Ketuk-ketukkan tangan ke lantai dingin begitu terdengar diruangan kosong yang hanya terdapat seorang wanita berusia 37tahun, ia nampak terbaring lemah tak berdaya diatas ranjangnya. Sesuatu dalam dirinya seakan ingin dikeluarkan, namun dia tak bisa berbuat apa-apa.
"UMI....! UMI....!" Jeritnya sudah tak tahan lagi.
Sontak saja membuat seorang wanita paruh baruh baya berlari terpogoh-pogoh ke arah kamar, menatap anaknya Yati tengah memegang perutnya. "
Ya, ampun. Aya naon atuh, Yati? Bikin kaget Umi saja." Ujar Umi bertolak pinggang. Bukan karna apa ia khawatir pada anak keduanya ini.
"Yati ga kuat." Balasnya cepat ingin bangkit walau susah. Umi mendekat, memapah penuh kasih sayang. "Ga kuat kunaon?" Sambil menatap kearah Yati yang meringgis kesakitan.
"Dari tadi pengen buang air kecil, tapi malu bilang." Yati menundukkan kepalanya. Sebenarnya ia malu dan gengsi, umur sudah tua namun selalu saja bergantung pada keluarga yang lain. Karna, otot-otot tangan dan kakinya agak sedikit kaku dan tak bisa digerakkan membuatnya keterbatasan berjalan serta fisik yang sedikit lemah membuatnya tak bisa bertahan lama diluar apalagi terkena sinar matahari, 1jam diluar saja sudah untung, menurutnya.
"Ya, Gusti. Sugan teh aya naon. Nya atuh Umi papah."
***
Semua berawal dari ia waktu kecil.
Tak ada yang namanya anak kecil tak Hyperaktif dirinya pun seperti itu sebelum ia mengalami hal seperti ini. Main-dan-main hingga sore bersama kakak-kakak dan adik-adiknya, seolah tak kenal lelah. Ia memiliki banyak saudara. Karna orang jaman dulu bilang 'banyak anak banyak rezeki' dan ya, Yati punya saudara kandung 11-orang, cocok untuk buka persepak bolaan.
Ketika itu ia baru pulang sekolah, setelah berganti pakaian ia tanya Umi dimana yang lain? Dan di jawab sedang ada di Kebun cengkih. pada jaman itu, Kebun cengkih ada dimana-mana dan dijadikan tempat bagi anak-anak seusianya (Anak SD) untuk bermain.
Dan kebetulannya ada A Kaweng kakak kedua dari Yati pada saat itu tengah berada di acara hajatan, sebenernya baru ada panggungnya saja. Namun, entah kenapa padangan Yati tertuju pada anak-anak yang lagi asik bermain di bawah kolong panggung, keluar masuk seperti menarik di pandangannya. Yati pun berlari.
"Mau main itu." Tunjuk Yati pada A kaweng yang sedang asik berseda-gurau dengan teman sebayanya sontak menoleh.
"Weng, adiknya?" Tanya Yono lewat isyarat dagu menunjuk Yati. "Heem, mau ngapain?" A Kaweng mengalihkan perhatian pada adiknya itu.
"Mau main disitu." Tunjuk Yati kearah panggung. A Kaweng menoleh, menggelengkan kelapanya. "Ngak Ngak Ngak bahaya! Udah pulang sana udah mau Magrib ntar ada kalong! Aa ge mau pulang sekarang." A Kaweng bangkit dari posisinya, menepuk celana belakangnya.
Tapi, Yati ingin bermain disitu. Sesekali Yati menatap punggung Aa-nya yang sudah menjauh bersama teman-temannya dan panggung. Senyum Yati terbit begitu saja, ia tak berlari mengejar sang kakak, justru ia berlari ke arah panggung disana. Ia pikir main sebentar itu gapapa.
Saat sedang asik-asiknya main bersama anak-anak lain dan tertawa lepas. Yati penasaran gimana rasanya di kolong panggung? Dengan nekat ia berjalan kekolong. Wah, gelap. Itu pikirnya. Namun, ia malah cekikikkan. Bersamaan dengan itu beberapa anak yang berada diatas panggung malah melompat-lompat, wajar kalo satu-dua ini lebih dari itu. Membuat keseimbangan panggung goyah dan BRUK.
