Malam ini William sedang membersihkan rumahnya, ia ingin sekali membersihkannya besok. Namun orang tuanya akan pulang besok pagi, jika ia tidak segera membersihkan rumah, maka siap-siap saja ia akan mendapat santapan ceramah.
William mengadakan pesta ulang tahunnya yang ke-13 bersama teman-teman sekelasnya. Mereka merayakan pesta tersebut dengan meriah, pemuda itu merasa senang dan menurutnya hari ini merupakan hari ulang tahun terbaik tahun ini.
Tiba-tiba ia menemukan sebuah kertas kecil. Pemuda itu memungut kertas tersebut dan hendak membuangnya. Namun ia membatalkan niat tersebut begitu melihat angka yang tertera pada kertas itu.
–666, 𝙆𝙖𝙢𝙪 𝘼𝙠𝙖𝙣 𝙈𝙖𝙩𝙞–.
Seketika kening William berkerut. Setahunya, angka 666 merupakan angka setan, apalagi akhir-akhir ini ia sering menerima kertas dengan angka tersebut membuatnya mulai berpikir negatif. Tapi pemuda itu berusaha untuk tidak memikirkannya. Mungkin saja salah satu temannya hanya iseng menuliskan angka tersebut. Kemudian ia memasukkan kertas itu ke dalam kantong plastik sambil berpikir bahwa hal tersebut hanyalah iseng belaka.
Tak terasa satu jam telah berlalu, William telah selesai membersihkan rumahnya dan membuang kantong plastik berisi sampah itu ke tempat sampah. William membuka pintu dan menghampiri tempat sampah. Ketika ia hendak berbalik dan memasuki rumah. Tiba-tiba ia mendapati seseorang berpakaian serba hitam berada di atap rumahnya. Pemuda itu merasa ketakutan. Setelah menerima kertas dengan angka 666, ada orang yang selalu mengintainya. William menduga bahwa orang itulah yang memberikannya kertas tersebut. Apakah orang itu akan membunuhnya? Tak mau hal itu terjadi, ia buru-buru memasuki rumahnya. Begitu masuk, William langsung menutup dan mengunci pintu, lalu bersender pada pintu tersebut sambil bernafas terengah-engah. Kemudian ia mulai berpikir bahwa itu hanyalah imajinasinya, meski sudah beberapa kali ia melihat orang itu. Seketika William tertawa kecil, ia pasti kelelahan. Setengah jam kemudian William pun tertidur.
William terbangun tengah malam, dilihatnya jam masih menunjukkan pukul 2 dini hari. Ia mendengar ada yang mengetuk pintu rumahnya. Siapa yang mau masuk tengah malam begini? William mencoba berpikir positif bahwa yang mengetuk pintu ialah kedua orang tuanya. Meski begitu, pikirannya masih tertuju pada orang kemarin yang berpakaian serba hitam. Untuk memastikan, ia mengintip di balik lubang pintu. Pemuda itu tersentak begitu mengetahui bahwa pelakunya ialah orang yang berpakaian serba hitam kemarin. Ia mencoba mundur secara perlahan, lalu berbalik dan pergi menuju kamar tanpa menimbulkan suara. Akhirnya ia sampai tanpa adanya hambatan. William segera mengeluarkan ponsel dari sakunya dan hendak menghubungi nomor darurat.
Namun nasib sial berpihak pada William. Ponselnya tak mau menyala, sepertinya baterai ponsel tersebut telah habis. Pemuda itu mulai panik, namun mencoba tenang agar bisa memikirkan cara supaya bisa lolos dari pembunuh itu. Tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki menuju padanya. Kini William mulai bergetar ketakutan. Pemuda itu hendak keluar dari jendela. Meskipun tinggi, ia tetap nekat keluar dari jendela asal selamat dari pembunuh itu. Sayang sekali jendelanya tak mau terbuka. William mengumpat kesal, di saat seperti ini ia harus mendapat hambatan. Tak ada pilihan lain, ia segera bersembunyi di bawah kolong kasur. Pintu kamar berhasil didobrak begitu William sudah berada di bawah kasur. Andai saja ia terlambat membuat keputusan, pasti hidupnya telah berakhir.
Jantung William berdetak kencang. Ia menutup mulut dan mencoba tak menimbulkan suara. Pemuda itu berharap tidak memeriksa di bagian kolong kasur dan segera pergi dari sini. Harapan itu tak terkabul. Orang itu memeriksa kolong kasur dan menemukan William. Manik hitamnya mengecil. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini selain pasrah dan menunggu ajal tiba.
𝘽𝙧𝙖𝙠!
Kini William mendapati dirinya berada di kelas. Ia tengah diperhatikan oleh guru yang mengajar dan juga seluruh siswa yang ada di kelas. Ternyata kejadian tadi hanyalah mimpi semata, meski begitu mimpi yang ia alami saat ini terasa nyata.
