Sudah tiga bulan ini Alma belum bisa membayar SPP anaknya. Ya, sudah setahun Firman anak laki-laki Alma sekolah dan tinggal di asrama yang cukup bagus di kota K. Bukan tanpa alasan Alma menyekolahkan anaknya dan tinggal di asrama, tujuannnya hanya ingin anaknya terjaga dari pergaulan yang tidak baik. Setidaknya di dalam asrama ibadah anaknya akan terjaga dan juga anaknya bisa belajar mandiri, walau konsekuensinya ia harus bekerja lebih keras guna membayar uang bulannya lebih besar dari sekolah regular pada umumnya.
‘’Kriiiiiinnnngggggggg……’’, telephone Alma berbunyi. “Assalamualaikum”. ucap Alma. “Waalaikumsalam, bu ini Firman”. jawab Firman. “Bu, uang jajanku sudah habis dan uang SPP sudah ditagih sekolah, sebentar lagi mau ujian sekolah. Tolong dibayarkan sekaligus ya bu, biar aku bisa ikut ujian sekolah semester ini”. Sambung Firman diujung telephone umum yang ia pinjam dari pihak sekolah sebagai telephone umum sekolah yang digunakan siswa bila ada keperluan yang mendesak dengan keluarganya untuk membayar tarif sesuai waktu yang dipakai. Alma pun menjawab “iya nak, doakan ibu agar ibu bulan ini segera gajian dan ibu bisa membayar uang SPP mu dan bisa kasih kamu uang jajan lebih’’. “iya bu. Firman selalu berdo’a kok bu, nanti Firman kencengin lagi do’anya bu”. Jawab Firman
Sudah masuk bulan keempat Alma belum diberi gaji dari tempatnya bekerja. Itu karena imbas dari wabah Covid 19 ini yang belum juga reda dan berdampak pada perusahaan tempat Alma bekerja. Sudah empat bulan pula pihak perusahaan menjanjikan akan mengeluarkan gaji karyawannya dengan segera. Omset perusahaan menurun drastis dan selama empat bulan ini perusahaan tempat Alma bekerja Cuma bisa membayar biaya opersional saja. Penghasilan suami Alma selama ini digunakan untuk biaya hidup sehari-hari dan sebagian disisihkan untuk ditabung dan hasil dari Alma bekerja untuk membiayai anak-anaknya sekolah. Semua adalah aturan yang diterapkan oleh Alma dan suaminya menyerahkan sepenuhnya aturan tersebut kepada Alma. Dan hingga detik ini walaupun ada tabungan tapi Alma tidak mau menggunakannya untuk membayar biaya sekolah anaknya, bukan bermaksud apa-apa, cuma Alma ingin mendidik anaknya agar anaknya memiliki empati kepada sesamanya yang kurang beruntung dari kita.
Alma sendiri tak terlalu risau dengan keadaan yang dialaminya sekarang, karena dia sudah mengalami lebih dari ini. Dulu saat dia masih sekolah, betapa ia memaksakan diri untuk bisa sekolah keadaan orang tuanya sangat tidak memungkinkannya untuk bersekolah.
*Flash back on*
“Bu, besok batas akhir pembayaran registrasi siswa baru SMP bu”, ucap Alma kepada ibunya. Ibu Tuti hanya menjawab “ya”.
Alma dibesarkan oleh seorang Ibu yang berstatus janda, Alma menjadi seorang yatim yang ditinggal Ayahnya sejak Alma kelas satu SD. Ayah Alma seorang tentara dan meninggal dunia di medan perang di daerah konflik. Selama ini Alma tinggal bersama Ibu dan Embahnya. Gaji pensiunan yang Ibunya terima tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.Ibunya Alma berusaha mendapatkan penghasilan tambahan dari hasil menjual jasa menjahit. Ibu Tuti sudah nyaman dengan hidup sederhana seperti ini dan beliau menolak halus setiap ada pria yang dating untuk meminangnya. Alasannya cuma satu, beliau ingin menyekolahkan Alma dengan gaji pensiunan suaminya sendiri, bila beliau menikah itu berarti gaji pensiunan ayah Alma akan hilang.
Malam ini Alma dan Ibu Tuti melakukan sholat Isya berjama’ah dan dipenghujung sholat Alma dan Ibu Tuti berdo’a,“Semoga engkau mudahkan kami Ya Allah agar esok hari kami bisa membayar biaya registrasi Alma masuk SMP, Aamiin”. Setelah Sholat Alma membaca buku sebentar lalu beranjak tidur, sedangkan ibu Tuti meneruskan menjahit hingga larut malam.
