Sebelumnya, cuma mau beri info. kalo cerpen kali ini itu lanjutan dari cerpenku dari tantangan hari ke 6 yang berjudul "langit berbintang." Jadi buat yang belum baca, baca dulu yuk. ヽ( 'ω' )ノ
.
.
.
Hari ini, aku akan menemui sahabatku untuk pertama kalinya. Sahabat? Kenapa baru bertemu pertama kali, dan sekarang? sebelumnya, kami hanya sebatas sahabat lewat online saja. Aku masuk ke dalam grup komunitas pecinta astronomi, Galaxy namanya. Aku berteman dengan beberapa anggota digrup itu, semuanya memiliki pengetahuan dan pendapat sendiri-sendiri tentang alam semesta. Tapi hanya ada satu orang yang membuatku kagum dengan pendapatnya sendiri. Ya, itu sahabatku. Alin si manis.
Aku hari ini janji akan bertemu dirumahnya. Bukan hanya mampir saja, mungkin aku akan tinggal disana selama dua sampai tiga hari. Dan tentu saja aku sudah dapat ijin oleh orang tua Alin untuk tinggal, bahkan mereka sudah lama menantikan kunjunganku.
13.01. 2 januari 2021.
Aku pergi keluar kota. Berangkat ke tempat sahabatku untuk pertama kalinya. Aku memilih naik taxi, lebih nyaman daripada naik bus, di bus terlalu ramai untukku yang suka ketenangan. Lumayan lama aku menunggu taxi menghampiriku yang berdiri disisi jalanan, saat ada taxi datang, aku segera masuk, lalu memberitahukan lokasi yang ingin kutuju. Pak sopir mengangguk setuju dan menancapkan gasnya.
Aku tidak terlalu bosan saat perjalananku berlangsung, karena pak sopir berbincang-bincang denganku. Dia membahas tentang anaknya yang juga seumuranku. Setelah selesai dengan pembahasan yang dia miliki, giliranku membahas tentang hal-hal yang kuminati. Tentu saja tentang hal-hal yang menyangkut astronomi. Pak sopir mendengarkaknku dengan cermat, dan sesekali ber oh ria. Tapi, menurutku pak sopir tidak terlalu paham dengan apa yang sedang kubahas. Dia bahkan terkejut saat aku bilang bumi terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu. Selain dari itu, aku merasa senang bisa berbincang-bincang dan saling bertukar pendapat dengannya. Sebab itu Perjalananku jadi tidak membosankan.
15.45
Setelah hampir tiga jam menempuh perjalanan, akhirnya aku sampai. Bukan sampai tepat didepan rumah sahabtku, lebih tepatnya aku lebih dulu turun dari taxi karena memang jalan didepan sudah tidak bisa dilewati kendaraan yang lumayan besar. Sisanya aku akan berjalan sendiri.
Sebelum aku pergi, aku lebih dulu berpamitan dengan pak sopir, dan tidak lupa aku mengucapkan terima kasih padanya.
Sembari berjalan santai, pandanganku menelusuri sekitar. Langit terlihat mendung, mungkin sebentar lagi hujan. Walau langit di penuhi dengan awan berwarna abu-abu, pemandangan derah pedesaan ini tetap indah, berbeda dengan derah kota yang seisinya hanya gedung gedung tinggi dan rumah bertingkat. Disini terlihat ada banyak lahan kosong yang dipenuhi rumput liar dan bunga. Udara disini pun sejuk, suhunya tidak sepanas di kota karena tumbuh banyak pepohonan. Ada juga beberapa penduduk desa itu yang saling mengobrol, sedangkan anak mereka bermain-main dilapangan sekitar. Desa ini terlihat damai.
Selesai melihat-lihat sekitar aku kembali teringat tentang tujuanku kesini. Rumah Alin, ada dimana? Aku kurang jelas dengan lokasi yang dia kirim kepadaku. Aku harus cepat sampai sebelum hujan turun, jadi aku bertanya dengan seseorang yang sedang lewat didekatku.
