* Hari pertama
Aku adalah Kirana, Camilla Kirana Kasidi. Aku adalah seorang siswi baru di sebuah sma negeri di Banyuwangi, lebih tepatnya siswi pindahan. Hari ini adalah hari pertama aku masuk sekolah. Hari ini, senin tanggal 3 januari 2022 di awal semester genap.
Aku yang sudah memakai seragam serba putih ku, langsung berangkat ke sekolah dengan ojek online yang sudah aku pesan 15 menit yang lalu.
"Pak.. Bisa lebih cepat enggak? Saya sudah telat ini. "
"Iya, bisa Mbak!"
Uhhh.. Mentari sudah mulai menyinari helm warna hijau khas ojek online yang aku kenakan. Rambutku juga yang awalnya agak basah kini mulai kering karena angin yang selalu meniup - niup rambutku yang legam.
"Pak.. Pak! Sudah di sini saja. Gausah sampai gerbang. "
"Oh.. Iya mbak! Jangan lupa bintang 5-nya yah mbak. "
"Iya, iya. "
Aku mengaktifkan android ku dan melihat jam. Apa! Apa jam ini benar? Sekarang jam 07.23? Berarti aku sudah telat dong?
Keringat ku mulai bercucuran. Badan ku mulai terasa panas dingin. Di dalam pikiran ku sekarang sedang terjadi perang argumen antara mbolos atau tetap masuk walau telat.
"Duhh.. Gimana ini, masa hari pertama masuk sekolah malah telat? Mbolos aja atau gimana? Ahh jangan, jangan mbolos. Kasian orang tua aku yang sudah membiayai sekolah ku. Tapi, bagaimana nih caranya aku bisa masuk ke dalam sekolah tanpa ketahuan. Pikir kirana, gimana caranya agar kamu bisa masuk tapi tanpa diketahui oleh guru. Pikir cepat. "
Mataku menoleh - noleh sekitar dan melihat sebuah meja yang di atasnya terdapat sebuah kursi. Meja yang di atasnya terdapat kursi itu sangat pas sekali letaknya, letak bangku dan kursi itu ada di samping tembok pagar sekolah yang terbilang tidak cukup tinggi. Yah, bisalah kalau dipanjat menggunakan bangku dan kursi itu.
"Terimakasih tuhan, kau selalu membantu ku pada saat - saat sulit. "
Tanpa pikir panjang, aku yang mengenakan baju dan rok bewarna putih ini langsung naik ke atas bangku lalu naik ke atas kursi guna melewati tembok pagar sekolah tanpa terlihat oleh guru.
"Ahh.. Akhirnya udah di atas tembok. Tinggal terjun ke bawah dan langsung masuk ke sekolah, tanpa ketahuan oleh guru kalau aku telat. Oke, sekarang tutup mata kamu kirana dan langsung terjun ke bawah. "
Hyat...
Kaki ku sudah merasakan kalau aku sudah di atas tanah. Mata ku yang awalnya ku pejamkan, perlahan mulai ku buka. Hidung ku yang bisa di bilang agak sedikit mancung ini merasakan kalau ada banyak sekali pepohonan yang berada di sekitar tempat aku mendarat.
"Ahhh.. Aroma pagi hari memang yang terbaik. "
"Ehem.. "
Telinga ku sepertinya mendengar seseorang yang berkata "ehem" , tapi aku melihat ke kiri dan ke kanan tidak ada siapapun. Ya sudahlah aku lanjutkan saja jalan menuju ke kelas ku. Menurut denah yang aku terima malam tadi, kelas ku tidak jauh dari tempat ku berada saat ini.
"Ehem.. Mbaknya murid dari sekolah mana? "
Lah, kok ada yang ngomong sama aku? Apa aku ketahuan? Ahh tidak mungkin cuman khayalan ku saja.
