Hidup itu hanya sebuah padang memandang saja. Terkadang kita hanya mengenal dan melihat mereka dari luar nya saja. Tapi apa hati nya juga sama seperti yang di perankan di luar?
Tentu saja tidak. Sering kali orang berpura-pura tidak kenapa-kenapa untuk menutupi kesedihan hatinya kerapuhan nya. Agar orang-orang tidak mengetahui nya. Dan di cap mencari simpati saja. Begitupun sebalik nya. Ada yang berpura-pura hidup nya menderita hanya untuk mencari simpati saja.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
nama ku Keysha, tapi aku biasa di panggil KEe oleh keluarga dan teman-teman ku. Aku berusia 17thn yang sedang duduk di bangku kelas dua SMA. Sekolah favorit yang ada di kota P.
Aku bukan murid yang pintar. Lalu bagaimana aku bisa masuk disini?
Tentu saja karena Bu Ela, aku di bantu oleh Bu ela untuk bisa masuk disini. Tapi hanya di bantu masuk disini saja. Tidak dengan biaya. Tentang beasiswa? Tentu saja aku tidak mendapatkan nya. Karena aku bukan murid pintar. Aku hanya beruntung saja bisa masuk disini oleh Bu Ela!
Orang tua ku juga hanya buruh biasa, Ibu ku seorang Bu Bon di sekolah SD. Dan Ayahku sudah tidak ada dua tahun yang lalu. Saat aku masih duduk di bangku SMP.
Saat Ayah pergi meninggalkan aku dan Ibu juga kedua adik ku. Dunia begitu hancur seperti tidak ada kekuatan untuk bisa menjalani kehidupan lagi. Tidak ada sosok Ayah di dalam rumah. Ayah yang selalu melindungi kita selalu membuat canda ketika malam hari kita berlima berkumpul menghilangkan rasa lelah oleh aktivitas.
"KEe pulang," teriak ku saat sudah di depan pintu rumah ku. "Ryan, Revan. Apa yang kalian lakukan?" tanya ku pada kedua adik kembar ku yang berusia 10thn.
"bermain mbak, mbak sudah pulang? Apa mbak akan pergi bekerja setelah ini? Ibu belum pulang mbak" ucap Ryan dan di anggukan oleh Revan.
"Ya mbak harus bekerja untuk membantu kebutuhan Ibu dan biaya sekolah kita" ucapku "apa kalian sudah makan?" tanya ku lagi
"sudah, masih ada dua potong tempe kita sisahkan untuk mbak dan Ibu" jawab Revan.
Aku tersenyum mengangguk. Bersyukur mempunyai dua adik yang bisa mengerti dengan keadaan. Padahal mereka masih kecil. Tapi mereka tidak pernah meminta apapun.
Aku masuk kedalam mengganti pakaian ku lalu makan dulu sebelum aku berangkat bekerja di rumah tetangga untuk menjadi tukang bersih-bersih rumah nya. Ku buka tudung saji memang hanya ada dua tempe goreng dan satu piring nasi. Ku bagi dua nasi untuk ibu ku nanti.
Waktu kini sudah memasuki magrib aku pulang bekerja. Aku mampir ke warung untuk membeli beras dan telur juga mie goreng. Untuk makan malam dan esok pagi. "KEe pulang"
Ku lihat Ibu sedang di depan mesin jahit. Selain menjadi Ibu Bon. Kalau di rumah Ibu juga menjahit. Ku kecup pipi Ibu "selamat malam ibu"
"malam KEe, kamu bawa apa itu" tanya ibu ku
"oh ini buat makan malam kita" ucap ku
"KEe maaf kan ibu nak, seharusnya kamu tidak perluh bekerja. Seharusnya ibu yang menanggung semua nya. Seharusnya kamu fokus saja dengan sekolah mu" ucap Ibu sambil memeluk ku.
Ku usap punggung ibu ku "tidak apa-apa bu KEe ikhlas melakukan semua ini, KEe bisa kok membagi waktu untuk belajar dan bekerja. Ibu tidak perluh khawatir ya?" aku masih memeluk ibu menenangkan ibu pun mengangguk aku melepaskan pelukan.
"ibu beruntuk memilik anak seperti mu" ucapa ibu.
"KEe juga beruntung jadi anak Ibu dan Ayah. Juga kakak si kembar" ucap ku sambil tersenyum dan menghapus air mata ibu.
"KEe masak dulu" ibu mengangguk aku berjalan ke dapur untuk membuat nasi dan menggoreng telur.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Ke esok pagi nya
"Bu kEe berangkat dulu ya?" pamit ku pada Ibu aku harus berangkat lebih pagi untuk bisa sampai sekolahan dengan sepeda ku. Karena jarak sekolah dan rumah ku yang Jauh.
Aku menggayuh sepedaku butuh 15menit untuk sampai disekolah dengan sepeda ku itu. Seperti biasa ketika aku sampai sudah rame tapi untung saja aku belum terlambat. Dan tidak lama kemudian bel pun berbunyi.
"baiklah anak-anak hari ini kita ulangan" ucap Bu Ani. Tentu saja suara gaduh para teman-teman karena ulangan mendadak begitupun aku yang semalan tidak sempat belajar karena kecapean dan tertidur setelah makan.
Tapi ada satu yang terlihat biasa saja, dia Ada disampingku duduk bersama ku. Dia murid baru pindahan dari kota S. Dia duduk santai sambil menyederkan punggung nya di kursi dengan mengunyah permen karet. Pandangan nya lurus ke depan.