Setelah insiden itu, Yati berobat dan berdiam diri dirumah. Sesekali juga Yati dipijat guna membetulkan tulangnya yang kaku. Berhari-hari berbulan-bulan ia bosan dirumah. Apalagi ia sudah lama tak berangkat kesekolah. Ketika hujan deras mengguyur Kota Hujan ini, suhu tubuh Yati di atas normal, Demam. Membuat semua khawatir dan kalang kabut. Bapak suami Umi menyiapkan Angkutan Umum 'Angkot' untuk membawa putrinya ke Puskesmas terdekat. Karna saking repotnya ditambah keadaan Yati yang sakit dan hujan yang tidak mau berhenti membuat jalanan terasa licin. Bruk.
"Masyaallah!" Jerit Umi khawatir melihat Yati yang kejedot pintu angkot ketika ingin masuk membuatnya juga kehilangan keseimbangan dan jatuh kembali.
Keadaan Yati semakin hari semakin buruk. Ia hanya mampu berbaring, kadang demamnya juga tiba-tiba kambuh dan itu membuatnya tak bisa sekolah. Suatu hari dikeadaanya yang mulai membaik. Yati meminta untuk sekolah dan ya, dijinkan walau didampingi orangtuanya. Semua itu tak berlangsung lama, membuatnya kembali drop. Membuat dirinya sempat menyerah dengan sakitnya ini. Namun dukungan keluarga terus ia dapat.
Namun, kesalahan Yati hanya satu. Ia memang sakit. Karna alasan itulah membuat dirinya bermalas-malasan diatas kasur dan tidak melakukan hal apapun. Membuat sebagian otot, tulang nya menjadi kaku. Walau ia mencoba berjalan kaki melatih otot tubuhnya, tapi itu tak berlangsung lama. Ia akan kembali jatuh lagi dan lagi. Semakin membuatnya putus asa.
***
Mengingat hal itu, Yati menyesal. Seharusnya ia berusaha demi kesembuhannya yang mungkin saja ia dapat. Nayatanya Nasi sudah jadi bubur? Hanya sebuah penyesalan yang bisa Yati rasakan. Apalagi ketika melihat kakak serta adik-adiknya yang sudah menggendong anak. Apa Yati tidak iri?
Apa perlu Yati jelaskan seberapa iri rasa dihatinya?
Walau Yati memiliki kekurangan dalam berjalan. Fisik wajah Yati tak perlu diragukan. Yati termasuk golongan lumayan cantik dengan kulit seputih susu akibat jarang terpapar sinar matahari. Entah, tahun 2000-berapa Yati mulai berselancar di dunia Medsos berkenalan dengan pria dari satu ke satu yang lain.
Banyak dari pria di-Medsos-nya yang tertarik pada pesona dirinya dan mengajak kenalan. Yati pun senang mendengar hal itu. Senyum yang semula terpantri berubah sendu menatap benda pipih pencetan model jaman dulu-nya. Ia tak bisa berbohong.
Ia pun menceritakan pada sebagian pria yang tertarik itu dan berniat temu pandang, dengan menceritakan keadaanya serta kesehariannya. Ada beberapa yang mundur dan mungkin saja tak bisa menerima keadaan dirinya dan ada pula yang masih tetap kukuh ingin bertemu tak mempermasalahkan keadaan fisik Yati, kata salah satu pria itu bilang 'dia cari wanita dari hatinya bukan fisiknya' mendengar kata itu wanita mana yang tidak Baper? Yati Bungah.
"Umi...!Umi...!" teriak Yati dari dalam kamar.
"Apa Yati.....!Umi lagi masak!" Balas Umi tak kalah heboh dari dapur. Yati berdengus kecil kemudian tersenyum cerah.
"Wah, wah, wah...senyum-senyum." Yati menoleh dan mendapati adik bungsu cowoknya yang berjalan dan langsung tiduran dikasur. "Mau ngapain?" Tanya Yati. Adiknya menggeleng. "Bilangin ke Umi loh! Senyum-senyum liat Hp!" Adunya menunjuk dengan dagunya ke arah Hp serta raut jahil diwajah tengil-nya.
