Aku terbangun dalam tidurku. Sekilas aku merasa aneh. Aku melihat awan putih bergerak pelan di langit biru yang luas membentang. Tak nampak gedung pencakar langit seperti di Vancouver. Hanya ada bangunan tua yang kurasa terlihat seperti tumpukan batu lapuk. Ku raba permukaan tempatku berbaring. Aku berbaring di tanah yang dipenuhi rerumputan hijau. Mataku bergerak melihat sekeliling, kulihat rangkaian pepohonan yang tumbuh menjulang. Sangat sepi sekali disini. Sehingga aku pun bisa mendengar suara riak air sungai dan hembusan semilir angin. Udaranya sangat sejuk, namun aku tak melihat ada seorang pun disini. Saat aku menyadari, ini bukanlah Vancouver, aku berada di dunia yang berbeda. Aku bangun dan berdiri. Aku masih merasa mengantuk, tapi aku memutuskan untuk mencari tahu tentang tempat apa ini dan apa yang terjadi selama aku tidur.
Aku berjalan menyusuri jalan setapak yang mengarah ke sebuah pemukiman. Aku melihat beberapa orang di sana, ingin ku percepat langkah kakiku namun ada sesuatu yang mengganjal dipikiranku. Mereka sedikit aneh. Kulit mereka putih pucat. Daun telinga yang lebih panjang dari manusia biasa dan lancip. Rambut mereka keriting dan sedikit kemerahan. Aku mengamati mereka cukup lama, tanpa sadar ada seseorang di samping ku. Dia menatapku dengan wajah serius hingga terlihat matanya membulat seperti melototi aku. Aku sedikit tersentak. Dia terlihat memiliki postur tubuh yang sama dengan orang yang ada di sana. Aku segera menjauh beberapa langkah darinya. Wajahnya terlihat aneh. Dia juga membawa tongkat yang memiliki permata diatasnya.
“Siapa kau?”, Dia bicara, suaranya terdengar serak dan parau. Lagi-lagi aku tersentak olehnya. Aku menelan ludah. Mencoba membuka mulutku untuk menjawab pertanyaannya.
“A-aku Deke. Aku dari bumi, saat aku terbangun aku telah berada di dunia ini.” Aku mencoba menjelaskan asal-usul ku, namun kurasa dia mengabaikannya.
“Aku Dalbert, kita harus bergegas pergi dari sini, Raja kegelapan akan segera tiba.” Balasnya.
Aku sedikit bingung dengan apa yang ia bicarakan. Namun kurasa sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia melangkah menuju beberapa orang yang ku amati tadi. Dan sekilas memberiku isyarat untuk mengikutinya. Mungkin dengan bertanya padanya aku dapat menemukan cara kembali ke bumi. Pikirku.
“Kalian semua, dia adalah Deke. Dia memang tak terlihat seperti kita, namun ku rasa Deke bukan orang yang jahat.” Jelas Dalbert kepada mereka. Jika dilihat lebih dekat, mereka memiliki kemiripan satu sama lain.
“Namaku Alfred, dia Zerach, Katrine, Eloise, dan Kylie.” Seorang anak laki-laki berbicara dan memperkenalkan yang lainnya.
“Halo. Aku Deke.” Aku mengamati satu persatu dari mereka. Alfred lebih pendek dari Dalbert dan sedikit mancung. Zerach laki-laki bertubuh tinggi besar, dia mempunyai kulit yang paling pucat diantara mereka. Katrine memiliki mata yang sipit dan berwarna hijau terang. Eloise dia perempuan yang tinggi dan memiliki telinga lebih panjang dari yang lainnya. Kylie, kurasa dia pemalu.
“Sepertinya kita terlalu menghabiskan waktu disini. Cepat, kita harus bergegas.” Ucap Dalbert memecah keheningan. Mereka semua mengangguk pelan, mengiyakan ucapan Dalbert. Dalbert mengayunkan tangan padaku memberi isyarat untuk segera mengikutinya. Lagi-lagi aku dalam kebingungan. Aku hanya berharap aku bisa segera pulang.
