Orang-orang ada yang mengatakan hujan itu musibah, ada juga yang bilang hujan itu rahmat. Tapi aku mengatakan hujan itu segalanya.
Kamu tahu kenapa? Hujan seperti selalu tahu perasaanku bagaimana. Ketika aku ingin bermain, hujan datang. Ketika aku sedih dan ingin menangis tanpa orang tahu, hujan juga datang. Aku merasa, hujan seperti bagian bahkan segalanya dalam hidupku.
Mari kita mulai perjalanan dari tokoh utama.
___________
Hai, aku Amaya Cantika. aku anak perempuan yang menyukai hujan, umurku 8 tahun saat itu. Jadi, aku duduk di kelas 2 SD Lentera Bangsa. Nama Amaya juga memiliki arti hujan di malam hari.
Ceritaku dimulai ketika langit mulai mendung, pertanda hujan akan segera muncul. Saat itu aku masih di sekolah, menunggu jemputan dari ayahku. Tapi aku bingung, kenapa ayah tidak datang-datang?
Selagi aku menunggu ayah, aku senantiasa melihat langit lalu beralih menunduk melihat tanah, berkali-kali sampai ada suara yang mengagetkanku.
"Hai, kenapa kamu disini?" ucapnya padaku.
Aku menjawab, "hai juga, aku sedang menunggu ayah". Lalu aku berlanjut bertanya padanya, "Oh iya, siapa kamu?".
"Hehe, aku Raka Navendra. Anak kelas 3, Kalau kamu?" tanyanya. Lalu aku menjawab, "Aku Amaya kak, Kelas 2".
"Sambil nunggu ayah kamu, kita main yuk," ajak Raka padaku.
"Kita main apa kak?" aku Amaya.
"Main petak umpet mau?" jawab sekaligus tanya Raka. Aku mengiyakan ajakan kak Raka, soalnya aku juga ingin bermain.
Jadi kita berdua menunggu di koridor sekolah, biasanya orang tua bisa jemput anaknya di depan sekolah, tepatnya di tempat parkir.
Kami memutuskan kak Raka yang menghitung dan aku yang bersembunyi. Selagi kak Raka menghitung, aku langsung berlari dan mencari tempat persembunyian.
Melihat ke kanan dan ke kiri, lalu.. dapat. Aku menemukan tempat untuk sembunyi.
Aku berjalan hati-hati dan memasuki ruangan itu. Sepertinya ini gudang sekolah, karena banyak barang tidak terpakai dan terbengkalai. Tapi aku memutuskan untuk memberanikan diri, walaupun sebenarnya ketakutan.
Sekitar 15 menitan aku menunggu, aku mulai mengantuk dan mulai menutup mata, tapi aku mulai tersadar lagi, sebab ada suara pintu terbuka.
Saat aku mengintip, aku menutup mulutku, itu kak Raka. Dia melihat dengan sangat teliti, tapi aku bersembunyi di bawah meja yang sudah tertutupi banyak kursi di sampingnya. Jadi aku merasa sedikit tenang.
"Dimana Amaya? pandai sekali bersembunyi, aku sampai kelelahan, huh," ucap Raka dengan mengelap keringat yang membasahi dahinya, lalu membuang nafas.
"hihi, kakak lucu," aku mengucap dengan sedikt terkikik.
Raka yang mendengar sedikit suara langsung mencari asal suara tersebut. Dan dapat, Raka langsung mengagetkan Amaya, "Hayoo," Kagetnya.
"Aaaa" Aku sontak kaget, dan sedikit teriak. "Kakak ih, ngagetin aja. Aku kalah nih?" Aku menjawab dengan bibir maju ke depan.
"Haha iya, kamu kalah. Udah-udah, kita balik ke depan yuk, takut nanti kalo orang tua kita udah datang, tapi kita gaada," ajaknya.
Aku lantas berdiri dan mengikuti kak Raka yang berjalan duluan. Kami berjalan sambil bergandengan tangan. Saat di tengah perjalanan kak Raka bilang, "main sama kamu enak, besok kita main lagi ya," ajaknya padaku. "Iya kak," sahutku.
Selepas itu kami duduk di tempat duduk yang aku pakai tadi.
Beberapa menit kemudian, ada dua kendaraan yang datang ke arah kami. Saat aku melihatnya dengan jelas, salah satu kendaraan itu adalah milik ayah.