“Permisi pak, rumah Alin ada dimana ya?” Aku bertanya dengan nada sesopan mungkin.
“Alin? Oh nak Alin ya. Dari sini kamu lurus saja, terus belok kanan sekitar empat puluhan meter sudah sampai kok, warna rumahnya putih dan ada taman kecil didepannya ya nak.” Bapak itu menjelaskan denah lokasinya sembari menunjuk-nunjuk sesuai arah yang dia ucapkan, setelah kalimatnya selesai, dia tersenyum ramah padaku.
Aku membalas senyumannya dan sedikit menunduk padanya, kemudian pergi menuju lokasi yang dijelaskan bapak tadi. Baru menempuh setengah jalan, tiba-tiba hujan turun, lumayan deras. Karena aku tidak mau kebasahan, aku langsung berlari menuju rumah terdekat untuk meneduh. Ah, tebakan ku tadi benar. Sekarang aku malah terjebak hujan. Kapan hujan ini akan berhenti. Aku tidak bisa memaksakan diriku untuk berlari, jarak menuju rumah alin masih lumayan jauh. Takutnya tasku yang berisi beberapa baju jadi kebasahan jika aku benar-benar melawan hujan. Jadi tidak ada pilihan lain selain menunggu hujan reda.
Dalam waktu penantianku, aku jadi sedikit terkejut akibat mendengar suara seseorang terpeleset dijalan yang tidak terlalu jauh denganku.
“Aduh.. pantatku,” Seorang gadis mengaduh. Selesai mengaduh dia langsung bangkit berdiri, sembari menepuk-nepuk bagian jas hujan nya yang kotor terkena air bercampur lumpur dari jalanan.
“Iya iya deh, aku nggak loncat-loncat lagi, ishh jadi berantakan belanjaanku nih.” Gadis itu memunguti barang-barang yang jatuh berantakan dijalan, sambil mengerutu. Dia marah dengan air hujan dan jalan?
Aku masih menatapnya lamat-lamat. Gadis aneh, batinku. Gadis itu seperti tidak asing, apa aku pernah bertemu dengannya di suatu tempat?
“Eehhhh, Rudy!!!” Gadis itu berlari kearahku, membuatku terkejut. Alin? Itu Alin!
“Rudy! Aku kira kamu masih dalam perjalanan. Aku jadi khawatir karena hujan turun. Ternyata kamu malah terjebak disini.” Alin langsung memelukku, aku membalas pelukannya. Moment berpelukan ala teletabis ini membuat rasa rindu kami hilang seketika. Beberapa tahun berteman tapi tidak pernah sekalipun kami bertemu, akhirnya hari ini kami benar-benar bertemu.
“Alin.. aku sedikit kebasahan nih ehehe.” Aku terkekeh canggung. Jas hujan Alin yang basah membuat bajuku sedikit kebasahan juga. Sebenarnya tidak masalah sih, tapi masalahnya aku tidak suka basah-basahan.
“Ah iya, maaf-maaf. Aku lupa,” Alin langsung melepas pelukannya.
“Yuk pulang, ah tidak-tidak. Aku yang pulang, kamu yang datang. Yuk ah!” Alin menarik tanganku, berniat ingin membawa ku pergi ditengah-tengah hujan. Aku segera menghentikan langkahnya.
“Aku., tidak suka hujan apalagi kebasahan.” Lirihku ragu.
“Yaampun Rudy, Sekali lagi aku lupa. Efek terlalu antusias karena akhirnya bisa bertemu denganmu hehe. Nih! Untung aku bawa tadi buat jaga-jaga. Kamu yang pakai. Aku sudah ada jas hujan jadi tidak perlu berbagi.” Alin memberikan payungnya kepadaku.
