Air mata itu masih terus mengalir untuk membasahi pipi seorang Gadis. Sudah cukup lama ia membiarkan wajah nya basah oleh Air mata. Dan seorang pria sedari tadi masih Setia untuk menemani.
Bahkan pria itu ikut merasa sakit melihat pemandangan sahabat nya yang benar-benar terlihat kacau. Mata yang sudah membekak, hidung yang begitu merah. Dan rambut yang sudah berantakan.
"udah ya Tar? Jangan nangis lagi." entah sudah berapa kali sang sahabat mengatakan itu "please Tar, jangan siksa diri Lu sendiri! Sayangi Air mata Lu, dia gak pantas, sama sekali gak pantas lu tangisi!"
"apa sih Salah gue Lang? Kenapa mereka tega banget sama gue?"
"Lu nggak Salah apa-apa Tar, tapi dia! Mereka yang memang bodoh. Dan dia nggak pantas bersama Lu." ucap sang sahabat yang bernama Elang "jadi udah ya jangan tangisi orang-orang seperti mereka? buktiin kalau Tari itu Gadis yang hebat, Gadis yang kuat. Gak akan kalah hanya karena dua orang saja." Elang masih terus membujuk dan menghapus air mata Tari yang belum juga berhenti membawa kedalam pelukannya.
"gue Capek Lang." lirih Tari dalam pelukan Elang. Dan mata Elang pun kini ikut memerah ikut merasa sakit tentang kisah hidup sahabatnya.
"itu berarti lue di suruh berhenti nangis." hiburnya "minum dulu ya? Habis ini kita makan, lue pasti capek habis menguras bak Air matakan?." canda Elang sambil tersenyum menggoda Tari.
Tari pun minum yang di sodorkan oleh Elang, dan menghabiskan isi nya "tuhkan pasti baknya udah kosong sampai satu gelas tandas." canda Nya lagi.
"apa gue harus relain lagi Lang?" tak menanggapi candaan Elang. Justru Tari malah bertanya "apa gue harus mutusin persahabatan gue sama dia? Gue-----Gue takut gak kuat kalau harus melihat mereka berdua Lang. Gue Kira Dia penyembuh Luka gue, tapi ternyata malah membuat Luka ini semakin mengangah. Dan sahabat gue yang selalu jadi tempat curhat gue. Juga ikut Andil dalam Luka gue saat ini." Setelah mengatakan itu Tari mendongak kan wajahnya agar Air matanya tidak luluh lagi. Menarik nafasnya lalu mengeluarkannya dengan kasar. "semesta benar-benar Kejam terhadap gue, keknya gak ada tempat untuk gue bahagia di Bumi ini."
"Tari Stop!" sentak Elang. ucapan Tari semakin menglantur saja, dan Elang benar-benar tidak suka melihatnya "mana si Tari yang selalu ceria?"
"Tari yang Ceria sudah Lelah." selah Tari "sudah Lelah dengan Sekenario yang harus berperan dengan kehidupan yang tak kunjung ada kebahagiaan."
"Tari istighfar!" ucap Elang sambil mengguncang bahu tari. "Astagfirullah Tari."
"lu nggak tau Lang!" Seru Tari "Lu nggak tau gimana jadi gue yang harus selalu mengalah! Dan Lu nggak tau gimana di khianati orang yang kita percaya! orang yang kita sayangi berkhianat dengan orang yang dekat dengan kita. Dengan Sepupu lu Sendiri! Dengan Sahabat lu Sendiri! Sahabat yang selalu bersama kita. Tempat kita bertukar cerita, hari-hari kita selalu bersama, pergi bersama. Makan bersama dan kadang tidur Bersama. Tapi malah menikung kita dari Belakang. Padahal Dia tau gue baru bisa menerima luka yang dulu, luka yang di berikan oleh sepupu gue sendiri, tapi apa? dia malah membuat Luka yang sama!"
"ya! Lu bener." serkah Elang, ia menarik nafasnya pelan sebelum ngelanjutin ucapan nya "gue emang belum pernah ngerasain semua itu, sebab itu gue mohon sama lue jangan berbicara yang enggak-enggak, ingat Tar ada gue yang akan selalu ada menemani lu." menangkup wajah Tari di hapusnya Air mata itu kemudian memeluknya. Seketika tangis Tari pecah lagi
Terkadang kita merasa dunia itu memang Kejam terhadap kita, dan kita tidak pernah sadar bahwa diluar sana masih ada orang yang tidak seberuntung kita. Sering kali manusia membandingkan hidup sendiri dengan orang lain.
