Seoul, Korea Selatan.
Sebuah acara parade yang diadakan di tengah perkotaan untuk memperingati ulang tahun atas berdirinya kota Seoul yang ke 600 tahun. Acara tersebut dihadiri oleh Putra Mahkota yang merupakan pemimpin selanjutnya yang akan memimpin Korea Selatan saat ini.
Mobil hitam nan megah yang dinaiki oleh Putra Mahkota bersama Ibu Suri yang tak lain adalah Ibu dari Putra Mahkota.
Kim Ju Hyong nama dari Putra Mahkota dengan memiliki usia 28 tahun.
Siang ini, terlihat begitu banyaknya orang berdiri di pinggir jalan raya untuk menonton acara parade tersebut. Barisan para mobil hitam megah dari kerajaan mewarnai panjangnya jalan di tengah kota seoul dan beberapa pertunjukan yang diikuti oleh para siswa sekolah menengah atas yang dipilih oleh keluarga kerajaan untuk acara tersebut serta organisasi lainnya yang mempengaruhi kemakmuran kota Seoul.
Dari balik banyaknya penonton yang sedang menyaksikan barisan para mobil kerajaan, berdirilah seorang wanita berambut coklat dengan wajahnya yang merona memerah karena mengagumi sang Putra Mahkota. Ia melihat wajah Putra Mahkota dari balik jendela mobil bersama Ibu surinya. So Yuri adalah nama dari wanita tersebut. So Yuri mengagumi Putra Mahkota semenjak ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.
Bahkan didalam kamar So Yuri, ia memajang foto dan poster Putra Mahkota pada dinding kamarnya.
Betapa ia sangat senang sekali karena bisa melihat Putra Mahkota dari dekat dalam acara parade itu. Hingga ia merasa ingin menggapai tangannya untuk meraih ke Putra Mahkota.
"Nona! tolong untuk berdiri di belakang pembatas!" ucap seorang polisi yang bertugas untuk menjaga keamanan dalam parade tersebut.
"Hei! Ya! Jangan halangi aku!" tangan Yuri meneplak di wajah polisi itu.
"Aku ingin melihat Pangeranku! minggir!" Yuri berusaha melihat pertunjukan tersebut lebih dekat tetapi dihadang oleh para barisan polisi di sepanjang jalan raya.
Hingga waktu terus berjalan dan siang pun berganti menjadi malam.
Di tempat villa pribadi milik Putra Mahkota yang terletak jauh dari perkotaan, terlihat Putra Mahkota sedang beradu mulut bersama kakak perempuannya. Mereka bertengkar karena permasalahan kedudukan Tahta. Semenjak Kaisar meninggal dunia atau tak lain adalah Ayah dari Putra Mahkota, kerajaan mulai tergoyahkan karena tidak ada pemimpin. Hingga Ibu surilah yang harus memimpin sementara di dalam kerajaan.
Kakak perempuan dari Putra Mahkota, dia tidak ingin adik lelaki tirinya ditunjuk menjadi pewaris tahta selanjutnya.
"Kau hanyalah orang luar yang masuk ke dalam keluarga ini karena Ayahanda!" ucap dia membentak Putra Mahkota.
"Aku akan memimpin kerajaan ini! Ayahanda sudah memberikan hak warisnya kepadaku! kau jangan pernah muncul dihadapanku!" tunjuk jari tangan Putra Mahkota pada kakaknya.
"Dasar anak haram! Br*ngs*k kau!" tiba-tiba ia mengambil pisau yang tergeletak pada keranjang buah di atas meja dan mengarahkan ke Putra Mahkota.
"!!!" sontak Putra Mahkota terkejut.
"Apa yang kau lakukan!" Ju Hyong menahan tangan kakaknya dengan kuat agar pisaunya tidak mengenai ke diri Ju Hyong.
"Matilah kau! Anak haram seperti mu tidak pantas menjadi Kaisar!" teriak kakaknya.
