Di malam pernikahan, suamiku berkata kepadaku, "minta maaf aku berbohong kepadamu, sebenarnya aku juga seorang wanita ..."
Aku tertawa palsu "kau bercanda kan?"
Ia hanya menunduk. "Maaf..." Lirihnya
"Bercanda kan? Jawab aku!" Aku mulai membesarkan volume suaraku.
"Maafkan aku..."
"Tidak. Tolong jangan meminta maaf terus menerus, jawab aku!"
"Aku tidak bercanda, aku benar-benar minta maaf, aku sangat menyesal menyembunyikan ini tapi aku benar-benar mencintaimu dan aku ingin tetap berada di sampingmu..."
"Aku mengerti," menyela ucapannya "aku mengerti maksudmu" aku tersenyum untuk menenangkan nya
"Apa kau marah Eiko?" Dia menatap mataku
"Em t-tidak, aku hanya..." Aku menunduk "ah bagaimana kalau kita kesana untuk ambil minuman dan menyambut tamu yang datang malam ini" mengalihkan pembicaraan.
Ia menahan tanganku pergi "kau belum menjawabnya"
"E-eh ak-aku... Tentu saja aku tidak marah, untuk apa aku marah?"
"Sungguh?"
"Tentu, aku tidak bisa marah pada orang yang kucintai seperti mu"
Air mukanya berubah seketika, ia sangat lega.
"Aku mencintaimu Rui-kun... E-eh ma-maksudku Rui!" Aku menutup mulutku "maaf hehe"
Ia tersenyum geli.
Aku menarik Rui untuk pergi mengambil minuman. Saat aku hendak berbalik menghadap kearah Rui, aku terdorong oleh seseorang dari belakang yang mengakibatkan minuman yang ditangan ku tumpah ke pakaian Rui.
"Maaf, aku sungguh minta maaf" ucap pria itu sambil berbungkus kecil kearah kami.
"Hideyoshi-san?" Ucapku sambil ternganga
"Ah iruma-chan, aku sungguh minta maaf"
"Ee tidak apa-apa, sungguh"
Hideyoshi berusaha membersihkan pakaian Rui
"Sudahlah Hideyoshi-san... Sungguh tak apa. Ngomong-ngomong sejak kapan kau datang? Aku tadi tidak melihatmu saat resepsi"
"Iya, aku telat karena tadi terjebak macet. Selamat ya Iruma Eiko, Yashio Rui! Aku turut senang atas pernikahan kalian. Maaf aku tidak bisa hadir saat resepsi" katanya sambil menyalami kami berdua.
"Tidak apa, kau terlalu banyak minta maaf" aku terkekeh kecil.
"Iya, kami sangat senang kau bisa hadir di pernikahan kami, itu sudah lebih dari cukup bagi kami. Terima kasih" Rui angkat bicara
"Haha terlalu berlebihan... Bagaimana bisa aku melewatkan pernikahan kawan ku ini" tangannya meraih tubuhku lalu merangkul ku.
"Hei apa kau sudah makan hidangan yang ada? Kau rugi besar hideyoshi-san" canda ku. Kami semua tertawa.
"Em etto... Aku ingin mengganti pakaian dulu, kalian bersenang-senanglah" Rui pergi.
"Baiklah-" ucapan ku terputus. "Hmm... Bagaimana kalau kita makan dessert?"
Kami berdua duduk di meja yang berada di balkon.
"Senang nya di hari istimewa" Aku bersenandung
"Aku senang melihat mu senang, Iruma-chan"
Aku tehenti lalu menatap matanya yang lemah. Aku jadi merasa canggung.
"Aku tahu ini percuma, tapi aku ingin mengatakannya sekali lagi. Aku mencintaimu Iruma-chan"
Aku hanya bisa diam tak bergeming.
"Yoshio sangat beruntung memiliki mu. Tapi kalau saja dia berbuat yang tidak-tidak atau nakal padamu, katakan saja, aku akan menghajar nya hingga babak belur" katanya sambil menonjok telapak tangan nya sendiri, memecahkan suasana canggung.
"Hahaha aku akan mendidik nya hingga dia tak akan berani macam-macam padaku..." Aku terkekeh
"Bagus, ajarkan dia seperti kau mengajar anak anjing hahaha"
Kami tertawa.
"Wah... Aku ketinggalan apa nih?" Tiba-tiba Rui muncul dari belakang ku.
"Hahaha Rui kau tertinggal banyak hal" kata Hideyoshi sambil menepuk-nepuk kursi disebelahnya.
"Oh ya? Memangnya apa yang kalian bicarakan?"
"Oh tidak Yoshio-kun... Kau terlalu polos" Hideyoshi menepuk bahunya
Aku hanya bisa ikut tertawa melihat raut muka Rui.
"Ah iya ngomong-ngomong, aku kesini untuk mencari mu Eiko, papa mencari mu tadi"
"Oh benar kah?" Aku berdiri "aku akan kesana kalau begitu"
"Hm ngomong-ngomong aku juga akan pergi sekarang" Hideyoshi berdiri.
"Hah? Cepat sekali... Bahkan kita belum sempat mengobrol" Rui menyilangkan tangan di depan dada.
"Aku ada urusan dan harus segera pergi, maaf ya teman-teman"
"Ah baiklah, tapi setidaknya biarkan kami mengantarkan mu sampai depan"
"Oke boleh saja,"
Kami keluar
"Terima kasih sudah datang hideyoshi-san~" Rui memeluk Hideyoshi.