Baru saja kami berjalan beberapa langkah, terdengar suara dentuman keras hingga membuat getaran yang cukup kuat. Suaranya terdengar begitu dekat.
“Gawat. Dia telah muncul. Cepat lari.” Ucap Dalbert. Aku bingung. Namun sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertanya. Mereka berlari begitu cepat. Aku masih tertinggal, walaupun aku telah berlari sekuat tenaga.
“Pergi menuju gua disana.” Teriak Zerach dengan menunjuk sebuah gua tua ditepi sungai. Kami berlari menuju gua tua itu. Nafasku terengah-engah. Detak jantung ku tak beraturan. Seakan aku mengikuti lomba lari dan pesaingku adalah Alphonso Davies.
“Kita harus segera memberitahu Paman Ted.” Ucap Dalbert dengan suara datar, seolah dia tidak merasa kelelahan.
“Aku rasa Paman Ted sedang mencari penawar untuk Raja.” Ucap Kylie
“Apakah sebaiknya kita kembali saja.” Ucap Katrine dengan suara yang lirih.
“Jangan. Raja Kegelapan bisa saja mengikuti kita. Kita harus mencari cara supaya dia tidak pergi ke kerajaan.” Ucap Alfred.
Mereka semua terdiam, berpikir keras mencari jalan keluar.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” Aku mencoba bertanya. Mereka semua menatapku.
“Akan aku ceritakan saat perjalanan nanti, sekarang kita harus menemui Paman Frankie.” Jelas Dalbert
“Apa kau tahu dimana dia?” Tanya Eloise.
Dalbert mengangguk dengan pasti. Kami semua pergi dari gua. Melangkah ke dalam hutan yang semakin lama semakin lebat hingga cahaya matahari tak bisa masuk.
“Disini adalah Kerajaan gga. Kerajaan kami sedang dalam bahaya. Karena kehadiran Raja Kegelapan beberapa tahun terakhir, kota kami menjadi sangat kacau. Apalagi Raja kami terkena racun dari Raja Kegelapan beberapa hari yang lalu.”
“Apa yang dilakukan Raja Kegelapan?” tanya ku memotong penjelasan Dalbert.
Semuanya terdiam. Mereka mengerutkan kening dan terlihat menahan sesuatu yang penuh kepahitan.
“Raja Kegelapan..” Eloise terdiam tak melanjutkan kalimatnya.
“Raja Kegelapan telah memakan sebagian besar penduduk kota Flord. Termasuk teman-teman kami.” Ujar Zerach.
Aku menutup mulutku. Rasa mual merasukiku. Aku tak bisa membayangkan betapa mengerikannya Raja Kegelapan itu. Memakan mereka? Apakah dia monster? Seperti Harpy? Atau Minotour? Perkataan Zerach membuatku merinding ketakutan.
“Dan sekarang, kami adalah pasukan yang diutus kerajaan untuk memusnahkan Raja Kegelapan.” Lanjut Alfred.
Aku berhenti berpikir. Perutku seakan berputar-putar. Kepalaku terasa berat. Apakah mereka akan menghadapi Raja Kegelapan? Dengan apa mereka mengalahkannya? Pikiranku kembali kacau. Aku terus berpikir sepanjang jalan, hingga tanpa kusadari kami telah sampai di tempat tujuan. Aku memutar bola mataku. Mendongakkan kepala keatas dan kesamping.
“Apa yang kalian lakukan disini?” Seorang pria paruh baya muncul dari lebatnya pepohonan hutan. Dia adalah Paman Frankie. Dia tidak terlalu tinggi. Matanya sedikit merah dengan kantung mata yang besar. Rambutnya hitam keriting. Tetapi yang aneh, ia tidak memiliki telinga panjang lancip seperti Dalbert dan yang lainnya.
“Paman, kami membutuhkan bantuanmu.” Ujar Dalbert dengan wajah yang serius namun dengan suara yang datar.
“Aku rasa Pamanmu Ted sudah mencari penawar untuk Raja.” Ucap Paman Frankie.