Membuat Ju Hyong semakin naik darah dan tidak suka atas perkataan saudara tirinya.
"Buk!!" Ju Hyong mendorong kakaknya dengan keras ke lantai.
Ju Hyong pun mengambil pisau dari tangan kakaknya.
"Atau sebaiknya kaulah yang akan mati, hahaha.." tawa jahat di wajah Ju Hyong.
Tiba-tiba Ju Hyong mengayunkan pisau tajamnya ke dada kakaknya. Amarah besar yang selama ini ia pendam selama seumur hidupnya atas fitnah dan hinaan dari keluarga Ayahandanya kepada Ju Hyong dan Ibunya, membuatnya tidak bisa lagi bersabar atas perlakuan kakaknya. Ju Hyong menusuk tiga kali ke dada kakaknya hingga lantai bersimbah darah merah.
Kakaknya tak bisa lagi bertahan dalam tusukan pisau Putra Mahkota. Perlahan-lahan kakaknya memejamkan kedua matanya dan menghembuskan nafas terakhirnya. Ju Hyong melihat kakaknya yang tak menunjukkan kehidupannya, membuatnya berhenti menusuk dada kakaknya.
"A... Apa yang sudah ku lakukan!" terdasarlah Ju Hyong melihat kakaknya sudah mati bersimbah darah di depan hadapannya.
"Aaaa!!" teriaklah Ju Hyong karena menyesal telah membunuh kakaknya.
Tak lama kemudian, Ju Hyong menghubungi Juru Bicara pribadinya mengenai pembunuhan yang ia lakukan di villanya. Ju Hyong meminta bantuan kepada juru bicaranya untuk menutupi kejahatannya yang sudah membunuh kakak perempuannya. Akhirnya juru bicara nya membantu Putra Mahkota untuk menutupi tewasnya wanita tersebut. Juru bicara Putra Mahkota adalah seorang wanita bernama Min Surry. Sudah 3 tahun Min Surry menjadi juru bicara sekaligus penasihat bagi Putra Mahkota.
Ju Hyong mengambil koper besarnya dan memasuki tubuh kakaknya ke dalam koper tersebut. Ju Hyong pun membersihkan darah kakaknya yang membasahi lantai rumahnya. Ia membawa kopernya keluar dari rumahnya dan memasukkannya ke dalam mobil. Ju Hyong berniat ingin membuat mayat kakaknya ditempat jauh.
Disepanjang perjalanan, Ju Hyong terlihat panik karena kebingungan harus mencari dimana tempat yang cocok untuk membuang kopernya. Tangannya gemetar memegang kemudi mobilnya. Ju Hyong terus melirik ke arah kanan dan kirinya untuk memastikan adanya tempat yang cocok agar ia bisa segera membuang koper miliknya.
Sekian lamanya mencari, akhirnya Ju Hyong menepikan mobilnya dipinggir jalan dalam area perkebunan. Segera ia turun dari mobil dan mengeluarkan koper hitam besarnya dari dalam bagasi belakang mobilnya. Ju Hyong menyeret kopernya dan menjatuhkankannya ke pinggir sebuah lahan perkebunan.
"Duk!!" jatuhlah koper itu di rerumputan dalam lahan perkebunan milik seseorang.
Tak mau berlama-lama lagi, Ju Hyong langsung kembali ke dalam mobilnya untuk pergi ke suatu tempat. Sebelumnya saat Ju Hyong meminta bantuan kepada juru bicaranya, Ju Hyong disarankan untuk pergi ke sebuah butik oleh juru bicaranya untuk menganti pakaiannya.
Di dalam butik yang sudah ditutup oleh pemiliknya, Putra Mahkota ditemani oleh juru bicaranya untuk memilih satu set baju jas formal yang akan digunakan olehnya dalam suatu acara pertunjukan yang akan ia hadiri di kota seoul.
