Part02
'Terus aku harus tinggal di mana ya?' batin Laura bertanya, di mana dirinya kan tinggal sekarang.
"Ada apa Laura? Sepertinya kau terlihat kebingungan," ucap Leon yang tiba-tiba datang.
"Eh? Tidak, tidak ada," ucap Laura dengan senyum tipis nya, ingat! Hanya tipis!
Tap!
Tap!
Tap!
Suara langkah kaki sepatu Pria mendekati Laura berada. Dia adalah Arga.
"Kau, ikut aku." ucap Arga, dengan tanpa persetujuan langsung menarik lengan Laura dengan lembut.
"K-kita mau kemana?" tanya Laura dengan raut wajah kebingungan. Sedangkan Leon, dia sudah tidak mengerti dengan sikap Bos nya saat ini.
"Diam lah dan jangan banyak bertanya!" ucap Arga yang merasa jengkel dengan Laura yang terus mengoceh.
Hening. Keadaan semakin hening saat Laura di bawa pergi oleh Arga. Laura sendiri tidak tahu dirinya akan di bawa kemana dan nasib nya akan bagaimana nantinya.
"A-arga, kita mau kemana?" tanya Laura dengan hati-hati. Arga melirik Ara sekilas lalu kembali fokus pada jalanan di depan.
"Ke Mansion ku." jawab Arga dingin tanpa ekspresi.
"Emang nya mau ngapain? Kamu mau aku jadi Maid di Mansion kamu ya?" tebak Laura dengan wajah Polos nya.
"Ga, sudah ya Laura Queen, jangan membuat saya merasa kesal dengan ocehan mu itu!" ucap Arga sebesar mungkin menahan emosi nya, sebab, baru kali ini dia menangani seorang wanita. Laura lebih memilih diam dari pada harus mendengar bentakan dari Arga.
———————
"Turun." suruh Arga pada Laura yang masih setia di dalam mobil nya.
Laura pun keluar dengan wajah yang kebingungan. Apa Mansion harus sebesar ini? Pikir Laura.
"Ada apa kau terus memandangi Mansion ku?" tanya Arga dengan wajah datar bagai Dinding.
"T-tidak ada. Aku hanya ingin bertanya, untuk apa kau membawa ku ke Mansion mu?" tanya Laura lagi dengan pertanyaan yang sama seperti pertanyaan pertama nya.
Bukannya menjawab, Arga malah melangkah mendekat pada Laura yang tengah berdiam berdiri di samping mobil hitam nya.
"Aku ingin kamu tinggal di rumah ku, sebagai gadis ku," bisik Arga tepat di telinga Laura. Laura yang mendengar itu merasa merinding, mengapa tiba-tiba dia menjadi gadis seseorang? Apalagi menjadi gadis orang yang sangat kasar pada perempuan, baginya.
"A-aku tidak mau, menjadi gadis mu," ucap Laura menolak dengan sebisa mungkin. Arga yang mendengar itu merasa tidak puas, lalu mencengkram dagu Laura dengan sedikit kuat membuat Laura meringis.
"Aaw ... a-apa yang kau lakukan? Lepaskan, ini sakit ...," ringis Laura mencoba melepaskan cengkraman dari dagunya, namun nihil, bergerak sedikit saja tidak.
"A-arga, lepaskan ...!" ucap Laura sedikit meninggikan suara nya.
Greb!
Arga menarik paksa tangan Laura menuju Mansion nya. Laura hanya bisa menurut dengan langkah kaki yang cepat agar bisa menyamakan langkah kaki Arga.
Brugh!
Arga membenturkan tubuh Laura ke dinding kamar nya dengan keras.
"Aw ... apakah kau tidak bisa lembut sedikit pada ku?" tanya Laura dengan mata yang tertutup, namun nada bicara nya sangat lirih.
Arga meniup wajah Laura yang membuat Laura bergidik ngeri. Mengapa nasib nya jadi seperti ini setelah tersesat di kejar Anj*ng?
"Jadilah gadis ku Laura Queen Smith ...," ucap Arga dengan membisikannya ketelinga Laura yang masih terbenam.
"I-iya, tapi lepaskan aku, aku merasa sesak," ucap Laura lirih. Arga pun melepas kungkungannya dari Laura lalu tersenyum penuh kemenangan.
"Good gril," ucap Arga dengan senyum manis nya, namun bagi Laura itu adalah senyuman yang mengerikan.
Arga mengangkat dagu Laura saat melihat gadis nya menundukan kepala nya.
"Kenapa kau menundukan kepala mu, hmm?" tanya Arga dengan lembut.
"T-tidak, tidak ada," ucap Laura berbohong, padahal dirinya sangat merasa ketakutan.
"Ohya, aku ingin bertanya. Kau Alergi air kan? Lalu bagaimana cara nya kamu bisa mandi?" tanya Arga dengan penasaran.
"A-anu, a-aku malu jika harus mengatakannya," ucap Laura yang kini pipi nya telah merah bak kepiting rebus.
