Ku pandangi pekatnya langit malam, seperti tahu kalau aku ingin sendirian bintang pun tak muncul malam ini. Aku jadi sedikit bernostalgia, saat itu aku ketakutan dan kedinginan karena tersesat di gunung sendirian, malam pun seakan-akan ikut menakutiku, dan aku pun takut melihat sekelilingku yang tampak sangat gelap.
Aku hanya bisa berdiam diri di balik pohon sambil berdoa akan ada orang yang dapat menemukanku, walaupun begitu tetap saja aku merasa ketakutan. Seketika aku berucap. "Kalau perempuan yang menemukanku aku akan menjadikannya sebagai sahabatku, kalau dia laki-laki maka aku akan menjadikan dia masa depanku," ucapku pada waktu itu.
Akupun tidak mengerti kenapa aku berucap seperti itu pada waktu itu. Setelah berucap seperti itu aku seperti merasakan kehadiran seseorang, angin malam seperti membelai pipiku. Entah kenapa aku tiba-tiba merasa merinding, aku mendengar ada langkah kaki dari arah belakangku.
"Mau ku temani?" ucapan itu mampu membuatku terkejut seketika. Tubuhku gemetar, suaranya berat tapi ia mengatakan itu dengan sangat lembut, aku ingin menengok ke arah sumber suara itu tapi aku terlalu takut.
Aku tersentak ketika dia sudah duduk di sampingku, aku menoleh ke arahnya, aku bisa melihat rambutnya yang berwarna biru terang, dan ia adalah seorang laki-laki. Sinar bulan memudahkan ku untuk melihat wajahnya dari samping, wajahnya dari samping keliatan sangat tampan.
Aku kembali tersentak ketika ia juga menatapku, ternyata ia memang benar-benar tampan, ternyata bukan hanya rambutnya yang berwarna biru tapi matanya pun berwarna biru. "Apa kau pangeran dari negeri dongeng?" tanyaku tanpa sadar.
Dia tersenyum. "Bukankah aku masa depanmu? Kau yang mengatakan itu tadi," ucapnya masih sambil tersenyum.
Aku tersenyum malu, saat itu aku merasakan perasaan aneh. Jantungku tiba-tiba berdetak dengan sangat cepat, apa aku menyukainya pada pandangan pertama. "Aku tidak mengenalmu, apa kamu juga tersesat? Siapa namamu?" tanyaku.
"Aku tidak punya nama, apa kamu mau memberiku nama?" ucapnya sambil menatap penuh harap padaku.
Sebenarnya aku sedikit bingung, bagaimana bisa ada manusia di dunia ini yang tidak mempunyai nama? Aku jadi sedikit curiga padanya, tapi saat melihat tatapannya seakan-akan aku membiarkan kecurigaan itu terabaikan.
"Bagaimana kalau namamu Biru, karena warna rambut dan matamu berwarna biru, rambutmu bersinar di kegelapan malam, aku suka warna rambut dan warna matamu, apa aku boleh memegang rambutmu?" kataku meminta ijin padanya.
Ku lihat ia tersenyum. "Jangan, nanti kau akan kecewa," jawabnya.
Aku tidak mengerti dengan ucapannya, kenapa aku harus kecewa? Aku tidak mendengarkan ucapannya, aku tetap memegang rambutnya dan mengelusnya.
Ku lihat ekspresinya yang tampak terkejut. "Kenapa? Apa ada yang salah?" tanyaku.
"Tidak apa-apa," jawabnya sambil tersenyum menatapku.
Aku terus mengelus rambutnya, aku lihat ia memejamkan matanya. Aku tersenyum tipis. "Sepertinya kamu menyukai elusanku," ucapku pelan.
"Bukan hanya elusanmu, aku juga menyukaimu," ucapnya pelan, tapi aku dapat mendengarnya. Kenapa ia mengatakan itu seakan-akan dia benar-benar menyukaiku padahal ini baru pertama kalinya kita bertemu, aku yakin itu.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Siapa sebenernya kamu?" tanyaku mulai curiga, aku manjauhkan tanganku dari rambutnya.
