Part01
"Tuan! Ampuni saya tuan! Saya mohon jangan bunuh saya tuan! Keluarga saya membutuhkan saya tuan!" ucap Pria paruh baya memelas pada pemuda yang di sebut nya 'tuan'.
"Mengampunimu? Bermimpilah aku akan mengampunimu! Kau sudah mengambil jalan yang salah Pak Tua, maka jangan salahkan aku harus membereskan mu, hahahaha!" ucap pemuda itu dengan senyum iblis nya yang menakutkan. Sebut lah dia Arga.
"Hiks ... jangan bunuh saya tuan, saya menyesal hiks ... jangan bunuh saya, anak saya masih kecil-kecil tuan hiks ...." tangis Pria paruh baya itu bersujud di bawah kaki Arga.
"Memohon pun itu sudah tak ada gunanya! Terima lah nasib mu sekarang Pak Tua! Aku tidak akan menyakiti keluarga mu, kecuali mereka ingin melawan," bisik Arga pada Pria paruh baya itu yang sedang bergetar hebat karna ketakutan.
"Apa permintaan terakhir mu? Pak Tua? Aku akan mengabulkannya, kecuali ... jika kau meminta keselamatan, itu tidak akan ku berikan," ucap Arga dengan senyum sinis nya.
"Lepaskan saya Tuan, biarkan saya hidup ... saya berjanji saya tidak akan berkhianat lagi padamu Tuan, saya akan mengabdi sepenuh jiwa pada mu Tuan. Tolong lepaskan lah saya Tuan ...," Permintaan Pria Tua itu tetaplah sama, dia hanya ingin hidup nya di bebaskan,
"Dasar tidak tahu diri! Bereskan dia sekarang! Tembak 5 kali, jangan sampai dia tidak menyaksikan kematiannya sendiri! Kirim mayat nya ke rumah dia! Dan jangan sampai nafas nya masih berhembus!" ucap Arga memerintah pada Bodyguard serta anak buah nya. Bodyguard dan anak buahnya mengangguk dan segera menyiapkan Pistol yang di pegang oleh 5 orang, sasarannya adalah Kepala, Dada kanan, Dada Kiri, Paha kanan, serta Paha kiri Pria paruh baya itu. Mengenaskan.
Tubuh Pria paruh baya itu melemas saat harus menyaksikan kematian nya sendiri. Dia sendiri pun tahu betapa kejam tuannya itu, namun bodohnya dia malah berkhianat dari tuannya.
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
5 tembakan sudah di terima oleh Pria paruh baya itu, sekarang tinggal Bodyguard Arga yang mengurus semua nya, lebih tepatnya mengirim jasad Pria paruh baya itu pada keluarga nya.
————————
"Neduh dulu deh di sini, kali aja ada orangnya, kalo ada gue bisa izin dulu," ucap seorang gadis yang sedang hendak menuduh di rumah tua yang terlihat masih terawat. Alasan mengapa gadis itu ingin meneduh karna cuaca saat ini sedang hujan.
Tepat pada waktunya, Arga hendak keluar dari rumah tua itu, dan netra nya tak sengaja menangkap seorang gadis dengan pakaian panjang di atas lutut dengan lengan yang panjang tengah berdiri di depan pintu keluar rumah tua itu, Tepat di depannya.
"Ada apa kau berdiri di sana?" tanya Arga dengan datar dan dingin.
"Ah, saya mau meneduh sebentar di sini, apa boleh?" tanya gadis itu dengan tampang polos nya. Arga mengira, gadis itu sedang menggoda nya, namun dia salah besar.
"Tidak. Silahkan pergi dari sini," ucap Arga mengusir gadis itu dengan tidak berperasaan.
"T-tapi, ini sedang hujan," ucap gadis itu dengan tatapan yang nanar.
"Mengapa memangnya jika sedang hujan? Kau bisa meneduh di tempat lain bukan?!" sentak Arga dengan mata tajamnya yang dia berikan pada gadis mungil itu.
"Saya tidak bisa ... saya tidak bisa terkena air hujan ...," ucap gadis itu dengan mata berkaca-kaca. Bagi Arga itu hanyalah alasan gadis itu saja, agar Arga akan membiarkannya meneduh di sana.