Di pagi hari saat Alma bangun tidur ibunya memberi kabar .“Al, Alhamdulillah semalam pamanmu datang mengantarkan uang, semalam ibu dapat arisan RT nak”. Alma menjawab “Alhamdulillah bu, do’a kita diijabah Allah Bu”. “Iya Nak” jawab Ibu Tuti. Akhirnya pagi ini Alma bisa membayar biaya registrasi masuk SMP nya. Dan dengan kuasa Allah setiap Alma naik kelas .maka setiap itu pula Ibunya selalu mendapatkan kenaikan gaji pensiunannya. Iya, itu berlangsung hingga Alma masuk ke Universitas swasta dan menyelesaikannya dengan baik.
Alma tidak memiliki prestasi akademik yang baik sehingga sewaktu kuliah ia tidak diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Namun begitu Alma selalu gigih berusaha agar dirinya bisa kuliah walau di Perguruan Tinggi swasta walau bagaimana caranya. Dalam pikirannya hanya dengan cara inilah ia bisa merubah kehidupannya yang sekarang menjadi lebih baik. Dengan kegigihan Alma inilah yang membuat Ibu Tuti mendukung keputusan Alma walau harus pontang-panting membiayainya.
Pernah suatu ketika Alma akan ujian semester di tempat kuliahnya, ia tidak diijinkan mengikuti ujian karena tidak memiliki kartu peserta ujian. Sedangkan untuk mendapatkan kartu peserta ujian harus lunas biaya kuliah atau mendapat surat ujian dari Pembantu Rektor II di Universitasnya. Ujian akhir semester akan dilaksanakan pada akhir bulan dan itu berarti Ibunya Alma belum mendapatkan gaji pensiunnya dan mau tidak mau Alma harus menemui Bapak Pembantu Rektor II, Rektor yang khusus menangani bidang keuangan kampus.
Pagi ini waktu menunjukkan pukul 08.00 WIB.Alma melangkah ke kampusnya dengan menaiki angkot. Ya, menuju kampusnya Alma harus naik angkot dan berganti hingga 3 kali. Sering sekali Alma bisa berangkat ,namun tidak bisa pulang dengan mudah karena uang saku yang diberi ibunya hanya cukup untuk ongkos berangkat. Bila pulang kuliah dia akan mencari tumpangan pada temannya yang membawa motor, walau dia selalu merasa tak enak hati karenanya. “Nisa bolehkah nebeng kamu pulang?”. Tanya Alma pada Nisa temannya satu kelas dan teman satu Desa dengan Alma. “Bisa Al, kenapa kamu tadi berangkat naik angkot ,nggak kerumahku saja?. kita kan bisa berangkat sama-sama” kata Nisa. “Aku takut motormu dipakai kakakmu seperti kemarin dan kamu harus berboncengan dengan kakakmu ke kampus. aku nggak enak”, Tutur Alma. “ah nggak, kakak hari ini nggak ada kuliah”, jawab Nisa. “Oh…” sahut Alma. Alma menghirup nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan. Ada kelegaan disana, dia bisa pulang hari ini dengan tenang.Entah untuk esok hari, ibunya bisa memberinya ongkos angkot penuh untuk pulang pergi atau tidak, atau bahkan tak memiliki ongkos sama sekali dan memaksanya untuk bolos kuliah.
Pernah suatu ketika ongkos pulangnya hanya cukup untuk biaya ongkos angkot 2 kali dan 1 kali sisa perjalanan angkotnya ia lakukan dengan berjalan kaki sejauh 4 Km. Ia mengambil jalan pintas yang lebih dekat dan jarang dilalui kendaraan bermotor agar lebih cepat sampai, walau tetap saja jauh dan melelahkan. Semua halangan dan rintangan itu Alma jalani setiap harinya dengan tekad yang kuat agar dia bisa menyelesaikan pendidikannya dia berharap dengan pendidikannya dia bisa merubah hidupnya dan keluarganya di masa depan. Dan jangan ditanya apakah Alma pernah makan atau sekedar nongkrong di kantin atau tidak. Alma akan ke kantin jika ada temannya yang mentraktinya saja, selebihnya dia selalu puasa sunnah senin kamis atau membawa bekal dari rumah seadanya.