"Tidak Papa, bicara lah," ucap Arga dengan senyum nya.
"Emm, a-aku ...," ucap Laura masih dengan perasaan yang gugup.
Cup!
Arga Men*ium Pipi kanan laura yang terlihat menggemaskan saat tengah gugup. Dia telah menahan itu sejak tadi, sekarang sudah tak tertahan lagi, dia pun menge*up Pipi nya.
Laura terkejut bukan main, biasanya yang boleh men*ium nya hanyalah Mama dan Papa nya saja, tapi sekarang ada Pria asing yang telah men*ium nya.
Cup!
Arga kembali menge*up Pipi kiri Laura, Laura pun kembali di buat terkejut, namun dia tepis semua rasa terkejut nya lalu di ubah menjadi rasa kesal nya.
"Arga! Apaan sih main ci*m sembarangan!" ucap Laura dengan wajah kesal nya.
"Kamu menggemas kan, aku menyukai mu," ucap Arga dengan senyum manis nya yang terlihat sangat manis sekarang.
"Kimi minggimis kin, iki minyikii mi," ucap Laura dengan nada mengejek dengan mulut yang di moncongkan ke bawah.
"Apa kau sedang menggoda ku, hmm?" ucap Arga dengan tatapan yang sulit di artikan, Laura yang mendengar itu langsung membungkam mulut nya tanpa berkata apa-apa lagi.
"Kenapa kau diam Baby?" tanya Arga dengan senyum jahil nya.
"Mulut ku sedang mogok bicara!" ucap Laura ngelantur membuat Arga terkekeh gemas dengan nya.
"Jangan menggoda ku, atau aku tidak bisa menahan diri lagi," ucap Arga, Laura menelan salivahnya dengan susah.
"Tuan Arga eh ... aku lupa namamu, hehe," kekeh Laura dengan wajah yang kebingungan lupa dengan nama Arga serta lupa dengan pidato nya. Arga pun terkekeh saat melihat tingkah gadis nya.
Cup!
Arga ******* sedikit lama ***** Laura. Laura yang terkejut hanya bisa membuka mulut nya karna tercengang, Arga yang mendapat peluang emas itu pun langsung memperdalam.
Sudah 5 menit ber***man, namun Arga masih belum menyudahi aktivitas itu, Laura pun sudah merasa sesak karna terlalu lama melakukan itu dengan Arga yang terlalu nafsu!
Laura memukul dada Arga dengan keras saat nafas nya sudah hampir habis, dia menghentak-hetakan kaki nya agar Arga sadar dari apa yang dia lakukan.
***man pun terlepas,
"Huh ... hah ... kau ingin aku mati kehilangan nafas?! Lebih baik aku mati karna terkena air dari pada harus mati karna ber***man dengan mu yang sangat penafsu!" murka Laura. Bagi Arga itu wajar jika gadis nya marah, karna mungkin itu adalah hal pertama bagi nya.
"Kau merebut First Kiss ku! Padahal itu untuk orang yang akan menjadi suami ku kelak!" teriak Laura memukul dada bidang milik Arga. Sedangkan Arga dia tengah terkekeh dengan sikap Laura yang baginya pemarah.
"Berarti ... aku calon Suami mu kelak bukan? Karna aku telah mengambil First Kiss mu Baby, aku sangat senang," ucap Arga, Laura yang mendengar itu membulatkan matanya tak percaya. Apakah ini senjata makan tuan? Pikir nya.
"Kamu? Calon Suami ku? Oh! No! Bisa gawat hidup ku bila kau yang akan menjadi calon Suami ku! Lebih baik aku menikah dengan Kucing dari pada harus menikah dengan Anj*ng!" ucap Laura dengan nada frustasi.
"Kau mengatai ku Anj*ng?" tanya Arga dengan suasana yang buruk. Laura telah membuat Mood nya yang tadi sangat baik malah menjadi buruk seperti biasa nya.
"T-tidak ... aku tidak mengataimu Anj*ng, kamu mungkin salah dengar," ucap Laura dengan gugup.
"Kau, sungguh pemberani, hingga mengataiku Anj*ng?!" bentak Arga yang membuat Laura terkejut.
Tak!
Lampu tiba-tiba mati membuat Laura semakin ketakutan lain hal nya dengan Arga yang biasa-biasa saja.
"Arga, kau di mana? Arga, jangan tinggalkan aku ya? Aku takut," lirih Laura meraba-raba kedepan, namun dia tidak menangkap sosok Arga lagi di depannya.
"Arga! Arga kau di mana?! Arga jangan membuat ku takut!" teriak Laura ketakutan, sedangkan Arga sengaja ingin menjahili Laura.
"Arga hiks ...." tangis Laura masih terus mencari keberadaan Arga, dia yakin Arga tidak berada jauh dari nya.
Prak!
Brukh!
Laura tersandung lalu kepalanya membentur meja lalu pingsan. Tepat pada saat itu lampu pun hidup, Arga yang melihat itu terkejut lalu Membawa Laura ke rumah sakit untuk memeriksa keadaannya.