Aku lantas berdiri, "Ayahh," teriakku sambil melambaikan tangan.
"Maaf ya nak, ayah tadi kelupaan," ucap ayahku sambil mencium dahi ku.
"Gapapa kok yah, tadi juga Aya main sama kak Raka," ucapku sambil menunjuk kak Raka.
"Haha iya, Makasih ya nak. Kami pamit dulu," ucap ayah lalu menggendongku menuju mobil.
"Iya om, sama-sama. Amaya, semoga ketemu kembali," setelah menjawab tadi, sontak Raka langsung berteriak dan melambaikan tangannya.
"Iya kak," aku menyahutnya juga dengan lambaian tangan.
"Ayo kita pulang Raka," gandeng ibu Raka.
"Iya bu," Jawab Raka sambil mengikuti ibunya.
____________
Sesampainya di rumah aku sontak langsung berlari menuju ibu, "ibu, Aya pulang," ucapku dengan tergesa-gesa sambil memeluk ibu.
"Haha, iya putri ibu yang paling cantik, juga gemesin," jawab ibu sambil membalas pelukanku, lalu menyubitku.
Saat aku mau marah ibu lantas mengatakan, "udah sana ke kamar, mandi dulu. Jangan cemberut putri ibu".
Aku mengangguk dan menuju ke kamar, melakukan kegiatan yang sehari-hari dilakukan oleh anak sebayaku tentunya.
Esok harinya, Matahari mulai memunculkan sinarnya, langit yang sangat cerah, jangan lupakan burung-burung yang berkicauan dan seluruh makhluk hidup yang memulai aktivitasnya.
Aku senang saat mau berangkat ke sekolah, ibuku juga langsung terheran-heran, sebab anaknya yang tidak sikapnya tidak biasa-biasa saja.
"Ada apa nak?" tanya ibu.
"Ga ada apa-apa kok bu," jawabku tentunya.
Setelah pembicaraan itu, aku langsung menuju ke ayah dan kita langsung berangkat ke sekolah.
Sesampainya disekolah, aku langsung bersalaman dengan ayah dan menuju ke dalam sekolah tentunya.
Sebelum aku ke kelas, aku mampir ke kelas kak Raka. Saat aku sampai, aku tidak melihat kak Raka disitu, "dimana ya kak Raka?" pikirku.
"Kak, kakak tau gak? kak Raka dimana?" tanyaku ke salah satu teman kelas kak Raka.
"Oh Raka, dia tadi pagi ada izin buat pindah sekolah sih. Orang tuanya ada pekerjaan di luar kota," ucapnya.
Aku yang mendengar itu lantas menatap kakak itu dan berkata, "makasih kak informasinya. Aku ke kelas dulu ya," ucapku dengan melambaikan tangan.
Dalam perjalanan aku langsung sedih, "padahal kak Raka bilang besok bakalan main lagi," batinku dengan muka cemberut.
____________
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Sekarang sudah 7 tahun dan aku berumur 15 tahun setelah kejadian itu. Aku masih memikirkan kak Raka.
"Anak ayah cemberut melulu, kenapa?" goda ayah. "Gapapa kok yah, Aya cuma gak 𝘮𝘰𝘰𝘥 aja hehe," ujarku dengan tersenyum tipis.
"Yaudah, kita berangkat," ujar ayah.
Oh iya, semenjak kejadian itu, aku jadi sering melamun juga tentunya tidak se-ceria dulu. Ayah dan ibu sampai pindah keluar kota bersamaku, lantaran mereka yang mengetahui masalahku.
Kata mereka, "kita pindah rumah biar kamu ga terus-terusan sedih Aya". Aku yang mendengar itu hanya mengangguk sambil merasakan perasaan terharu.
__________
Kali ini waktunya aku pertama kali sekolah, setelah lulus dari SD. Aku mengenakan seragam baru tentunya, saat setelah beberapa menit perjalan, aku dan ayah telah sampai di sekolahan. Ekspresi ku saat melihat sekolahan itu adalah kagum.
Bagaimana tidak? sekolahan ini kerap kali terkenal bahkan sudah dijuluki SMP favorit. Tepatnya SMP Pertiwi.
Aku mulai menapakkan kakiku menuju ke dalam sekolah, berjalan sambil memegang tas ransel serta dengan pandangan sedikit menunduk.
