Konon, ada satu perasaan milik manusia. Bahagia namanya. Katanya, bahagia itu perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang intens. Hati rasanya berbunga-bunga dan bersemangat setiap saat merasakan bahagia.
Tapi, benarkah bahagia itu ada? Bukankah bahagia itu aslinya fana?
Jika bahagia benar-benar ada, di mana ia berada? Bagaimana rasanya bahagia? Apa yang dirasakan saat seseorang menemukan kebahagiaannya?
Pertanyaan-pertanyaan itu selalu berputar di benak Karl. Ia yang hanya pernah dibalut amarah, bertanya pada Yang Maha Kuasa. Apakah dia hanya belum waktunya untuk tahu yang namanya bahagia, atau memang bahagia itu benar-benar tiada melainkan hanya karangan manusia semata?
__________
“Halo, boleh aku duduk di sini?”
Karl mendongak kala tiba-tiba seorang gadis berada di depannya. Gadis dengan netra sebiru lautan luas, begitu indah bak cakrawala membentang. Surai panjang yang digerai menambah keelokan diri. Siapakah makhluk Tuhan yang begitu manis ini? Agaknya Karl pernah mengenali wajah ini, entah di mana.
“Ah, maaf, aku mengganggumu, ya.”
Karl menggeleng pelan. Ah, ia menyesali kebiasaannya melamun seperti ini. “Eh, boleh, boleh. Silakan.”
Sang perempuan tersenyum dan berterima kasih, lantas duduk di bangku yang sama dengan Karl.
Hening melanda sejenak. Keduanya diliput canggung serta bingung hendak berbicara tentang apa.
“Di sini ramai sekali, ya.”
Suara yang begitu lembut namun asing terdengar di koridor rumah sakit itu, sekali lagi membuat Karl terpana. “Iya, ini korban-korban kecelakaan massal lima hari lalu.”
Sang gadis menceletuk, “Iya ya… kecelakaan itu mengerikan.”
Karl menoleh, menatap heran si gadis. “Kau korban kecelakaan juga?”
Yang disebut mengangguk pelan, beralih menaruh atensi pada perban yang membalut tangan dan kepala Karl yang membuatnya lebih mirip zombi. “Kutebak kau juga salah satu korban selamat kecelakaan itu. Ya kan?”
“Ya, seperti yang kau lihat,” Karl menertawai nasib sialnya sendiri, menyentuh mata kirinya yang telah dioperasi, “Aku sampai butuh donor mata saat itu. Memang belum pulih, tapi syukur masih bisa hidup.”
Kekehan keduanya mengudara. Baguslah, tampaknya suasana canggung berhasil dicairkan.
“Karl,”
Si empunya nama menoleh, hendak melihat siapa yang memanggilnya.
“Kamu tidak apa-apa? Matamu sakit?”
Karl berdiri, membungkuk sedikit pada dokter yang memanggilnya tadi. “Aku baik-baik saja. Sepertinya kornea baru ini akan cocok denganku,”
“Ah, syukurlah. Ayo periksa lagi.” si dokter berkata.
“Oh, kalau begitu, aku ke kamarku juga ya,” si gadis ikut berdiri, melambai rendah, “Dah, Karl!”
Karl melambai pelan, tidak menjawab, namun diam-diam senyumnya mengembang walau tipis. Setidaknya si gadis tahu namanya. Walau sejujurnya, ia menyesali belum berkenalan secara baik-baik. Bahkan si gadis tahu namanya lantaran dokter memanggil.
Semoga besok bisa bertemu lagi, pikirnya.
___________
Ternyata takdir mempertemukan mereka kembali esok harinya, di taman rumah sakit. Saat Karl dengan lahap mengunyah roti sambil mengedarkan pandangan kalau-kalau yang ditunggu datang.
“Pagi, Karl!”
Kini gadis itu melambaikan tangan mungilnya, terpatri senyum manis di wajahnya. Imutnya.
“Hai,” Karl menggeser tubuhnya, menepuk bangku, mengisyaratkan agar sang gadis duduk.
