Langit dan bintang adalah dua hal yang dapat dipisahkan oleh hujan. Jika langit ingin hujan, bintang akan bersembunyi karena Ia tak mau terkena tangisan dari langit.
Dan bulan?? Bulan adalah mak comblang yang mempertemukan langit dan bintang, ah apa mungkin nyamuk ya??
-----
"Bulan!"
Ah, seseorang memanggil ku... Dia adalah Bintang, teman ku.
"Hei, Bintang. Kenapa?" Tanya ku padanya.
"Aku baru memastikan perasaan ku setelah berpikir satu harian. Aku benar-benar menyukai kak Langit!" Aku membeku.
Jujur saja, aku sudah mengetahui ini dari awal pertemuan Bintang dan kak Langit. Ya, aku yang mempertemukan mereka.
Mempertemukan orang yang ku cintai secara diam-diam kepada sahabat ku, Bintang. Bodoh, tapi itulah aku. Aku selalu mendahulukan kebahagiaan orang lain dibanding kebahagiaan sendiri.
"Jadi, kapan kamu bakalan nembak kak Langit?" Tanya ku dengan senyum terpaksa.
"Aku nembak?? Jangan dong, aku kan perempuan. Aku tunggu kak Langit nya aja deh yang nembak." Katanya dengan malu-malu.
Aku hanya mengangguk pasrah.
Mau bagaimana lagi?? Sejak awal toh ini sudah salahku.
Kami pun berjalan menuju kantin kampus.
"Bintang, Bintang!" Panggil salah seorang yang duduk di meja.
Ah, itu Pelangi.
Bintang yang merasa dipanggil pun pergi menghampiri Pelangi dan berkata, "Lan, aku ke sana dulu ya."
"Iya." Jawab ku menyetujui.
Melihat Bintang sedang asik berbicara, aku memutuskan untuk mencari tempat duduk sendiri, tempat yang jauh dari geng Pelangi.
Tapi sebelum itu aku memesan satu gelas chocolate latte, sebagai teman ku.
***
Sedang asik-asiknya mengerjakan tugas sembari sesekali menyeruput coklat hangat ini, aku tiba-tiba mendengar suara tawa yang sangat familiar di telinga ku.
"Itu ketawa nya kak Langit!" Gumam ku dalam hati sembari melihat ke kanan dan juga ke kiri.
Ah, ternyata kak Langit duduk didalam geng Pelangi. Entah mengapa, tapi aku selalu merasa aku tidak pantas untuk masuk ke dalam geng mereka.
Aku merasa diriku tidak seru seperti mereka dan diriku membosankan. Amat membosankan.
"Hahhh, biarlah..." Kata ku dalam hati dan kembali fokus pada tugas-tugas ku.
***
Malam harinya, Bintang pulang agak terlambat hari ini.
"Kemana sih si Bintang?? Kenapa lama banget pulang nya? Padahal udah jam 23.45." Aku menggerutu kesal.
Baru saja aku menggerutu dalam hati, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar kos dari luar.
Dengan cepat aku membukakan pintu itu.
"Kak Langit?" Tanya ku bingung.
"Malam, Bulan. Aku mau anterin Bintang nih, dia mabuk." Katanya padaku.
"Mabuk?? Bintang mabuk?? Siapa yang ajak?!" Kali ini aku sedikit judes.
Dia terdiam.
"SIAPA YANG AJARIN BINTANG MINUM?!" Aku membentak kesal.
"P-Pelangi, Lan." Jawabnya dengan gugup.
"PELANGI?!!!" Tanya ku tak percaya.
Dia menjawab pertanyaan ku dengan sebuah anggukan.
"MEMANG DASAR PEREMPUAN GA BENER." Gerutu ku kesal...
"Lainkali jangan ajak Bintang ke tempat haram kayak gitu!!" Tegas ku.
"Kenapa sewot banget sih?? Kamu juga bukan mama nya." Katanya dengan nada kecil tetapi aku masih bisa mendengar nya.
"Bintang anak yatim piatu. Dia kehilangan kedua orang tua nya sejak umur 10 tahun. Aku dan Bintang udah bersahabat sejak kami berumur 7 tahun, dan sekarang kami sudah berumur 27 tahun, udah 20 tahun kami bersahabat. Bagi aku, Bintang itu sosok yang penting. Sama, Bintang pun anggap aku sosok yang penting dalam hidup nya, jadi wajar kalau aku sewot." Jelas ku panjang lebar.