Ke Esok harinya
"musuh berkedok sahabat!" Elang mengucapkan kata itu kepada seorang perempuan yang ada di hadapannya. Yang tak lain adalah landa sahabatnya juga sahabat Tari. Yang di katain cuma memalingkan wajah nya ke arah kiri.
Hari ini Elang sengaja mengajak Linda untuk bertemu, Elang ingin tau apa Alasan Linda mengapa tega menghianati Tari. Padahal Sejauh ini yang Elang tau mereka berteman sangat baik tidak pernah ada masalah. Mungkin kah Linda memilik dendam tersembunyi?
Elang tersenyum menarik sudut bibirnya. "bisa Lu jelasin Lind?"
"gak ada yang perluh di jelasin."
"oh--ya? Lu yakin?"
"gue gak punya Alasan buat ngejelasin sama Lu!" tegas Linda namun masih tetap memalingkan wajah nya. Seperti tak berani untuk menatap Elang. Sang sahabat.
Elang Mendesahkan nafas. "Lu tau kan Lind. Baru Aja Tari menata hati nya, Dia baru aja bisa menerima dan.. Lu tau lah pastinya gimana Tari beberapa bulan ini, berjuang melawan rasa sakit bukan hanya sakit hati namun Fisik dan mental nya Lind."
"gue Tau!"
"kalu lu tau kenapa Lu lakuin itu? Punya Dendam apa lu sama Tari hah?"
"ini masalah hati." ucap Linda yang di tanggapi kekehan dari Elang. Bahkan sebuah tepuk tangan juga Elang berikan pada Linda.
"Bravo--Bravo!!
"udah gak ada yang perluh di obrolkan lagi kan? Gue sibuk" linda bangkit berdiri sambil memberikan sebuah undangan. "ini buat lue gue juga titp untuk Tari, terserah kalian mau datang atau nggak." tanpa menunggu jawaban dari Elang. Linda pergi meninggalkan Elang sendiri dan setelah kepergian Linda Elang mengusap wajahnya kasar. Ia tak ingin hubungan dengan kedua sahabat nya itu retak karena seorang laki-laki. Haruskah ia mencari tau. Akan Elang lakukan nanti.
"huuuffffttt.. Percintaan selalu menyebabkan permusuhan." Elang bangkit berdiri meninggalkan cafe. Sambil membawa undangan yang di berikan Linda Sekarang tujuan nya ke kerumah Tari untuk menghiburnya. Beruntung hari ini minggu jadi ia libur berkerja.
"heeiii!." sapa Elang ikut duduk disamping Tari yang berbeda di pinggir kolam ikan. Sedang Memberi makan ikan peliharaan papanya. Sedangkan Tari hanya meliriknya sebentar.
"gue memilih mutusin hubungan persahabatan denga Linda." ucap Tari tiba-tiba
Elang tak segera menjawab ia sengaja diam untuk mendengarkan ucapan Tari selanjutnya. "gue gak mau lagi berurusan dengan orang-orang terdekat gue yang melukai hati gue, gue milih mundur. Milih menjauh, gue gak mau hati gue sakit terus jika masih tetap menjalani hidup dan berdekatan dengan penyebab sakit hati gue. Mungkin gue terlihat Lebay. Tapi ini lah cara gue menyembuhkan sakit Hati. Seperti halnya gue yang membatasi hubungan dengan Sepupu gue. Dan akan gue lakukan itu juga kepada Linda."
Menghapus Air mata dengan telapak tangannya. Elang masih setia mendengarkan apa yang di katakan oleh Tari.
Terkadang seseorang tak membutuhkan respon untuk curahan hatinya. Yang penting di dengarkan dan di terima dengan baik itu bisa membuatnya lega karena uneg-unegnya telah ia keluarkan.
"gue juga gak mau tau Alasan mereka kenapa melakukan itu terhadap gue. Gue akan belajar mengikhlaskannya meski itu sangat sulit. Akan gue jadikan semua itu pelajaran untuk kedepannya agar gue bisa lebih hati-hati lagi dengan orang-orang terdekat gue untuk tak mudah menyerahkan kepercayaan." Tari terkekeh namun kekehan itu terdengar pilu di telinga Elang. Elang tau kekehan itu adalah sebuah tangis yang berusah Tari tahan.