“Kami menghadapi masalah lain, Raja Kegelapan telah muncul kembali. Kami memerlukan bantuan Paman untuk mengalahkannya.” Tegas Dalbert.
“Kalau tidak, dia akan memorakporandakan kerajaan lagi.” Ujar Katrine dengan pupil yang membesar dan membuat mata hijaunya terlihat lebih terang.
Paman Frankie terlihat berpikir. Lalu ia menatapku. Ia mengernyitkan dahinya dan mendekatiku.
“Siapa kau? Aku belum pernah melihatmu disini.” Kata Paman Frankie seraya mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku menarik kepalaku, menahan napas dan mundur beberapa langkah. Aku menjelaskan asal-usul ku. Matanya membelak lebar mendengar penjelasanku. Aku tak bisa membaca wajahnya. Ia seperti terkejut.
“Ayo kerumahku dulu.” Ekspresinya langsung berubah seperti dia tidak mengatakan sesuatu apapun padaku. Aku, Dalbert dan lainnya mengikuti Paman Frankie. Kami beranjak masuk ke dalam hutan. Aku berhati-hati, menghindari bebatuan berlumut yang menghadang jalan kami. Udaranya lembab bercampur dengan aroma khas pepohonan yang menyengat. Kami berbelok diantara jalan setapak. Dan sampai di sebuah rumah tua.
“Aku rasa baru kali ini Paman Frankie menunjukkan rumahnya.” Kata Alfred
Paman Frankie terkekeh dan mengangguk-angguk seolah mengiyakan. Ia membuka pintu rumahnya. Pintunya berderit ngilu saat Paman mendorongnya. Rumahnya sedikit pendek dan sempit, sepertinya rumahnya sudah cukup tua namun bersih dan rapi.
“Duduklah, aku akan segera kembali.” Ucap Paman Frankie dan berjalan menuju ruangan lain.
“Deke, sebenarnya aku sedikit penasaran dengan dirimu.” Ucap Katrine dengan menyipitkan matanya.
“Benar, Bumi? Planet seperti apa? Kekuatan magic apa yang bisa membawamu kemari?” Timpa Alfred.
“Bumi tempatku tinggal ehm... Aku tak bisa mendeskripsikannya. Yang jelas bumi adalah tempat yang aman dan damai, tidak ada monster atau Raja Kegelapan apapun. Dan aku tak tahu bagaimana aku bisa berada disini. Aku berharap bisa segera kembali.” Ucapku dengan menunduk dan suara yang semakin lirih.
“Apakah ini takdir?” Ujar Eloise.
“Benar, kau datang kemari bertepatan dengan datangnya Raja Kegelapan. Mungkin kau adalah orang yang dapat membantu kami mengalahkan Raja Kegelapan!” Seru Dalbert. Mana mungkin. Aku hanyalah anak biasa yang malang. Tidak tahu cara pergi dari sini, benar-benar sial. Aku hanya terdiam.
Tak lama, Paman Frankie keluar dari ruangannya membawa sebuah buku usang tebal.
“Aku menemukan buku lamaku. Disini ada cara mengalahkan bedebah itu. Aku tidak bisa memastikan ini membantu atau tidak. Tapi kalian bisa mencoba.” Jelas Paman Frankie dengan melirikku.
“Ada beberapa tumbuhan liar yang dibutuhkan untuk membuat racun ini ...” Lanjutnya.
“Kami akan mencarinya.” Ujar Zerach dengan lantang.
“Namun saat kalian menghadapi Raja Kegelapan itu, jangan hanya mengandalkan racun ini. Berusahalah dengan kekuatan kalian.” Ucapnya serius dengan menunjukkan beberapa tumbuhan liar yang diperlukan. Paman Frankie kembali menatapku.
“Kalian bisa pergi sekarang, lebih cepat kembali akan lebih baik.” Kata Paman Frankie. Kami mengangguk. Kami keluar dari rumah Paman Frankie. Bergegas menuju pegunungan tempat tumbuh-tumbuhan liar dapat ditemukan. Jalanannya sedikit lembab dan licin. Hingga aku beberapa kali hampir tergelincir.