"Mbak, di belakang sini. "
Sontak aku menoleh ke belakang dan mendapati seorang siswa yang memakai kacamata dan berjas layaknya seorang osis dengan rambut yang rapi berbalut pomade yang aromanya harum seperti parfum khas laki - laki.
Deg.. Itu osis?
Orang yang pertama kutemui di sekolah ini adalah dia. Tapi, dia melihatku
seperti seorang yang kecewa. Ia menyilangkan kedua tangannya dan menggelengkan kepalanya sedikit.
Aku sempat terpana melihat parasnya. Postur tubuhnya yang bagus, rupa yang begitu elok dipandang, suara yang agak berat tapi enak didengar, dan yang menjadi nilai plus adalah penggunaan kacamatanya yang sangat cocok padanya. Siapa sih wanita yang tidak terpana melihatnya?
Siswa yang sekarang ada di hadapan ku ini kira - kira mempunyai tinggi kurang lebih 170, dengan kulit yang agak putih, bibirnya agak merah, hidunya mancung. Ah.. Pokoknya ia seperti anak keturunan Arab.
"Mbaknya siswi sekolah mana? Kok logo sekolah di seragamnya berbeda? "
Siswa berjas itu berjalan ke arah ku.
Deg.. Deg.. Apa! Aku ketahuan? Sialan. Terus bagaimana ini?
Saat ini ia sudah berada di hadapan ku.
"Mbak, jangan bergerak dulu. "
Eh eh eh kenapa dia semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Kkenapa? "
"Ahh enggak ada, aku cuman mau ngambil daun yang ada di rambut mbaknya aja. "
Ahh aku kira bakal terjadi adengan seperti drama - drama remaja.
"Ohh ya mbak, mbaknya belum jawab pertayaan saya. Mbaknya siswi sekolah mana? Kok logo sekolahnya berbeda? Apa jangan - jangan mbaknya mau ngajak siswa - siswi sekolah ini tawuran? "
"Aku mau menjawab, jika kau sedikit menjauh dari aku. "
"Mbaknya aneh banget. Dari banyaknya siswi yang ada di sekolah ini, kalau aku ada didekatnya pasti enggak mau aku menjauh."
Hmmm... Dia memang ganteng sih, tapi rasa percaya dirinya itu enggak banget, terlalu berlebihan. Dia juga menyamakan semua siswi yang ada di sekolah ini. Dikira semua siswi termasuk ras rahim anget kali.
"Duhh.. Menjauh dikit. Kamu itu terlalu dekat. "
"Iya, iya, bawel. "
Dia pun menjauh dari ku, sekitar tiga langkah kebelakang.
"Okeh, aku bakal jawab pertayaan kamu satu persatu. Yang pertama, Aku siswi baru di sini dan aku belum dapat atribut seragam sekolah ini. Yang kedua, aku bukannya mau ngajak murid sekolah ini tawuran, tapi kamu sudah lihat sendirikan kalau aku telat. Sudah puas? Ada yang mau ditanyakan lagi? "
"Oh gitu. Yaudah mbaknya jangan ninggalin tempat ini yah. Tetep di sini saja. Saya mau ngawasin tembok tempat mbaknya loncat tadi. "
"Kenapa harus diawasin? "
"Seperti yang mbaknya katakan tadi, kalau diluar tembok ada kursi yang berada di atas meja. Itu sebenarnya jebakan eksklusif hari ini untuk murid yang sering telat. Dan hanya orang bodoh saja yang mau lewat situ. Dikiranya enggak ada yang jaga. Hahahaha.. Saya pintar kan mbak. Itu ide dari saya loh.. "
"Nyenyenye..
Ehh bentar.. Kamu secara enggak langsung ngehina aku. Hanya orang bodoh saja yang mau lewat situ? Aku kan lewat situ. Berarti aku bodoh begitu? "
"Ahh enggak mbak. "
"Ahh udahlah aku mau langsung masuk ke kelas. Lagian kelasnya dekat sini kok. Gabakal ketahuan guru kalau aku telat. Toh, kelasnya paling belakang dan jauh dari lapangan. "
Aku kemudian berjalan dengan cepat menuju kelas ku yang tak jauh dari sini. Tapi...
