***
"Sudah berapa lama aku di sini?" Tanya Ryder pada Arthur dan Hugo yang baru saja tiba dengan membawakannya buah-buahan segar yang baru saja mereka beli. Keduanya terduduk di tepi ranjang yang di tempati oleh Ryder yang masih dalam masa perawatan. Sudah hampir tiga Minggu lamanya Ryder di rawat, selama satu Minggu penuh tidak sadarkan diri dan begitu ia sadar ia langsung menjerit ketakutan membuat dokter dan suster panik, apalagi saat secara tiba-tiba tengkuknya berdarah tanpa sebab.
"Kau tidak ingat? Kau sudah di sini selama tiga Minggu," sahut Hugo.
"Tiga Minggu?" Ulang Ryder dengan wajah terkejut.
"Iya." Arthur mengangguk.
"Lalu, apa yang terjadi selama tiga Minggu ini? Kapan terakhir kali aku masuk sekolah?"
"Tiga Minggu yang lalu, atau lebih tepatnya Minggu terakhir bulan lalu."
"Apa? Tapi apa yang terjadi selama itu?"
"Kau tidak sadarkan diri selama seminggu dan saat Minggu berikutnya kau baru sadar."
"Sebenarnya apa yang terjadi saat kau bangun waktu itu? Apakah kau benar-benar bisa melihat mereka?" Tanya Hugo yang tampak penasaran, ia masih berada di ambang antara percaya dan tidak dengan apa yang telah di alami Ryder pasalnya ia saja masih belum tahu kesaksian dari Ryder setelah membaca mantra yang di berikan oleh Cony pada mereka.
"Aku bisa melihat mereka semua, dan dunia yang tidak pernah kita percayai itu memang benar-benar adanya." Ryder menundukkan kepalanya, ia sendiri masih belum terbiasa dengan apa yang di alaminya. Terkadang ada beberapa makhluk yang muncul dan lenyap begitu saja, datang dan pergi tanpa pernah di duga olehnya. Itu sering kali membuatnya shock apalagi kalau sosok itu memiliki rupa yang jauh dari kata bagus.
"Sungguh? Itu berarti mantra itu benar-benar mantra yang bisa membuatmu melihat mereka?" Tanya Arthur.
"Sepertinya begitu, tapi setelah apa yang aku alami sekarang… itu benar-benar membuatku menyesal dengan apa yang telah aku lakukan, aku ingin kembali seperti semula. Aku tidak ingin melihat mereka lagi."
"Kau pasti akan kembali seperti semula, kami bisa pastikan itu. Lagipula Cony bilang kalau kau bisa kembali seperti semula," tutur Hugo yang membuat Arthur terkejut dengan kalimatnya. Jelas-jelas bukan itu yang di dengarnya dari Cony, tapi sebaliknya.
"Benarkah itu?" Ryder menatap mereka bergantian. Hugo mengangguk sementara Arthur hanya diam tak menjawab, sebelum kemudian Hugo menyikutnya dan memberikan isyarat untuk meng-iya-kan kalimatnya.
"I-iya," kata Arthur terbata. Ia tahu Hugo melakukan ini hanya untuk membuat Ryder bisa berpikir positif dan tidak memiliki pikiran negatif mengenai keadaan yang di alaminya.
"Omong-omong apakah kalian sudah bertemu dengan Cony lagi? Dimana dia sekarang?" Ryder mengalihkan pembicaraan.
"Ya, kami bertemu dengannya dan kami jadi lebih dekat dengannya untuk berkonsultasi mengenai apa yang kau alami, karena hanya dia satu-satunya orang yang bisa membuatmu kembali normal seperti sebelumnya. Tentang orang tua mu, mereka pasti terkejut dengan apa yang terjadi dan apa yang kau alami. Mereka pasti tidak akan percaya dengan apa yang kau alami. Aku harap kau bisa mengendalikan dirimu agar orang tuamu tidak menganggap mu ke arah lain, aku hanya cemas kalau mereka malah menganggap kau berhalusinasi dan lain sebagainya. Cobalah untuk membiasakan diri melihat hal seperti itu untuk sementara sampai Cony menyembuhkan mu seperti semula," ucap Hugo panjang lebar. Arthur yang mendengarnya di buat terkejut, bagaimanapun setiap kata yang terlontar dari bibir Hugo adalah tipuan. Secara tidak langsung atau secara halus, Hugo meminta Ryder untuk membiasakan diri dengan kehidupan barunya. Arthur dapat menangkap dengan jelas maksud dari kalimat yang baru saja terlontar dari bibir temannya itu, tapi ia hanya bisa diam tanpa bisa melakukan apa-apa. Bagaimanapun ia juga tidak ingin membuat Ryder panik dan putus asa dengan kenyataan yang sebenarnya.
