Semua orang sibuk mencari cinta, begitu juga dengan aku.
Punya pengalaman cinta yang menyakitkan membuat aku sangat amat selektif dalam memilih.
Dulu aku amat menyukai pria yang slengean, berpenampilan urakan. Lalu aku dipatahkan.
Aku tidak menjudge pria yang berpenampilan seperti itu adalah pria yang suka mempermainkan wanita. Aku yakin ada banyak diluar sana yang tidak seperti itu.
Tapi kamu harus terima pendapat ku juga bahwa aku memiliki ketakutan berlebih dengan pria seperti itu. Sebab patah hati ku disebabkan oleh mereka yang memiliki ciri seperti itu.
Jangan judge aku sebab miliki pandangan ini, justru aku minta bantuan kepada kamu semua untuk bantu aku hilangkan prasangka buruk ini. Sebab aku... Trauma.
Rasa sakit itu masih berputar dalam memori ku, pengkhianatan itu terlalu dalam. Mungkin mereka lihat aku baik-baik saja. Tapi tidak sebenarnya. Aku pintar menutupi semuanya.
Sampai aku bertemu dia, seseorang yang jauh dari ciri-ciri seperti mereka di masa laluku.
Dia... Arbi.
Dia bantu aku keluar dari gelap itu, dia terdepan untuk ku saat itu. Dia ada disaat aku kehilangan. Dia ada disaat aku terpuruk kesedihan.
Dia temani aku di hari-hari kosong.
Terimakasih.. Arbi.
Terimakasih, sebab bantuan mu aku kembali dapatkan jiwa sadar. Kamu bantu aku untuk kembali ke garis edarku.
Jika kamu menyangka aku sudah happy ending bersama Arbi, kamu salah.
Aku kehilangan dia..
Kali ini bukan pengkhianatan, tapi memang harus saling melepaskan.
Tapi Arbi sudah buat aku menjadi terlalu kuat.
Sehingga aku tetap baik-baik saja meskipun tanpa dia.
Arbi hebat, dan masih jadi yang terhebat untuk saat ini. Tuhan bantu aku untuk kembali baik-baik saja dengan hadirkan Arbi buatku.
Arbi menjelma bak malaikat yang mengangkat wajahku saat aku hanya mampu menunduk dalam-dalam.
Titipan Tuhan itu hanya sementara bukan? setelah menurut Tuhan aku sudah cukup membaik, Tuhan jauhkan aku dari Arbi. Arbi hanya sementara untukku. Dengan lelehan air mata bahagia, aku lepaskan Arbi untuk orang yang jauh lebih baik dariku.
Lama aku tak mendengar kabarnya, kini dia sudah miliki tambatan hati. Aku bahagia mendengar nya, sebab jika aku yang bersama Arbi belum tentu semuanya jadi baik kan?
Teruntuk kamu, Arbi. Orang yang kupikir tepat, terimakasih banyak. Terimakasih untuk kamu, orang yang berjasa besar dalam hidupku.
Satu hal yang belum sempat aku ucapkan kepada kamu sebelum kamu pergi,
Arbi, aku mencintaimu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ini sebenarnya lanjutan dari ceritaku yang berjudul 'Sebabmu Patahlah Hatiku'
Terimakasih..
Note:
"Cinta itu membahagiakan, jika tidak mungkin cara mencinta mu itu salah atau orang yang kamu cinta bukan yang tepat"
Salam hangat
-Eelaeyes