"Tunggu mbak. Kan saya suruh tunggu di sini. "
Dia memengang tangan ku.
"Ih.. Lepasin gak! Aku mau ke kelas. Keburu upacara selesai. Nanti kalau ada guru aku ketahuan telat terus dihukum. "
Dia melepaskan tangannya dan kemudian memasukan kedua tangannya di saku celana putihnya. Dengan memasang muka sombong dia berkata...
"Mbaknya lupa? Mbaknya kan udah ketahuan dari awal. "
"Emang kamu siapa? Guru? Osis? "
"Saya ini ketua osis mbak.. Enggak lihat apa saya pake jas osis. "
"Ohhh gitu?
Terus aku harus nunggu di sini? Sama kamu? "
"Ya iyalah sama saya. Sama siapa lagi? "
Ini orang rasanya pengen aku jotos mukanya. Ngeselin banget dah. Terlalu percaya diri. Sumpah pengen aku jotos mukanya. Oh tuhan, terimakasih sudah memberiku hukuman di pagi hari ini. Hiks..
"Emm mbak. Sepertinya upacaranya sudah selesai. Dan hanya mbaknya saja yang telat. Ayo mbak ikut saya. "
Dia lagi-lagi memegang tangan ku dan kemudian kaki - kakinya mulai berjalan.
"Kita mau kemana? "
"Emang, mbaknya maunya kemana? "
"Ehh serius. Kita mau kemana? "
"Ya kelapangan upacara mbak. Kemana lagi? Hotel? Ayok dah kalau begitu. "
"Idih.. Jijik. Gausah pegang tangan aku. Lepasin! "
Dia kemudian melepaskan genggamannya.
"Yaudah ikuti saya, mbak. "
"Iya. Emang mau ngapain ke lapangan. "
"Mbaknya kan telat, jadi harus dihukum dulu baru boleh masuk kelas."
Udah susah - susah panjat pagar sekolah masih aja dihukum. Yah walaupun manjatnya pake bantuan sih. Tapi, tetep aja dihukum. Mending aku lewat gerbang aja. Toh, sama - sama, dihukum.
Aku dan manusia berkacamata yang super nyebelin ini sampai ke lapangan upacara. Disana sudah tak terlihat guru maupun murid yang berkeliaran layaknya bebek yang mencari hidup. Terlihat upacaranya sudah selesai.
"Jadi apa hukumannya?"
"Hukumannya adalah mbak harus hormat bendera selama lima belas menit. "
"Lima belas menit? Serius? Aku perempuan lho. "
"Ya, saya tahu mbaknya perempuan. Udah mbaknya gausah nego yah. Ini hukuman bukan sayur yang dijajahkan di pasar. "
Aku pun segera mengangkat tangan kanan ku dan berpose hormat kepada sang merah putih yang melambangkan perjuangan para pahlawan yang kini sudah mulai dilupakan.
"Gini amat ketua osisnya. Kenapa coba orang kek gini bisa kepilih jadi ketua osis. Modal tampang doang. Cuihh.. Jijik aku. "
"Mbaknya bilang apa barusan? "
"Enggak ada, enggak bilang apa - apa kok. "
"Mbaknya terus hormat yah. Saya ke kelas dulu."
Dia kemudian meninggalkanku sendiri di tengah lapangan yang sudah tersinari oleh mentari yang menyengat kulit.
"Serius aku ditinggal? Ahh lima belas menit lama banget. "
Dari belakang aku merasakan ada seseorang. Tak sempat menoleh ke belakang, orang itu langsung memakaikan topi.