Setelah beberapa waktu mereka usai membeli sebuah pakaian, di dalam mobil juru biaca yang terparkir di depan toko butik, mereka berdua mendiskusikan suatu hal mengenai rencana untuk menutupi pembunuhan yang dilakukan Putra Mahkota.
"Dari info yang saya dapatkan, ada pertunjukan bernyanyi yang sedang berlangsung pada malam ini. Anggap saja malam ini Yang Mulia sedang menghadiri acara pertunjukan itu untuk menemui seorang penyanyi yang merupakan penggemar Anda." ucap juru bicaranya.
"Apakah itu akan membantu? apa kau tidak menyesal dengan ucapan mu itu? kau menyuruhku untuk mendekat ke wanita lain." ucap Ju Hyong dengan menyentuh wajah Min Surry dengan mesra.
"Hanya itu yang kita bisa lakukan untuk melindungi tahta Yang Mulia. Kita gunakan penyanyi wanita itu untuk menutupi kematian Nyonya." jawab Min Surry dengan mencium pipi Ju Hyong.
Maksud Nyonya dalam perkataan Min Surry adalah Nyonya dari kakak perempuannya Putra Mahkota.
Mereka berdua pun berciuman dalam mobil tersebut dengan mesranya.
Dalam sebuah pertunjukan bernyanyi yang dihadiri oleh semua kalangan orang, So Yuri sedang bernyanyi di atas panggung dengan gaun dress putihnya. Ia memegang microfonnya dengan melantunkan alunan melodi suaranya dalam sebuah lagu yang dibawakannya untuk semua para penonton. So Yuri merupakan penyanyi lokal yang dikagumi oleh orang-orang disekitar tempat bekerjanya. Dari bangku para penonton, duduklah Putra Mahkota di tengah penonton dengan pakaian formal yang ia kenakan. Ju Hyong memerhatikan So Yuri yang sedang bernyanyi di atas panggung. Ju Hyong mendengar bahwa So Yuri menggemari dirinya. Sehingga ia mau menuruti rencana yang dibuat oleh juru bicaranya.
Setelah So Yuri selesai menyanyikan lagu miliknya, tiba-tiba mc panggung mengumumkan bahwa akan ada seseorang yang akan menemui So Yuri di atas panggungnya. Membuat So Yuri penasaran dengan siapa seseorang itu yang ingin menemui dirinya. Terlihat pria tinggi dengan memakai jas formal berjalan menaiki ke atas panggung. Lampu panggung menyoroti pria tersebut. Sontak semua penonton berteriak kagum dan senang melihat tokoh penting yang datang ke tempat sederhana tersebut.
So Yuri tidak bisa berkata apapun karena ia melihat orang yang ia kagumi telah hadir di hadapannya dengan jarak yang dekat. Membuat kedua mata So Yuri ingin menjatuhkan air matanya karena terharu bahwa orang yang ingin menemuinya adalah seorang Pangeran Kerajaan. Ju Hyong membawa buket bunga mawar putih untuk diberikannya kepada So Yuri.
"Aku datang untuk dirimu..," ucap Ju Hyong dengan memasang senyum hangat kepada So Yuri. Ia mengarahkan buket bunga mawar putihnya kepada So Yuri.
So Yuri menerima pemberian bunga dari Putra Mahkota dengan menahan air matanya.
"Suara mu bagus, aku suka." ucap kembali Ju Hyong dengan memasang senyum palsu.
Semua orang di acara pertunjukan tersebut menjadi histeris karena meihat dua orang berdiri di atas panggung dengan romantisnya. Mereka mengambil foto dan merekam Putra Mahkota bersama So Yuri yang sedang bermesraan di atas panggung. Dari kejauhan, terlihat Min Surry sedang memerhatikan Putra Mahkota bersama penyanyi wanita tersebut dengan perasaannya yang sedikit cemburu.
Usai pertunjukan bernyanyi itu selesai, semua kru panggung dan penyanyi lainnya di ajak makan bersama oleh Putra Mahkota di sebuah restoran yang menyajikan daging sapi. Mereka semua merasa tersanjung dan bahagia karena kedatangan Putra Mahkota yang membawa keberkahan pada mereka semua.
