lia yang merasa di abaikan pun berdahem, "ekhm, uhuk uhuk".
"Temen lo Na?" Angkasa baru menyadari ada Lia didepannya.
Lia mengukir senyum disana, "Iya, gue temennya Nana. Kenalin, gue Lia".
"Angkasa"
"Eh iya, lo kelas berapa?" tanya Lia, masih dengan nada selidiknya. Entah kenapa Lia kalau bertanya seperti mengintrogasi penjahat tau ngga?
"Gue kelas 11 IPA1" jawab Angkasa dengan dingin, namun berbeda jika ia berbicara dengan Nana.
Nana yang masih menyantap makanannya dan Angkasa yang masih fokus memandangi wajah Nana sedangkan Lia fokus dengan telfon genggamnya, tanpa disadari ada mata yang menatap penuh amarah kepada Angkasa.
Karena tidak tahan melihat Angkasa yang selalu menatap Nana dengan tatapan suka, ia akhirnya menghampiri Nana lalu menarik Nana keluar dari kantin, "Eh, apaan nih?".
Angkasa yang melihat Nana di bawa seorang cowok, merasa sedikit cemburu. Hanya sedikit!
"Lo apaan sih, Rangga!" Rangga Andi Gunawan, ia adalah mantan pacar Nana. Mereka bertemu ketika MOS dulu, saat Rangga menjadi Osis dan Nana sebagai siswi baru, lalu mereka tertarik satu sama lain. Entah Rangga sudah bosan dengan Nana atau ada alasan lain, Rangga ketahuan selingkuh dengan anak kelas X IPA5. Karena Rangga, luka hati Nana belum sembuh sampai saat ini.
"Lo ada hubungan apa sama anak baru itu, Nana?!"
"Urusan lo apa, nanya ini ke gue?"
"Gue cemburu Na!"
"Lo ga ada hak! Kita udah putus!"
"Gue ngga pernah nganggep kita putus, Nana!"
"Lo lupa? Siapa yang dulu selingkuh? Sakit Rangga! Ngelihat lo mesra sama orang lain dengan mata kepala gue sendiri!"
Ternyata dari tadi Angkasa menguping pembicaraan Rangga dan Nana, karena emosi mendengar penjelasan Nana jika dulu ia pernah di sakiti Rangga, ia berjanji dalam hatinya akan membuat Nana menjadi miliknya dan menjaganya.
Angkasa menghampiri Rangga dan Nana, "ekhmm, kenapa nih? Lo ngapain narik-narik cewe gue?" Ucap Angkasa santai sambil merangkul pundak Nana, "eh lo apain cewe gue brengsek! Kenapa dia nangis, hah?".
"Lo siapanya? Berani banget ngerangkul cewe gue?" Ucap Rangga tak tau malu.
"Cewekmu muatamu!"
/Bugh
Angkasa menonjok pipi Rangga, sedangkan Nana hanya melihat perdebatan mereka, ia tidak membantah karena Rangga pantas mendapatkan itu. Nana merasa ada yang salah dengan hatinya, ia merasa aman ketika didekat Angkasa.
"Ayo Na, buang-buang waktu tau ngga ngurusin cowo sampah kayak dia" Angkasa membawa Nana pergi menuju taman dekat kelas Nana.
"Sejak kapan gue jadi cewe lo?"
"Lo mah, Na. Udah gue bantuin juga"
"Iya-iya, makasih udah bantuin gue"
Angkasa sengaja bolos pelajaran, karena mengetahui suasanya Nana tidak baik-baik saja, ia ingin menemaninya. Dan tau tidak? Nana tertidur setelah bilang makasih ke Angkasa, ia bersandar di bahu Angkasa. Tau ada tempat nyandar langsung molor pules.
Lalu apa kabar dengan Lia? Ia tadi panik setengah mati, takut sahabatnya itu disakiti Rangga. Namun karena Angkasa menyusul mereka, jadi ia sedikit tenang. Ia percaya kepada Angkasa.
Bel pulang berbunyi, semua murid sudah pulang. Sedangkan Nana masih nyaman tertidur di bahu Angkasa. Karena sudah sore, Angkasa membangunkan Nana. Ia menowel pipi gembul Nana, dan Nana langsung membuka matanya.
"Eh, kok sepi?"
"Udah pada pulang, Na"
"Kok lo ga bangunin gue sih!"
"Lo pules banget, ga tega gue banguninnya"
"Ishh, yaudah deh. Gue mau pulang"
"Eh bentar Na, gue mau ngomong sesuatu"
Perasaan Nana berdegup kencang karena Angkasa menatapnya dengan serius.
"Na, gue udah tau masa lalu lo, gue tau itu membekas di hati lo, dan gue mau nyembuhin luka hati lo. Boleh?"
"Hah? Maksudnya?"
"Lo mau ngga jadi pacar gue?"
Boom! Meledak hatinya Nana, entah kenapa ia sangat senang. Ia menahan senyum, ia ingin guling guling rasanya.
"eumm, gimana ya jawabnya" nada imut.
"K-kok bernada" Jantung Angkasa tidak bisa dikendalikan, kenapa Nana menjadi sangat imut?
"Iya, boleh"
"Hah? Gimana?"
"Lo boleh nyembuhin luka hati gue, mulai hari ini"
"Yesss" Angkasa memeluk erat tubuh Nana sesekali mengecup keningnya.
25 Oktober 2021 di taman sekolah, akan menjadi tanggal dan tempat yang akan selalu Nana ingat. Karena disana, kehidupan Nana telah diubah.
Yang dulu setiap harinya dia akan tidur dan tidur hingga tak bisa dibangunkan, sekarang ia punya pangeran yang akan menowel pipinya untuk membangunkan putri tidur. Cuma itu doang sih bedanya, haha.