"Ini topi saya, mbaknya pakai. Mbaknya kan enggak pakai topi. Sekarang agak panas soalnya. "
Dia si kacamata itu. Seusai memakai kan topinya ia kemudian berjalan menjauh dari aku dan menuju ke kursi yang berada di sekitar lapangan upacara dan duduk dengan santainya di kursi itu. Jelas kursi itu tidak terkena sinar matahari dan terasa dingin. Ah nikmatnya si kacamata itu, sedangkan aku di sini sedang mandi keringat.
Lima belas menit rasanya lama banget. Dimanapun mataku memandang sudah tak ada murid maupun guru yang berada diluar, semuanya terlihat sedang berada di kelas dan hanya ada beberapa tukang yang sedang membersihkan tong sampah kelas dan si manusia kacamata yang super nyebelin yang sedang duduk sambil tersenyum seakan mentertawakanku.
......
15 menit..
"Kenapa manusia kacamata itu beranjak dari zona nyamannya? Apa sudah lima belas menit? "
Manusia paling nyebelin itu berjalan dengan santainya ke arahku. Kedua tangannya di letakkan di saku celannya. Mungkin bagi para ras rahim hangat itu terlihat keren, tapi bagi ku itu terlihat men-ji-ji-kan.
"Sini mbak topinya. Sudah lima belas menit. Sekarang mbaknya boleh meninggalkan lapangan dan masuk ke kelas. "
"Iya."
Akhirnya 15 menit sudah berlalu. Baju ku sudah terlalu basah akan keringat dan terasa tak nyaman.
"Mbaknya mau diantar ke kelasnya? Katanya mbaknya murid baru. "
"Iya boleh. "
Aku dan si manusia kacamata kemudian mulai mulai melangkahkan kaki dan berjalan...
"Emang mbaknya kelas berapa? "
Pandanganku sedikit kabur. Kaki ku lemas seakan mati rasa. Perutku sedikit mual. Tubuhku lemas.
"Aku kelas sebelas i p... "
Tubuhku seakan kehilangan kendali. Tubuhku lemas dan seketika terjatuh. Mulut ku sudah tak kuat untuk berkata - kata. Tapi untungnya ada si manusia kacamata yang dengan cepat menangkapku sebelum aku jatuh ke ke lantai lapangan.
Aku sedikit sadar. Rasanya tubuhku sedang digendong oleh seseorang. Entah mengapa rasanya sedikir nyaman. Mataku seakan tak mampu lagi untuk membuka. Rasanya aku ingin tidur.
.......
"Ahh sudah bangun ya putri tidur. "
Aku melihat sekeliling. Tak ada seorang pun selain si kacamata. Aku tak mengenali tempat dimana aku berada sekarang.
"Aku dimana? "
"Kita sekarang lagi di hotel. Tuh lihat mbaknya sekarang sedang tidur di ranjang hotel. "
Mendengar perkataannya aku langsung duduk di atas ranjang yang menjadi tempat ku terbaring.
"Aaapa? "
Plakk..
Aku menamparnya hingga kacamatanya terjatuh ke lantai.
"Aw.. Mbaknya kasar banget. Saya kan bercanda. Masa mbaknya enggak tahu kalau ini uks. Aw sakit"
Sambil memegang pipinya yang kutampar, si kacamata itu kemudian mengambil kacamatanya yang tergeletak di lantai dengan keramik yang bewarna putih.
"Ahh maaf maaf. Yang mana yang sakit. Ini? Aduh maaf."
Karena rasa bersalahku, tanganku bergerak dengan sendirinya menyentuh pipinya yang kutampar barusan dan aku langsung mengucapkan kalimat itu, "yang mana yang sakit. Ini? "
"Maaf ya. "
"Iya gapapa. Tapi kenapa nih mbaknya nyentuh pipi saya. Katanya jijik sama saya. "
Dia kemudian memakai kacamatanya yang baru ia ambil dari lantai berkeramik putih.