"Sama-sama kawan. Selamat atas pernikahan mu dan jangan lupa traktir aku hot pot saat kau luang"
"Astaga anak satu ini masih memikirkan hot pot... Apa makan mu kurang di dalam?" Kami semua tertawa.
"Tentu saja, aku tidak akan kenyang jika belum ditraktir hot pot oleh mu, Yoshio-kun" menepuk bahu Rui. "Ah ngomong-ngomong apa kalian akan melakukan nya malam ini juga?" Bisik nya sambil mengangkat alis.
Kami berdua menatap satu sama lain lalu tertawa hambar.
"Hei ada apa? Apa kalian belum memutuskan?" Hideyoshi tertawa lepas
"Kau ini jangan macam-macam, atau aku akan memutar leher mu," ucap Rui sambil merangkul leher Hideyoshi, "tapi kau tenang saja, aku akan membuat Eiko memohon" tambahnya sambil tertawa lepas.
"Dasar kau" ucapku sambil memukul kepala Rui.
Hideyoshi hanya tertawa. "Baiklah aku pulang, aku sudah di tunggu"
"Baiklah Hideyoshi-san, hati-hati dijalan" Rui melambai pada Hideyoshi yang mulai menjauh. Terlihat Hideyoshi yang membalas lambaian Rui.
Aku hanya bisa melihat Hideyoshi yang mulai mengecil dan samar.
Mengapa bisa? Mengapa bisa aku mencintai seorang wanita dibanding mencintai pria yang mencintai ku sekarang? Namun apa boleh buat. Aku benar-benar mencintai Rui dan tak ingin jauh dari nya. Lalu apa yang harus ku lakukan sekarang ini? Menjadi ibu dari seorang wanita? Konyol sekali. Tapi ku mohon tuhan, jadikan keputusanku ini menjadi indah dan jangan membuatku menyesal. Aku mencintainya dan hanya dia... Tolong jangan jauhkan aku darinya.
"Eiko-chan?? Kau melamun?" Rui menggoyangkan bahu ku.
Aku tersadar dari lamuan.
"Eh? Aku melamun? Aku tidak melamun kok."
"Tidak melamun bagaimana? Aku sudah memanggilmu dari tadi dan kau hanya diam saja" dia mencubit pipiku, "berarti... Kau tidak mendengarkan ucapan ku sedari awal" ucapnya pelan dengan air muka yang tak bisa dimengerti.
"Memangnya kau bicara apa tadi?" Mendekatkan wajah ku, penasaran.
"Tidak apa-apa" mendorong wajahku dengan telapak tangannya yang besar.
"Hump tangan mu! Riasan muka ku jadi rusak" aku memanyunkan bibir.
"Ah kawaii" sambil mencubit pipi ku.
"Cukup, aku marah! Jauhkan tanganmu dari wajahku!"
"Wajah marah mu membuatku tak bisa menjauh, Eiko"
"Cukup" aku berjalan menjauh.
"Hei tunggu aku, tunggu" mengejar ku. "Tunggu aku atau ku cium kau" tambah nya dengan nada nakal.
"Dasar kurang ajar, ku bunuh kau" aku berhenti dan berbalik.
"Oh lihatlah, wajah Eiko memerah" wajah nya mendekat.
"Aahh kumohon Rui-san" aku merengek.
"Iya-iya... Duh lucu sekali"
"Sudahlah aku ingin pergi ke papa!"
–SEUSAI ACARA–
Aku memasuki kamar hotel yang sudah dipesan satu set dengan gedungnya. Tak lama kemudian Rui juga masuk.
"Ah lelah sekali" Rui langsung menjatuhkan diri di kasur mengeluh.
"Rui-san" panggil ku lirih.
"Ada apa Eiko-chan?" Dia terduduk. Kami duduk saling membelakangi.
"Aku ingin bertanya"
"Apa itu?"
"Apa kau belum sama sekali memberi tahu soal kelamin mu pada keluarga baru mu itu?"
Rui terdiam, seketika suasana menjadi dingin.
"Ya begitulah" ucapnya, terdengar nada suara yang ceria tadi berganti menjadi nada yang suram. "Semenjak mereka mengadopsi ku, aku tak pernah bercerita apapun pada mereka. Bahkan saat mereka bertanya dimana keluargaku, aku hanya menjawab kalau keluarga ku sudah tiada."
"Mengapa?"
"Aku juga tidak tahu".
Hening.
"Aku selalu berusaha terlihat ceria di depan mereka, anggap saja itu tanda terima kasih ku."
"Tidak, maksudku.."
"Aku tak pernah memberitahu apapun pada siapapun, Eiko. Kecuali dirimu..." Memotong perkataan ku. "Tapi ingatlah, aku sangat bahagia dengan keluarga baru ku sekarang terutama dengan kedatangan dirimu dalam hidupku"
Aku berbalik dan melihat matanya yang penuh dengan air mata dari pantulan kaca didepannya.
Dia menangis. Dan ini pertama kali ku melihat nya menangis. Melihat nya menangis membuat ku ingin menangis.
Aku memeluknya dari belakang. Mengeluarkan air mata yang ku tahan dan berbisik manis di telinganya,
"Ketahuilah, aku juga sangat senang bisa datang ke kehidupan mu dan menikah dengan mu".