Di malam pernikahan, suamiku berkata kepadaku, "minta maaf aku berbohong kepadamu, sebenarnya aku juga seorang wanita."
Bak disambar petir, aku mendengar kata yang tak pernah kuduga. Seharusnya aku menjadi wanita yang paling bahagia di malam pertama kami. Seharusnya dia mengucapkan kata-kata indah nan romantis disaat yang aku mimpikan dalam hidupku.
Ya, aku memang baru mengenalnya. Aku mengenalnya melalui aplikasi online sejak 1 bulan yang lalu.
Dennis, itulah nama yang dia perkenalkan padaku. Kami menjadi dekat lewat maya, tanpa bertemu. Tapi, aku tak peduli bagaimana cara kami menyapa, yang ku tahu Dennis begitu baik, perhatian, humoris dan aku selalu bahagia saat kami bersenda gurau walaupun hanya lewat ponsel, tapi aku merasa nyaman.
Aku bingung apa yang harus kukatakan, sekali lagi kutatap wajahnya yang garang, kulihat lebih dalam mata hitam pekat yang dulu menyihirku dengan cintanya, "Tidak ... tidak. Aku tidak menemukan kebohongan disana."
"Aku minta maaf, Amora!"
Aku mencoba mencubit lenganku, "Auww ...." sakit, itu yang kurasa, berarti ini semua bukan mimpi. Tanpa kata, tanpa suara, hanya air mata yang turun tanpa bisa kutahan lagi.
"Jika kau ingin marah? marahlah! teriak! pukul aku!" Dennis menarik kedua tanganku lalu mengarahkan ke wajahnya yang kukira tampan, tidak! tapi dia memang tampan, mengapa dia juga seorang wanita!
"Please! Amora, bicaralah padaku, jangan membisu. Aku terpaksa berbohong padamu, sungguh semua ini di luar kendaliku karena aku benar-benar terpaksa."
Kata-kata Dennis yang selalu melambungkan angan dan mimpiku, "apa yang harus kulakukan, bagaimana ini semua bisa terjadi. Bagaimana nasibku selanjutnya," pikiranku berkecamuk dengan apa yang terjadi.
"Amora, Aku tak tahu apa yang kau rasakan sekarang. Aku minta maaf, sebenarnya dari dulu ingin aku berkata jujur tapi aku takut kau membenciku, Aku akan pergi dari sini, jauh sampai tak terlihat." Dennis mulai beranjak dari ranjang kami, ranjang yang sudah dihias dengan ratusan bunga mawar merah yang menjadi saksi kejujuran mas Dennis malam ini.
"Tunggu!" teriakkanku membuatnya berhenti dan berdiri membelakangiku.
Aku tak habis pikir kenapa dia ingin meninggalkanku sendiri di kamar yang indah ini, kamar yang aku desain sendiri dengan tanganku. Seolah-olah Dennis ingin menertawakan kepedihanku, sungguh ironis.
"Kau puas!!!" Aku berteriak sekencang-kencangnya meluapkan amarahku, beruntung saat ini kami berada di kamar hotel yang kedap suara, sehingga sekuat apapun teriakkanku takkan didengar orang.
Dennis membalikkan badan dan beralih menatapku, ingin rasanya aku memeluknya, karena tak bisa aku pungkiri aku mempunyai rasa yang tak biasa, tapi rasa itu, aku tak tahu apa.
Kuberanikan diri untuk mendekatinya, selangkah demi langkah yang terasa berat. Aku berjalan dengan gaun putih yang masih lengkap, dengan cincin yang tersemat di jari manisku dan belum lama kami terikat janji suci di sebuah altar pernikahan.
Aku berdiri dengan jarak yang sangat dekat dengan Dennis, bahkan aku bisa merasakan embusan napasnya yang terasa hangat.
"Kau ingin pergi setelah kau lakukan ini padaku?"
"Amora ...."
"Selain dirimu yang salah, apa cintamu juga salah?"