"Kapan aku bilang jijik sama kamu? Aku enggak ingat."
"Pas dilapangan upacara pagi tadi. Pas mbaknya saya hukum. "
"Pagi tadi? Ehhh emang sekarang udah jam berapa? "
"Jam satu. Sebentar lagi sekolah sudah mau selesai. "
"Berarti aku dari pagi sampai sekarang berada di uks? "
"Iya putri tidur. "
Aku merasa tak nyaman dengan julukan yang diberikan si manusia kacamata yang super nyebelin ini. Putri tidur?
"Emang kenapa aku sampai bisa ada di uks? "
"Mbaknya pingsan tadi. "
"Ow.. Terimakasih ya udah bawa aku ke uks. Jujur aku tak terlalu ingat dengan kejadian pagi tadi. Ingatan ku masih agak kabur. Aku Kirana, namaku Camilla Kirana Kasidi. Jangan panggil aku mbak lagi, kurang nyaman. "
"Aku Andi, Andianta Tretan Surya. Panggil aku Andi. Salam kenal. "
"Iya salam kenal. Andi aku boleh minta satu hal enggak? "
"Boleh, tapi jangan minta aku mencintai mu. Itu sulit. "
"Idih gabakal. Aku mau minta tolong jangan terlalu formal ketika berbicara kepadaku. Aku kurang myaman. "
"Iya baiklah, kalau cuman itu. "
Kring.. Kring..
Bel sekolah yang memberi isyarat kalau sekolah sudah usai telah berbunyi. Aku yang awalnya duduk di atas ranjang uks kini turun dan berdiri dengan kaki ku yang sudah tak lemas lagi di atas lantai uks.
"Kirana. "
" Ya, Andi. Kenapa? "
"Ini tas kamu. "
"Iya, terimakasih. "
Aku melempar senyum kepadanya dan dia juga membalasku dengan senyumannya. Ketika dia tersenyum kepada ku rasanya dia juga sedang memantrai ku untuk sekali lagi terpana akan parasnya yang elok dan enak dipandang kedua mata.
* Hari ke 2.
Sepertinya aku tidak telat. Banyak sekali siswa siswi yang memasuki gerbang sekolah yang terbuka lebar bak gerbang neraka. Entah mengapa pandanganku langsung menuju ke pos satpam yang berada di samping gerbang. Huh.. Disana ada wajah seorang siswa yang tak asing lagi. Dia adalah orang yang pertama kali aku jumpai di sekolah ini. Dia juga orang pertama yang menjadi teman ku di sekolah ini. Dia adalah Andi.
Dia sepertinya sedang menunggu seseorang. Mungkin pacarnya? Kenapa ketika aku berpikir dia sedang menunggu pacarnya hati ku terasa sedikit sakit seakan tak rela kalau dia dimiliki perempuan lain. Ahh sudahlah aku sapa saja dia.
Aku kemudian berjalan ke arahnya yang berada di dekat pos satpam.
"Pagi Andi. "
"Ohh Kirana, pagi juga. "
"An, kamu ngapain di sini. Kenapa enggak langsung masuk ke kelas kamu? "
"Enggak ada sih, aku lagi nunggu pacar aku. "
Deg.. Deg.. Hati ku berdetak dengan cepatnya. Benar saja dia sedang menunggu pacarnya. Mendengar perkataannya hatiku terasa sakit, mulutku pun seakan mau membisu. Enggak tau kenapa, apa ini gejala penyakit cinta?
"Ppacar? Siapa? "
"Ya kamu lah, kamu kan pacar aku, Kirana."
Mendengar perkataannya barusan, hatiku yang awalnya berdetak dengan kencangnya seakan terhenti begitu saja. Rasa sakit yang ada di hati ku ini seakan sirna bersamaan dengan dirinya yang mengatakan kalimat " Ya kamu lah. "
"Aku pacar kamu, An? Hahahah"
"Iya, kan kemarin kita jadian. Emang kamu enggak ingat."