Sang guru meminta William berdiri di luar kelas sebagai hukuman karena tertidur pada jam pelajarannya. Segera pemuda itu menuruti perintah sang guru tanpa membantah, ada rasa lega bahwa kejadian tersebut hanyalah mimpi, tapi mimpi tersebut masih terbayang di pikirannya membuat pemuda itu merasa takut bahwa mimpi itu akan datang kembali atau bisa saja menjadi kenyataan.
William mencoba untuk tidak memikirkan hal tersebut. Saat hendak menatap sekitar, tiba-tiba manik hitamnya mendapati sebuah kertas kecil yang tak jauh darinya. Tanpa pikir panjang, ia memungut kertas tersebut. Ada tulisan dengan tinta merah yang tertera pada kertas tersebut. Pemuda itu membaca tulisan itu. Wajah William langsung pucat begitu membaca tulisan itu.
"𝗬𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗵𝗼𝗿𝗺𝗮𝘁, 𝗪𝗶𝗹𝗹𝗶𝗮𝗺 𝗔𝗰𝗸𝗲𝗿𝗹𝗲𝘆
𝟬𝟲/𝟬𝟲/𝟮𝟬𝟭𝟵 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗮𝘁𝗶. 𝗔𝗸𝘂 𝗶𝗻𝗴𝗶𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝗻𝘂𝗵𝗺𝘂... 𝗢𝗵 𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵, 𝗮𝗸𝘂 𝗶𝗻𝗴𝗶𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶𝗸𝗮𝗻𝗺𝘂 𝘀𝗲𝗯𝗮𝗴𝗮𝗶 𝗺𝗮𝗻𝗴𝘀𝗮𝗸𝘂. 𝗝𝗮𝗱𝗶 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗽𝗹𝗮𝗵. 𝗦𝗮𝘆𝗮 𝗵𝗮𝗿𝗮𝗽 𝗧𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻𝗺𝘂.
𝗦𝗮𝗺𝗽𝗮𝗶 𝗷𝘂𝗺𝗽𝗮
𝗧𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝗱𝗮 𝗱𝗮𝗿𝗶,
𝗠𝗮𝗻𝗴𝘀𝗮 𝟲𝟲𝟲"
William merasa takut akan hal itu, ia berpikir seseorang akan membunuhnya pada tanggal enam Juni, tepatnya hari ini. Pemuda itu tertawa kecil, mungkin saja seseorang akan mengerjainya di hari ulang tahunnya. Tiba-tiba pemuda itu menghentikan tawanya begitu mendapati sosok hitam yang tak jauh darinya. Sosok tersebut kini menatap William. Pemuda itu menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa sosok itu tidak menatapnya, melainkan orang lain. Namun pada kenyataannya sosok itu menatap dirinya. Segera ia berlari tak tentu arah, yang pasti ia selamat dari sosok yang akan mencelakai William. Tanpa pikir panjang pemuda itu memasuki kamar mandi.
Kemudian William menuju wastafel dan menyalakan keran air, lalu membasuh wajahnya. Pemuda itu mencoba berpikir bahwa hal yang ia alami saat ini merupakan halusinasinya.
***
Bel sekolah menjerit sebagai pertanda bahwa pelajaran telah selesai dan seluruh siswa diperbolehkan pulang menuju rumah masing-masing. Tak terkecuali William yang kini pulang agak terlambat dari biasanya karena ia menjalankan tugas untuk membersihkan kelas. Sebenarnya hari ini bukanlah jadwalnya untuk membersihkan kelas. William membersihkan kelas sendirian sebagai hukuman akibat tertidur di kelas, masa hukumannya pun berlangsung selama seminggu. Setelah kelas tersebut telah bersih, William meletakkan alat-alat kebersihan kelas dan meninggalkan kelas. Saat hendak meninggalkan kelas, ia mendapati sebuah kertas berwarna merah. Pemuda itu memungut kertas tersebut dan membuangnya ke tempat sampah.
Setelah memastikan semua telah bersih, William pergi meninggalkan kelas. Ketika diperjalanan, ia mendapati sebuah kertas dengan warna yang sama saat di kelas tadi. Pemuda itu mencoba mengabaikan kertas tersebut. Namun ia mendapati kertas itu ada di mana-mana. William segera berlari dengan harapan ia akan selamat.
***
Begitu memasuki rumah, William dengan segera mengunci pintu, tak lupa pula ia menutup jendela yang ada di rumahnya. Pemuda itu merasa ketakutan, sepertinya ia akan tewas hari ini karena tanggal enam Juni jatuh pada hari ini. Tiba-tiba ponselnya berdering membuat pemuda itu terkejut, segera ia mengambil benda pintar itu dan melihat bahwa ada notifikasi pesan.