"Tidak! Perasaanku padamu tak pernah salah tapi Kau salah mengartikan perasaanku. Sebenarnya, Aku hanya ingin menjadi sahabat baikmu, Amora. Kau memaksaku untuk menikah denganmu, Aku tak tega untuk menolak permintaanmu. Aku hanya ingin berada di dekatmu di saat-saat terakhirmu," lirihnya bersama bulir bening yang mulai membasahi pipi mulusnya.
"Aku membencimu Dennis!" air mata tak kuasa lolos mengalir di pipi.
Kakiku mulai lemas dan akhirnya aku terduduk di lantai meratapi kenyataan ini. Aku memang memaksanya untuk menikahiku karena aku tak ingin dia menjadi milik orang lain. Selama satu bulan ini, aku mulai dekat dan mengenalnya, hingga tak ingin jauh darinya.
Begitu posesifnya aku dengan berpura-pura bahwa aku mempunyai sakit kanker stadium akhir, untuk menjeratnya agar menjadi milikku seutuhnya.
"Dena, namaku Dena Alexandra." Dia duduk dilantai tepat dihadapanku, "Aku adalah seorang mahasiswa semester akhir. Aku kabur dari rumah karena aku menolak perjodohan yang diatur oleh keluargaku dengan orang yang tidak aku kenal." Dia mulai menceritakan kehidupannya dan bodohnya aku mendengarkannya.
"Keluargaku orang yang berkuasa di negri ini, kemanapun Aku pergi, mereka pasti bisa menemukanku." Dennis menghela napasnya, tidak! bukan Dennis tapi Dena, "Hmm ...." kemudian melanjutkan ceritanya, "Aku tidak mau jika harus menikah dengan lelaki tua, gendut, dan mungkin saja kepalanya sudah botak, karena kata Daddy orang yang menikahiku adalah seorang CEO pemilik perusahaan terbesar di negri ini. Aku tidak mau. Demi menghindar dari mata-mata Daddy, Aku terpaksa merubah diriku menjadi laki-laki."
"Lalu ... kenapa kau melibatkanku?" tanyaku pada Dena, sebenarnya tanganku sudah mengepal menahan emosi saat dia bercerita dan aku tak terima.
"Aku tak pernah melibatkanmu dalam kehidupanku, saat pertama kali Aku melihatmu dalam sosial media, ntah mengapa aku berpikir, sepertinya kita bisa berteman tapi--" sesalnya.
"Tapi saat ini kau benar-benar membuatku sakit, Den. Lalu ... apa yang akan kau lakukan sekarang? bukankah pernikahan kita sudah sah?" Aku bertanya padanya dan ingin melihat apa reaksinya, tapi sepertinya dia benar- benar ingin bermain denganku.
"Pernikahan kita tidak sah, karena kita sama-sama wanita. Dalam agama maupun hukum di negara kita itu tidak sah, dan Kita bisa memilih jalan masing-masing." Dennis memegang erat tanganku, mencoba meyakinkanku.
Senyum simpul melengkung di bibirku yang manis ini, lama-lama Aku tertawa, ya ... Aku menertawakan kebodohanku.
Dennis ataupun Dena menatapku dengan bingung. Dia merasa keheranan dengan perubahan diwajahku. Aku hanya ingin tidak terlihat menyedihkan.
Beranjak aku berdiri, berjalan ke arah meja kecil di sebelah ranjang berukuran king size itu. Kubuka setiap laci dan merogohnya mencari benda yang baru saja aku dapatkan. Aku tersenyum saat aku menemukan buku yang mengikat kami dalam pernikahan.Aku berjalan mendekati Dena dan melempar buku itu tepat kearahnya sambil tertawa lepas.
"Kau tahu Dena, buku itu sah dan pernikahan kita juga sah!"
Dena mulai bingung menatapku kemudian bergantian menatap buku nikah itu.
"Kau masih bingung! Baiklah ... sepertinya Kau perlu membaca kembali buku nikah itu!" seruku.
Dena memungut buku kecil namun amat penting, dia mulai membuka lembaran pertama. Sejenak kemudian dia terdiam.