“Seperti apa Raja Kegelapan itu?” Aku melirik kearah teman-teman baruku.
“Dia bertubuh tinggi hampir 8 meter. Memiliki tanduk lancip dan mempunyai gigi yang sangat tajam.” Jawab Eloise datar.
“Bagaimana jika kita berpencar, lebih cepat lebih baik, kan?” Ujar Katrine seakan mengalihkan pembicaraan. Sepertinya mereka tidak ingin membahas monster yang memakan teman-teman mereka.
“Ide yang bagus” Ucap Dalbert. “Aku, Deke dan Katrine akan kearah pegunungan Ervd. Sisanya pergi ke pegunungan Wygnuse.” Kami mengangguk. Sekarang aku tidak perlu banyak bertanya. Aku akan membantu mereka mengalahkan monster itu dan pulang ke bumi.
Setelah beberapa jam mencari, kami menemukan semua tumbuhan liar yang diperlukan. Kami segera bergegas kembali ke rumah Paman Frankie agar racun dapat segera dibuat. Sembari menunggu, Dalbert berlatih bertarung menggunakan tongkatnya, dan aku baru menyadari ternyata tongkat Dalbert memiliki kekuatan.
“Dalbert adalah ketua kami. Tongkat itu adalah pemberian Raja, memiliki sihir yang mampu melumpuhkan Raja Kegelapan walaupun hanya sementara.” Ucap Alfred seakan ia bisa membaca pikiranku. Dalbert sangat lihai menggunakan tongkatnya. Disaat seperti ini, aku merindukan Mum dan Dad. Apa selama aku disini, waktu dibumi tetap berjalan normal? Akankah aku dapat segera pulang? Mereka pasti mencemaskanku.
“Hey, apa kau ingin segera pulang?” Ucap Alfred menepuk pundakku.
“Apa kau bisa membaca pikiranku?” Ucapku penasaran. Karena sedari tadi ia melontarkan pertanyaan yang kupikirkan.
“Hahah.. tidak. Hanya saja wajahmu terlihat muram” Jawab Alfred terkikik. Aku tersenyum kecil. Kurasa Alfred sudah tahu jawabannya.
Selang beberapa menit, Paman Frankie keluar membawa beberapa kantong yang berisi racun itu. Masing-masing dari kami diberi satu kantong.
“Saat monster itu lengah oleh serangan kalian, taburkan racun ini sekaligus.” Terang Paman Frankie.
“Aku tidak memiliki kemahiran apapun, apa aku bisa membantu?” Tanyaku. Aku gugup.
“Jangan cemas, kurasa hanya kaulah yang dapat mengalahkan Raja Kegelapan.” Dalbert tersenyum penuh makna. Aku membalasnya dengan senyuman tipis.
Kami pergi ke tempat Raja Kegelapan. Letaknya sedikit ke arah selatan dari tempatku tiba di planet ini. Saat kami akan pergi, Paman Frankie menepuk pundakku, ia mendekat kepadaku.
“Aku adalah manusia sepertimu, aku seorang profesor dan aku terjebak didunia ini selama 12 tahun. Aku menyelidiki planet ini, jaraknya sekitar 3,5 miliyar tahun cahaya dari Bumi. Aku harap kau bisa kembali ke bumi.” Bisiknya pelan berharap hanya aku yang mendengarnya. Aku menoleh dan ia tersenyum padaku. Aku mengernyitkan dahi mencoba memahami kata-katanya.
“Kalian berhati-hatilah dan cepat kembali.” Kata Paman Frankie tersenyum pada kami sembari melambaikan tangannya. Kami membalas lambaiannya dan tersenyum.