"Enggak tuh. "
"Ah dasar pikun. Pas kamu pingsan kemarin loh. Aku tanya kamu mau enggak jadi pacar aku. Terus kamu ngangguk. "
"Emang orang pingsan bisa ngangguk? "
"Iya bisa lah. Kan aku yang nganggukin."
Mendengar ucapannya tangan ku seketika mengepal. Aku merasa geram sekali dengan si manusia kacamata ini. Tapi, geram ku bukan geram karena amarah tapi geram karena gemas dengan perkataanya barusan.
"Aku boleh jotos kamu enggak? "
"Gaboleh. Kalau kamu jotos aku, terus aku sakit, gada lagi yang gendong kamu dong kalau kamu pingsan. "
"Udah lah. Jadi, kenapa kamu nungguin aku? "
"Aku kemarin kan bilang kalau aku akan ngantar kamu ke kelas kamu. Tapi kamu keburu pingsan. Ngomong - ngomong kamu kelas berapa? "
"Aku? Aku sebelas ips 4. "
"Oooo ternyanya yang kata guru - guru akan ada murid baru di kelas itu ternyata kamu."
"Emang kamu sebelas ips 4 juga, An? "
"Iya, kita sekelas. Yaudah yok kita ke kelas. "
Aku dan si manusia kacamata, Andi, langsung menuju ke kelas kami, 11 ips 4, yang berada paling belakang dari kelas - kelas yang lain.
Kami pun sampai di depan kelas kami, 11 ips 4. Kelasnya terlihat cukup bersih. Anggota kelasnya juga terlihat sangat rapi. Dan udara di kelas ini sangat amat segar, wajar sih karena di belakang kelas ini banyak pepohonan.
"Aku duduk di mana, An? "
"Kamu duduk sama aku aja, berdua. Kebetulan aku duduk sendiri di belakang. Ayok. "
Dia menarik tangan ku dan menuju ke bangku paling belakang, tempat duduk Andi. Di situ ada dua bangku. Terlihat salah satu bangku tersebut memang tidak ada yang memakainya. Ia kemudian menyiapkan bangku itu untuk aku duduki dan aku mendudukinya. Tapi aku merasa kurang nyaman. Semua pandangan tertuju kepada ku.
"Cuitt cuitt.. Pacar baru An? "
"Iya nih pacar baru aku. Cantik nggk? "
"Lumayan cantik An. Bening tuh. "
Aku langsung mencubit tangan Andi.
"Apa - apaan sih An. Kita itu enggak pacaran. "
"Kita itu udah pacaran lo Kirana. Emang kamu lupa? Kamu kan udah nerima aku jadi pacar kamu pas kamu pingsan."
Aku kembali mencubit tangannya dengan lebih keras hingga dia berteriak "Aw..! "
"Ehemm pasangan baru ribut mulu kerjaannya. Udah diem. "
Sindir salah seorang siswa di kelas ku.
Ah rasanya malu saat ada seorang yang bilang begitu kepadaku. Aku ingin sekali duduk di bangku yang lain. Tapi sejauh mataku memandang, semua bangku sudah ada penggunanya, terlihat dari tas yang berada di atasnya.
Kring.. Kring.. Waktunya jam pertama.
Hari ini sama seperti biasanya. Aroma dan udara dari pepohonan masuk melalui kedua lubang hidung ku. Hari ini, selasa tanggal 4 januari 2022. Pelajaran pertama adalah ekonomi. Pelajaran yang paling tidak aku sukai.
.....