Kubuka payung yang diberikan Alin, lalu kami pergi. Alin berjalan didepanku. Kelakuannya membuatku heran. Gimana bisa dia menikmati hujan sembari lompat dengan girang dan bernyanyi begitu.
Alin menoleh kearahku, tersenyum lalu berkata. “Ada apa? Kenapa menatapku heran begitu heh. Jangan bilang kamu heran melihatku yang bisa menikmati hujan seperti ini,” Aku terkejut, tebakannya tepat seperti yang aku pikirkan.
“Aku nggak aneh ya! Yang aneh itu kamu. Mirip kucing liar aja, gasuka basah.” Alin mendengus.
“Lah kok aku disamain kucing liar.” Aku juga tak mau kalah, ikut mendengus kesal. Tiba-tiba Alin mencipratkan sedikit air hujan ke wajahku. Aku bergidik kedinginan, dan menjauhi Alin agar tidak terkena cipratan air hujan lagi darinya.
“Ayolah.. rasakan sekali ini saja keseruan dari hujan, hujan tidak semenyebalkan yang kamu tahu.” Alin berseru. Dia mangambil alih payungku, membuatku kehujanan karena tidak ada lagi perlindungan yang kupunya. Aku berlari, hendak mengambil alih kembali payungnya tapi Alin malah kabur, dia semakin menjauh dariku.
“Alin kembalikan panyungnya!!!” Aku berseru, masih mencoba mengejarnya.
“Hahaha lihat, kamu menikmatinya kan, air hujan ini segar banget.” Alin tertawa sambil meloncat-loncat, membuat genangan air yang ada disekitarnya jadi terciprat kemana-mana.
Melihat tawa Alin membuatku ikut bahagia. Tanpa kusadari rasa sebalku terhadap air hujan jadi menghilang, aku tersenyum lalu seketika menjadi tawa mengikuti Alin. Kami berakhir main hujan-hujanan sampai kerumah.
* * *
“Ma, pa.. lihat nih siapa yang sudah datang nih,” Alin berseru, suara nya menggema keseisi ruang. Dia menoleh kesegala arah, sedang mencari mama dan papanya. Tapi mereka belum kunjung datang. Sedangkan aku, merasa tidak enak hati karena masuk kerumah mereka dengan basah kuyup, air dari bajuku yang basah jadi menetes kemana-mana. Aku sempat ragu untuk masuk tadi, tapi Alin tetap memaksaku masuk dan bilang kalo hal ini tidak apa-apa.
Aku kikuk, berjalan mengikuti Alin dibelakangnya.
“Permisi, om.. tante..” Ucapku lirih. aku menoleh keseisi ruang.
Beberapa detik setelah itu ada dua orang turun dari tangga, mereka turun dengan hati-hati. Salah satunya menatapku, “Ehh nak Rudy, rulopd yaa” Ucapnya antusias. Wanita itu bergegas menuruni tangga, tindakan hati-hati nya tadi sudah tidak dilakukan. Pasti itu mamanya Alin.
“Sore tante Tri.. ehehe” aku segera bersalaman dengan tante Tri setelah jarak kami menjadi dekat. Lalu aku giliran bersalaman dengan papa Alin, om Toro. Mereka menyambutku dengan ekpresi ramah.
“Lho nak, kok kamu bisa basah kuyup gini?” Tanya tante Tri, yang sekarang sedang menatapku heran. Kemudian tatapannya beralih kearah Alin. Tante Tri menatap Alin dengan tatapan tajam serta mengintimidasi. Alin tekekeh, mengalihkan pandangan dari tatapan mamanya. Sepertinya tante Tri sudah tau maksud dari jawaban dangkal anaknya.
Tante Tri mengela nafas, memaklumi tingkah anaknya. “Sudahlah, nak rudolp mandi dulu saja. Alin, kamu juga mandi setelah rudolp selesai.” Tante Tri mendengus setelah menatap anaknya, kemudian tante Tri pergi meninggalkanku untuk duduk disofa dan mulai menonton tv bersama om Toro.
