pamit dalam bahasa Indonesiaberarti berpamitan, undur diri.
ini menceritakan tentang kisah Zulfa yang mana ia mempunyai sebuah kelebihan bisa melihat kematian seseorang dalam lewat mimpi. kejadian itu telah ia rasa sejak kecil, seperti kejadian sewaktu ia berumur sepuluh tahun ia pernah bermimpi tentang tetangganya yang bernama Mbah Giyem. didalam mimpinya pada sore hari ia duduk di teras depan rumahnya, dari arah selatan terlihat segerombolan orang berjalan mendekat dengan berpakaian serba hitam, segerombolan itu semakin mendekat terlihat enam orang di depan membawa sebuah keranda Tampa penutup. segerombolan orang berpakaian hitam itu berjalan mendekat ke arah Zulfa, perasaan Zulfa sangat tidak tenang saat melihat segerombolan orang berpakaian hitam itu mendekat. saat segerombolan itu melewati Zulfa, ada perasaan takut yang menjalar di hatinya. tatapan kosong orang-orang itu terlihat sangat menakutkan dan menyeramkan. Zulfa terdiam saat orang-orang itu melewatinya. tatapan matanya tak lekat dari segerombolan itu lewat hingga segerombolan itu berhenti di depan rumah Mbah Giyem.
segerombolan orang berpakaian hitam itu masuk kedalam rumah Mbah Giyem. tak lama kemudian segerombolan orang itu keluar. namun saat orang yang membawa keranda itu keluar Zulfa terkejut. terlihat di sana Mbah Giyem tiduran di atas keranda dengan tangan bersedekah. saat berjalan orang-orang berpakaian hitam itu sembari mengucapkan kalimat. la Illa ha illallah. berulang-ulang, tatapan orang-orang itu masih sama dengan tatapan kosong berjalan pergi menjauh ke arah selatan. sorot mata Zulfa tak lepas dari segerombolan orang itu yang membawa Mbah Giyem pergi.
"Ono opo nduk ?" (ada apa nak ?) dengan tangan memegang pundak zulfa. seketika Zulfa terkejut dan menoleh kebelakang dengan tegang dan detak jantung tak karuan.
saat Zulfa menoleh matanya semakin terbelalak. "Mbah Giyem ?" ucap Zulfa kaget dan bertanya. bukanya baru tadi mang Giyem pergi bersama orang-orang berpakaian hitam tapi kenapa bisa sudah berada di dekatnya ?.
Mbah Giyem tersenyum simpul "awakku meh lungo, wektu ku Ng kene wes entek, aku pamit Yo nduk.." (diriku akan pergi, waktu ku disini sudah habis, aku pamit ya nak..) ucap Mbah Giyem.
seketika Zulfa terbangun dari tidurnya, terlihat jam menunjukan jam 5 pagi.
tak lama setelah ia bangun ia mendengar suara pengumuman dari pengeras suara, ia mendengar surat kematian Mbah Giyem.
ia bergegas keluar dan melihat sekerumunan orang telah berada di tempat Mbah Giyem.
hal itu pernah terjadi lagi kebebrapa orang terdekatnya ia memimpikan seseorang dan keesokan harinya kabar duka itupun terdengar.
ia pernah bercerita kepada teman ataupun kepada ibunya namun sayangnya hal itu dianggap hanya bunga mimpi belaka.
hingga suatu hari ia bermimpi..
ia melihat segerombolan orang berbaju hitam dengan keranda itu masuk kedalam rumahnya. Zulfa heran dengan segerombolan orang itu, kenapa mereka masuk kedalam rumahnya, iapun mengikuti arah orang orang itu berada dan
terlihat seorang anak kecil menaiki kerenda itu dengan tersenyum..
"kakak... adek pamit yaa" ucap anak kecil itu kepada Zulfa
seketika Zulfa terbelalak..
" Angga..", ucapnya lirih..
"Angga, Angga kenapa Angga naik situ, Angga pamit kemana ? ayo dek turun, sini turun, jangan naek itu dek," ucapnya sembari menitipkan air matanya.
Angga hanya menggeleng dan tersenyum kepada Zulfa. "nggak kakak, adek Ndak mau turun, adek harus pamit kakak, kakak doin Angga ya, Angga sayang kakak dan ayah ibu, Angga sayang kalian," ucapnya dengan nada sendu.
"Adek, adek turun ya, nanti mama sama papa sedih kalo adek pergi, adek turun ya," pintanya membujuk adeknya agar mau turun dari kerenda itu.
Angga hanya menggeleng pelan dan tersenyum, "adek sudah saatnya pulang kakak, adek pamit ya sama kakak, sama mama dan papa juga, adek sangat sayang kalian kok, nanti adek tungguin di sana, tenang saja adek Ndak akan nangis kok," ucapnya mampu membuat zhulfa tak berkutik dengan ucapan adeknya itu.
"Angga,," ucapnya serak saat orang-orang itu membawa Angga pergi, Angga hanya menoleh dan tersenyum kepadanya.
"Angga, !" teriaknya dan kemudia ia terbangun dari tidurnya dengan keringat yang bercucuran. teriakannya itu membuat kedua orang tuanya menghampirinya ke kamarnya,
"Zulfa, ada apa nak ?" ucap mereka terkejut dengan ke adaan Zulfa yang terlihat takut "kamu mimpi buruk lagi ?" tanya sang papanya sembari mendekat, sedangkan Zulfa tidak menjawab ia melihat sekeliling mencari sosok adiknya itu.
"Angga mana pa, ma ? Angga di mana ?" ucapnya sembari memegang tangan ayahnya takut.
"Angga masih tidur, ada apa ?"
"bohong, tidak, Angga harus selamat," ucapnya dengan takut,
"Zulfa, apa kau mengigau lagi ? ayaolah nak ini masih malam, Angga juga tidur, apa yang kau mimpikan hah ?"
"pa, ma, Angga dia, dia," ucapnya tercekat karena tak sanggup untuk melanjutkan kata-katanya, tidak mungkin ia mengatakan kalau adiknya berpamitan kepadanya berpamitan akan pulang ke pangkuan sang ilahi.
"apa ? dia sedang tidur terlelap kau tidurlah, besok kita akan ada acara ulang tahun adeknmu, jadi istirahatlah besok kita akan bertamasya bersama," wajah Zulfa semakin pucat ia menggeleng,
"tidak ma, pa jangan bertamasya," ucapnya sembari takut,
"sudahlah, jangan mengigau lagi oke, kau tidur besok kita akan berangkat pagi, cup" ia mengecup kepala anaknya singkat lalu bernajak pergi.
Zulfa tak bisa berbuat apa-apa sekarang yang ia takutkan sekarang adalah pamit adiknya kepada dirinya itu membuat ia tak bisa tenang takut dan gelisah.
bersambung.....
"kenapa ? ayolah, kau tidur besok kita akan berangkat pagi, cup" ia mengecup kepala anaknya singkat lalu bernajak pergi.