"Dion?" suara yang tak asing memanggilku. aku pun menoleh ke belakang untuk melihat orang yang telah memanggilku..
"Benarkan aku tidak salah liat itu kamu?" ucap zalwa lagi gadis yang memanggil ku.
"Zalwa?" jawab ku. Aku pun cepat-cepat menyembunyikan hasil pemeriksaan ku tadi, Ku selipkan di balik kaos ku. Sebelum Zalwa melihat nya.
"ngapain kamu sepagi ini sudah ada disini Dion? Siapa yang sakit?" tanya Zalwa lagi.
"ohh.. Itu temen Za," jawabku sambil tersenyum ke arah Zalwa.
"kamu piket pagi kah Za?" tanya ku pada Zalwa karena Zalwa seorang perawat di rumah sakit itu dia juga teman baik ku. Sebenarnya aku sudah lama menyukai Zalwa, namun aku tidak berani untuk mengungkap kan nya. Ahh.. Aku lupa seharusnya aku bertanya dulu sama zalwa jadwal piket dia. Agar tidak bisa bertemu dengan nya. Tapi takdir mungkin sudah mengatur nya agar aku bisa bertemu dengan nya.
"aku piket malam, tapi tadi temen ku minta gantikan sebentar makanya aku baru bisa pulang" ucap nya pada ku.
Aku pun menjawab dengan ber Ohh ria tanpa bersuara "kalau begitu gimana kalau kita pulang bersama Za?" Aku akan mengantar mu sampai rumah?" tawar ku pada zalwa. Aku tidak sadar bahwa ucapanku hampir saja membuat Zalwa curiga.
"loh... bukanya kamu lagi Jenguk teman kamu kok udah mau pulang?"
"aa.. Tadi udah jenguk sebentar Za, makanya aku sudah di luar?" tanya ku sambil sedikit gugup mengatakan nya.
Zalwa pun menatap ku penuh selidik "ceritakan pada ku ion apa yang terjadi?"
"aa..apa maksudmu Za, ck tuh biasa aja mata ngelihat nya. Ya.. Ya.. Aku tau aku ini tampan. Banyak Gadis yng mengantri" ucapku dengan percaya diri sambil ku raup wajah Salwa dengan telapak tangan ku.
"iisshhh bau tauk tangan mu, lagian tuh tangan kotor main raup aja. Entar kalau tumbuh jerawat di wajah ku gimana?"
"biarin aja entar ku pites tuh Jerawat, udah yok ah kamu klau udah ngomong susah sekali berhentinya" ucap ku sambil menarik tangan Zalwa untuk pulang.
Aku membawa motor ku untuk menuju rumah Zalwa tidak perluh lama cukup sepuluh menit telah sampai di rumah Zalwa. "dah turun masuk sana, nyaman banget keknya ku boncengin deh, sampai gak mau turun" ucap ku menggoda Zalwa.
"ck. Baru juga sampai kalau gak ikhlas gak usah ngajakin" gerutu Zalwa pada ku. aku hanya cekikan melihat raut kesal Zalwa.
"ya udah sana masuk, gak usah repot-repot bikinin minunan buat aku, aku mau langsung pulang"
"percaya diri banget si siapa juga yang mau nyuruh kamu masuk" dengus Zalwa lgi dan aku hanya cekikan sambil menyalakan mesin motor ku dan pamit untuk pulang.
_____________
Kini aku sudah berada di dalam kamar ku. Ku baca ulang lagi hasil pemeriksaan ku tadi dirumah sakit. Aku teringat tentang penjelasan Dokter bahwa aku telah mengidap penyakit yang jika di biarkan akan semakin menjalar.
"apa tidak ada jalan lain Dok selain operasi?" tanya ku pada sang Dokter, dan sang Dokter itu hanya menggeleng.
"saat ini hanya bisa melakukan Operasi, itu pun tidak cukup satu kali untuk melakukan operasi" Jelas sang Dokter.
Itulah yang tadi Dokter sampaikan padaku. Apa aku harus mengikuti saran dari sang Dokter. Tapi bukan hanya sekali melakukan operasi, itu berarti aku harus membutuhkan uang yang banyak.