Di restoran yang sewa oleh Putra Mahkota, So Yuri menikmati semua hidangan yang di buat oleh restoran tersebut. Terdapat beberapa awak media meliput acara makan bersama tersebut karena dihadiri oleh Putra Mahkota. Mereka saling menyantap dan meminum bir soda di gelas mereka masing-masing.
"Apa kau menikmatinya?" ucap Ju Hyong kepada So Yuri yang tengah makan sup iga sapi.
"Ini sangat enak sekali~~" jawab So Yuri dengan pipinya merona merah.
"Kau sangat manis sekali.. " Ju Hyong mengusap tepi bibir So Yuri dengan tisu.
"Te.. Terima kasih.. " So Yuri merasa malu karena disoraki oleh para temannya yang melihat kemesraan Putra Mahkota kepada dirinya.
Keesokan harinya, muncul berita viral di internet mengenai kencan Putra Mahkota bersama seorang penyanyi lokal. Ibu Suri yang sedang duduk di atas tempat tidurnya, ia sangat marah karena melihat anak putranya sedang berkencan dengan seorang wanita di luar istana kerajaannya. Hingga dalam ruang temu keluarga, Ju Hyong dihadapkan oleh semua anggota keluarga mengenai perbuatannya semalam bersama So Yuri. Ibu suri begitu marah dan tidak suka melihat anak lelakinya sedang dekat dengan wanita rendahan.
"Ibu! aku sudah bilang bahwa aku menyukainya!" ucap Ju Hyong dengan sandiwara palsunya.
"Kau tahu apa yang akan terjadi kepada martabatmu saat ini! tak lama lagi kau akan menjadi kaisar di kerajaan ini! Ibu tidak ingin nama keluarga kita tercemar oleh orang rendahan seperti wanita yang kau sukai itu!" jawab Ibu surinya dengan bentakan keras.
Ju Hyong hanya terdiam dan menahan amarahnya kepada Ibundanya. Perlahan Ibu suri mengambil nafas panjang dan mencoba menjernihkan pikirannya.
"Jika itu mau mu, menikah dengan wanita itu dalam dekat ini. Jangan membuat awak media terus menganggu kerajaan ini." ucap Ibu suri dengan tenang.
"Apa? kenapa begitu cepat sekali??" Ju Hyong tidak menyangka bahwa ia harus secepatnya untuk menikahi wanita yang sebenarnya ia tak sukai dan hanya dibuat-buat untuk merencanakan suatu hal.
"Kenapa kau menolak?" Ibu suri mulai curiga dengan anaknya.
"Baiklah, aku paham." Ju Hyong pun menyetujui perkataan Ibunya.
Hari terus berganti dan So Yuri sering diajak kencan oleh Putra Mahkota ke tempat wisata yang romantis. Mereka berdua akhir-akhir ini menjadi perbincangan semua orang mengenai hubungan mereka yang akan di teruskan menuju ke pernikahan. Namun saat mereka sedang berwisata, Putra Mahkota juga mengajak juru bicaranya secara diam-diam tanpa sepengetahuan So Yuri. Disaat So Yuri sedang istirahat atau tidur di dalam hotel, disitulah Putra Mahkota mengambil kesempatan waktu untuk bermesraan bersama Min Surry dalam kamar khusus yang ia pesan.
Akhirnya tiba waktunya pada pernikahan di dalam kerajaan korea selatan. Pernikahan yang dilaksanakan secara mewah dah megah. Semua tamu VVIP dan keluarga dari So Yuri menghadiri pernikahan tersebut. Dari pintu istana kerajaan, keluarlah So Yuri dan Ju Hyong dengan balutan baju pernikahan. So Yuri memakai baju adat korea yang dirancang modern oleh seorang desainer internasional. Gaun putih dengan kemilaunya pernak di rok gaunnya yang menjuntai panjang ke bawah. So Yuri berjalan berdampingan dengan Putra Mahkota menuju istana utama.