"Lu bakal ngehianati gue juga gak ya Lang?" tanya 'nya" kini dengan senyum yang di paksakan. Elang tak menjawab ia menarik Tari ke dalam pelukannya.
"gue akan selalu ada untuk lu Tar"
"meski nanti lu udah berkeluarga?"
"ya! meski gue udah berkeluarga."
"gue pegang janji Lu."
"gue gak akan janji Tar, tapi akan gue Usahain. Jadi jangan sedih lagi ya?" Tari mengangguk masih dalam pelukan Elang.
"iya gue udah nggak apa-apa kok." Tari memperlihatkan senyum nya kepada Elang.
Kini Elang ingin memberikan undangan dari Linda kepada Tari. Tapi Elang tidak ingin merusak suasana yang baru saja tenang.
"Lang Beli seblak yok?" ajak Tari tiba-tiba
Elang hanya terkekeh kebiasaan Tari setelah menangis ia akan meminta makan pada Elang. Tentunya Elang langsung setuju. "tapi bersihin dulu Air mata lu. Entar gue di kira ngpa-ngapain lu lagi" ucap Elang yang di anggukin Tari. Tari pun berdiri untuk membersihkan wajahnya.
"gue janji Tar kali ini gue bakal jagain lu lebih ketat. Gue akan seleksi dulu orang-orang yang dekat sama lu. Udah cukup lu disakiti." ucap Elang
"udah Ah kok melow lagi si."
Elang terkekeh iya.. Iya sorry. Dah sana jangan lama-lama. Gue pesanin dulu seblaknya biar entar kesana kita tinggal makan, ada yang lain gak yang mau dimakan?"
"emmm piscok kreess, sama boba Thai tea es balok nya yang banyak ya?" pinta Tari lalu bergegas masuk untuk kekamar nya.
Didalam kamar Tari mengecek ponsel yang berada di atas meja. Di bukanya aplikasi WhatsApp ia mencari dua nama kontak. Satu nama Linda dan satu lagi Sakti. Keputusan sudah bulat ia akan menjauhi keduanya tidak ingin terlibat hubungan apapun. Akan menganggap keduanya tidak saling mengenal. "sorry gue gak mau hati gue makin sakit jika gue tetap menyimpan nomer kalian." Setelah menghapus kedua kontak itu Tari meletakkan ponselnya kembali. "seharusnya gue gak ngenalin Sakti ke lu Lind."
Dua kali di khianti oleh orang-orang terdekatnya. benar-benar membuatnya sakit yang teramat dalam. Bayangkan baru beberapa bulan ia telah bisa menutup luka itu. Menerima orang baru lagi. Namun orang baru itu malah membuka luka yang sudah hampir kering. Bahkan sekarang partner nya sahabatnya sendiri. Skenario hidup yang luar biasa bukan? Bisa kalian bayangkan bagaimana rasanya berada di posisi seperti itu?" yang pernah pasti tau sakitnya. Tapi semua itu tinggal kepribadian dari kita sendiri. Jika punya kepribadian yang lapang tentu menerima nya dengan ikhlas. Menganggap bumbu percintaan di kehidupan. Namun jika kepribadian itu kecil merasa hidup tidak adil kadang bisa sampai mengantarkan nyawa nya sendiri kedalam kematian.
Dan orang yang tidak pernah berada di posisi itu akan mengatakan korban sangatlah Bodoh. Hanya karena cinta rela merenggang nyawa.
Jangan pernah menyepelekan luka yang di derita seseorang, jangan menghakimi dengan kata-kata yang telah menganggu mentalnya. Mereka juga tidak ingin mengalaminya namun Takdir sudah menggariskannya.
Dan terjadi lagi
Kisah lama yang terulang kembali
Kau terluka lagi
Dari cinta rumit yang kau jalani
Aku ingin kau merasa
Kamu mengerti aku mengerti kamu
Aku ingin kau sadari cintamu bukanlah dia
Dengar laraku...
suara hati ini memanggil namamu
Karna separuh aku. Dirimu
Ku ada disini
Pahamilah kau tak pernah sendiri
Karna aku selalu
Di dekatmu saat engkau terjatuh.
By Noah