Dari raut wajahnya, terlihat jelas jika Ia terkejut.
"Maaf, aku ga-"
"Tolong!!!! Tolong.... Tolong jangan ajak Bintang masuk ke tempat haram seperti itu, tolong..." Lirih ku.
Dia mengangguk.
"Maaf, aku teledor kali ini." Katanya sambil menunduk.
"Sudahlah, langit sudah malam... Kamu harus cepat-cepat pulang sebelum hujan." Kataku sambil berjalan masuk ke dalam kamar kos.
***
Esok harinya, Bintang bangun dengan kepala yang pusing.
"Kamu semalam kemana?" Tanya ku mengintrogasi.
"Eughh... Aku semalam diajak minum..." Katanya pelan.
"Sama siapa? Pelangi?"
Bintang mengangguk.
"Hei, Bintang... Boleh aku memohon padamu?" Tanya ku secara pelan.
"Mohon apa sih, Bulan..."
"Tolong jauhi Pelangi." Ucap ku.
Bintang melotot.
"Jauhin Pelangi kamu bilang?? Gila ya? Alasannya apa?" Tanya Bintang bertubi-tubi.
"Dia ga baik untuk-"
"STOP, BULAN."
Aku tertegun.
Kemudian aku mengangguk dan keluar.
Kini aku mengetahui sesuatu, Bintang sudah berubah.
Semenjak Bintang dekat dengan Pelangi dan Kak Langit, Ia berubah. Ini salah ku sebenarnya, ini salahku... Ini salahku.
Aku menangis dalam diam.
***
Beberapa hari ini hubungan aku dan Bintang menjadi canggung. Kadang Bintang bisa pulang cepat, kadang juga Ia pulang larut.
Seperti hari ini, dia pulang lebih cepat dari aku.
"Kenapa kamu didepan pintu?" Tanya ku saat masuk ke dalam kos kami.
"A-aku mau ngajak kamu ke taman..." Katanya dengan gugup.
"Kenapa ga sama kak Langit aja? Atau sama pelangi? Kamu biasanya dekat kan sama mereka." Jawab ku santai sambil membuka laptop ku.
Tiba-tiba Bintang berdecak, "Ck, bilang aja kalau ga mau. Susah banget!" Gerutu nya .
Ya, Bintang kini menjadi super pemarah dan sensitif. Mungkin tertular virus dari Pelangi? Yaaaa, siapa yang tahu.
*
Aku menolak ajakan Bintang tadi, tapi tiba-tiba muncul sebuah notif dari ponsel ku.
'Ayo masuk! Bintang sedang melakukan siaran langsung sekarang!'
Tidak biasanya Bintang melakukan live... Ada apa sih?
Karena penasaran, aku pun masuk ke dalam live bintang.
Disana aku melihat orang banyak yang sedang heboh, dan samar-samar aku mendengar suara, "Wihhh, Bintang di tembak sama Langit guys!" Kata salah seorang dari mereka.
"Bintang, aku suka sama kamu. Kamu mau jadi pacar aku??" Aku melihat seorang lelaki menyatakan perasaannya kepada sahabat ku.
Laki-laki yang merupakan orang yang ku suka.
Sial! Air mata ku jatuh mengenai ponsel ku.
"Jangan, Bintang. Jangan!" Pinta ku dalam hati.
Konyol memang, tapi aku kasih belum rela.
"Iya kak. Aku juga suka sama Kakak... Emmm... Aku mau."
Sial, sial dan sial! Kalimat yang paling aku takutkan kini terucap dari mulut Bintang.
Dengan cepat aku menutup ponsel ku kemudian aku keluar dari kamar yang aku rasa menyesakkan ini.
Aku menuju ke suatu tempat, tempat yang jarang sekali orang datangi.
"F*CK YOU, BINTANG!" Teriak ku meluapkan amarah ku.
"GUE BENCI BANGET SAMA LO, BINTANG!!! GUE BENCI!" Aku menangis.
Aku terduduk di tanah hijau ini.
Dibawah langit yang penuh dengan bintang, aku menangis dalam diam.
-TAMAT-
вσ вαhhh
17 Januari 2022, Senin