Di malam pernikahan, suamiku berkata padaku.
"Minta maaf, aku berbohong kepadamu, sebenarnya aku juga seorang wanita...."
Nafasku tercekat, tanganku yang tak sabaran ingin membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan pria yang baru saja mengucap ijab kabulnya pagi tadi mendadak jadi kaku seperti kram.
"Kamu bercanda Boy...." respon pertama saat sederet kalimat yang terdengar konyol itu mendobrak masuk dinding telingaku yang tak tuli.
Pria yang sedang berbaring telentang pasrah di bawah tindihan tubuhku ini teramat gagah untuk menyatakan diri sebagai seorang wanita.
Parasnya tampan rupawan. Dihiasi dengan hidung mancung dan potongan rahang yang tegas. Sorot matanya tajam seperti elang.
Otot tangannya padat sempurna. Sangat serasi dengan bahunya yang kokoh terlihat tak ada cacatnya berpadu padan dengan postur tubuhnya yang tinggi dan tegap.
Satu hal memang, priaku ini tidak pernah sekalipun bertelanjang dada di depanku.
"Aku tidak bercanda Lucy, aku juga tidak pernah berbohong padamu tentang perasaanku selama ini..." Boy menurunkanku dari tubuhnya dan kami duduk berhadapan.
Dia mengulurkan tangannya menarik lembut tanganku untuk menyentuh bagian dadanya yang jika diperhatikan memang sedikit lebih menyembul dari dada seorang pria.
Dulu, dengan imajinasi nakalku, aku selalu berpikir mungkin itu otot dadanya yang tak kalah padat dengan potongan otot perutnya.
Perlahan jari jemarinya membantuku melepas satu persatu kancing kemeja yang dia kenakan. Mataku terkesiap saat dia meloloskan lilitan kain berwarna cream yang menutupi sesuatu yang dia samarkan keberadaannya selama ini.
Jemari Boy mengarahkan ujung jariku untuk menyentuh puncaknya yang dalam posisi kaku dan menegang. Sangat mirip dengan milikku saat sedang kedinginan atau terangsang.
Lebih besar ukurannya dari puncak dada seorang pria yang sering ku lihat bertelanjang dada secara langsung, di layar TV, ponsel atau sampul majalah maupun produk pria yang beredar luas di pasaran.
"Maafkan aku Lucy...." ucap Boy.
Manik matanya menatap lurus ke arah mataku yang tak bisa berpaling. Aku terhipnotis, bukan terpesona, tapi sangat tidak percaya.
Kupejamkan mataku sepersekian detik kemudian ku buka lagi. Aku ulangi, sekali, dua kali, dan yang ketiga kalinya, ternyata apa yang aku lihat masih sama. Dua gundukan yang menyembul di dadanya.
"Aku pasti hanya berhalusinasi.....!!!!" pekik batinku tidak terima.
"Lucy, maafkan aku..." Boy menyentuh lembut kedua pipiku.
Sorot matanya begitu sendu. Membuat hati iba dengan pandangan mata bersalahnya.
Aku mencintainya, seorang pria mapan yang jadi direktur perusahaan tempatku magang 3 tahun yang lalu. Anak tunggal keluarga kaya raya yang diakhir kehidupannya begitu tragis meninggalkannya dalam peristiwa saling bunuh kedua orangtuanya.
Gosip miring yang selalu berhasil ditepis, tapi sampai juga ke telingaku. Ayah Boy suka sekali mempermainkan perempuan, termasuk Ibunya.
Dengan tubuh yang gemetar aku beringsut menepi ke ujung ranjang.
"Tidurlah Boy, bukankah hari ini sangat melelahkan?" aku pungut satu persatu kain yang sempat ku loloskan sendiri dari tubuhku.
Telapak kakiku yang polos aku bawa melangkah memasuki kamar mandi kami. Dalam rendaman air hangat yang memenuhi bath up aku kembali merenung.
"Jika Boy adalah seorang wanita, lalu bagaimana nasib pernikahan kami selanjutnya??" aku tergugu sambil menekuk lutut.
Dengan mata yang terpejam aku kembali mengingat. Bukan Boy yang mengejar diriku duluan, tapi akulah yang jatuh cinta sejak pertama kali memasuki ruang kerja pria itu di hari pertama magang di perusahaan miliknya.
Intensitas pertemuan yang sering, memberikan peluang bagiku untuk semakin dekat dengan Boy yang lambat laun ternyata menunjukkan ketertarikan yang sama.
Perlakuan lembut seorang pria. Perhatian yang membuat aku semakin terpesona. Juga polah tingkahnya yang sopan, bahkan interaksi kami tak pernah lebih dari pelukan dan ciuman hangat dan sederhana. Hal ini membuat aku semakin yakin Boy pria yang sangat cocok untuk di jadikan pasangan hidup untukku.