"Apasih, yaudah bilang aja. Orang mau curhat ke Umi kok." Balas Yati kesal, diakan sudah cukup umur malah itu membuatnya terlihat seperti perawan tua yang tak juga menikah. Kenapa adiknya terlihat mengesalkan seperti itu sih?!
"Kalo cerita ke Bapak sama A Kaweng?" Mendengar hal itu Yati melotot. Kedua pria itu memang baik dan selalu menjaga dirinya dengan baik, namun pemikiran keduanya agak sedikit kolot apalagi Umi? Lalu ia harus cerita ke siapa?
"Huh." Desahnya bingung
***
Namun, Yati tidak akan menyerah begitu saja. Ia-pun dibantu oleh kakak iparnya bertemu dengan Mas Kamil dan disinilah kami berada. Banyak keluarga yang lain kepo melihat dirinya bisa membawa pria kerumah, hilir mudik dan bertanya-tanya. Namun, Yati tak sadar itu, ia hanya merasakan panas karna malu dalam dirinya tak menyadari kalau sebenarnya Mas Kamil sedikit risih.
"Bagaimana mungkin bisa kamu dekat dengan Yati?"
"Yati tidak punya harta apa yang kamu cari?"
"Yati juga tak sempurna."
Pertanyaan-pertanyaan seperti hal itu membuatnya tergangu namun ia hanya membalasnya dengan senyuman. Apa berteman butuh alasan?
Setelah Mas Kamil pulang panas pada pipinya itu tak kunjung reda juga. Ia begitu terpana pada sosok Mas Kamil yang menurutnya tampan dan ramah menanggapi ucapan keluarganya. Namun semua itu usai, ia melihat pesan dari Mas Kamil dengan pelototan matanya.
Mas Kamil
To. Yati
Assalamualaikum.
Sepertinya saya tak bisa menjalin silarurahmi lagi dengan kamu, anggap saja saya lelaki pengecut. Siapa yang tak tersinggung diborong pertanyaan seperti itu? Jujur saya risih. Maaf, apalagi melihat kamu. Semoga kamu mendapat pilihan yang tepat untuk kamu dan sampai jejang pernikah. Dan itu bukan dengan saya. Saya permisi, wassalamualaikum.
Hati wanita mana yang tak sakit hati mendengar hal seperti itu, jadi selama ini dia risih? Yati tersenyum sendu dan menangis dikamarnya keras membuat keluarganya kembali berdatangan bertanya 'ada apa' dan dibalas tangisan kencang Yati. Jadi, seperti ini rasanya sakit hati? Lebih baik ia sakit tak bisa jalan saja! Dari pada sakit hati seperti ini.
Dengan pengalamannya yang menyakitkan seperti itu membuat dirinya trauma takut disakiti lagi dan lagi. Namun, ia lagi-lagi iri dengan adiknya yang sudah melahirkan anak pertama mereka. Sekali lagi. Pikir Yati. Ia kembali berkenalan dengan sosok pria humoris dan sering membuat dirinya tertawa. Mas Haris dia kerja di ibu kota. Malam hari kala itu ia datang kerumah dan semua tampak baik-baik saja. Mas Haris juga membawa suasana rumah nampak hidup dengan candaan nya yang hangat dan menggelitik membuat semua keluarga Yati tertawa terbahak-bahak. Yati bahagia akan hal itu.
"Aku pulang dulu." Bisik Mas Haris di telinga Yati. Yang dibalas anggukan olehnya.
"Assalamualaikum."
Ketika sudah pamit pun semua keluarganya tak serta merta berpencar malah semuanya masih berkumpul dan membahas tentang sosok Mas Haris. Mas Haris memang berbeda jauh dengan Mas Kamil, dari fisiknya pun sudah berbeda. Mas Haris berperawakan sedang dengan kulit hitam manisnya sedangkan Mas Kamil mungkin sudah bisa dikatakan tampan dengan postur tubuh ideal?
Mas Haris
To. Yati
Assalamualaikum.
Sudahkah ku bilang? Kamu cantik dengan keadaanmu?