Alin mengantarku mengantarku menuju kamar mandi, dia membiarkanku mandi terlebih dahulu. Setelah aku selesai mandi, giliran Alin mandi. aku menunggunyae selesai mandi. Saat Alin juga selesai dan keluar dari kamar mandi, dia menatapku heran, kenapa aku belum pergi dan masih menunggunya sampai selesai. Aku hanya terkekeh menjawabnya.
18.30
Kami makan malam bersama. Makan malam yang menyenangkan, karena kami sembari berbincang-bincang. Suatu pembahasan yang lucu menimbulkan tawa kita pecah. Walau aku terpaku dengan melihat tawa mereka, aku tak lupa dengan rasa masakan Tante Tri yang juga tak kalah enak dengan rasa masakan mamaku. Sesekali aku memuji rasa masakan Tante Tri di sela pembicaraan mereka, Tante Tri tersipu malu saat mendengar pujianku. “Ah.. masa sih, biasa aja deh perasaan rasa masakannya.” Begitu ungkapnya. “Halaahh bohong, merendah yaaa.” Om Toro malah protes kepada tante Tri dengan raut wajah mengejek. Sekali lagi kelakuan keluarga ini membuatku tertawa. Keluarga yang harmonis.
21.22
Aku sudah berada dikamar yang telah Alin siapkan untukku. Belum terlalu malam, bukan waktu yang tepat untukku tidur sekarang. Aku termangu menatap langit malam diluar jendela. Beberapa kali ketukan membuatku tersadar, dan langsung mengalihkan pandangan ku kearah pintu.
“Rudy, aku masuk ya.” Alin masuk setelah lenggang beberapa detik tak kunjung mendapat jawaban dariku.
“Lagi apa? Lihat bintang ya. Masih ingat kan janji kita besok pagi heheh.” Alin terkekeh diakhir kalimatnya. Dia langsung duduk begitu saja ditepi Rajang, menatapku dengan senyum sumringah khasnya.
“Hm.. ingat dong! Aku habis lihat langit berbintang tadi juga sedang memikirkan itu kok.” Jawabku.
“Hmm begitu- ah yaampun, bodoh banget sih aku hari ini. Tunggu sebentar ya Rudy.” Alin langsung keluar dari kamarku dengan tergesa-gesa. Aku menatap punggungnya dengan heran.
Tidak lama, Alin kembali. Dia membawa dua cangkir teh dikedua tangannya. Alin menyodorkan satu cangkir kepadaku, aku menerimanya. Bukannya aku tertidur, jadinya kami malah duduk disofa bersama, saling meminum the hangat sedikit demi sedikit sambil menatap langit diluar jendela.
“Kita sesama pecinta teh. Mumpung kamu disini, jadi aku buatkan teh kesukaanmu. Teh lavendernya enak kan.” Ucap Alin setelah selesai menyeruput tehnya.
“Iya iya enak kok. Punyamu teh apa?” Tanyaku penasaran.
“Teh hijau.” Alin menjawab singkat, dan kembali menyeruput tehnya.
Kami bercerita banyak hal sampai hampir tengah malam. Alin tersadar setelah melihat jam yang jarum pendeknya berada di tengah-tengah angka sepuluh dan sebelas. Sebelum pergi dari kamarku, Alin lebih dulu mengucapkan selamat malam dan selamat tidur kepadaku. Saat keberadaan Alin sepenuhnya hilang, aku langsung naik ke ranjangku dan segera tidur. Besok pagi adalah hari inti tujuanku kesini. tidak boleh terlewat karena aku terlambat tidur.
Kali ini aku benar-benar mengantuk. Entah kenapa aku bisa mudah tertidur, padahal biasanya aku sering tidak bisa tidur, dan pada akhirnya memilih terjaga, menatap pergerakan bintang-bintang dimalam hari sampai aku mengantuk. Ah benar, pasti karena efek teh lavender dari Alin.