Semua kamera para repoter dan awak media menyoroti sepasang pengantin tersebut. Namun dalam pandangan Ju Hyong, ia merasa tidak nyaman dengan pernikahan tersebut. Dalam dirinya ia merasa ingin segera melepas baju kerajaan yang ia pakai. Dengan senyuman palsunya, ia tebarkan kepada semua yang menghadiri acara pernikahannya.
Ibu suri yang sedang duduk di kursinya dengan memerhatikan anaknya yang sedang berdampingan dengan seorang wanita rendahan yang bahkan merupakan penyanyi lokal yang tak terkenal. Membuat Ibu suri merasa kesal dengan pengantin wanita tersebut.
Disaat malam pertama, So Yuri ditinggalkan begitu saja oleh Putra Mahkota dengan alasan pekerjaan yang harus ia lakukan. So Yuri yang sudah menjadi istri sahnya begitu memahami suaminya yang merupakan seorang pewaris tahta. So Yuri paham akan tugas seorang pewaris tahta. Tetapi So Yuri pun sedikit penasaran karena ia di tempatkan di kamar permaisuri dan bukan di kamar yang sama bersama Putra Mahkota. So Yuri mendengar bahwa suaminya dulu pernah memiliki istri tetapi istri pertamanya sudah meninggal karena sebuah insiden. So Yuri hanya bisa terdiam di dalam kamarnya dengan perasaan rindu akan harapannya bisa menikmati malam pertama bersama suaminya.
Hal yang tidak terduga, Ju Hyong malah pergi ke tempat kamar Min Surry. Betapa ia merindukan sentuhan hangat dari Min Surry. Min Surry tinggal di dalam kerajaan tersebut dengan di fasilitasi barang mewah oleh Ju Hyong. Mereka berdua saling bercumbu dan menikmati malam bersama dengan hawa nafsu mereka.
Hal itu pun sering dilakukan oleh Min Surry bersama Ju Hyong setelah pernikahannya bersama So Yuri memasuki 3 hari. Di hari yang sama dan suasana yang sama pun So Yuri ditemani oleh sarapan yang disajikan oleh pelayan pribadinya dalam kamarnya. Pagi ini So Yuri tidak ditemani oleh suaminya untuk makan bersama. Pelayan pribadinya pun merasa sedih melihat permaisuri So Yuri selalu sendirian tanpa ada kehangatan dari suaminya. So Yuri mencoba sabar akan kondisi suaminya yang sibuk mengurus pekerjaannya.
Mengenai wayat kakak dari Putra Mahkota, ternyata Ju Hyong membuangnya di perkebunan yang sudah tak di urus oleh pemiliknya. Dan daerah perkebunan itu pun jarang di tapaki oleh orang karena hanya kendaraan berat yang berlalu lalang di jalan sekitar perkebunan tersebut.
Sebuah truk besar berhenti di tepi perkebunan yang tepat di tempat dimana Putra Mahkota membuat kopernya berisi wayat kakaknya. Sopir truk itu turun dari truknya karena ingin membuang air kecil.
Saat supir truk itu berdiri di tepi perkebunan tersebut, ia mencium aroma bau busuk yang menyengat. Membuatnya penasaran akan bau bangkai yang ia cium tak seperti bau busuk pada biasanya. Ia menunda untuk membuang air kecilnya dan berjalan mencari sumber dari bau busuk itu.
Tiba-tiba ia melihat ada koper hitam besar yang tergeletak di tepi perkebunan itu. Semakin ia mendekat, bau busuknya semakin menyengat. Membuatnya ingin mencarinya muntah karena tak tahan dengan bau busuknya. Segera ia menjauh dan kembali ke truknya.
Di dalam Truknya, ia menelpon ke polisi karena menemukan sebuah koper yang berbau busuk. Supir itu khawatir akan isi dari koper tersebut.