Dia menatapku dengan tatapan yang dalam. "Mau ku ceritakan sesuatu yang akan membuatmu terkejut?"
Aku mengangguk. Entah kenapa aku mulai merasa deg-degan, aku menebak-nebak kira-kira apa yang akan dia ceritakan padaku.
"Aku sudah mengenalmu dan menyukaimu sejak kita masih kecil, aku mulai menyukaimu saat kamu membelaku saat aku dibully karena warna rambut dan warna mataku. Sejak saat itu aku selalu memperhatikan mu dari jauh, aku selalu berharap kamu melihatku. Aku pernah menyelamatkanmu dari kematian dan sebagai gantinya aku yang merelakan nyawaku untukmu, waktu itu kamu kamu mau ditabrak truk, apa kau ingat?"
Aku tercengang mendengar ceritanya, bagaimana bisa ia ada di sini? Kejadian itu terjadi sewaktu ia masih kelas 7 SMP. Aku baru mengetahui kalau dia yang menyelamatkan nyawaku, aku bingung harus merasa takut karena dia sebenarnya sudah mati atau berterima kasih karena dulu ia pernah menyelamatkan nyawaku.
"Kenapa sekarang kamu muncul dihadapanku? Apa kamu ingin membawaku ke alammu?" tanyaku.
Aku liat dia tertawa seakan-akan perkataanku itu lucu. "Tentu saja tidak. Aku ingin kamu berumur panjang, aku datang karena kamu sendirian, aku ingin menemanimu agar kamu tidak merasa ketakutan. Dan kamu tadi mengatakan kalau yang menemukan mu akan menjadi masa depanmu, aku ingin menjadi masa depanmu nanti di akhirat," jelasnya lembut.
Saat itu aku tersenyum mendengar perkataannya, sepertinya ia tidak main-main dengan ucapannya. Biru menyuruhku untuk tidur dan paginya Biru memberiku petunjuk arah yang benar agar aku bisa kembali lagi ke tempat kemahku, aku yakin saat itu teman-temanku sangat menghawatirkanku.
Sekarang aku sedang berjalan menuju tempat kemahku bersama Biru, aku terus mengobrol dengannya, entah kenapa tidak ada perasaan takut sedikitpun yang menyelimutiku, yang ada malah perasaan hangat yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Aku merasa nyaman di dekatnya.
"Aku masih tidak mengerti kenapa tadi malam aku bisa menyentuhmu?" tanyaku.
"Aku juga tidak mengerti, mungkin itu ijin dari Allah kalau nanti kita akan dipersatukan di akhirat. Sayang ya aku tidak bisa menyentuhmu," ucapnya tampak kecewa.
Ia tadi mencoba menggenggam tanganku tapi tangannya malah tembus. Aku juga tadi mencoba menggenggam tangannya tapi tanganku juga tembus tidak bisa memegang tangannya.
Aku senang bisa kembali lagi ke tempat kemahku, tapi saat itu juga biru menghilang dari hadapanku, padahal kami belum mengucapkan salam perpisahan. Aku tidak mengerti kenapa perasaanku terasa terluka, perkataannya yang terakhir adalah 'Aku akan menunggumu di surga, aku akan menjadikanmu ratuku di sana'
Sejak saat itu dan sampai sekarang biru tidak muncul lagi di hadapanku, aku merasa merindukannya. Ketika mengingat kenangan itu aku kembali meneteskan air mata tanpa sebab yang jelas. Walaupun aku mencoba melupakannya aku tetap bernostalgia tentang kejadian itu, sampai sekarang tidak ada yang tau tentang kejadian itu selain aku dan Allah.
Sepertinya aku akan terus bernostalgia tentang kejadian itu, walaupun ada perasaan menyesakkan tapi aku sadar saat bernostalgia tentang kejadian itu aku juga merasakan perasaan bahagia. "Aku merindukanmu Biru, sekali-kali datanglah menemuiku," gumamku.