Langkah Alma terhenti di lantai dua gedung Rektorat Universitas tempatnya kuliah.Satpam menyapanya dengan sopan “Mau ketemu siapa Mbak?”. “Pak Santoso Pembantu Rektor II, Pak” jawab Alma. “Oh Pak Santoso sedang keluar Mbak, mungkin kembalinya nanti siang Mbak”. ucap sang Satpam lagi. “Oh…terima kasih Pak, nanti siang saya kesini lagi”. ujar Alma. “Iya Mbak”. kata sang satpam. “Terima kasih Pak”, lanjut Alma. “Sama-sama mbak”, jawab Pak Satpam. Alma menuruni tangga dengan lesu. Untuk kesekian kali Alma merasa lelah dengan perjuangannya yang tak semulus teman-temannya. Alma ingin menyerah saja, tapi nuraninya menjawab, “tinggal selangkah lagi aku harus lalui ini, aku tak boleh menyerah, aku harus kuat”. Alma melangkah mantap ke masjid yang ada di kampusnya. Waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB, Alma mengambil air wudluuntuk melaksanakan sholat Dluha. Setelah sholat Dluha dia berdoa dengan khusyuk dan rinci kepada Tuhannya. Dia mengeluh, dia menghiba dan memohon kepada Rabbnya. Selama ini kekuatannya hanya do’a dan do’a. Setiap malam menjelang pagi dia selalu bangun dan mengetuk pintu lang itdengan gema do’a-do’anya yang tanpa batas. Dia percaya dengan do’anya sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Sering dia terlarut dalam do’anya sampai dia menangis. Dengan setiap ibadah yang Alma lakukan dengan khusyuk itulah yang semula Ibu Tuti melarang Alma untuk kuliah karena keterbatasan biaya menjadi luluh dan mengijinkan serta mendukungnya untuk kuliah walau harus terseok-seok dan berhutang dimana-mana.
Dengan keadaan yang serba kekurangan itulah Alma selalu mencari cara dengan menawarkan menawarkan mengerjakan tugas dari temannya, dengan cara tersebut Alma bisa sekaligus mengerjakan tugasnya tanpa biaya, karena biayanya ditanggung temannya yang tugasnya dia kerjakan. Dan pada saat Praktek Kerja Lapangan yang dilaksanakan sebulan lamanya dalam satu bulan lamanya Alma berpuasa tanap putus sebagai nadzarnya kepada Tuhannya atas rasa syukurnya kepada Rabbnya yang telah memberinya jalan untuk berkuliah dan bonusnya Alma bisa mengurangi pengeluaran.
Alma masih bersimpuh di Masjid untuk berdzikir dan membaca Al-Qur’an dengan terjemahnya. Seakan ada yang menuntunnya membaca surat Muhammad ayat 7. “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. Alma meresapi dalam-dalam kandungan ayat tersebut hingga tanpa disadarinya menguatkan batinnya untuk tetap melangkah dengan tekad yang kuat. Adzan Dluhurpun berkumandang, disela-sela adzan dan iqomah Alma berdiri melakukan sholat sunnah dan kembali lagi dia berdo’a agar dimudahkan jalannya untuk bertemu dengan Pembantu Rektor II. Setelah melaksanakan sholat Dluhur dan rawatib Alma melangkah lagi ke gedung rektorat lantai dua dan di ujung tangga terakhir Alma disapa satpam yang tadi pagi menyapanya.“Mbak, Pak Santoso sudah ada diruangannya”. Ternyata Pak Satpam masih mengenalinya. “Iya Pak, terimakasih”. Jawab Alma sambil tersenyum. Setelah masuk keruangan Pembantu Rektor II ternyata di dalam ruangan tersebut pun sudah banyak mahasiswa lain yang senasib dengannya meminta surat ijin mengikuti ujian semester akhir. Dan herannya dengan sangat mudahnya tanpa bertanya sang Pembantu Rektor II sudah tahu maksud kedatangan mereka dan segera memberikan surat ijinnya satu persatu kepada para mahasiswa yang ada diruangan itu untuk kemudian diisi biodata masing-masing mahasiswa. Dengan bersama mahasiswa lain dari berbagai fakultas itu bersama-sama undur diri dan menyampaikan terimakasih.
Alma berjalan keluar ruangan bersama yang lain dengan perasaan luar biasa bersyukur kepada Allah SWT atas kemudahan ini hingga tak terasa air matanya menetes dipipinya. Dengan bekal surat itu Alma menukarnya pada bagian administrasi dengan kartu peserta ujian. Dan Almapun dapat menjalani ujian esok hari dengan tenang. Hingga hari wisuda pun tiba, walau nilai prestasinya biasa-biasa saja, namun dari setiap nilai tersebut seakan bersaksi atas perjuangan Alma dan ibunya yang tak mudah untuk mendapatkannya dan entah berapa liter kandungan air mata pada setiap mata kuliah tersebut.