Sesampainya dikelas, aku langsung pergi ke meja kosong dan melirik keadaan sekitar. Lumayan ramai, tapi aku sedikit takut.
Lalu pelajaran dimulai, kita bisa menyebutnya pelajaran memperkenalkan diri. Wali kelasku datang dengan beberapa murid, yang pasti aku yakini adalah anggota OSIS.
"Hai, anak-anak. Perkenalkan saya wali kelas kalian, Bu Asya. Disamping saya ada anggota OSIS, yang nantinya lebih mengenalkan lingkungan sekolah ke kalian.
"Baik, Bu Asya." balas kami semua.
Perkenalan dimulai dari anggota OSIS, setelah selesai, giliran kami para murid.
"Ayo, sekarang berganti ke kalian yang memperkenalkan diri, dimulai dari kamu," tunjuk Bu Asya ke arah meja yang berada di bagian paling pojok kiri depan.
"perkenalkan nama saya………". Setelah beberapa saat kemudian, sekarang giliran murid di meja sampingku dan aku.
"Perkenalkan nama saya Raka Navendra, tinggal di Jln.Dewata No.24 Terima kasih," ucapnya.
Lantas aku langsung menatapnya dengan ekspresi terkejut. Bagaimana tidak, dia yang selama ini aku pikirkan. Lalu guru memanggilku, "sekarang giliranmu nak”.
Aku hanya mengangguk lalu berdiri di tempatku, "perkenalkan nama saya Amaya Cantika, tinggal di Jln.Cempaka No.10 Terima kasih," ucapku.
Lalu aku duduk kembali seperti semula. Beberapa waktu berlalu, kini waktunya pulang. Dan aku sedang menunggu jemputan ayah tentunya.
Ayah terkadang terlambat karena lupa, aku bahkan sering menegurnya dengan halus. Sesaat aku terkejut, karena ada yang menepuk pundakku. Lantas aku menoleh ke belakang dan melihat kak Raka.
Oh iya, kami sekelas karena dulu aku pernah loncat kelas, jadi begitulah.
"Kamu Amaya? anak kecil yang dulu main sama saya?" Tanyanya padaku.
"Bukan kak, Tika dari dulu home schooling kak. Mungkin kakak salah orang," jawabku dengan ragu tapi mencoba meyakinkan.
"Maaf-maaf, saya kira kamu teman masa kecil, karena namanya sama," ujarnya.
"Gapapa kak." Aku tersenyum.
Waktu perlahan berlalu, kehidupan terjadi seperti biasanya. Tapi, sekarang ada kejadian yang membuatku gugup. Sebab tersudut dengan pertanyaan dari kak Raka.
"Kamu berbohong!" sentaknya.
"Berbohong kenapa kak?" tanyaku dengan sedikit gagap.
"Amaya, kamu Amaya kan? yang dulu main sama saya kan?" kata kak Raka.
Dimulai dari aku yang berada di danau sambil bergumam tentang kak Raka, dan kak Raka yang tidak sengaja mendengarnya lantas langsung berjalan ke arahku, lalu menanyakannya.
"Saya cari kamu, maafkan saya karena tidak memberitahumu. Orang tua saya membawa saya keluar kota, dan tidak sempat untuk berkemas," ujar kak Raka dengan rasa bersalah.
Aku yang mendengarnya langsung merasa lega, dan air mata mulai meluruh. "Kak, Aya kira kakak gak nepatin janji karena kaka benci Aya," aku dengan nada bersalah juga.
"Gak akan, saya tidak pernah membencimu. Maafkan saya karena tidak memberitahu,"
kata kak Raka. "Gapapa kak," jawabku.
Dan sosok Amaya dan Raka menjadi dekat, setelah tiga bulan mereka memiliki hubungan teman, sekarang mereka menuju jenjang yang lebih serius.
____________
Dari kisah ini, saya menyimpulkan beberapa pesan. Kebahagiaan seseorang sebenarnya sederhana, saking sederhananya terkadang sulit untuk terkabul. Mendapat kepercayaan memang mudah, tapi untuk mengembalikan sebuah kepercayaan yang sudah dikhianati, tentunya tidak mudah.
Pemikiran orang berbeda-beda, terkadang pikiran mereka dewasa tapi tidak umurnya. Semuanya tergantung dengan kejadian yang ia alami.