"Aku akan berusaha," gumam Ryder yang tampak percaya sepenuhnya dengan kalimat Hugo.
"Oh ya, aku lupa kami harus pergi sekarang." Hugo menarik tangan Arthur dan bangun dari duduknya.
"Kalian akan pergi?"
"Ya, ada yang harus kami urus jadi kami harus pergi sekarang."
"Baiklah kalau begitu."
"Kami akan kembali besok untuk menjengukmu, aku harap kau segera sembuh agar kita bisa bermain bersama lagi."
"Ya, terima kasih karena sudah berkunjung."
"Bukan masalah. Kalau begitu kami pamit." Hugo menarik Arthur keluar, bahkan Arthur sama sekali belum mengucapkan sepatah katapun sebelum berpisah. Ia hanya melambaikan tangan sebagai gantinya.
*
"Cony?" Perhatian Ryder seketika beralih begitu mendapati pintu kamar rawatnya di dorong, menampakkan sosok Cony yang baru saja tiba dengan membawa kursi roda kosong di tangannya.
"Sebelum waktu besuknya habis, bagaimana kalau kita cari udara segar?" Cony berdiri di tepi ranjang Ryder.
"Tapi aku sedang makan."
"Kau bisa lanjutkan itu nanti."
"Baiklah." Ryder menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, menjauhkan meja makan di dekatnya lalu dengan di bantu Cony ia turun lantas duduk di kursi roda yang di bawa Cony.
Cony membawa Ryder menuju taman di atap gedung rumah sakit. Tiba di sana tidak terlalu banyak orang yang datang, hanya beberapa orang yang tengah menikmati malam indah di atas gedung.
Cony mendorong kursi roda Ryder ke sisi lain yang cukup sepi, kemudian berhenti.
"Ini adalah malam yang indah yang sayang untuk di lewatkan, karena bintang sedang tampak bermunculan di atas sana." Cony mendongak menatap langit penuh bintang.
"Kau benar," gumam Ryder yang tampak tenang. Entah kenapa semenjak kejadian yang di alaminya, ia justru berharap besar pada Cony. Karena seperti yang di percayanya, hanya dia satu-satunya orang yang bisa menyembuhkannya seperti semula.
"Hugo dan Arthur pasti berbicara padamu 'kan? Mereka bilang kalau kau bisa kembali seperti semula?" Cony tiba-tiba menyita perhatiannya.
"Bagaimana kau tahu? Apakah kau mendengarkan pembicaraan kami?"
"Tidak. Aku tidak mendengarkan pembicaraan kalian, karena aku baru saja tiba."
"Lalu darimana kau tahu?"
"Itu tidak penting, tapi yang pasti aku hanya ingin menegaskan padamu bahwa sekali kau membuka pintu itu, maka kau tidak akan pernah bisa membukanya untuk yang kedua kalinya. Aku sudah jelaskan aturannya padamu, bukan?"
"Itu berarti aku tidak akan sembuh?"
"Tidak akan pernah. Karena begitu kau memutuskan untuk membacanya, maka kau sudah memilih dan saat kau memilih, kau tidak akan bisa mengubahnya kembali."
Ryder diam tak berkata-kata, ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana menjelaskan perasaannya saat ini. Semuanya terasa campur aduk antara percaya dan tidak dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Kau pasti berbohong padaku 'kan?" Tanya Ryder berharap Cony hanya mempermainkannya.
"Sejak awal aku tidak pernah berbohong atau berusaha mempermainkan mu, ingat?"
Ryder terdiam membenarkan kalimat Cony.
***