"Okeh murid - murid silahkan kalian membuka buku ekonomi kalian. Oh iya, saya lupa. Kalian kedatangan teman baru. Kirana ibu mohon berdiri dan perkenalkan diri kamu. "
Aku berdiri di samping bangku tempat ku duduk dan kemudian memperkenalkan diri. "Teman-teman, perkenalkan nama aku Camilla Kirana Kasidi, kalian bisa panggil aku Kirana. "
"Terimakasih Kirana. Kamu boleh duduk kembali. "
"Baik bu. "
Aku duduk kembali di bangku yang semula aku duduki. Aku melihat ke arah Andi, dia tersenyum kepadaku sambil memberikan acungan jempol. Aku kemudian membalasnya dengan senyuman ku.
"Anak - anak, kalian ibu beri tugas untuk mencari hal - hal yang penting dari bab yang akan kita pelajari hari ini. Cukup kalian coret saja menggunakan stabilo. Nanti ibu lihat satu persatu. Dan untuk kirana, karena belum mempunyai buku materi, kamu gabung dengan Andi saja. Ibu mau keluar sebentar. Dalam lima belas menit ibu akan kembali. Jadi, tolong secepatnya di selesaikan. "
"Baik bu!"
Ibu guru itupun keluar dan pergi meninggalkan kelas kami.
.......
Aku menoleh ke arah Andi yang tengah memegang sebuah stabilo bewarna hijau.
"Andi, bukunya kamu taruh di tengah aja yah. Plis.. Aku enggak tahu dong materinya kalau bukunya kamu pakai sendiri. "
"Yang butuh siapa? Kamu kan. Yaudah sini kamu aja yang mendekat ke aku. "
Ahh penyakit orang ini kumat lagi deh. Penyakit nyebelin.
Aku segera menggeser bangku yang aku duduki mendekat ke bangku Andi. Aku kemudian mendekatkan wajahku ke buku materinya tapi..
Srett..
"Ih kamu apa-apaan sih. Pakai coret wajah aku pakai stabilo. " teriak ku sampai seisi ruangan menoleh ke arah ku.
"Sssttt... Jangan teriak - teriak. " ucap Andi.
Aku kemudian terdiam malu.
"Ibu guru tadi kan bilang, tandain yang menurut kamu penting. Kamu kan penting menurut aku. Jadi aku tandain deh kamu pakai stabilo ini. "
Tubuhku terasa panas karena rasa malu dan sekarang digombalin seperti itu. Udah lah rasanya aku mau turu saja.
"Hei.. Hei.. Hei.. Kirana si putri tidur. Ngapain kamu merebahkan kepala mu di atas meja. Mau tidur? Kan masih pelajaran. "
"Bodo amat. "
"Nanti cantiknya nempel di meja loh.. "
Mendengar perkataannya aku kemudian mengangkat kepala ku yang semula aku rebahkan di atas meja.
"Emang aku cantik? "
"Menurut aku sih yes. Kamu cantik banget. Apalagi rambut kamu yang sekarang di ikat. Terlihat rapi banget. Kulit kamu juga bagus. Mirip - mirip cewek jepang lah. Ditambah kamu punya poni. Udah deh cantiknya gak ketulungan. "
"Nyenyenye... Udah sini bukunya taruh di tengah meja, biar aku bisa baca juga. "
* Hari ke 3
Sekarang adalah hari ke-3 ku di sekolah baru ku. Tapi, aku malah memulai hari ini dengan datang terlambat. Seseorang yang ingin ku lihat hari ini pun, sepertinya tidak berada di dekat pos satpam lagi, hanya ada satpam yang mejaga gerbang yang terlihat oleh kedua mata ku. Yah.. Karena aku telat sih, mangkanya dia tidak menunggu ku di sana seperti kemarin. Mungkin dia sudah berada di dalam kelas. Mengingat ini sudah jam 07.37. Dia kan ketua osis, enggak mungkin lah kalau telat.
"Kamu ini, murid baru tapi kerjaannya telat terus. "
"Maaf pak. Tadi ada sedikit masalah. "
Satpam itu terlihat menulis sesuatu di kertas kecil.