"Tapi ternyata dia bukan seorang pria...." aku menghela nafas dalam-dalam sebelum memutuskan untuk menyudahi sesi mandi di malam pertama yang tanpa kegiatan panas-panas sama seperti yang sering diceritakan teman-teman yang sudah menikah duluan.
klek....
Tidak ada pria, eh bukan wanita yang bernama Boy itu terbaring di ranjang pengantin yang bersprei putih hasil dekorasi jemariku sendiri.
Aku hempaskan tubuhku yang penat, juga otakku yang nyaris sekarat. Biarkan malam ini aku lalui dengan memejamkan mataku sejenak sampai pagi nanti menjelang dan mimpi buruk ini berakhir bersama gelap malam yang menghilang.
*****
"Pagi Lucy...." sapa Boy yang pagi ini sudah rapi dengan baju kerjanya.
Rambut cepaknya dia sisir rapi. Sekalipun dia seorang wanita, harus aku akui penampilannya tidak merubah penilaianku tentang fisiknya sama sekali. Dia tetaplah seorang pria yang nyaris sempurna bagi yang tidak tahu siapa jati diri Boy sebenarnya.
"Pagi Boy, kamu mau ke mana?" aku tahan untuk tidak mengulurkan tangan membetulkan letak dasinya yang agak miring.
Suatu rutinitas yang biasanya aku lakukan setiap pagi saat dia menjemputmu untuk berangkat kerja.
"Aku akan ke kantor setelah sarapan. Duduklah...."
Rupanya dia memutuskan membatalkan cuti pernikahannya dan kembali lagi ke kantor untuk bekerja.
Ku seret langkah kakiku mendekati meja makan karena perutku yang keroncongan.
Harum semerbak aroma nasi goreng membuat air liurku hampir saja menetes.
"Makanlah...." seperti biasa, Boy dengan telaten selalu melayaniku dengan segala bentuk perhatiannya.
Aku sendok satu demi satu nasi goreng buatannya yang selalu lezat sampai nyaris habis berpindah ke perutku.
Dadaku berdebar hebat saat dengan lembut Boy menyeka sisa makanan yang bertengger di sudut bibirku. Dia sama sekali tidak berubah.
Boy selalu memberikan perhatian dalam bentuk apapun seperti biasa. Oh itu semualah yang membuatku jatuh cinta kepadanya.
Lalu bagaimana dengan sekarang?
Haruskah aku teruskan?
Hidup dengan seorang pria yang ternyata wanita?
Atau membiarkannya pergi dan membawa masing-masing hati kami yang terluka?
Perasaanku mengatakan, bukan maksud Boy ingin membohongiku dan sengaja mempermainkan diriku ini dengan cintanya.....
Mata kami saling bertemu. Bibir kami sama-sama terkatup rapat.
"Akan ada pengacaraku yang mengantarkan surat cerai kita nanti siang. Kamu hanya perlu tanda tangan saja. Rumah ini milikmu, tinggallah di sini. Jaga diri baik-baik Lucy...." Boy menarik mundur kursinya dan beranjak berdiri.
Wanita berwujud pria di depanku ini nampaknya sudah menyadari apa yang jadi keputusanku setelah kejujurannya malam tadi.
"Boy, maafkan aku......" sesalku karena memang aku sudah memutuskan untuk tidak meneruskan pernikahan kami walau belum sempat mengatakannya.
"Aku yang harus meminta maaf padamu Lucy, maafkan aku...." ucapnya sambil berlalu pergi dengan senyumnya yang selalu mengembang memikat hati.
Menghilang di balik pintu rumah yang dia bangun sesuai hasil rancangannya sendiri selama 3 tahun masa pacaran kami. Rumah yang kami harapkan akan kami tinggali bersama suara riuh canda tawa anak-anak yang akan terlahir dari rahimku nantinya.
Semua hanya tinggal angan-angan semata.
Aku raih benda pipih yang tergeletak di samping piring makanku. Seri terbaru, hadiah ulang tahunku dari Boy 1 Minggu yang lalu.
"Semoga yang terbaik selalu bersamamu Boy, aku mohon baik-baiklah. Jangan terlalu lama bersedih...." ku kirimkan sebuah pesan dengan mengerahkan segenap ketegaran yang aku miliki.
"Aku baik-baik saja Lucy...., Sekali lagi maafkan aku dan terimakasih untuk kebersamaan kita selama ini..." Boy membiarkan air matanya mengalir.
Berharap perasaannya yang terlanjur dalam bisa terkikis bersama bulir bening air matanya yang terus berlinang.
*****
Habissss.....😊😁😁😁😁
Semoga suka🤭🙏🙏🙏🙏