***
BRAKKK!
Meja milik Ryder di gebrak cukup kencang oleh seorang pemuda yang tiba-tiba saja datang dengan selebaran di tangannya. Ryder yang semula sedang menikmati waktu istirahatnya dengan makan siang lantas mendongak dan menatap cowok di hadapannya itu.
"Aku dengar ada siswa baru di sekolah ini. Dan menurut kabar burung yang aku dengar, siswa barunya adalah cowok tampan," ujarnya dengan pose aneh yang membuat Ryder hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan lalu kembali fokus pada makanannya.
Anak itu melirik Ryder. "Oh sial, dia lebih tampan dariku," batinnya. Ia menggeleng cepat melupakan hal itu untuk sejenak.
"Itu tidak penting untuk sekarang," pikirnya.
"Ng, bolehkah aku duduk di sini?" Tanyanya kemudian.
"Tidak." Tolak Ryder cepat.
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin duduk dengan orang aneh yang datang dan menyita seluruh isi kantin," gumamnya.
"Ugh." Laki-laki itu memegangi dadanya ketika kata 'aneh' yang terlontar dari mulut Ryder tiba-tiba saja menusuk tepat ke ulu hatinya.
"Sial, dia begitu blak-blakan," bisiknya pelan. Ia kemudian mengelus dadanya pelan.
"Kalau begitu aku mau langsung ke intinya saja. Aku datang kemari bukan tanpa tujuan dan alasan, melainkan aku kemari dengan tujuan dan alasan yang sudah sangat jelas. Aku ingin mengajakmu untuk bergabung denganku pada club' ekstrakurikuler yang bisa menambah nilaimu di raport semester nanti, aku pastikan kau akan tertarik dengan club' yang aku tawarkan, karena ekstrakurikuler ini adalah yang paling istimewa dan yang paling unik di bandingkan semua ekstrakurikuler yang ada di sekolah kami…" anak itu Brandon, membuka kedua matanya dan mendapati meja yang semula di tempati Ryder itu kosong.
"Merasa tertolak," batinnya dengan wajah murung.
"Tapi aku tidak boleh menyerah! Pokoknya aku harus bisa mengajaknya bergabung, karena bagaimanapun mungkin saja dia bisa membantu menyelamatkan club' kita agar tidak di tutup dan di hapus dari daftar ekstrakurikuler di sekolah ini," inner nya. Brandon mengepalkan tangannya erat, ia lantas beranjak bangun dari tempat duduknya berjalan mengikuti Ryder dari belakang dan bergegas mengejarnya. Ia tidak akan menyerah begitu saja untuk membujuknya bergabung dalam club' yang di kelola olehnya.
"Hey! Hey! Tunggu!" Tutur Brandon berusaha membuat Ryder berhenti.
"Apa lagi?" Ryder menatapnya tak bersahabat.
"Aku mohon, dengarkan aku lebih dulu. Jangan pergi begitu saja."
"Sudah aku bilang, aku tidak tertarik untuk bergabung dengan club' yang kau buat itu! Sekarang jangan ganggu aku dan pergilah!"
Brandon menarik tangan Ryder mencekal langkahnya sebelum ia pergi.
"Aku mohon, kau adalah satu-satunya harapan untuk club' ku. Aku yakin 100% dengan kau bergabung, maka club' kami tidak akan di hapus dari daftar ekstrakurikuler sekolah. Atau begini saja, kau bisa baca lebih dulu selebarannya. Kau juga bisa tanya-tanya apapun yang ingin kau tanyakan, atau kalau kau ingin berkunjung dan melihat-lihat lebih dulu juga boleh. Asalkan kau mau bergabung, aku mohon. Aku janji setelah ini tidak akan mengganggumu lagi!" Brandon panjang lebar, ia lantas menyodorkan secarik kertas yang di bawanya.
Ryder terdiam memandangi selebaran yang baru saja didapatnya. Club' penelitian supranatural, sebuah ekstrakurikuler yang unik dan belum pernah ia dengar sebelumnya.