Melihat pesan itu senyum Yati merekah, seolah membuka hatinya untuk mengenalnya lebih dekat. Berhari-hari berbulan-bulan. Semua nampak berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan apapun. Ia pun semakin dibuat jatuh hati dengan setiap kata yang keluar dari mulut Mas Haris. Tapi semuanya hancur lagi-lagi. Ada seorang wanita yang menelpon dirinya dan memberikan informasi yang membuatnya terkejut.
'Haris semenjak mengenal kamu mulai tak memberinku nafkah bathin dan fisik, bisakah kamu hilang dari rumah tangga kami? Kamu wanita baik-baik dan saya mengerti itu, lalu bisakah kamu mengerti keadaan saya? Ada seorang anak diantara kami, apakah kamu tak tega?'
Ya, ampun. Ia begitu jahat. Dari situ Yati mulai sedikit demi sedikit menjauh dari Maa Haris. Melihat gelagat aneh Yati pun Mas Haris tak tinggal diam hingga ia kelepasan menjelaskan apa masalahnya. Membuat Mas Haris menelpon Yati langsung.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Jadi, karna aku sudah menikah kamu menjauh?"
Yati terdiam tak menjawab.
"Yati dengarkan aku." Terdengar hela napas dari sebrang. "Oke, aku mengaku salah tak membicarakan status ku padamu. Apa aku pernah membahas status mu? Aku tak masalah dengan penyakit mu dan aku pun menerima kamu apa adanya. Apa itu saja tidak cukup?"
"Aku tak masalah berteman."
"Yati! Aku lelaki dewasa yang merasa tertarik padamu. Oh, ayolah. Kamu akan hidup enak, aku punya uang banyak. Apa yang kamu takutkan? Dan, akupun menerima kamu apa adanya bukan ada apanya?" Mendengar penjelasan seperti itu apa ia tak luluh?
"Yati. Ayo kita menikah?"
Ajakan hal itu sontak membuatnya berteriak refleks "MAS!" Terdengar kekehan disebrang sana.
"Aku serius mengatakan hal itu Yati."
"Aku tidak bisa! Aku wanita pun ingin menjadi istri satu-satunya bukan istri kedua." Jelas Yati.
"Bisa kamu tidak membuat masalah ini berat, Yati?"
"Kalau begitu. Sudahi hubungan ini, aku tak mau mengenal kamu lagi." Putus Yati dengan berat hati. Ia benar-benar tak tega dengan istri dan anaknya Mas haris dirumah. Laki-laki hidung belang!
Setelah hal itu Yati tak pernah mencoba menjalin ataupun mengenal pria manapun. Rasanya ia cukup kapok dengan semuanya dan lagi-lagi ia merasa sakit hati. Membuat kesehatannya drop kembali.
Pulang pergi ke dokter dan berobat terapi tak kunjung juga membuat dirinya sembuh. Yati menyerah dengan keadaanya, capai rasanya. Ia terus merengek dan terus menyusahkan orang lain. Waktu berobat terapi ketika itu.
"Kamu mau sembuhkan?" Yati menganggukan kepalanya kearah lelaki didepannya ini.
"Selama kamu berobat tidak mungkin saya bulak-balik ke rumah kamu karna rumah saya di parung kuda jauh." Jelasnya lagi.
Yati hanya terdiam.
"Kalo kamu mau jadi istri kedua saya, saya akan pastikan kamu berobat setiap hari sampai sembuh." Yati semakin terdiam mendengar penjelasannya.
Kenapa ia harus mendapati laki-laki seperti ini terus? Adakah lelaki yang tulus mencintai dirinya? Tanpa melihat fisiknya dan TIDAK menjadi istri kedua?
Yati menjelaskan alasannya menolak. Lelaki itu mengerti. Bahkan ia mengusulkan satu pria didaerahnya untuk berkenalan dulu dengan nya. Yati menyanggupi.
Disinilah awal komunikasi Yati dengan Adang orang parung kuda yang usianya 3tahun lebih muda. Adang tau kondisinya dan ia tak masalah. Komunikasi terus terjalin Yati pun merasa terkesan dengan alasan Adang yang masih tetap dekat dengan dirinya.