___________
Aku berpikir sepanjang jalan. Bagaimana bisa Paman Frankie sampai disini. Apa dia menggunakan mesin waktu? Jika ia mempunyainya pasti dia sudah kembali ke Bumi. Apakah mesin waktunya rusak? Atau ia tidak ingin pulang? Ah, aku ingin kembali dan menginterogasinya. Namun sekarang aku harus membantu Dalbert dan yang lainnya mengalahkan Raja Kegelapan itu. Kami melewati tempatku terbangun tadi, menuju lembah. Udara yang terasa lebih dingin dan suasana yang mencekam membuat ku bergidik. Kakiku serasa membeku.
“Disinilah tempat Raja Kegelapan itu.” Ucap Dalbert. Aku meliriknya, tatapannya tajam penuh kebencian.
“Inilah saatnya membalaskan dendam para penduduk dan teman-teman kita.” Sambung Alfred. Mereka semua mengangguk yakin. Sudah berkali-kali sejak kami berada disini terdengar dentuman yang semakin lama semakin keras. Aku yakin itu adalah tanda kedatangan Raja Kegelapan.
“Disana.” Dalbert menunjuk monster yang tak lain adalah Raja Kegelapan. Sangat tinggi. Aku terdiam beberapa saat.
“Teman-teman jangan lengah. Aku mengandalkankan kalian.” Ucap Dalbert kemudian melesat cepat kearah monster itu.
“Dalbert akan melumpuhkan Raja Kegelapan sementara, lalu kita akan mengepungnya dan menunggu aba-aba Dalbert.” Ujar Zerach penuh keyakinan. Kami bergerak mendekati monster itu. Dia terlihat lebih mengerikan dari yang kupikirkan.
Dalam sekejap monster itu jatuh tepat ketika Dalbert mengayunkan tongkatnya.
“Sekarang.” Seru Dalbert. Kami hendak menebarkan racun. Namun Raja Kegelapan masih bisa bergerak. Tangannya bergerak tepat disisi Kylie!
“KYLIE!” pekik kami. Terlambat. Tubuhnya tertindih tangan besar monster itu. Hancur. Mataku membelak lebar. Cairan merah berderai dibawah tangan monster itu.
“Bukan saatnya diam, cepat racunnya.” Jerit Alfred seakan tak terjadi apapun. Kami menebarkan racunnya. Dengan cepat Dalbert kembali mengayunkan tongkatnya. Seolah tongkat itu adalah pedang, ia menebas monster itu bertubi-tubi, tanpa henti. Aku yakin ia meluapkan amarahnya. Raja Kegelapan mengerang kesakitan. Tak bergerak selama beberapa saat.
Kami semua mematung. Cairan merah masih merembes keluar dari bawah tangan monster itu. Wajah mereka penuh kepiluan. Dadaku sesak. Lidahku terasa pahit. Perutku seakan terbalik. Kami mendekat pada Kylie. Tubuhnya sudah tak berbentuk.
“Kematian adalah hal terakhir dalam waktu. Kylie tewas namun kita berhasil mengalahkan Raja Kegelapan.” Ucap Alfred getir. Seketika tubuh Raja Kegelapan tercerai menjadi serpihan cahaya dan mengudara seperti kunang-kunang. Hilang.
Tersisa setitik cahaya. Mengarah padaku. Membuatku bersinar. Cahayanya semakin terang hingga aku tak bisa melihat apapun.
___________
Aku berada di kamar kakek. Jelas ini bukan mimpi. Aku mengingat semuanya. Nafasku masih memburu. Aku pulang. Tapi mengapa begitu cepat. Aku bahkan tidak berpamitan, atau mengajak Paman Frankie kembali. Aku mengerjapkan mataku berkali-kali. Ini benar-benar kamar kakek. “Deke, apa kau tertidur? Cepat cuci tanganmu makan malam sudah siap.” Itu suara ibu. Makan malam? Bukankah aku tertidur pukul 7 tadi? Jika bukan mimpi mengapa sangat singkat. Argh, kepalaku terasa berat seperti akan meledak. Aku menuruni tangga dan bergabung dengan keluargaku untuk makan malam. Aku tidak akan pernah melupakan pengamalanku di Kerajaan Flord bersama mereka.
–SELESAI–