Tahun 2050.
Ya, jangan terkejut. Mari berpikir sejenak bagaimana keadaan dunia tahun 2050. Apakah benar desas-desus bahwa suatu hari robot akan mengambil alih pekerjaan manusia? Ataukah mungkin jalur udara sudah sering digunakan?
Kamu butuh jawaban? Kurasa, ya.
Tapi, maaf. Aku tidak bisa menjawabnya langsung. Terlebih dahulu aku harus menceritakan kisah ku agar setidaknya aku bisa berbagi dan tidak menyimpannya untuk diriku sendiri.
Semua bermula ketika aku lahir tahun 2021. Kala itu, pandemi korona yang melanda dunia masih belum sepenuhnya hilang. Memang sudah menurun, tapi pemerintah dan jajarannya harus memastikan bahwa tidak ada lagi yang terjangkit virus itu.
Jangan tanya bagaimana bisa aku tahu. Tentu orang tuaku lah yang bercerita.
Kata Ibuku, sekolah libur hampir satu tahun lamanya. Hanya sekolah yang libur. Aktivitas lain diperbolehkan meski tetap dibatasi. Kata Ibuku pula -beliau adalah seorang guru- sebenarnya murid tidak libur, hanya memindahkan tempat belajar saja.
Pemerintah kala itu sebenarnya memberi alasan cukup logis mengapa sekolah dipindahkan tempatkan. Kau tahu? Untuk melindungi generasi muda. Tentu alasan itu menjadi perbincangan hangat karena dengan kata lain pemerintah mengorbankan nyawa yang tua demi yang muda.
Hmm.. tidak sepenuhnya salah bukan? Generasi muda masih bisa berinovasi sedang yang tua hanya bisa menikmati masa senja. Tentu kalian akan memilih yang menguntungkan bukan?
Selain itu, dengan tidak langsung dari jumlah tumbangnya pasien virus itu juga mempengaruhi jumlah penduduk yang berkurang meski tak lebih dari seperempatnya.
Aku pun tahu karena ayahku adalah seorang pejabat negara.
Kisah berlanjut ketika akhir tahun 2021 aku sudah bisa merangkak, hampir berjalan. Usiaku kala itu masih 9 bulan. Nampaknya aku banyak tumbuh dengan baik.
Bulan Desember kala itu menjadi bulan terakhir untuk para siswa yang dipindah tempatkan belajarnya di rumah. Pasalnya mulai Januari esok sekolah resmi dibuka dengan serempak.
Dengan gembira para siswa menanti hari itu tiba, padahal aku berani bertaruh di sana mereka tidak akan belajar. Terlebih murid perempuan yang akan terus bercerita seolah mereka sedang melakukan pertunjukan rap.
Selain itu, artinya ibu juga akan kembali beraktivitas seperti biasa. Bangun pagi sekali, menyiapkan sarapan, dan pergi ke sekolah meski jam masih menunjukkan pukul 5 pagi. Jika saat ibu pergi ayah belum bangun, pun aku begitu. Kami sama-sama susah bangun.
Saat bulan Januari tiba, tepat setelah perayaan tahun baru seluruh penjuru negara melakukan aktivitasnya. Tidak ada cuti tahun baru karena mereka sudah lelah dengan cuti berbulan-bulan.
Tapi hingga akhir bulan waktu itu, ayahku tetap berdiam di rumah. Bermain bersamaku, menjagaku, mengajakku jalan-jalan, dan terus bersamaku sepanjang hari. Karena dahulu aku masih kecil aku tidak mempermasalahkannya.
Kendati begitu, kini aku tahu. Ternyata beliau di PHK tepat ketika semua orang bergembira, malam tahun baru.
Kalian tentu tidak lupa bukan? Ayahku seorang pejabat negara. Masa pandemi membuatnya naik daun karena beliau adalah salah satu orang rajin mengerjakan tugas bahkan saat di rumah sekalipun.
Ayah bilang, ada satu penyesalan dalam dirinya yang tidak bisa ia tebus hingga kini. Meski usianya sudah sangat renta, ia harus menebus itu katanya.
Aku masih belum paham betul saat ayah bercerita hal itu. Waktu itu umurku masih 17 tahun sepertinya. Yang sangat aku ingat adalah ayah melarang ku dengan keras untuk menjadi bagian dari pejabat negara. Beliau lebih suka aku menjadi pegawai meski gajinya tidak seberapa. Saat itu aku hanya patuh dan mengangguk mengiyakan. Dan saat usiaku sudah menginjak 25 tahun, aku kembali bertanya dan meminta penjelasan yang rinci.
Tunggu, perihal kisah yang pasti akan aku ceritakan nanti.
Aku menjalani hari seperti anak seusiaku. Ku rasa aku ingat betul saat aku masuk bangku kelas 1 sekolah dasar, ayah masih senantiasa di rumah. Sepanjang hari. Justru Ibuku lah yang kerja pagi pulang malam. Tapi sepertinya Ibuku tidak mempermasalahkannya.
Saat aku masih sekolah dasar, sepertinya Ayah mendapatkan pekerjaan. Itu dapat dilihat karena Ayah selalu berangkat dan pulang di waktu yang sama, meski satu dua kali terlambat.
Di sekolah, aku bukan anak pandai juga tidak memiliki banyak bakat yang bisa aku jadikan acuan bekal masa depan. Aku juga bukan anak nakal dengan segudang permasalahan. Hidupku mengalir. Mengikuti arus dengan tenang.
Hingga saat aku lulus sekolah menengah atas, Ayah dengan tegas menanyakan langkahku untuk masa depan. Itu adalah kali pertamanya beliau bertanya dengan serius.
Apa yang akan lakukan setelah ini?
Itulah pertanyaan yang Ayah lontarkan. Sebenarnya aku sudah berpikir tentang pertanyaan itu jauh jauh hari, tapi tentu aku harus memikirkan ulang perihal apa yang akan aku katakan pada Ayah.
Jadi waktu itu aku meminta waktu dua hari untuk benar-benar menjawab pertanyaan Ayah.
Selama itu aku menghabiskan waktu di perpustakaan yang tak jauh dari rumah. Sesekali aku juga mampir ke taman dekat sungai yang bersebrangan dengan sekolahku dahulu.
Oh, jangan lupakan aku juga selalu membawa headphone untuk menyumpal telingaku. Aku tidak suka keramaian namun tempat yang aku kunjungi selalu ramai.
Aku benar-benar memanfaatkan waktu untuk memikirkannya dengan matang. Aku adalah seorang pria. Bagaimanapun juga apa yang aku katakan harus bisa dipertanggung jawabkan. Begitulah Ayahku mendidik.
Tepat sebelum waktu dua hari selesai aku sudah pulang ke rumah setelah bermain skateboard sejenak. Jam masih menunjukkan pukul 4 sore. Ayah dan Ibu belum kembali dari tempat kerja. Jadi aku memutuskan untuk menunggu mereka sembari menonton TV.
Pukul 6 mereka sampai rumah. Sampai bosan rasanya aku menanti mereka.
Kali ini ada yang berbeda. Ayah dan Ibu pulang bersamaan sembari tertawa kecil. Sepertinya Ayah baru saja melontarkan jokes receh yang biasa beliau gunakan untuk mencairkan suasana.