Akupun membuka Internet untuk mencari tau tentang penyakit yang ku alami. Ada dengan cara herbal namun itu tidak bisa menjamin untuk bisa cepat hilang. Dan sangat butuh waktu yang lama untuk bisa benar-benar Hilang. Ya mungkin hanya ada satu cara ya itu menjalankan operasi. "Apa aku harus cerita kepada ayah dan Ibu? Tapi aku tidak ingin membuat beban mereka" lirih ku pada diriku sendiri.
"aahh hidup mati sudah di tentukan oleh tuhan mau sekarang nanti besok minggu depan bulan depan atau taun depan. Itu sudah suratan. Jika memang aku harus meninggal dengan mengidap penyakit aku ikhlas"
Aku pun meminum obat yang tadi di berikan oleh Dokter. Aku memilih tidur untuk mengistirahatkan tubuh ku.
______________
Tanpa sadar aku tertidur sampai sore hari, aku terbangun karena suara gedoran pintu yang semakin keras. Dan suara Ibu ku yang memanggil nama ku. Aku pun berjalan ke arah pintu dan membuka nya. Kulihat wajah Ibu yang sedang menarik nafas nya sambil menggeleng. "Dion.. Dion... Kalau tidur gak inget waktu udah jam berapa ini?"
"ya Bu maaf" ucap ku, tapi Ibu melihat ku dengan selidik
"Dion? Kenapa hidung kamu berdarah?"
Aku pun reflek langsung menyetuh hidung ku. Ku sentuh hidung ku yang basah lalu ku lihat jari ku benar darah telah keluar dari hidung ku. "oh cuma mimisan aja Bu" ku bilang pada ibu ku sambil ku berjalan ke arah kamar mengambil tisu untuk mengelap sisah darah yng ada di hidung ku. Dan ibu mengikuti ku untuk masuk.
"kita kerumah sakit sekarang" ucap ibu sambil menarik tangan ku.
"bu aku tidak sakit untuk apa aku kerumah sakit?"
"wajahmu pucat Dion?"
"Bu aku tidak apa-apa. Lihat aku sehat seperti ini dari mana aku sakit" ucapku meyakinkan ibu. Lalu ibu tiba-tiba memeluk ku, Aku pun membalas pelukan ibu.
"baiklah segera mandi lalu makan" ucap ibu lalu meninggalkan aku sendiri di dalan kamar. Aku duduk di tepi ranjang ku hembuskan nafasku dengan kasar. Memang ini bukan untuk pertama kalinya aku mimisan.
Tidak ingin membuat ibu menunggu lama aku pun segera mandi. Setelah selesai aku keluar untuk makan. Saat aku keluar kamar aku melihat ibu sedang melamun seperti memikirkan sesuatu. Lalu ku hampiri. "Ibu kenapa?"
"ehhh tidak Ibu tidak kenapa-kenapa. Ayo makanlah Ibu sudah masak kesukaan mu.aku pun mengangguk berjalan ke meja makan.
___________
Ke esok hari nya aku bangun dengan kepala yang sangat sakit. Aku berjalan ke arah kamar mandi untuk mandi. Karena recana pagi ini aku mau memeriksakan keadaan ku lgi. Saat tiba di dalam kamar mandi aku langsung membuka semua pakaian ku dan mengguyur tubuhku dengan air dingin. Tidak perluh lama aku telah selesai keluar kamar mandi dan memakai pakaian ku. Namun tiba-tiba aku merasakan badan ku mengigil yang luar biasa. Sakit kepalaku yang semakin bertambah akupun berbaring kembali menggulung tubuh dengan selimut.
__________
"Dion bangun nak.. Bangun.. Ayo Bangun perlihatkan pada mereka semua kamu cuma tidur nak Bangun!" tangis sang ibu Dion telah pecah begitupun keluarga nya. Kini Dion sudah terbujur kaku. Tubuh nya di tutupi oleh kain. Dion telah pergi meninggalkan Dunia kini hanya nama nya yang di kenang. Rumahnya begitu rame banyak orang yang datang untuk melihat dirinya yang terakhir.
Disamping nya ada Zalwa yang juga menangis" Dion kamu jahat pergi tanpa pamit?" ucap nya dalam hati sambil menghapus air matanya.
Ya Dion pergi tanpa satu orang pun yang di pamiti. Dion yang tertidur ternyata malah tertidur untuk selamanya.