Kini suasana menjadi hening karena sibuk mengerjakan ulangan. Sedangkan kan aku pusing karena belum bisa mengisi soal satu pun. Tiba-tiba aku di sodorkan kertas oleh pria yang duduk di sebelah ku. Aa.. Bahkan aku belum tau siapa nama dia. Meski kita sebangku tapi kita tidak pernah mengobrol sama sekali.
Ku toleh pria itu. Dia menatap ku tanpa berkedip membuat ku takut dan menunduk. Lalu dia berkata "kamu bisa menyalin semua jawaban ku"
"haa..?" aku kaget apa aku tidak salah dengar. Benarkah ada yang suka rela membantu ku. Bahkan selam aku sekolah disini aku tidak punya teman. Tidak ada yang mau duduk dengan ku karena aku miskin dan kucel.
"cepat lah, sebelum aku kumpulkan" ucap dia lagi.
Ini kesempatan aku tidak boleh menyia-nyiakan. Akupun dengan cepat menyalin semua isi jawaban dari pria itu.
Setelah selesai ku kembali kan tidak lupa mengucapkan terimakasih. Namun pria itu diam saja bangkit berdiri untuk menyerahkan kepada guru. Disusul oleh ku. Saat sudah di depan Bu Ani.
"Keysha nanti ke ruang guru ya"
"ya Bu" ucap ku lalu ku kembali ke bangku.
"Ardhan" ada sebuah tangan yang terulur di depan ku ku toleh ternyata pria yang duduk di sampingku.
Aku pun membalas uluran tanganya "KEe" ucap ku sebenarnya aku sudah tau nama dia. Ya tentu saja aku hafal nama teman teman sekolah. Hanya mereka saja yang tidak mengenal ku dan berteman dengan ku.
"sekali lagi terima kasih sudah membantuku"
"ya" jawab dia dengan singkat. Suara bel istirahat pun telah berbunyi semua pada keluar.
"Dhan ke kantin yuk" ku lirik teman yang mengajak Ardhan. Ardhan pun berdiri mengikuti mereka.
"Keysha ini tunggakan kamu selama tiga bulan belum kamu bayar, jika bulan ini kamu tidak bisa membayarnya. Kamu tidak bisa mengikuti ujian" kata Bu Ani
Ku lihat selembaran kertas ku baca berapa total pembayaran yang harus ku bayar. Dari mana harus aku dapat uang sebanyak itu. Uang hasil kerja ku untuk keperluan kedua adik ku.
"maaf Keysha kami tidak bisa memberi keringanan lagi. Karena itu sudah peraturan sekolah. Dan seharusnya kamu gunakan kesempatan ini dengan baik. Harusnya kamu belajar dengan tekun. Kamu tau kan kamu masuk sini oleh siapa? Jadi jangan kecewakan orang yang telah menolongmu masuk kesekolah ini" ucap Bu Ani.
"iya Bu maaf, saya akan berusaha untuk lebih giat belajar lagi"
"ya sudah kamu boLeh keluar" aku mengangguk berdiri dan pamit. Aku berjalan dengan lemas. Dimana harus aku mencari uang.
Aku kembali ke dalam kelas ku lihat Ardhan yang juga sudah kembali dan duduk. "kamu dari manap KEe aku tidak melihat mu tadi di kantin? Bahkan aku tidak pernah melihat mu kekantin selama ini?" tanya Ardhan
Tentu saja tidak pernah melihat. Mungkin bisa di hitung dengan jari aku kekantin selama nenginjak sekolah disini. Ya karena aku tidak punya uang. " iya tidak" jawab ku singkat.
"ini untuk mu" Ardhan menyodorkan roti dan minuman botol untuk ku
"Ehh tidak usah Dhan, terima kasih"
"jangan pernah menolak rejeki" tegas Ardhan sambil menatap ku. Aku pun mengambil nya.
"terima kasih sudah baik denganku" ucap ku dan di balas dengan anggukan oleh Ardhan.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Satu tahun telah berlalu kini aku sudah pindah kelas tiga. pertemanan ku dengan Ardhan semakin dekat. Bahkan teman yang lain sudah mau berteman dengan ku. Semua berkat Ardhan.
Ardhan banyak membantu ku bahkan dia mengajari ku semua mata pelajaran. Ardhan membibingku dengan penuh kesabaran sampai aku benar-benar bisa.
Kalian pasti bertanya kenapa aku bisa naik kelas tiga? Tuhan menolong ku lewat seorang Ardhan. Ardhan menolongku tapi itu tidak gratis akan Ardhan tagih jika suatu saat sudah waktu nya. Aku sendiri tidak tau apa yang di maksud oleh Ardhan.
Dan sudah satu minggu ini Ardhan tidak menampak kan wajah nya. Satu minggu Ardhan tidak masuk sekolah. Tidak ada yang tau dia kemana. Bahkan aku mencoba menghubungi lewat ponsel nya tidak aktif. Oh ya Ardhan juga memberi ponsel kepada ku yang sudah tidak ia pakai lagi. Tapi masih bagus.
Satu minggu dua minggu satu bulan Ardhan sudah tidak ada kabarnya. Entah kemana Ardhan pergi. Terakhir aku bertemu dengan nya saat malam minggu Ardhan mengajak ku pergi ke suatu tempat.
"KEe jadilah wanita yang kuat dan tegar. Buktikan pada dunia kamu bisa, kamu harus percaya diri apapun yang nanti kamu lakukan pasti bisa dan jaga diri baik-baik jangan pernah dekat dengan sembarangan pria. Jangan mengenal Cinta sebelum impian dan cita-cita mu terwujud" itulah kata-kata Ardhan di malam sebelum Ardhan menghilang. Dan aku kehilangan sosok seorang Ardhan teman yang selalu ada untuk ku. Teman yang menguatkan aku.