"Tck! Jangan banyak beralasan! Cepat pergi dari sini!" bentak Arga lagi dengan mata yang semakin di buat tajam oleh nya.
"Saya tidak bohong, saya Alergi air hujan! Tolong biarkan saya meneduh .., setidaknya sampai hujan meredah ...," ucap gadis itu tetap memohon pada Arga untuk membiarkannya meneduh sebentar.
Brukh!
Arga mendorong tubuh gadis itu dengan kuat, hingga lutut gadis itu terbentur aspal dengan keras dan mengeluarkan cairan merah. Gadis itu tak sanggup berdiri karna luka yang terkena air, dan sekarang dada nya terasa sesak.
Arga yang melihat keanehan dari gadis itu terus menatapnya. Dia berfikir, apakah gadis itu benar-benar Alergi dengan air hujan, ataukah hanya Acktingnya saja?
Anak buah Arga tiba-tiba datang dan melihat gadis yang di dorong Arga tengah terduduk lemas dengan nafas yang tak beraturan.
"T-tuan! Ada apa dengan gadis itu? Tuan dia sedang sesak nafas, apa yang tuan lakukan?" ucap Leon beruntun.
"Tck! Paling dia hanya sedang berackting!" ucap Arga acuh.
"Tuan! Dia tidak sedang ackting! Dia memang sedang sesak nafas tuan! Lututnya juga berdarah!" ucap Leon menunjuk lutut gadis itu.
Arga terpaku saat melihat gadis yang dia dorong tengah kesusahan karna sesak nafas serta luka di lututnya. Karna merasa Iba, dia pun turun tangan lalu menggendong gadis itu masuk ke dalam rumah tua itu.
———————
"Hah ... hah ... t-tolong, ambilkan benda ... di tas ku, hah ...." ucap gadis itu masih dengan nafas yang tak beraturan. Arga yang seakan mengerti apa yang di maksud gadis itu segera mencari suatu benda di dalam tas gadis itu.
Setelah ketemu, dia langsung memberikan benda itu pada gadis itu, dengan cepat gadis itu menghirup oksigen dari benda itu.
"Uhuk! Uhuk!" Gadis itu terbatuk sesaat, lalu sesak di dada nya pun mulai mereda.
"Nona, apa kau baik-baik saja?" tanya leon khawatir.
"Iya, terima kasih, saya permisi," pamit gadis itu hendak keluar dari rumah tua itu.
"Tunggu. Apa kau akan keluar di saat hujan seperti ini?" ucap Arga dingin serta wajah nya yang datar.
Gadis itu terdiam dari langkah nya. Benar juga katanya, apa dia akan keluar dengan hujan yang belum mereda?
"Tunggu lah di sini beberapa saat," ucap Leon. Gadis itu menoleh lalu memberikan senyuman manis pada Bara yang bersikap ramah pada nya.
Gadis itu berdiri di samping Leon, mereka juga bercanda gurau dengan tawa bahagia.
"Ekhem! Siapa namamu?" tanya Arga ikut bersuara.
"Eh? Nama ku Laura," ucap gadis itu yang bernama Laura.
"Nama lengkap." ucap Arga kembali dengan wajah datar serta aura dingin dan kejam.
"A-ah .., nama ku Laura Queen Smith," ucap Laura dengan gugup.
"Hmm." jawab Arga.
"Emm ... namamu?" tanya Ara pada Elno dengan tampang polos nya.
"Hmm ... Argastian Raksa Elkanza." ucap Arga, lalu tanpa sepatah kata lagi, dia meninggalkan Laura dan Leon berdua.
"Eh ... main pergi aja," gumam Laura yang masih di dengar oleh leon.
"Huuh ... udah biasa dia kayak gitu ...," ucap Leon mengeluh.
"Oya, kamu kenapa bisa sampai ke sini? Di sini kan tempat yang terpencil," ucap Leon dengan penasaran.
"Aku nyasar tadi," ucap Laura murung.
"Kok bisa nyasar?" tanya Leon.
"Tadi aku habis dari pasar, pas mau pulang ... aku malah di kejar Anj*ng! Terus belanjaan ku jatoh! Dasar Anj*ng!" teriak Laura menggema di ruangan itu, Leon yang melihatnya hanya bisa menggeleng gemas melihat wajah kesal Laura yang imut.