“Terima kasih. Wah, kelihatannya kau pulih cepat, ya. Aku iri.”
“Untuk apa iri? Kau bahkan kelihatan jauh lebih sehat daripada aku.”
Karl memperhatikan gadis yang jadi teman barunya itu. Si gadis termenung, sepertinya sedang memikirkan jawaban dari pertanyaannya.
Tak lama kemudian, si gadis malah tertawa. “Untuk apa iri ya? Aku juga tidak tahu, sepertinya. Iri saja. Kadang aku sering merasakan emosi-emosi tapi tidak ada alasannya kenapa aku merasakan itu. Tiba-tiba saja, begitu! Lalu hilangnya juga tiba-tiba!”
Alih-alih mendengarkan celotehannya, atensi Karl justru terletak pada wajah yang si gadis miliki. Bibir merah ranumnya terus membentuk kata-kata dengan suara yang mengalun indah. Matanya masih sama saja seperti kemarin, begitu menghangatkan rongga dada tiap kali mata bersiborok. Wajah tembamnya bersinar disiram cahaya matahari.
Duh, kalau begini, mau Karl punya sejuta kata pun, sepertinya tak akan cukup untuk mendeskripsikan betapa ayunya si gadis.
“Lalu—”
Kalimat yang hendak diucapkan ditelan kembali saat sang gadis mendapati Karl memperhatikan dirinya.
“Eh, kenapa, Karl?”
“Aku penasaran,”
Si gadis dibuat bingung oleh pemilik suara bariton itu. “Penasaran apa?”
Karl menelan ludah, “Aku penasaran akan namamu. Sepertinya hanya aku yang belum tahu namamu,”
“Oh, aku lupa!” si gadis menepuk kepalanya sendiri, “Aileen, panggil saja Ai!”
Gadis dengan nama Ai itu lantas mengambil tangan Karl yang sehat, menjabatnya seakan-akan mereka sedang berkenalan di acara penting. Ia tertawa lagi.
Karl menatap Ai kembali, tak bosan-bosannya adam satu ini memuja cantik dan lucu perangainya si dara dalam hati. Padahal ia sadar betul bahwa Ai bukan gadis yang cantik sekali hingga mampu menyaingi penyanyi ataupun artis yang dikagumi kaum lelaki kebanyakan. Ai biasa saja layaknya perempuan pada umumnya.
Tapi, sekali saja Ai tertawa, bahkan permata paling menawan pun tak akan bisa menyaingi sinarnya.
Tanpa sadar, terulas senyum tulus di bibir Karl. Samar-samar rona merah muncul, menyisakan rasa hangat di pipi.
Tidak ada kata yang mampu mengungkapkan betapa membuncahnya euforia di dadanya saat ini. Rasanya ribuan kupu-kupu terbang menggelitiki perut Karl.
Inikah bahagia yang katanya karangan manusia semata?
__________
Suara ketukan tiga kali pada pintu memasuki telinga Karl, membuatnya bergegas berdiri membukakan pintu kamar inapnya. Di depan pintu, terpampang seorang gadis yang diam-diam menempati satu tempat hatinya kini.
Siapa lagi kalau bukan Ai.
“Sudah mau pulang saja, hehe,” Ai melihat tas Karl teronggok rapi di pojok kamar. “Bagaimana mata kirimu?”
“Yah, sudah tidak nyeri.”
Karl mempersilakan tamunya masuk kamar, meninggalkan daun pintu terbuka lebar. “Teh?”
Yang ditanya mengangguk. Lantas Karl membawakan dua cangkir teh yang dibuatnya pagi tadi dan duduk di samping Ai.
“Kau tahu, Ai?” Karl meminum tehnya, meletakkan cangkirnya di piring kecil. Beranjak ke kaca yang menggantung di dekat pintu.
“Soal mata baruku, warnanya indah sekali. Setiap aku berjalan melewati cermin, hal pertama yang akan kuperhatikan adalah mata kiriku. Rasanya tak akan jadi masalah bila aku menghabiskan waktu lama hanya untuk duduk dan mengagumi mataku.”