Pengirim pesan tersebut ialah nomor yang tidak dikenal. Kemudian pemuda itu melihat isi pesan lebih lanjut. Ketika ia membaca isi pesan secara keseluruhan. William mengerutkan keningnya lantaran bingung dengan pesan tersebut. Bagaimana tidak? Pengirimnya ialah Mr. Joe, guru yang sempat menghukumnya karena tertidur di kelas. Pria itu memintanya untuk datang ke sekolah pada pukul enam lewat enam sore. Ketika sudah tiba di sekolah, Mr. Joe meminta William untuk menemuinya di dalam gudang, ada sesuatu yang ingin ia sampaikan mengenai masalah tadi. Jika William tidak datang atau terlambat dari waktu yang telah ditentukan, maka masa hukumannya akan ditambah. Sebenarnya ia tak ingin datang mengingat dirinya dalam bahaya saat ini. Tapi William tidak mau masa hukumannya ditambah. Pemuda itu berpikir keras untuk mencari solusi dalam menghadapi masalahnya saat ini.
Tak lama kemudian William mendapat ide. Pemuda itu segera berdiri dan melangkah menuju dapur. Ketika telah sampai di tempat tujuan, William mengambil pisau lipat. Saat merasa terancam, ia akan melakukan itu untuk membela diri. Setelah semua selesai, William pergi menuju sekolah.
***
William berlari menuju gudang sekolah karena sebentar lagi waktu menunjukkan pukul enam lewat enam sore, jika ia terlambat sedikit saja, maka masa hukumannya akan ditambah. Kini pemuda itu telah sampai di tempat tujuan. Segera ia membuka pintu gudang. Ketika pintu telah terbuka, gudang itu kelihatan gelap, kemudian William memasuki gudang itu dan mencari tombol lampu serta Mr. Joe.
Waktu telah menunjukkan pukul enam lewat enam begitu William memasuki gudang itu, ia bernapas lega karena tidak terlambat. Namun rasa leganya menghilang ketika pemuda itu mendengar suara aneh di gudang. Ia pun segera mengeluarkan ponselnya dan menyalakan senter, lalu mengeluarkan pisau lipat yang ia bawa. Tiba-tiba pintu gudang tertutup dengan sendirinya membuat pemuda itu tersentak dan pada saat yang bersamaan ponselnya mendadak mati, kini William hanya bisa mengawasi di sekitarnya dalam kegelapan.
"Hahaha. Mangsaku akhirnya masuk ke perangkapku." Seketika bulu kuduk William berdiri tanpa izin. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari pemilik suara tersebut. Dan bertanya-tanya mengenai maksud dari perkataan tersebut.
"Mangsa?! Apa maksudmu?!" pekik William. Ia merasa takut dengan situasi saat ini.
Pemilik suara itu tertawa dan menyebut angka enam sebanyak tiga kali, lalu menyebut nama William. Kemudian si pemilik suara mengatakan bahwa ia adalah Mr. Joe, ia mengaku telah mengincar William sejak lama. Setelah itu lampu menyala dan kembali mati beberapa saat kemudian.
William merasa tersentak ketika pemilik suara itu telah mendekati dan menyerangnya saat lampu menyala. Pemilik suara itu tidak berbohong, dia adalah Mr. Joe. Kini pemuda itu benar-benar menyesal, seharusnya William tidak perlu datang. Pada saat itu juga nyawa William telah melayang. Pria itu mencakar William dengan menggunakan kuku panjangnya pada leher pemuda itu, lalu tertawa keras.
Kemudian menulis sesuatu pada lantai gudang dengan menggunakan darah yang tercecer.
𝕄𝕒𝕟𝕘𝕤𝕒 𝕪𝕒𝕟𝕘 𝕜𝕖 𝟞𝟞
𝕎𝕚𝕝𝕝𝕚𝕒𝕞 𝔸𝕔𝕜𝕖𝕣𝕝𝕖𝕪
𝕃𝕒𝕙𝕚𝕣 𝕡𝕒𝕕𝕒 𝕥𝕒𝕟𝕘𝕘𝕒𝕝 𝟞 𝕁𝕦𝕟𝕚 𝟚𝟘𝟘𝟞
𝕋𝕖𝕨𝕒𝕤 𝕡𝕒𝕕𝕒 𝕥𝕒𝕟𝕘𝕘𝕒𝕝 𝟞 𝕁𝕦𝕟𝕚 𝟚𝟘𝟙𝟡 𝕡𝕒𝕕𝕒 𝕡𝕦𝕜𝕦𝕝 𝟘𝟞.𝟘𝟞 𝕡𝕞
Setelah menuliskan hal tersebut, ia memakan pemuda itu. Lalu Mr. Joe akan mengincar mangsa yang selanjutnya. Mangsa yang lahir pada tanggal enam Juni dengan angka enam dibelakang tahun lahirnya. Ketika waktunya sudah tiba, ia akan memangsa korban persis seperti yang ia lakukan pada William.
The End