"Udah saya enggak mau tau alasan kamu telat. Ini kertas catatan kamu terlambat. Kamu mendapat 10 skor karena sudah dua kali terlambat. "
Aku pun menerima kertas catatan yang diberikan oleh satpam itu. Di kertas itu tertulis nama ku dan pelanggaran yang sudah aku perbuat lengkap dengan tanggalnya.
"Saya janji besok tidak akan saya ulangi lagi, pak! "
"Yaudah, cepat masuk sana. Pelajaran sudah dimulai kurang lebih tiga puluh menit yang lalu. "
Aku pun berlari seribu langkah menuju ke kelas ku. Saat berada di depan kelas ku, terlihat pintu kelas tertutup dengan sangat rapi dan keadaan di dalam sangat hening.
Tok... Tok...
Pintu seketika terbuka sendiri karena aku mengetuknya agak sedikit keras. Pemandangan kelas ku yang biasanya terlihat ceria kini malah terlihat suram. Aku binggung kenapa mereka semua terlihat sedih, bahkan wali kelas ku yang sedang berada di kelas ku pun ikut sedih. Mataku menoleh ke segala penjuru kelas dengan niat mencari tau kenapa. Sontak pandangan mataku terhenti di meja tempat aku dan Andi duduk untuk menjemput ilmu.
"Kenapa di atas meja Andi ada sekuntum bunga mawar dan sebuah kacamata? "
Kaki ku seperti berjalan sendiri menuju ke meja tempat aku dan Andi belajar, meja yang di atasnya terdapat sebuah kacamata dan sekuntum bunga mawar merah. Aku kemudian duduk dan meletakkan tas sekolahku di atas meja. Aku binggung mengapa semua pandangan teman - teman mengarah pada ku.
"Kirana kamu belum dapat kabar yah tentang Andi? "
Kenapa hatiku terasa tak nyaman saat mendengar pertayaan dari wali kelas ku. "Apa Andi baik - baik saja?" Hanya itu lah pertayaan yang saat ini terus ditanyakan oleh hati ku, tapi aku sendiri tak tahu jawabannya.
"Memangnya ada apa dengan Andi pak? "
"Andi sudah meninggal. "
"Wahhh bapak bercanda kan. Bapak enggak serius kan. "
Aku seakan tak percaya dengan perkataan wali kelas ku. Mendengar perkatannya, kaki ku sekali lagi seperti mempunyai kendalinya sendiri dan langsung berjalan menuju ke wali kelas ku yang sedang duduk di atas kursi terdepan yang tak lain adalah kursi khusus untuk guru.
"Pak! Bapak jangan bercanda dong pak. Orang kemarin dia masih sehat - sehat saja kok saja pak. "
"Sabar Kirana. Andi meninggal bukan karena dia sakit, bukan. Dia meninggalkan karena kecelakaan sore kemarin. "
Kaki ku seakan mengajakku untuk berlari meninggalkan kelas. Tapi, aku mau berlari kemana? Mulut ku juga ingin sekali berteriak dan mata ku sudah tak kuat lagi menahan air yang berasal dari dalam hati ku yang kecil.
"Sabar yah Kirana, bapak tau dia satu - satunya teman mu di kelas ini. Kita doakan saja semoga dia diterima dengan baik di sisi-Nya. "
Aku yang awalnya menoleh ke wajah wali kelas ku dengan muka yang basah akan air mata kini menoleh ke meja tempat ku dan Andi menjemput ilmu. Sedih rasanya ditinggal seseorang yang sudah kita siapkan tempat tersendiri di hati kita. Rasanya seperti meminum racun yang sangat mematikan, tetapi racun itu tak langsung membunuh kita.
......
"Tuhan, mengapa kau selalu memberi rasa sakit kepada makhluk mu. Di saat kau sudah menanam benih yang bernama cinta, kau malah mencabut dengan paksa benih yang sudah mulai tumbuh itu. Rasanya sakit ya tuhan. "