Badannya berbalik, menghadap Ai yang masih duduk menggenggam cangkir teh, masih memerhatikannya.
“Mata ini mengingatkanku pada matamu.”
Karl kembali ke tempat di mana dia duduk, menyentuh kelopak matanya. Sekilas terdengar nada antusias dalam kata-katanya. “Hei, bukankah warna mata kita mirip?”
Ai menatap mata Karl lamat-lamat, tersenyum tipis.
“Iya, mirip. Kau juga kelihatan keren dengan mata barumu.”
Yang disebut keren terkekeh pelan, puas hatinya dipuji sang gebetan. Debar jantungnya makin tak karuan.
𝙏𝙞𝙣𝙜 𝙏𝙞𝙣𝙜!
“Ah, ponselku,” Karl mengambil ponselnya, menggulir notifikasi. Wajahnya yang tadi bersemangat, tiba-tiba jadi murung. “Taksiku sudah di depan.”
Ia menatap Ai. Berarti hari ini adalah hari terakhirnya dengan si gadis.
Sang gadis mendekati Karl, wajahnya tersenyum seakan bilang, “Tidak apa-apa,”.
“Pulanglah,” Ai mengenggam tangan Karl, mengusapnya lembut. “Taksimu sudah menunggu di depan.”
Tanpa di aba-aba, Karl melingkarkan kedua lengannya di pinggang Ai, meletakkan kepalanya di ceruk leher sang terkasih. Ia memeluk erat bak tak ingin dilepas.
Tanpa sepatah kata lagi, ia pergi meninggalkan Ai di kamarnya.
“Dah, Karl.”
Suara indah itu mengalun lagi di koridor rumah sakit, memaksa Karl menoleh dan membalas.
“Dah, Ai. Semoga kita bertemu lagi,”
Karl melangkah menuju taksi, sebelum seseorang memanggil namanya, membuatnya berhenti.
“Hai, nak.” Seorang ibu paruh baya bersama dua anak kecil di sampingnya, menghampiri dengan terengah-engah. Sepertinya mereka habis berlari.
“Ya? Siapa ya?”
“Aku ibu dari Ai, nama lengkapnya Aileen. Aileen adalah pendonormu, kau tahu itu kan?”
Karl terperangah, bagaimana bisa Ai adalah pendonor untuk matanya? Bukankah kedua mata Ai masih lengkap?
“Aku mengenal seorang bernama Aileen di rumah sakit, tapi ia bukan pendonorku. Mungkin Aileen yang Ibu bicarakan berbeda, dan mungkin aku bukan penerima donor putri Ibu.”
Ibu itu menyanggah, “Tidak! Aku kenal betul dengan dirimu.”
Si ibu merogoh sakunya, menunjukkan foto tiga kali empat berlatar biru. Itu foto Ai!
“Ini anakku. Ia kecelakaan dan meninggal. Sebelum meninggal, ia bilang ingin mendonorkan apa saja yang bisa di donorkan,” mata ibu itu berkaca-kaca, “Tapi hanya matanya yang bisa didonorkan, dan itu untukmu, Karl.”
Tangan Karl menyentuh matanya. Jika benar ini mata Ai, lalu siapa yang ditemuinya tadi?
“Maaf Bu…” Karl mengembalikan foto itu, “Maaf membuatmu teringat pada putrimu.”
“Tidak, tidak. Terima kasih telah menerima mata Ai. Boleh kulihat matamu?”
Karl menunduk, membiarkan sang ibu mengusap kelopak matanya. “Indahnya.”
Si ibu mengusap air matanya sendiri, berusaha mengikhlaskan.
“Terima kasih, Karl.”
Akhirnya, Karl pulang setelah berpamitan. Jujur, ia tak menyangka cinta pertamanya jatuh pada gadis asing di rumah sakit yang sudah meninggal.
“Terima kasih sudah membuatku merasakan bahagia, Ai.”
–TAMAT–