"ALEX MORGAN WIRATAMA." Dena menyebut nama seorang lelaki, "DENA ALEXANDRA," lanjutnya dengan wajah terkejut.
Aku mulai terkekeh dengan caranya menatapku, itu sangat lucu.
"A--aapa maksudnya i-ni," tanyanya dengan terbata-bata.
Aku tak ingin menjawabnya dengan kata-kata karena jujur saja, aku mulai menyukai permainan ini. Akan tetapi, aku rasa sudah saatnya gadis itu tau konsekuensi apa yang dia lakukan.
Aku mulai membuka gaun putih panjang yang sebenarnya sejak tadi aku risih memakainya, hingga aku benar-benar polos hanya menyisakan celana boxer yang menempel tubuhku. menariknya, gadis yang beberapa saat yang lalu berpura-pura menjadi pengantin priaku, kini menatapku tanpa berkedip. Aku memang membanggakan perut kotak-kotaku yang keren ini.
"Hei, apa kau bisa menutup mulutmu yang menganga itu!" Aku memang berniat menggodanya.
"Kau--?"
"Nona, Apa Kau terkejut? Aku rasa setelah ini Kau harus mendapatkan hukuman yang berat. Kau tahu! Aku sampai harus menjadi wanita untuk mengikuti permainanmu."
"Ke-kenapa?"
"Kenapa? Kau tanya kenapa setelah kau lari dari pernikahan kita. Kau tahu, Aku juga sebenarnya malas dijodohkan denganmu. Ckk ... ckk ... Kau bukan seleraku. Lihat saja, apa yang menarik darimu! kau pendek, buah dadamu kecil dan sepertinya IQmu juga kecil." Aku melihat matanya yang melotot dengan tangannya yang menyilang tepat di atas dadanya.
Aku berjalan mendekatinya, satu langkah aku maju, diapun mundur satu langkah, hingga akhirnya dia tak bisa mundur lagi karena punggungnya sudah menempel pada dinding, dan aku mengikis jarak diantara kami.
"Kau tahu, banyak wanita diluaran sana yang mengejar-ngejarku, tapi saat Kutahu ada seorang gadis yang sampai kabur hanya karena tidak mau menikah denganku, bagiku itu adalah sebuah tantangan. Lucunya, gadis itu sampai berpura-pura menjadi pria dan apa itu tadi, dia mengatakan bahwa Aku tua, gendut, botak, ha ... ha ...ha," tawaku membuatnya terlihat ketakutan.
"A-apa maumu?" tanyanya dengan gemetar.
"Mauku? Aku ingin menghukummu."
Aku menatap bibir mungil yang sejak tadi aku incar. sudah daritadi aku menahannya, karena sejatinya aku adalah pria normal. Aku hanya berpura-pura mengikuti permainan Dena.
Aku mencium bibirnya yang hangat, meskipun dia memberontak tapi tanganku dengan cepat menyentuh tengkuk lehernya dan memperdalam ciuman. Aku sedikit menggigit bibirnya hingga ddia membuka celah untukku menyesap seluruh rasa manisnya ciuman panas itu, hingga akhirnya aku melepaskan ciuman karena kulihat dia sepertinya kehilangan napas
"Dasar payah! Ini ciuman pertamamu ya? Ck ... ck ..." dengan segera aku meninggalkan Dena yang diam seperti patung di sana.
Aku sendiri tak ingin berlama-lama berdua dengannya, aku mau keluar dari kamar ini lalu pindah ke kamar di sebelah. Terus terang saja, aku seorang lelaki normal dan ciuman tadi telah membangunkan sesuatu yang sudah lama tidur. Aku ingin menyelesaikannya sendiri tentunya di kamar yang berbeda.
"Kau! Jangan coba-coba keluar dari kamar ini. Di manapun Kau bersembunyi, Aku pasti menemukanmu bahkan di ujung dunia sekalipun. Ingat itu!" Aku menekankan kata-kata ancaman terakhirku sebelum aku benar-benar menutup pintu.
Selesai .....😍😍
Semoga suka ya, jangan lupa like dan koment. Terima kasih.