Adang
To. Yati
Assalamulaikum
Sudikah kamu menjadi istriku? Melihat trauma kamu akan menjalin hubungan dan dengan kondisi kamu yang serba tak bisa. Sudikah kamu menemani pria serba tak punya ini menjalani hari-hari dan tetap berada disisimu ketika bangun pagi berdua? Sudikah kamu menjalahkan sunnah Rosul dengan saya? Sudikah kamu menerima saya karna lillah ta'ala? Begitupun saya yang senantiasa menerima kamu apa adanya bukan ada apanya.
Jika kamu bersedia, aku akan datang kerumahmu seminggu setelah dapat jawabannnya.
Yati tergugu melihat pesan dari Adang yang begitu nenyentuh hatinya. Apa ia jodoh terbaik untuknya? Apakah dia tulus? Selama Yati dekat dengan Adang memang dirinya tak ada gelagat aneh. Dan Adang juga sangat baik pada dirinya.
Yati mendiskusikan hal ini pada keluarganya. Dan ia disuruh solat istikhoroh dan dibantu doa-nya lewat Ustad yang lebih memiliki ilmu ketimbang dirinya.
Akhir jawabannya tertera dihari bahagia ini. Yati dirias sedemikian rupa cantiknya, walau dekorasi tak seperti kebanyakan penikahan pada umum-nya yang harus mewah dan elegant. Yati cukup bersyukur akan hal itu, karna memang segini uang mahar yang bisa dikeluarkan Adang untuknya. Dan ia tak masalah. Semua orang nampak bahagia di hari bahagianya ini, membuat dirinya tersenyum dan menangis haru dalam hatinya. Inilah hari yang ia tunggu-tunggu, menikah dan menanti momongan walau dengan keterbatasan fisik.
Hingga 6 bulan lamanya ia tak kunjung hamil juga membuatnya takut Adang berpaling. Ia takut rahimnya juga bermasalah, namun Adang terus memberi semangat. Mungkin allah belum mempercayakan anak hadir diantara mereka. Itu yang sering ia katakan.
Pagi-pagi buta Yati berjalan sekuat tenaga walau berkali-kali jalannya sempoyongan ke arah kamar mandi. Perutnya terasa bergejolak serasa ingim memuntahkan sesuatu yang ada pada dirinya, namun, yang keluar hanyalah cairan putih. Yati mendesah lelah, berkali-kali ia muntah tapi lagi-lagi hanya cairan. Hingga, kakar ipar Yati dari A Kaweng menyuruhnya periksa dengan Tespeck.
Diluar dugaan, ternyata allah telah mempercayakan rahmatnya hidup didalam rahimnya yang selama 6bulan ini ia tunggu. Dan Adang pun senang mendengar hal itu. Ia akan menjadi seorang Ayah dan imam yang lengkap. Berbulan-bulan ini Adang memperlakukan dirinya dengan baik dan sabar. Dan Yati semakin bersyukur akan hal itu walau diketerbatasan penghasilannya, namun, ia bahagia dan merasa semakin jatuh cinta lagi dan lagi.
"Mungkin kamu jodoh yang allah kirim untuk mendampingi aku? Dan aku bersyukur akan hal itu kamu." Yati tersenyum lembut sambil mengusap tangan diatas perut ratanya. Adang yang mendengar hal itu lantas tersenyum balik. Dan ikut mengusap perut Yati lembut.
"Dan kalaupun iya aku jodoh yang dikirim allah untuk kamu, aku semakin besar bersyukur karna itu kamu." Mereka berdua tertawa mendengar ucapan keduanya yang terdengar geli.
Kini Yati yakin, mau segimanapun keadaanmu baik dan buruk. Jodoh dan takdir itu hanya allah yang tahu. Hanya saja porsi mereka diberinya berbeda-beda tak semuanya harus mulus. Dan Yati bersyukur menemukan lelaki setulus Adang untuk mendampingi hidupnya yang serba kekurangan, butuh bimbingan kemana pun dan kapan pun. Ia yakin Adang akan terus berada disisinya.
***
catatan: ini kisah nyata keluarga yang saya ceritakan kembali...