"Club' penelitian supranatural?" Gumamnya membaca kertas yang disertai gambar ala-ala horor untuk menambah kesan menarik yang menggambarkan club' mereka. "Apa yang kalian lakukan di club' ini?"
"Huh? Oh, kami meneliti setiap kejadian misterius yang terjadi. Memecahkan berbagai kasus hantu dan lain sebagainya. Memang terdengar konyol kami meneliti hal seperti ini, apalagi bagi orang-orang yang tidak percaya bahwa hantu itu nyata mereka pasti menganggap apa yang kami lakukan itu sia-sia. Tapi bagaimanapun juga bagi kami yang percaya akan hal-hal supranatural dan hantu, ini adalah sesuatu yang menyenangkan apalagi kalau kami sudah di hadapkan dengan berbagai kasus dan mulai menemukan setiap kepingan jawabannya. Ini sangat berarti bagi kami, terutama bagi anak-anak berkemampuan indigo yang sering diganggu oleh makhluk-makhluk yang meminta untuk kami tolong."
"Anak indigo? Maksudmu ada anak Indigo di sekolah ini?"
"Hanya beberapa, dan mereka bergabung dengan club' ku, dan bersama-sama kami bekerjasama untuk memecahkan setiap kasus yang ada. Tapi beberapa Minggu yang lalu, club' kami mendapatkan surat peringatan dari pengelola ekstrakurikuler di sekolah ini, mereka meminta kami untuk menutup club' kami. Dan sebagai ketua club', aku tidak mungkin diam saja."
"Kalau begitu aku bergabung."
Brandon mengubah air mukanya, wajahnya seketika berseri mendengar kalimat yang baru saja terlontar dari bibir Ryder.
"Kau serius?"
"Ya."
"Yeah!!! Terima kasih banyak!"
*
Dua gadis di hadapannya itu menatapnya lekat nyaris tak berkedip.
"A-astaga, kau benar-benar tampan," gumam Lina melongo memandangi Ryder yang baru saja tiba.
"Kau benar, astaga wajahnya seperti patung pahat," sahut Paula di sampingnya.
"Ehem, kita langsung ke intinya saja." Brandon berdeham membuat keduanya seketika tersadar, dan langsung menoleh ke arahnya.
"Apa kasus yang kalian dapat kali ini?" Tanya Brandon.
"Oh, kami dapat kasus baru," sahut Lina.
"Ya. Dan kasusnya adalah rumah berhantu." Paula menambahkan.
"Benarkah?"
"Banyak makhluk di sana yang mengganggu para penduduk, maka dari itu mereka meminta bantuan kita untuk menyelesaikan semua ini."
"Baiklah kalau begitu bagaimana kalau pulang sekolah kita langsung pergi ke sana?"
"Oke."
*
Ryder berjalan bersama dengan ketiga orang teman barunya, melangkah menyusuri jalan pedesaan terpencil. Di sepanjang jalan yang di lihatnya hanyalah ladang hijau yang penuh dengan tanaman, mereka juga melewati sungai yang jernih. Tidak ada terlalu banyak rumah di sana, hanya ada beberapa dan itu juga letaknya cukup berjauhan satu sama lain.
"Apakah masih jauh?" Tanya Brandon pada Lina dan Paula yang menuntun jalan.
"Hanya sebentar lagi, desanya sudah terlihat di sana." Lina menunjuk ke arah bangunan rumah warga di arah barat.
"Desanya benar-benar terpencil," gumam Ryder.
"Ya, begitulah. Maka tidak heran mereka meminta bantuan kita untuk datang kemari dan mengecek keadaannya secara langsung."
"Hari sudah mulai gelap, lebih baik kita percepat langkah kita," tutur Brandon.
"Baik!" Sahut Lina semangat. Mereka lantas mempercepat langkah kaki mereka menuju desa yang mereka tuju.
***