“Alma Saputri Sarjana Ekonomi”, pembawa acara memanggilnya untuk menyematkan tanda kelulusan dari sang Rektor kepada masiswanya. Ibu dan Nenek menyaksikan Alma maju ke depan dengan perasaan haru dan bangga atas usaha Alma yang gigih dan pantang menyerah yang Ibu dan Neneknya rasakan pada setiap usahanya.
“Ya Rabb, tidak ada apa-apanya usahaku tanpa Ridhomu Ya Rabb,
Alhamdulillah….Alhamdulillah….Alhamdulillah engkau berikan tekad yang kuat pada diri ini untuk bertahan dan terus melangkah tanpa kenal lelah. Terimakasih usahaku ini sebagai wujud ibadahku terhadapmu Ya Rabb dan ijinkan aku membahagiakan Ibuku dan Nenekku di sisa usianya Ya Allah…”. selipan do’a Alma disela lirikan matanya saat melihat Ibunya dan Neneknya di deretan tamu undangan.
Setiap usaha takkan menghianati hasil , setelah menyelesaikan ujian akhirnya Alma diterima bekerja disebuah perusahaan ritail yang cukup besar di kotanya denagn mudah, padahal pada waktu itu Alma belum diwisuda dan belum mendapatkan ijazahnya. Sekali lagi Tuhan memberikan kekuasaannya dengan orang yang dikehendakinya, Walaupun nilai akademis Alma pas-pasan namun dia dapat diterima diperusahaan tersebut dengan baik.
Flash back off
Dengan pengalaman yang dialami itulah Alma selalu menjalani hari-harinya dengan ringan tanpa beban dan penuh rasa syukur. Meskipun saat ini gajinya belum diterimanya selama 4 bulan ini, tetapi biaya hidupnya tak pernah kurang suatua apa. Alma dan keluarga kecilnya telah memiliki rumah dan kendaraan tanpa harus mencicilnya. Suami Alma adalah seorang PNS yang lumayan tinggi pangkat dan jabatannya, namun begitu Alma ingin terus bekerja di perusahaan yang telah membesarkan namanya dan suaminya pun mengijinkannya agar Alma memiliki kegiatan lain dan tidak bosan dirumah terus. Dan dari hasil Alma bekerja itulah setiap bulannya untuk kebutuhan sekolah anak-anaknya. Dan karena gaji Alma belum diterimanya hingga bulan keempat ini maka Almapun menunda membayar SPP anak-anaknya walaupun uang jajan tetap ia transferkan ke anak-anaknya. Alma ingin mendidik anak-anaknya dengan adanya kejadian ini agar anak-anaknya lebih berempati dan lebih menghargai orang yang kurang beruntung dari mereka. Dan suaminyapun setuju akan maksud dari Alma, apalagi dimasa sulit seperti sekarang ini, banyak PHK dimana-mana.
Dalam keadaan apapun kita harus bersyukur, meski belum mendapat uang gaji selama 4 bulan ini, tapi perusahaan tempat Alma bekerja masih bertahan mempekerjakannya bukankah itu suatu yang harus disyukuri.
Dengan telephone yang Alma terima dari anaknya Firman, Alma pun berfikir ulang untuk menyudahi aksinya menahan membayarkan SPP anaknya. “Sepertinya kita harus mengambil tabungan kita untuk biaya SPP Firman Pah”. ucap Alma kepada suaminya. “Silahkan toh itu semua kamu yang ngatur ,bagaimana baiknya aja”, jawab suaminya. “Baiklah besok kita transfer ke sekolah Firman”. timpal Alma. “iya, aku perhatikan sekarang Firman pun sudah banyak berubah, sekarang sudah bisa mengatur keuangannya dengan baik, Insha Allah sudah tau maksud kita” ucap Rendi ,suami Alma. “Iya Pah”. Jawab singkat Alma.
Dalam pesan singkat Alma kepada anaknya sebagai pemberitahuan transfer biaya SPP sekolah sudah terbayar. Alma menambahkan pesan pada anaknya: Anakku, ujian hidup itu nikmat. Nikmat yang tak ternilai harganya. Banyak sesuatu yang indah yang akan kau dapatkan dari balik ujian hidup. Dengan ujian hidup Allah hapus dosa hamba, dengan ujian hidup Allah sembuhkan penyakit hamba, dengan ujian hidup Allah mudahkan rezeki hamba, dengan ujian hidup Allah hindarkan bencana hamba. Selalu semangat menjalani hidup ya sayang.
Alhamdulillah..Alhamdulillah…Alhamdulillah Ya Allah atas semua karuniamu apapun bentuknya, semoga Engkau golongkan kami sebagai hamba yang pandai bersyukur.