* * *
“Psstt Rudy bangun. Ingat janji kita. Ayolah bangun.” Suara lirih Alin membuatku terbangun, tapi masih setengah sadar. Aku meraih smartphoneku dinangkas sebelah ranjang, lalu menyalakannya.
03.16
Aku segera duduk ditepi ranjang, sambil menggosok mataku pelan agar rasa kantukku hilang. Kutatap wajah Alin lamat-lamat. Pandanganku masih kabur, apalagi ditambah cahaya yang remang-remang.
“Ah.. janji. Ayo, kita lihat dimana? Teleskopmu?” Ucapanku lirih, mendadak aku antusias karena teringat janjiku dengannya.
“Dilantai atas. Ayo kutunjukkan tempat favoritku, tempat itu tidak kalah dengan kamar favoritmu loh.” Alin menarik tanganku, menuntuku menuju lantai atas.
Rasa penasaranku terjawab setelah Alin membukakan pintu ruang yang tadi dia maksudkan. Aku terpukau menatap seisi ruangan. seisi ruang dipenuhi banyak hiasan bertema alam semesta. Bahkan atapnya pun berwarna biru kehitaman diisi dengan urutan planet-planet yang ada dialam semesta. bintik-bintik putih menambah kesan gemerlap cahaya seperti bintang di langit malam.
“Sini Rudy.” Ajak Alin padaku agar aku mendekat. Alin sudah memposisikan teleskopnya ke langit yang Nampak diluar jendela.
Aku mendekat. Menunggu Alin selesai memposisikan teleskopnya pas kearah yang dia inginkan. Aku menatap langit, menatapnya lamat-lamat, mataku seketika terbelalak saat melihat kilatan kecil di atas langit. Itu meteor.
Saat mendengarku sedikit berseru, Alin langsung menggunakan teleskopnya, juga melihat metor dilangit.
“Wah.. meteornya banyak banget Rudy.” Ungkap Alin sangat antusias melihat meteor lewat teleskopnya.
Setelah merasa cukup puas, Alin mempersilahkan aku untuk giliran menggunakan teleskopnya. Aku pun mengangguk setuju dengan ungkapan Alin Sebelumnya. Banyak meteor lewat diatas langit, meteornya bersinar, bahkan ekor meteornya juga. Apalagi aku melihatnya menggunakan teleskop, jadi bentuk meteor lebih jelas.
“Ah. Rudy lihat disebelah yang sana!” Alin berseru, sembari menunjuk langit.
"Hahah iya aku lihat. disana malah ada yang lebih besinar dari yang kamu tunjuk tuh." Ledekku kepada Alin. Dia tak mau kalah denganku. Sekali lagi menunjuk meteor lain yang dirasa lebih terang dari yang kutunjuk sebelumnya. Setelah melihat ekspresiku yang terlihat kesal Alin menjulurkan lidahnya, balas meledekku.
Satu, dua kilatan kecil di langit. Membuat pandangan kita tidak teralihkan. kami terus menatap langit, melihat meteor.
Meteornya sangat indah.
Sebelumnya aku memang sering melihatnya di beberapa waktu tertentu, tapi kali ini meteornya jadi lebih indah beberapa kali lipat. Jelas itu karena moment yang berbeda. Aku melihatnya dengan sahabatku kali ini, bukan sendirian lagi.
Sekitar setengah jam lebih kami masih melihat meteor. Banyak sekali meteor yang lewat waktu pagi buta seperti ini. Kami berdua menatap langit, dan kami saling berdoa.
“Seperti banyak meteor yang lewat dipagi buta hari ini. Semoga, kebahagian kami selalu ada, bahkan tak bisa terhitung seperti meteor itu. Dan semoga persahabatan kami tidak sampai terputus seperti batas waktu singkat saat semua meteor itu menghilang.”
.
.
.
Tqu For Reading~
ヾ(〃^∇^)ノ♡