Aku hanya mampu menatap langit, membayangkan bila diri mu melihat ku dari atas sana.
"Maaf kan aku Dewa Langit, karena kesalah ku.. membuat kita terpisah dengan ruang dan jarak yang tak lagi mampu menyatukan kita." sesal ku pun tidak ada guna.
Flashback beberapa tahun yang lalu.
Saking senengnya kita akan berjumpa di tempat yang sudah kita tentukan. Aku langsung berlari memeluk sosok yang tinggi dengan tubuh berisi, dari belakang aku yakin itu adalah kamu, hingga aku pun tak ragu untuk langsung memeluk mu.
"Akhirnya kau datang! aku sangat merindukan mu." ucap ku saat memeluk mu dari belakang.
Tapi aroma tubuh ini bukan lah aroma tubuh mu. Namun sayangnya tangan kekar itu langsung memegang erat tangan ku seolah tidak ingin melepaskannya.
"Apa yang ku lakukan Dewi Langit?" suara yang sangat aku kenal justru ada di belakang ku.
Aku pun menoleh ke asal suara, betapa terkejutnya aku, orang yang ku sangka sedang ku peluk ternyata bukan lah dirimu.
"Kenapa dewi? kenapa kau diam? ayo katakan padanya, jika kau memang menunggu ku, dan bukan menunggu dia." ucap Dewa Guntur yang saat itu menggenggam erat tangan ku sambil menunjuk ke arah Dewa Langit.
"Bu- bu- bukan kau yang aku tunggu.." ucap ku terbata-bata sambil meronta untuk berusaha melepaskan genggaman tangan ku dari Dewa Guntur.
"Aku tidak menyangka, cinta mu pada ku sedangkal itu Dewi Langit!" ucap Dewa Langit yang kecewa pada ku.
"Maaf Dewa Langit, kamu salah paham. aku kira itu kamu.. maaf aku telah gegabah." ucap ku terisak sambil memeluk kedua kakimu.
"Maaf mu sudah terlambat, aku menghukummu Dewi... saat ini juga.. ku usir kau dari dunia kayangan, sebagai balasannya kau harus tinggal di bumi menjadi manusia biasa.. tidak ada tempat untuk Dewi ceroboh seperti dirimu di kayangan ini!"
Hati ku hancur saat kau hukum aku seperti itu Dewa Langit.